Hanya anak muda yang ingin mendapatkan kebaikan dalam hidupnya, mencintai wanita tapi tak seorangpun menginginkannya. Cakka, fisik tubuhnya memanglah idaman semua kaum hawa. Namun wajahnya? terdapat bintik-bintik merah yang timbul dari kulit yang seharusnya menjadi rupa pertama dari setiap pertemuan. Selain itu, kulit wajahnya seperti lelehan plastik yang tak bisa terbentuk rapih mengikuti rahang. Buruk rupa, itu sebutan orang-orang untuk Cakka. Sejak kecil, sejak ia lahir kedunia. Hidupnya nelangsa, bukan karena wajahnya saja tapi karena ayah ibunya pergi lebih dulu darinya. Belum lagi Gempa, yang berhasil menghancurkan rumah tempat berlindungnya dan merenggut sang nenek yang mengasuhnya sejak kecil. Sedih, kesepian, dan sebatang kara. Itu yang Cakka alami ketika usianya beranjak sebelas tahun. Apakah Cakka akan berputus asa dengan hidup yang terus menerus di uji? Apakah wajah Cakka akan tetap seperti itu untuk melanjutkan hidup? Simak ceritanya Di Dua Dimensi!.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silviriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Reza Rahardian
Suasana hening, duduk berdua didalam mobil jemputan. Debo tertidur pulas sedangkan Cakka, ia diam memandangi jalanan yang dilewatinya. Pikirannya kalut, berharap prasangka buruknya selama ini salah.
Mobil jemputan sampai didepan rumah BV. Cakka bersiap untuk turun dan tangannya menggoyangkan paha Debo.
"Deb, bangun Deb!"
Namun ternyata Cakka malah ditegur oleh pak supir, beliau tidak turun. Hanya menatap Cakka dari kursinya.
"Jangan dibangunkan! Debo akan kami bawa ke MUA"
"Oh, untuk di rias ya?"
Pak Supir hanya menganggukkan kepala dan Cakka turun dari mobil itu. Ia berdiri ditepi trotoar, menatap wajah Debo yang masih tertidur pulas. Perlahan pintu mobil tertutup rapat. Bergeser dari kiri ke kanan.
Pun ban mobil berputar, menggerakkan kotak baja berkomposisi: plastik, kaca, aluminium, tembaga, magnesium, karet, cat dan busa. Cakka menatap mobil itu hingga lenyap dari pandangannya. Menghembuskan nafas berat, mulai melangkahkan kaki menuju rumah BV.
matanya lelah, tubuhnya lesu, niat hati setelah mandi dan makan ia ingin tidur saja. Menitipkan raga pada sang pencipta, mempersiapkan diri untuk esok hari.
"Menari.." Gumamnya.
Langkah Cakka kini sudah menepi di ambang pintu masuk.
Kriet!!!
Terbuka, semua orang ternyata ada disana. Namun, sudah memakai baju santai.
"Aku pulang..." Ujar Cakka memberitahu semua orang. Meski mereka hanya melihat sekilas tak menjawab sepatah katapun. Tak peduli akan hal itu, Cakka melewati mereka yang sedang menonton tv, ada juga yang bermain gadget.
Satu persatu anak tangga ia langkahi, pun tangannya menyusuri pegangan yang terbuat dari steinles.
Dug! Dug! Dug!
Langkahnya sudah sampai didepan pintu kamar.
"Empat..." Ucapnya pelan.
Tangannya pun kini memasukkan kunci kamar dan membukanya.
Kriet!!!!!
Kedua kaki lesu itu masuk keruang privacy miliknya, tanpa menoleh kebelakang tangan itu menutup kembali pintu tebal nan berat.
Brak!!!
Hah!!!!!!
Helaan nafas begitu panjang keluar dari mulutnya, pundak semakin membungkuk, menekuk hingga kepala Cakka ikut menunduk. Rasanya jarak dari pintu ke kasur sangat jauh, butuh energi tambahan untuk sampai kesana. Berat, tak mau lagi berjalan. Tapi, masa iya dia harus tidur dilantai?.
Mau tak mau, kakinya kembali melangkah. Menerjang beberapa keramik lantai demi bisa beristirahat dengan tenang. Padahal memang hanya sebentar tapi rasanya, seperti ada di drama film pendek. Melambat, langkahnya seperti susah sekali untuk kembali menapak. Pun waktu, detiknya tak berdentang cepat seperti biasa pada panah kecil yang mendekati jam.
Sruk!!!!!!
Sampai jua akhirnya berada di atas kasur yang ia rindukan, tubuh tinggi besar itu melemparkan dirinya sendiri hingga beberapa bantal memantul berubah posisi.
"Akhirnya..." Ucap Cakka, Seraya memejamkan mata, tangannya mengelus pelan seprei yang menyelimuti kasur empuknya itu.
Pelan.... kesadarannya pun memudar, Cakka tertidur. Padahal ia belum membersihkan diri bahkan berganti baju saja, tidak. Ia menyepelekan kebersihannya. Mulut terbuka, pun kelopak mata yang tidak menutup sempurna.
(***)
Tring!!!!
Tring!!!!
Tring!!!!
Alarm berbunyi begitu keras, bergetar di atas lemari kecil yang berdiri di samping kasurnya. Cakka terbangun, dengan mata yang belum sanggup terbuka dan tangan yang masih lemas, mencari di mana letak alarm itu.
Dug! Dug! Dug!
Tak tersentuh, terpaksa ia harus benar-benar bangun dari tidurnya. Kepala terasa berat, pun pinggangnya terasa sakit. Dua tumpuan itu mendorong tubuh Cakka untuk duduk, menggeliat seperti cacing, merentangkan kedua tangannya ke udara.
Huah!!!!!!!!!!!
Menguap, melepaskan beban yang masih tersisa di pundak. Mata yang tadi masih menutup sekarang benar-benar terbuka lebar. Ia melihat dirinya sendiri di cermin yang tepat berada di depannya.
"Lusuh sekali, padahal baru satu hari kerja. Itu juga cuman ganti pose bukan seperti waktu dulu aku kerja di bangunan"
Cakka menghela nafas untuk memulai harinya.
"Semangat! Hari ini latihan nyanyi dan menari, mari kita lihat apakah aku bisa jadi seorang Reza Rahardian? Kalau iya, nanti beberapa PH harus membayarku mahal! Udah gonjang-ganjing begini cari uang, awas aja kalau cuma dibayar lima puluh ribu per hari, aku kan bukan kenek tukang bangunan lagi!"
Memberi motivasi pada dirinya sendiri, meski motivasi itu dalam bentuk khayalan dan sebuah bandingan. Reza Rahardian... Aktor terkenal, ternama. Sekali main dibayar mahal. Itu impian semua para artis yang bermain film, dan Cakka kini menjadi bagian dari mimpi itu.
Ia berdiri, melakukan pemanasan kecil pada tubuhnya: memutar pergelangan kakinya ke kiri dan ke kanan beberapa kali, meregangkan kedua tangannya dihitung sampai angka delapan, dan kepala, tengok kanan kiri juga ke atas.
Merasa semua sudah benar-benar rileks, Cakka meraih handuk yang menggantung rapih dijemuran kecil yang terletak dekat jendela. Ia menguap lagi. Sembari melangkah menuju kamar mandi.
.
.
.
Srashh!!!!!!
Air mengguyur seluruh tubuhnya, panas dan beruap. Suhu empat puluh derajat, kembali membangkitkan gairah hidup Cakka. Ia mengusapkan sabun cair berbau mawar, ke tengkuk telinga, ketiak dan celah-celah yang lainnya.
Menggosok gigi hingga karangnya rontok, menggunakan obat kumur beraroma strawberry.
Cuh!!!!!
Membuang cairan yang ada dimulutnya ke washtapel. Perlahan Cakka melihat cermin, meniupkan nafas pada benda yang bisa memantulkan biasnya.
Hah!!!!
"Kondensasi," gumamnya pelan, Seolah memberi nama pada kesepian yang menempel dicermin itu.
Pun ia mengagumi wajah baru yang menempel pada anggota tubuhnya. Jari-jari Cakka perlahan mengusap kening, mata, hidung, lalu turun ke bibir.
"Aku memang tampan" ujarnya percaya diri sembari menaikan kedua alis.
"Sebelum operasi pun aku tampan, dulu hanya terhalang oleh tekstur kulitku yang tak rata"
Masih mengagumi wajahnya, kali ini Cakka tersenyum sinis sekaligus menjadi penutup kegiatan mandi paginya. Cakka meraih handuk, mengelap semua bagian tubuh yang basah. Ia menggunakan lotion yang tersimpan diantara sabun yang berjajar rapi.
Masih berbau mawar. Shampo, sabun, lotion, yang ada di kamar mandi Cakka dominan wangi mawar. Sempat terpikir oleh Cakka sendiri kenapa semuanya terasa kebetulan sama? apakah Kleo sengaja memberikan wangi tertentu untuk Cakka?.
Entahlah, ia tidak ingin memusingkan hal itu, untuk saat ini... semua produk yang dia butuhkan ada saja, sudah sangat bersyukur. Tidak perlu mengeluarkan uang lagi untuk merawat dirinya sendiri.
Selesai dengan semua ritual itu Cakka kembali ke kamar tidur, tangannya mencari baju yang akan dipakainya hari ini dilemari. Sebuah kaos hitam, celana bahan berwarna hitam, ia gunakan untuk latihan. Rambutnya disisir rapi, pun wajahnya menggunakan cream yang sudah tersedia dimeja rias. Ketika Cakka masih sibuk merapikan diri di depan meja rias, tepat dibalik punggungnya, Aulia memeluk Cakka.
Kedua tangan putih, lembut nan halus menempel pada perut Cakka, erat dan terikat.
"Mau kemana, tampan?" Tanya Aulia, wajahnya tenggelam diantara tengkuk punggung yang tebal.
Cakka menghela nafas, ia membalikkan badannya.
"Kamu kemana saja? Kenapa baru muncul sekarang? Padahal dari kemarin aku butuh kamu!"
Wajah perempuan itu mendongak, tersenyum lebar, matanya berbinar dan detak jantungnya berdegup kencang. Terasa langsung ke dada Cakka.