Zinnia, putri cantik yang manja dari keluarga kaya cavendish. Yang jadi kesayangan semua orang, selalu mendapat apa yang ia mau. Di kenal tak suka di kekang dan sudah banyak menolak banyak lamaran lelaki muda kaya raya. Suatu ketika dia mengincar perhiasan dari batu langka di sebuah pelelangan, namun dua perhiasan yang ia incar justru jatuh ke tangan dua pengusaha muda yang langsung membuatnya kesal. Ternyata pertemuan singkat mereka kala itu adalah cerita pembuka untuk cinta segitiga di antara mereka di masa depan. Kecantikannya yang luar biasa memikat kedua pengusaha kaya itu, tanpa ia sadari. Dan perlahan kedua cowok tersebut dapat meruntuhkan tembok pertahanan yang selama ini ia buat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nakorang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 : Antara masa lalu dan Tempat ternyaman untuk Zinnia.
Ingin sekali rasanya Zinnia segera pergi dari sana, Tapi tangan besar Rion dengan kuat malah membelenggu bahunya, tak memberi kesempatan dia kabur sedikitpun.
" Apa aku harus sakit sampai terbaring di rumah sakit dulu di depan kamu... sampai kamu mau mengerti apa yang aku rasain, Zinnia.. Dan dengan begitu, mungkin kamu akan merasa kasihan sama seperti yang kamu rasakan pada Darren. " suara Rion keluar parau, penuh rasa frustasi dan kepedihan yang sudah dia pendam bertahun-tahun.
Kali ini Zinnia tak menampar lagi. Sebaliknya, dia mengangkat kaki tinggi-tinggi, lalu menurunkan sekuat tenaga tepat di atas kaki Rion, menggunakan hak sepatu runcingnya sampai lelaki itu mendesis kesakitan, tapi meski begitu Rion tetap tak bergeming dan tetap di tempatnya.
" BERHENTI!! " bentak Zinnia, suaranya pecah, matanya merah padam, dadanya naik turun hebat menahan emosi yang sudah meledak habis.
" IYA AKU SALAH!! AKU HINA!! AKU GAK TAU MALU!! AKU CEWEK MURAHAN DAN ORANG PALING GAK TAU DIRI DI DUNIA INI. DAN KAMU... KAMU SELALU BENAR RION!! SEMUA UCAPAN KAMU GAK ADA YANG SALAH!! SEMUA YANG KAMU LAKUKAN ITU BENAR SEMUA!! YAh, setidaknya benar-benar bikin aku kesel. "
Dia teriak sekuat tenaga, setiap kata dia ucapkan dengan penuh penekanan, jelas sekali wajahnya sedang marah besar, frustasi campur aduk, tapi dia masih berusaha mati-matian supaya air matanya Tak jatuh, tak mau terlihat lemah di depan lelaki ini.
Rion diam saja, matanya terus menatap wajah gadis di depannya. Padahal dia hanya rindu... cuma mau dekat... cuma mau bilang dia masih sayang, dia masih cinta, dia gak bisa hidup tanpa dia... tapi caranya salah, kata-katanya salah, akhirnya malah membuat emosi Zinnia memuncak sampai begini. Dan setiap kata yang keluar dari mulut Zinnia, menusuk tepat di jantungnya, bikin hatinya ikut sakit, ikut perih, ikut hancur berkeping-keping.
" Zinnia... " panggilnya pelan, nadanya sudah tak lagi dingin, sudah tak lagi tajam, hanya terdengar lemah dan sedih.
Zinnia terdiam, mulutnya rapat tertutup rapat, wajahnya langsung berubah jadi sedingin es, beda 180 derajat dari tadi. Saat tangan Rion terangkat mau menyentuh pipinya, dia langsung memalingkan muka cepat sekali, menghindari sentuhan itu seolah itu racun yang bisa membakar kulitnya.
Dan di detik itulah... hati Rion diremas kuat-kuat sampai rasanya mau mati. Dia sadar... dia benar-benar sudah tak ada tempat lagi di hati gadis ini. Posisi dia sekarang hanya orang yang tak lagi berharga di hadapan Zinnia.
" Kamu selalu dapatkan apa yang kamu mau Zinnia... " ucap Rion pelan, senyum getir terukir di bibirnya.
" Kamu selalu menang... dan aku... aku selalu kalah... "
Zinnia tetap diam, tubuhnya kaku kayak patung, tak bergerak, tak bersuara, tatapannya kosong menatap lantai, membuat Rion makin yakin kalau dia sudah benar-benar hilang.
Beruntungnya, suasana hening dan tegang itu tak berlangsung lama. Dari kejauhan terdengar langkah kaki cepat dan napas terengah-engah. Darren datang, dia mencari kesana kemari sampai akhirnya masuk ke toko ini, dan begitu melihat pemandangan di depannya, wajahnya langsung berubah gelap.
Dia langsung melangkah cepat, menarik Zinnia masuk ke dalam pelukannya erat sekali, menutupi tubuh gadisnya dari pandangan Rion. Dia membelakangi Rion, lalu menatap tajam ke arah sahabatnya itu.
" Rion... kamu... "
" Kamu menang. " potong Rion cepat, suaranya datar tapi penuh kepahitan, dia mengangkat kedua tangannya seolah menyerah total.
" Kamu menang bro... selamat... "
Tanpa menunggu jawaban apapun, tanpa menoleh lagi, Rion berbalik badan dan melangkah pergi dengan langkah cepat dan berat, menjauh dari dua orang yang dulu paling berarti di hidupnya.
Begitu sosok Rion hilang dari pandangan, perlahan tapi pasti, ketegangan di tubuh Zinnia runtuh seketika. Dia memeluk erat leher Darren, wajahnya ditancapkan kuat di dada bidang lelaki itu, dan akhirnya... air mata yang dari tadi dia tahan mati-matian itu pecah juga.
Tangisannya terdengar sesenggukan, bahunya berguncang hebat, dia menangis sepuasnya, mengeluarkan semua rasa sakit, frustasi, marah dan bersalah yang menumpuk di dadanya.
Darren tak berani bertanya apa-apa, dia hanya terus memeluk erat, mengusap punggung dan kepala gadisnya dengan lembut, dan mencium ubun-ubunnya berkali-kali, membiarkan Zinnia meluapkan semuanya.
Setelah agak tenang sedikit, dia mengangkat tubuh Zinnia menggendongnya, membawanya keluar dari toko, masuk ke dalam mobil, dan melaju pergi menjauh dari sana.
***
Di sepanjang perjalanan pulang, ice cream coklat gede yang Darren beli dari tadi sudah meleleh habis, akhirnya terpaksa dia buang di tempat sampah pinggir jalan. Zinnia sudah jauh lebih tenang, dan tangisnya sudah berhenti, tapi satu hal yang pasti, dia tak mau jauh dari Darren sedetik pun.
Begitu masuk ke dalam mobil, dia langsung merayap dan duduk manis di pangkuan Darren, kedua kakinya melilit erat pinggang lelaki itu, tangan dan kepalanya bersandar di dada bidangnya, mendengarkan detak jantungnya yang teratur dan menenangkan.
Darren tak bicara apa-apa, dia tahu gadisnya masih kacau, masih banyak perasaan yang campur aduk, jadi dia cuman diam saja, tangannya masih fokus menyetir tapi sesekali mengelus punggung dan kepala Zinnia pelan-pelan, memberi seluruh kehangatan dan rasa aman yang dia punya.
Setelah beberapa lama akhirnya mereka sampai di kediaman Darren, rumah besar yang megah dan lengkap dengan pelayan-pelayan yang langsung berdiri berbaris di depan pintu, memberi hormat dan membukakan pintu mobil begitu melihat tuannya datang.
Darren langsung turun sambil tetap menggendong Zinnia, dia melangkah masuk melewati lorong-lorong rumahnya, semua orang melihat tapi tak ada yang berani bersuara atau melirik terlalu lama, mereka sudah hafal kalau wanita di gendongan tuannya itu adalah orang paling istimewa untuknya.
Sampai di kamar tidur utama yang luas dan nyaman, Darren meletakkan tubuh Zinnia dengan hati-hati di atas kasur empuk, lalu dia duduk di sisi kasur, tangannya terangkat membelai lembut pipi dan dahi gadisnya, matanya menatap penuh perhatian.
" Mau istirahat aja atau gimana? Atau mau ngobrol? Mau makan sesuatu? Apapun itu katakan saja. " suaranya keluar selembut kapas, berusaha gak buat gadisnya tegang sedikitpun.
Zinnia langsung menggeleng cepat, tangannya langsung melingkar erat di leher Darren, menarik tubuh lelaki itu mendekat sampai dada mereka bersentuhan rapat.
" Gak mau... aku ingin kamu disini aja... jangan pergi... jangan kemana-mana... " jawabnya manja, suaranya masih sedikit serak habis menangis.
" Iya sayang, aku tetap disini, gak akan kemana-mana. " jawab Darren langsung, dia ikut merebahkan tubuhnya, membiarkan Zinnia menempel sepenuhnya di tubuhnya, memeluk erat seolah mau gabung jadi satu.
Berapa lama mereka diam dalam posisi itu? Entahlah. Tapi perlahan tapi pasti, segala beban di hati Zinnia hilang, segala rasa sakit dan bingung itu lenyap terganti dengan rasa aman dan nyaman yang cuma Darren yang bisa kasih. Dia mengangkat wajah, menatap tepat ke mata lelaki di depannya, bibirnya membuka pelan.
" Ren... aku mau sesuatu... "
Darren mengangkat alisnya, senyum tipis terukir di bibirnya,
" Apa sayang? Ngomong aja... apapun aku kasih... "
" Aku maau batu !! "
Mendengar jawaban itu Darren sampai terdiam sebentar, matanya melotot sedikit bingung.
" Batu? Buat apa sayang? Buat lempar kaca jendela? Atau jangan-jangan kamu mau melemparnya ke arah mukaku ya? "
Zinnia mendengus kesal kecil, mukanya cemberut lucu.
" Ih, Bukanlahhh!! "
" Terus apa? Buat kamu makan gitu? Biar kenyang? " goda Darren lagi, makin bikin bingung dan gemas.
Dan seketika, bibir Zinnia yang tadi masih cemberut itu melengkung naik, lalu dia tertawa lepas, suara tawanya renyah dan ceria mengisi ruangan, berbeda dari suasana berat beberapa jam lalu.
Ya, beginilah Zinnia kalau lagi kacau, dia suka minta hal-hal aneh dan gak masuk akal, kadang dia sendiri juga tak tau kenapa sampai minta begitu. Tapi Darren selalu tau cara menghadapinya, selalu bisa mengimbangi, selalu bercanda sampai suasana yang gelap jadi terang lagi.
Darren ikut tertawa melihat kekasihnya kembali ceria, dia mencubit hidung kecil gadisnya gemas.
" Dasar aneh banget kamu. Tapi tenang aja, nanti aku suruh Bi Inah buat siapin sekantong gede buat kamu. Atau mau lebih banyak? "
" Gak mau terlalu banyak. dua atau tiga aja cukup kok.. " jawab Zinnia manja, lalu dia kembali menempelkan wajahnya di dada Darren, mendengarkan detak jantungnya, dan untuk pertama kalinya, dia merasa benar-benar tenang. Benar-benar tau dimana tempat dia seharusnya berada.
Setelah Zinnia benar-benar tenang. Sore harinya dia mengantar Zinnia pulang ke rumah gadis itu, tentu saja dengan memberikan beberapa batu yang tadi sempat di inginkan kekasihnya itu. Meski aneh sekalipun, tapi Darren tetap akan memberikannya untuk Zinnia, kecuali jika gadis itu sudah tak lagi menginginkannya.
***