NovelToon NovelToon
HOT Duda Itu Majikan Hatiku

HOT Duda Itu Majikan Hatiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Duda
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: kikyoooo

WARNING ⚠️
(untuk umur 17 keatas)

...
Arkeas InjitAsmo hidup dalam keteraturan yang mewah. Baginya, hidup adalah tentang estetika dan wangi yang presisi. Namun, dunianya runtuh saat istrinya pergi dan ia harus mengurus Alisya sendirian di tengah kesibukan peluncuran parfum terbaru. Sepuluh pengasuh profesional sudah ia pecat dalam sebulan karena "bau badan mereka tidak estetik."

Masuklah Zollana, melamar pekerjaan. Karena sebuah insiden di mana Zollana tidak sengaja memecahkan Vas bunga kristal itu hingga hancur berkeping-keping, Arkeas justru menyadari satu hal: Alisya anaknya berhenti menangis saat berada di dekat Zollana.

Arkeas terpaksa mempekerjakan Zollana sebagai nanny sekaligus asisten rumah tangga dengan kontrak "Dilarang Ceroboh". Namun, nyatanya? Zollana justru membawa kekacauan yang berwarna di rumah minimalis Arkeas yang dingin.

...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9 Antara Genggam Tangan dan Gagal Cool 15+

...🌹🌹🌹...

Cahaya matahari pagi yang masuk lewat jendela besar penthouse Arkeas biasanya terasa estetik, tapi pagi ini bagi Arkeas, cahaya itu terasa seperti alarm kematian bagi harga dirinya.

Arkeas mengerjapkan mata. Hal pertama yang dia rasakan adalah lantai dingin di bawah tubuhnya. Hal kedua? Jari telunjuknya masih digenggam erat oleh tangan mungil Zolla yang tertidur pulas di sofa.

"Sial... gue ketiduran di lantai?" Arkeas berbisik panik.

Ia mencoba menarik tangannya pelan-pelan. Tapi dasar Zolla, dalam tidurnya pun dia posesif. Genggamannya malah makin kencang, dan gadis itu bergumam tidak jelas, "Jangan pergi... seblaknya belum mateng..."

Arkeas memutar bola matanya. Bisa-bisanya dia ngimpi seblak pas lagi pegangan tangan sama gue? batinnya kesal sekaligus... gemas?

Tepat saat Arkeas berhasil melepaskan jarinya, mata Zolla terbuka.

Satu detik. Dua detik. Tiga detik.

Hening.

Zolla mengerjap, melihat Arkeas yang sedang berlutut di samping sofanya dengan wajah yang jaraknya cuma sejengkal dari wajahnya. "Tuan... Arkeas? Tuan ngapain di lantai? Mau nyari kecoa?"

Arkeas langsung berdiri tegak secepat kilat, merapikan kaosnya yang agak kusut. "Saya... saya tadi lagi ngecek baby walker Alisya. Takut ada baut yang lepas. Kamu tidurnya kayak kebo, pantesan nggak denger saya lewat."

Zolla duduk, mengucek matanya yang masih mengantuk. "Masa sih? Kok tangan saya rasanya kayak habis megang sesuatu yang anget ya?"

"Itu... itu mungkin mimpi kamu tentang kerupuk seblak!" potong Arkeas cepat, suaranya naik satu oktav. "Sana cuci muka! Bau bantal kamu ngerusak aroma ruangan ini!"

Arkeas langsung melenggang pergi ke kamarnya dengan langkah kaku, meninggalkan Zolla yang masih bingung tapi mulai menyadari sesuatu. Zolla melihat selimut tipis yang menutupi tubuhnya.

"Perasaan semalam gue nggak pakai selimut deh..." Zolla tersenyum tipis. "Duda es batu itu... ternyata perhatiannya low-key banget ya?"

...🌹🌹🌹...

Siang harinya, Arkeas memutuskan untuk bekerja dari rumah karena ada beberapa sampel parfum baru yang harus dia uji di lab pribadinya. Tapi perutnya mendadak keroncongan.

Ia keluar ke dapur dan melihat Zolla sedang sibuk dengan penggorengan. Wanginya bukan bau seblak kali ini, tapi bau bawang goreng yang sangat menggoda.

"Zol, masak apa?" tanya Arkeas, mencoba kembali ke mode "Bos Dingin".

"Nasi goreng ala Zolla, Tuan. Spesial pakai cinta dan micin sedikit," jawab Zolla ceria.

Arkeas bersandar di meja island dapur, memperhatikan gerakan Zolla. "Saya nggak makan micin. Itu ngerusak sel saraf."

"Dih, kaku banget hidupnya. Sekali-kali makan micin biar otaknya ada hiburan, Tuan," Zolla menyodorkan sesendok nasi goreng ke arah Arkeas. "Coba dulu. Sedikit aja. Kalau nggak enak, potong gaji saya seratus ribu."

Arkeas ragu sejenak. Ia melihat sendok itu, lalu melihat wajah Zolla yang penuh harap. Akhirnya, ia membuka mulutnya.

Nyam.

Mata Arkeas sedikit melebar. Enak. Sangat enak. Rasanya hangat, gurih, dan ada sedikit sensasi pedas yang pas. Jauh lebih enak daripada nasi goreng hotel bintang lima yang biasa dia pesan.

"Gimana? Enak kan? Seratus ribunya aman ya?" goda Zolla.

Arkeas berdehem, berusaha tidak terlihat terlalu terkesan. "Lumayan. Tapi nasinya agak terlalu lembek. Besok-besok pakai beras yang lebih premium."

"Bilang aja enak susah banget sih, Tuan Gengsi," Zolla tertawa, lalu tanpa sadar ia mengambil tisu dan mengusap ujung bibir Arkeas yang terkena sedikit bumbu.

Tangan Zolla berhenti di bibir Arkeas. Arkeas juga terdiam. Sentuhan jari Zolla yang lembut di bibirnya membuat adrenalin Arkeas kembali berpacu. Ia menangkap pergelangan tangan Zolla.

"Zolla... kamu tahu nggak?" suara Arkeas merendah, berat dan seksi.

"Tahu... apa, Tuan?" bisik Zolla, nyalinya mendadak ciut tapi matanya tetap terkunci pada mata Arkeas.

"Tangan kamu bau bawang," ucap Arkeas datar, lalu ia melepaskan tangan Zolla dan mengambil piring nasi gorengnya dengan santai.

Zolla melongo. "ASTAGA! TUAN JAHAT BANGET!"

Zolla melemparkan serbet ke arah Arkeas yang sudah berjalan pergi ke meja makan sambil tertawa kecil—tawa kemenangan karena berhasil membalas ejekan Zolla tadi pagi.

...🌹🌹🌹...

Sore harinya, Arkeas memanggil Zolla ke lab parfumnya. "Zol, ke sini sebentar. Saya butuh hidung 'orang awam' kamu."

Zolla masuk ke lab yang penuh botol kaca itu. "Hidung orang awam? Maksudnya hidung saya nggak level ya?"

"Maksudnya, saya butuh tahu reaksi orang normal kalau mencium aroma ini. Sini, mendekat," Arkeas memegang sebuah botol kecil tanpa label.

Zolla mendekat. Arkeas menyemprotkan sedikit parfum itu ke pergelangan tangannya sendiri, lalu ia mendekatkan pergelangan tangannya ke hidung Zolla. Tapi kemudian, Arkeas berubah pikiran.

"Coba di sini," Arkeas menyemprotkan sedikit ke udara, lalu ia berdiri di belakang Zolla dan menyemprotkan sisanya ke arah tengkuk Zolla—area yang sangat sensitif.

Zolla merinding seketika. Sensasi dingin dari cairan parfum itu menyentuh kulit lehernya, disusul dengan aroma yang sangat intim. Bau kulit Arkeas yang maskulin bercampur dengan aroma parfum yang baru disemprotkan: Amber, Sandalwood, dan sedikit Jasmine.

"Gimana?" bisik Arkeas tepat di telinga Zolla. Ia mendekatkan hidungnya ke leher Zolla, seolah ingin ikut menghirup aromanya di sana.

"W-wanginya... kayak... kayak pelukan," jawab Zolla terbata-bata. Ia merasa lututnya mau lemas. Arkeas tidak menjauh, malah semakin mendekat hingga dadanya menyentuh punggung Zolla.

"Pelukan?" Arkeas mengulang kata itu dengan suara yang makin serak. Ia memejamkan mata, menghirup aroma parfumnya yang bereaksi dengan suhu tubuh Zolla. "Ternyata benar... di kulit kamu, aroma ini jadi lebih hidup."

Arkeas meletakkan tangannya di pinggang Zolla, memutar tubuh gadis itu agar menghadapnya. Dalam cahaya remang lab itu, suasana jadi sangat panas. Arkeas menatap Zolla dengan tatapan lapar—bukan lapar nasi goreng, tapi lapar akan sesuatu yang lebih.

"Tuan... Alisya nanti bangun..." Zolla mencoba mencari alasan agar jantungnya tidak meledak.

"Alisya lagi tidur nyenyak di kamar, Zol. Aturannya masih berlaku, kan? Jarak dua meter?" tanya Arkeas dengan senyum miring yang provokatif.

"Tuan sendiri yang langgar aturannya..." balas Zolla pelan.

"Aturan dibuat untuk dilanggar kalau ada 'gangguan' yang terlalu menarik seperti kamu," Arkeas menundukkan kepalanya, hidungnya bergesekan dengan hidung Zolla.

Tepat saat bibir mereka hampir bersentuhan untuk kedua kalinya—kali ini secara sadar—ponsel Zolla di saku celananya bergetar hebat. Ada notifikasi masuk.

Ting! Ting! Ting!

Arkeas menghela napas frustrasi, menjauhkan wajahnya sedikit. "Zollana... HP kamu bener-bener perusak momen ya?"

Zolla tertawa gugup, mengambil HP-nya. "Eh, ini notifikasi dari grup kosan, Tuan! Katanya ada tagihan listrik nunggak."

Arkeas memutar bola matanya, ia berbalik dan kembali sibuk dengan botol-botolnya. "Sana bayar. Pakai bonus yang saya kasih tadi malam di kening kamu."

Zolla tersenyum lebar, ia keluar dari lab dengan langkah riang. Adaptasi hari ini: Arkeas makin sering melanggar aturan sendiri, dan Zolla makin sadar kalau hidup di penthouse ini jauh lebih mendebarkan daripada film action mana pun.

...

(Bersambung ke Episode 10...)

1
falea sezi
alahh alah mas duda bucenn/Curse//Curse/
falea sezi
lanjooot
kikyoooo: wokey
total 1 replies
Indri
Terlalu berani karakter zolla
falea sezi
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!