NovelToon NovelToon
Cinta Dititik Nol Rupiah

Cinta Dititik Nol Rupiah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:679
Nilai: 5
Nama Author: By Magus

Agus adalah seorang pemuda yang hidup dalam jeratan ekonomi. Di rumahnya yang sederhana, ia harus berbagi beban dengan ayahnya, Marjuki, yang mulai sakit-sakitan, dan ibunya, Asmah, yang hanya bisa pasrah pada keadaan. Di tengah rasa sepi, Agus mengunduh sebuah aplikasi jodoh dan bertemu dengan Nor Rahma.

Bagi Agus, Rahma adalah sosok yang terlalu sempurna. Rahma memiliki pekerjaan tetap, pendidikan yang baik, dan paras yang menawan. Hubungan mereka yang bermula dari layar ponsel berlanjut ke arah yang lebih serius. Namun, tantangan muncul saat Rahma meminta bukti keseriusan berupa komitmen untuk melamar dan membangun masa depan yang stabil.

Agus terjepit. Di satu sisi, ia sangat mencintai Rahma. Di sisi lain, pendapatannya sebagai pekerja serabutan tidak pernah cukup untuk menabung, apalagi membiayai pernikahan yang layak. Keluarga Agus tidak memiliki simpanan sama sekali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16

Suara deru mesin motor tua Agus terdengar pincang, seirama dengan denyut nadi di pergelangan kaki kirinya yang kini terasa seperti ditusuk-tusuk ribuan jarum. Ia baru saja meninggalkan gerbang megah Cempaka Indah, namun bayangan lampu-lampu taman yang hangat dan pilar-pilar rumah Pak Hadi masih menempel kuat di pelupuk matanya. Angin malam yang menusuk tulang menembus serat kemeja biru tuanya yang tipis, membawa sisa-sisa aroma pengharum ruangan cendana dari rumah Rahma yang perlahan-lahan menguap, digantikan oleh bau asap knalpot dan aroma sampah basah dari pinggir jalan raya.

Agus memacu motornya perlahan, sangat perlahan. Di saku celananya, dua lembar uang dua ribuan yang kumal terasa sangat berat, seolah-olah kertas tipis itu memiliki bobot yang mampu menariknya jatuh ke aspal. Uang empat ribu rupiah. Ia menatap lampu jalan yang berkedip di kejauhan. Di rumah yang baru saja ia tinggalkan, uang sejumlah itu mungkin tidak cukup bahkan untuk membayar biaya parkir satu jam di mal tempat Rahma biasa berbelanja. Sementara bagi Agus, itu adalah sisa dari seluruh pertaruhannya minggu ini.

Lidah Agus masih mengecap sisa rasa rendang dan sup ayam yang gurih, namun rasa itu kini terasa asing, bahkan menyakitkan. Di dalam perutnya, makanan mewah itu seolah sedang bergejolak, menolak untuk dicerna oleh tubuh seorang kuli panggul yang biasanya hanya diisi nasi putih dan garam. Setiap kali ia menelan ludah, kata-kata Ibu Farida kembali terngiang, bergema di dalam helmnya yang retak: “Apakah kamu yakin Rahma tidak akan ikut menderita?”

Pertanyaan itu bukan sekadar pertanyaan, melainkan sebuah garis batas yang tegas. Sebuah pagar yang jauh lebih tinggi dan lebih kuat daripada pagar besi di rumah Pak Hadi.

Motor Agus mulai memasuki jalanan pinggiran kota yang tidak lagi terang. Aspal yang mulus berganti menjadi jalanan berlubang dan bergelombang. Ia harus ekstra hati-hati menyeimbangkan motornya; setiap kali ban motornya menghantam lubang, guncangannya langsung menjalar ke pergelangan kakinya yang bengkak, memaksanya untuk mendesis menahan perih. Ia melihat bayangan dirinya sendiri di kaca spion yang buram, seorang laki-laki dengan kemeja biru luntur, wajah yang kusam oleh kelelahan, dan tatapan mata yang kehilangan cahayanya.

Semakin dekat ia dengan desanya, suasana menjadi semakin sunyi dan gelap. Lampu-lampu jalan di sini banyak yang sudah mati atau memang tidak pernah dipasang. Hanya ada cahaya dari warung-warung kecil yang masih buka, remang-remang oleh lampu bohlam kuning yang dikerubuti laron. Agus membelokkan motornya ke gang menuju rumahnya. Jalanan di sini masih berupa tanah yang becek karena sisa hujan kemarin. Ban motornya selip beberapa kali, memaksanya menurunkan kaki kirinya untuk menyeimbangkan. Saat kakinya menyentuh tanah yang berlumpur, rasa nyeri yang luar biasa membuat penglihatannya sempat memutih selama beberapa detik.

Ia berhenti tepat di depan rumahnya yang miring. Cahaya redup dari dalam rumah menandakan bahwa orang tuanya masih terjaga. Agus mematikan mesin motornya. Kesunyian seketika menyergap, hanya menyisakan suara jangkrik dan suara napasnya yang berat. Ia duduk diam di atas jok motor selama beberapa menit, mencoba menenangkan debar jantungnya. Ia tidak ingin masuk ke dalam dengan wajah yang hancur. Ia ingin orang tuanya berpikir bahwa semuanya baik-baik saja.

Agus meraba kemeja birunya. Kemeja ini telah menjadi saksi bagaimana ia berusaha berdiri tegak di tengah penghinaan halus Ibu Farida. Ia mulai melepas helmnya, merapikan rambutnya yang lepek oleh keringat dingin.

"Gus? Kamu sudah pulang, Nak?" suara ibu agus terdengar dari balik pintu kayu yang berderit.

Agus memaksakan diri untuk turun dari motor, menyeret kaki kirinya dengan sangat perlahan agar tidak terlalu terlihat pincang. Ia melangkah masuk ke dalam rumah. Bau asap minyak tanah dan aroma minyak kayu putih langsung menyerbu indra penciumannya, bau yang sangat ia kenal, bau kemiskinan.

Di ruang tengah, bapak agus duduk bersandar pada tumpukan bantal. Wajah ayahnya terlihat penuh harap. Di sampingnya, ibu agus berdiri dengan tangan yang masih memegang kain serbet. Mereka berdua menatap Agus seolah sedang menunggu kabar kemenangan dari medan perang.

"Bagaimana, Gus? Lancar makannya?" tanya Pak Marjuki dengan suara serak yang diusahakan terdengar ceria.

Agus duduk di kursi plastik di depan bapaknya. Ia mencoba tersenyum, meski rasanya sangat getir. "Lancar, Pak. Makanannya enak-enak semua. Tadi ada rendang, ada sup ayam... Rahma juga titip salam buat Bapak sama Ibu."

Ibu agus mengembuskan napas lega, ia duduk di samping Agus. "Alhamdulillah... Lalu, Ayah dan Ibunya bagaimana? Mereka baik kan sama kamu? Kamu tidak dihina karena tangan kosong?"

Agus terdiam sejenak. Ia melihat ke arah tangannya yang diletakkan di atas lutut. Tangan yang tadi gemetar saat memegang sendok perak di rumah Rahma. "Pak Hadi baik sekali, Bu. Beliau orangnya sangat bijaksana. Beliau bilang, barang bawaan itu tidak penting."

"Tuh kan, apa Ibu bilang. Orang kaya yang benar-benar kaya itu biasanya rendah hati," ucap ibu agus dengan binar mata yang kembali menyala.

"Tapi... kalau Ibunya?" bapak agus menyela, seolah memiliki firasat yang lebih tajam sebagai sesama laki-laki.

Agus menelan ludah. Ia tidak sanggup menceritakan tentang interogasi di meja makan tadi. Ia tidak ingin menghancurkan harapan orang tuanya yang sudah susah payah dibangun. "Ibunya juga baik, Pak. Beliau cuma... cuma sangat khawatir sama masa depan Rahma. Wajar kan, Bu, namanya juga orang tua."

"Iya, benar. Ibu juga pasti begitu kalau punya anak perempuan yang mau dipinang orang," ibu agus mengangguk-angguk setuju. "Yang penting mereka tidak mengusirmu, Gus. Itu sudah kemajuan besar."

Agus hanya mengangguk pelan. Ia bangkit berdiri, rasa nyeri di kakinya sudah tidak bisa lagi ditahan. "Agus capek sekali, Pak, Bu. Mau langsung istirahat dulu."

"Iya, istirahatlah. Besok pagi Ibu buatkan air hangat buat kompres lagi kakimu," ucap ibu agus sambil mengusap pundak anaknya.

Agus masuk ke dalam kamarnya yang sempit. Ia menutup pintu kayu yang tidak bisa rapat itu, lalu menguncinya dari dalam. Kegelapan kamar langsung menyelimutinya. Ia tidak menyalakan lampu. Ia melepaskan kemeja biru tuanya dengan sangat hati-hati, seolah-olah kemeja itu adalah benda suci yang baru saja ia bawa dari dunia lain. Ia menggantungnya kembali di paku dinding.

Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur lantai yang tipis. Di dalam kegelapan itu, ia meraih ponselnya yang layarnya retak melintang. Ada satu pesan dari Rahma yang masuk beberapa menit yang lalu.

Nor Rahma: "Mas Agus, terima kasih ya buat malam ini. Aku tahu tadi pasti berat bagimu, apalagi saat Ibu bertanya macam-macam. Tapi aku bangga padamu, Mas. Kamu tetap tenang dan jujur. Kabari aku kalau sudah sampai rumah dan jangan lupa istirahat ya."

Agus menatap pesan itu. Ia ingin membalas, tapi jarinya terasa kaku. Ia teringat kembali pada meja makan porselen, lampu kristal, dan mobil-mobil mewah di garasi Pak Hadi. Lalu ia melihat ke sekeliling kamarnya. Tumpukan baju di dalam kardus, atap yang bocor, dan bau lembap dari dinding yang berjamur.

Dua dunia ini tidak akan pernah bisa menyatu, pikir Agus.

Ia teringat uang empat ribu rupiah di saku celananya yang kini tergeletak di lantai. Ia meraih celana itu, mengambil uangnya, dan menaruhnya di bawah bantal. Uang itu terasa seperti ejekan. Ia merasa dirinya adalah seorang badut yang baru saja pulang dari pesta besar, dan kini ia harus kembali ke persembunyiannya yang kumuh.

Air mata Agus jatuh lagi, membasahi bantalnya yang sudah mengeras. Ia menangis tanpa suara, karena ia tahu ibunya mungkin masih mendengarkan dari balik pintu. Ia menangis karena ia sadar bahwa mencintai Rahma adalah sebuah keberanian yang paling menyakitkan yang pernah ia miliki. Ia mencintai wanita itu dengan seluruh sisa martabatnya, namun kenyataan selalu punya cara untuk merobek martabat itu hingga tak bersisa.

Di luar, suara batuk bapak agus kembali terdengar, memecah kesunyian malam. Agus memejamkan matanya rapat-rapat, mencoba melarikan diri ke dalam mimpi di mana ia tidak perlu memikirkan tentang biaya koperasi, tentang debu semen, atau tentang harga sebuah kemeja biru. Namun, bau parfum Rahma yang samar-samar masih menempel di tangannya seolah terus memanggilnya kembali ke dunia nyata yang kejam.

Malam itu, Agus tidur dengan rasa lapar yang mulai kembali menyengat, namun hatinya jauh lebih lapar akan sebuah kepastian yang mungkin tidak akan pernah ia dapatkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!