Demi cinta, Hanum menanggalkan kemewahan sebagai pewaris tunggal Sanjaya Group. Ia memilih hidup sederhana dan menyembunyikan identitas aslinya untuk mendampingi Johan, pria yang sangat membenci wanita kaya. Lima belas tahun lamanya Hanum berjuang dari nol, membangun bisnis otomotif hingga Johan mencapai puncak kesuksesan.
Namun, di tengah gelimang harta, Johan lupa daratan. Ia terjebak dalam perselingkuhan dengan sekretarisnya sendiri. Luka Hanum kian mendalam saat pengabdiannya merawat ibu mertua yang lumpuh justru dibalas pengkhianatan, sang ibu mertua malah mendukung perselingkuhan putranya.
Kini, demi masa depan si kembar Aliya dan Adiba, Hanum harus memilih,tetap bertahan dalam rumah tangga yang beracun, atau bangkit mengambil kembali tahta dan identitasnya sebagai "Sanjaya" yang sesungguhnya untuk menghancurkan mereka yang telah mengkhianatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Amarah dan rencana si kembar
Cahaya matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah tirai ruang VVIP, menerpa wajah Hanum yang perlahan mulai kembali berwarna. Di sampingnya, Alvaro masih setia menunggu. Pria itu tampak belum tidur, kemejanya kusut, namun tatapannya tetap tajam dan waspada.
Alvaro meletakkan cangkir kopinya, lalu menatap Hanum dengan serius. "Num, kau sudah lebih baik. Sekarang, katakan pada Kak Al. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa aku menemukanmu pingsan di jalanan dalam keadaan kehujanan dan membawa koper?"
Hanum memalingkan wajahnya, menatap ke arah jendela. Bibirnya bergetar, jemarinya meremas pinggiran selimut rumah sakit. Awalnya ia ingin membungkam rapat-rapat aib rumah tangganya, namun ia tersadar, ia tidak sedang berhadapan dengan lawan yang bermain bersih. Johan adalah ular yang licik, dan jika ia mencoba melawan sendirian, ia akan hancur untuk kedua kalinya.
"Dua tahun terakhir ini... Johan yang aku kenal dulu sudah mati, Kak," bisik Hanum parau. "Pria yang menikahi ku dulu sudah berubah menjadi sosok asing dan juga kejam"
Hanum mulai bercerita, suaranya yang semula lemah perlahan mengeras oleh luka. Ia menceritakan tentang perselingkuhan Johan dengan Monica, rencana licik pengalihan aset di kantor notaris, hingga jebakan kotor di apartemen pengacara Jason yang membuatnya terbuang dari rumah tanpa sepeser pun uang dan tanpa anak-anaknya.
Brak!
Alvaro menggebrak meja di samping tempat tidur hingga vas bunga di atasnya bergetar. Wajahnya merah padam, urat-urat di rahangnya menonjol menahan amarah yang meledak-ledak.
"Brengsek! Beraninya dia menyentuhmu seperti itu!" raung Alvaro. Ia berdiri, menyambar kunci mobilnya di meja. "Aku akan ke sana sekarang. Aku akan pastikan Johan tidak akan pernah bisa melihat matahari besok pagi. Dia pikir dia siapa bisa menginjak-injak putri keluarga Sanjaya?!"
"Kak Al, tunggu! Jangan!" teriak Hanum, berusaha bangkit hingga selang infusnya tertarik.
Alvaro berhenti di ambang pintu, menoleh dengan napas memburu. "Kenapa, Num? Kau masih mencintai bajing4n itu setelah apa yang dia lakukan padamu?"
"Bukan, Kak! Bukan karena cinta!" Hanum menggeleng kuat, air mata kemarahan menetes di pipinya. "Dia bukan lagi Johan yang dulu kita kenal. Dia licik, dia punya jaringan, dan dia sudah menyiapkan segalanya untuk membuatku terlihat bersalah secara hukum. Kalau Kakak pergi ke sana dan menggunakan kekerasan, Kakak hanya akan masuk ke dalam perangkapnya. Dia akan melaporkan Kakak ke polisi, dan aku akan kehilangan satu-satunya orang yang bisa membantuku."
Alvaro terdiam, dadanya naik turun tak beraturan. Ia perlahan kembali mendekat ke ranjang Hanum, mencoba meredam api di kepalanya.
"Dia pria yang tangguh sekarang, Kak. Dia punya kekuasaan di Go Green," lanjut Hanum dengan nada lebih tenang namun dingin. "Kita tidak bisa menyerangnya dengan otot. Kita harus mematahkan sayapnya satu per satu, sampai dia jatuh ke tanah tanpa punya apa-apa lagi. Sama seperti yang dia lakukan padaku."
Alvaro menatap Hanum lama, lalu ia duduk kembali dan menggenggam tangan adiknya itu dengan sangat erat.
"Baik," desis Alvaro dengan suara rendah yang mengerikan. "Jika itu maumu. Dia ingin bermain catur? Mari kita layani. Tapi ingat satu hal, Num... tidak ada seorang pun di dunia ini yang boleh menyakiti adikku dan melenggang pergi begitu saja. Aku akan mengerahkan seluruh kekuatan Sanjaya Group untuk menghancurkannya."
Keheningan menyelimuti ruangan itu setelah kemarahan Alvaro mereda. Namun, raut wajah Alvaro masih menyiratkan beban berat yang belum ia sampaikan. Ia menarik napas dalam, menatap Hanum dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Num," suara Alvaro merendah, "ada satu hal lagi yang harus kau ketahui. Alasan kenapa aku berada di Jakarta dan mencari mu dengan begitu gencar."
Hanum menghapus sisa air matanya, perasaannya mendadak tidak enak. "Soal apa, Kak? Apa ini ada hubungannya dengan Papah?"
Alvaro mengangguk pelan, jemarinya meremas tangan Hanum. "Papah... saat ini sedang koma di rumah sakit."
"Apa?! Papah koma?" Hanum tersentak, dunianya seolah runtuh untuk kedua kalinya dalam sehari. "Bagaimana bisa, Kak?"
"Satu bulan yang lalu, sebelum Papah jatuh tak sadarkan diri, beliau memanggilku. Papah memintaku untuk mencari keberadaan mu, apa pun caranya. Aku yang baru kembali dari luar negeri untuk urusan bisnis langsung mengerahkan orang-orang ku. Salah satu informanku melihatmu di sebuah kafe dekat lokasi kamu pingsan kemarin. Aku mencari mu ke sana kemari, sampai akhirnya Tuhan mempertemukan kita di bawah hujan itu."
Hanum menangis meraung-raung. Rasa bersalah menghujam jantungnya lebih tajam daripada pengkhianatan Johan. "Ini semua salahku... Aku anak durhaka, Kak. Aku meninggalkan Papah demi pria yang ternyata hanya memanfaatkan aku."
Alvaro menarik Hanum ke dalam pelukannya, membiarkan adiknya itu menumpahkan segala penyesalannya.
"Asal kau tahu, Num," bisik Alvaro pedih. "Papah melarang mu menikah dengan Johan dulu bukan karena beliau jahat. Papah memiliki insting kuat bahwa pria itu tidak baik untukmu. Papah tahu Johan hanya memanfaatkan ketulusanmu. Dan sekarang... semua itu terbukti, kan?"
Hanum menundukkan kepalanya dalam-dalam, air matanya membasahi kemeja Alvaro. "Aku buta, Kak. Aku terlalu bodoh."
"Kak Al, aku ingin bertemu Papah. Sekarang Papah dirawat di mana?" tanya Hanum memohon dengan mata sembab.
"Beliau dirawat di Rumah Sakit Elizabeth, Singapura. Baru dua minggu yang lalu Papah dipindahkan ke sana untuk mendapatkan perawatan saraf yang lebih intensif. Nanti, jika kondisimu sudah benar-benar pulih, Kakak janji akan langsung mengantarmu ke sana."
Alvaro menyeka air mata di pipi Hanum dengan ibu jarinya, lalu ia tersenyum tipis, mencoba mencairkan suasana. "Sudah, jangan menangis terus. Kau jadi sangat jelek kalau begini, Num! Bisa-bisa dokter di sini mengira aku sedang menculik pasiennya."
Hanum sempat tertegun sebelum akhirnya sebuah senyum tipis terukir di bibirnya. Ia memukul pelan bahu Alvaro. "Kakak tetap saja tidak berubah, selalu bisa mengejekku di saat seperti ini."
*
*
Sementara itu, di kediaman mewah Johan yang kini terasa seperti penjara, Aliya dan Adiba duduk meringkuk di sudut kamar mereka. Suasana rumah terasa sangat mencekam sejak Hanum diusir. Johan bahkan telah menyita ponsel kedua putrinya agar mereka tidak bisa menghubungi ibu mereka.
"Kak Aliya, aku tidak tahan di sini," bisik Adiba, matanya masih sembab. "Ayah jahat sekali pada Bunda. Kita harus mencari cara untuk bicara dengan Bunda."
Aliya mengangguk, otaknya berputar cepat. "Ponsel kita diambil, telepon rumah dijaga Nenek. Kita tidak punya akses sama sekali."
Tiba-tiba, mata Adiba berbinar. "Kak, besok kan kita sekolah. Bagaimana kalau kita pinjam ponselnya Rani saja saat jam istirahat? Ayah tidak akan tahu kalau kita menelepon Bunda dari sekolah."
Aliya terdiam sejenak, lalu senyum penuh harapan muncul di wajahnya. "Ide yang bagus, Adiba! Rani pasti mau membantu. Besok saat jam istirahat, kita minta bantuan dia secara diam-diam."
Adiba mengacungkan kedua jempolnya. "Semoga Bunda baik-baik saja dan ponselnya aktif."
Kedua kakak beradik itu saling berpelukan, menguatkan satu sama lain di tengah badai yang melanda keluarga mereka, berharap esok hari membawa mereka kembali pada dekapan hangat Hanum yang sangat mereka rindukan.
Bersambung...
2 dalam perahu,diluar malu padahal didalam hatinya mau, saking nyaman sama Alvaro,Hanum nggak sadar nyender ke Alvaro 🤔🤔🤔