Orang yang terlalu penasaran tidak selamanya berakhir indah. Contohnya Kimi Ariana yang kadang dipanggil Kimi Arigato, padahal tidak punya darah Jepang. Saking tak bisa menahan penasaran, Kimi kerap mencoba hal-hal yang di luar nalar.
Dan percobaan paling absurd yang merubah hidupnya?
Mencoba pacaran dengan.. perempuan tampan-ah, bukan, perempuan keren yang justru dijauhi banyak orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benrycia_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Setelak hari itu, kimi terus memperhatikan Anela. Semakin diperhatikan, semakin jengkel dia. Dua gadis itu kelihatan terlalu dekat. Entah dalam artian apa, tapi buat Kimi, itu cukup bikin perutnya panas tanpa sebab.
Ia sendiri bingung kalau mau mendekati Ruby. Malam ini, ia urung ke kamar Ruby setelah tahu Anela sudah datang duluan, Langkah kaki yang lewat kamarnya jelas Anela. Siapa lagi coba yang mau datang ke kamar Ruby?
Kimi bahkan sempat berpikir mereka melakukan sesuatu, tapi saat ia menempelkan telinga ke dinding, tidak terdengar suara apapun kecuali obrolan biasa.
.
Keesokan harinya, rasa penasaran kimi menang. Begitu melihat Marey dan Juli bersantai di balkon lantai dua, kimi langsung nyelonong duduk di antara mereka.
"Mereka pacaran ya?" tembaknya tanpa pemanasan.
Juli menoleh. "Siapa?"
"Ruby sama Anela."
Marey langsung nyahut. "Ya iyalah."
"Loh, tapi pelatihannya aja baru dua minggu. Berarti mereka baru kenal dong?"
"Orang-orang kayak gitu tuh cepet nyambung. Begitu tau sama- sama 'gitu', langsung klik," Marey bikin tanda kutip di udara.
"Denger sendiri dari mereka?"
"Ya enggak lah, tapi diliat aja udah tau kok."
Kimi mendengus pelan. kalau terus nanya, nanti malah dicurigai. Ia melirik ke arah Juli, tapi justru mendapati gadis itu sedang memandangi sesuatu di bawah. Kimi refleks ikut menoleh.
Di bawah, Bu Salma sedang berbincang dengan Pak Mahmud dan Pak Guntur.
Kimi mencondongkan tubuh sedikit dan berbisik, "Kamu naksir Pak Guntur ya?"
Juli langsung tersentak, hampir menumpahkan minumannya. "Enggak lah! Gila aja, udah punya istri gitu,"
Kimi mengernyit. kalau bukan Pak quntur, lalu siapa yang bikin Juli melotot dari tadi? Bu Salma? Mustahil.
Atau jangan-jangan.. Pak Mahmud?
Eh, masa sih?
~
Malam Minggu biasanya diisi dengan kegiatan yang lebih menyenangkan, Ini semacam versi lain dari acara keakraban Minggu sore. Bedanya, kali ini ada barbeque bersama. Bukan hanya para peserta pelatihan, tapi juga para pembimbing. Total ada sembilan pembimbing di sini, termasuk Clarissa.
Aroma daging panggang memenuhi udara malam di
depan asrama. Di sudut meja, ada minuman beralkohol ringan, entah ide siapa. Mungkin panitia ingin suasananya lebih santai. Tapi santai bukan berarti mabuk kan?
Musik lembut mengalun dari speaker di teras asrama. Beberapa peserta mencoba meminta lagu yang lebih nge-beat, tapi Clarissa segera menolak sambil tersenyum manis. "Harus tetap elegan," katanya
Baiklah. 'Elegan' katanya. Padahal ini barbeque, bukan gala dinner.
"Gimana, Kimi? Sudah paham semua materi Minggu lalu kan? kalau ada yang belum paham, bisa tanya saya," Ujar Pak Mahmud sambil mengunyah daging.
Kimi hampir mendengus. Dari semua orang, kenapa dia yang paling diperhatikan si bapak satu ini? Pasti karena dia yang dianggap paling lemot.
" Saya tuh tipe yang praktek dulu, baru otaknya jalan, Pak," sahutnya malas-malasan.
Pak Mahmud menatap nya dengan senyum santai. "Waduh, kalau otak kamu jalan-jalan ribet juga ya."
"Pak, plis. Jangan sampai saya panggil bu Clarissa ke sini."
Tawa kecil terdengar di sekitar meja. Bu Salma datang sambil membawa piring kecil. "Kimi, kalau ada yang makan melebihi anggaran, apa yang akan kamu lakukan?" tanyanya tiba-tiba.
Kimi menjawab tanpa mikir, "Saya lempar ke hutan, Bu. "
Bu Salma geleng-geleng kepala. "kurang efektif, Kimi. Kamu malah bisa dipenjara. Harusnya minta ganti rugi."
Kimi mendesah lelah, melirik teman-temannya yang sibuk ngobrol. Juli sesekali menoleh, seolah mencari alasan untuk menyelamatkannya dari interogasi para pembimbing.
Di sisi lain halaman, dua orang duduk agak terpisah. Anela dan Ruby. Mereka makan dan minum sambil tertawa kecil, terlalu nyaman satu sama lain. Anela sampai tersenyum lebar, seperti dunia ini milik merek berdua.
Kimi menatap mereka lama-lama. Perutnya mendadak panas lagi. Tuh kan, makin akrab aja. Jangan-jangan beneran pacaran, batinnya gelisah sendiri.
"Bu," tiba-tiba kimi bersuara., "kalau misalnya lulus, bisa gak sih request ditempatin bareng temen?"
Bu Salma mengerutkan kening. "Maksudnya di perusahaan yang sama?"
Kimi mengangguk polos.
Bu Salma melirik sekilas ke arah Pak Mahmud, lalu menggeleng. "Enggak bisa, kimi. Penempatan tergantung kebutuhan perusahaan."
Kimi menghela napas pelan. Ya udah deh. Tapi tolong, Tuhan, kalau bisa, dua orang itu dipisahin aja. kalau perlu beda negara sekalian.
Setelah semua perut kenyang, Clarissa menepuk tangan memanggil perhatian, Semua mata langsung tertuju padanya. Ia tersenyum lembut tapi penuh jebakan.
"Seperti minggu kemarin, malam ini kita main game ya," ujarnya sambil melirik dua orang yang duduk terpisah. "Eh, Ruby sama Anela, deket-deket sini dong. Jangan kayak peserta tambahan,"
Janu langsung bersorak. "Wah, seru nih! Tapi jangan kayak kemarin, Bu. Nyari jangkrik malem-malem gitu. Saya masih trauma,"
Clarissa tertawa kecil. "Tenang, kali ini lebih seru. Kita main Cari Harta Karun!"
Semua peserta langsung melongo.
"Bu, plis deh, klise banget. Gak seru. Pasaran," protes Juli sambil melipat tangan. "Paling juga barang absurd diumpetin di sekitar asrama. ketebak banget."
Clarissa tersenyum lebar. "Barangnya gak absurd, Juli. Ini voucher jalan-jalan ke kota terdekat, dari pagi sampai jam empat sore. Bisa dipakai Minggu kapan aja."
Sorak-sorai langsung pecah. Kata jalan-jalan bikin semua mendadak semangat lagi, kecuali tiga orang: kimi, Ruby, dan Anela.
Febi langsung mengangkat tangan dengan ekspresi penuh harap. "Nyari sendiri-sendiri atau kelompok, Bu?"
Marey ikut maju, "Bentuk vouchernya gimana?"
"Oke. Tenang. Tenang. Voucher itu disimpan di dalam kotak hitam. Satu kelompok tiga orang. Nah, kalian bisa cari dimana pun selama masih area sini," jelas Clarissa.
"Yang jelas gedung kan, Bu? Gak tiba-tiba nyasar di taman atau lapangan?" tanya Apri memastikan.
Clarissa mengangguk mantap. "Oh, iya. Di gedung kok,"
"Yes. Gampang berarti," Janu bertepuk tangan sambil meregangkan tangan.
"Nah, kelompok satu: Juli, Desi, Apri. Kelompok dua: Anela, Febi, Nove. kelompok tiga: Janu, Marey, kimi. kelompok empat: Meisy, Juni, Septi. kelompok lima: Okta, Agus, Ruby."
Kimi yang mendengar namanya tidak ada di kelompok Ruby langsung lemas. Ingin protes, tapi-
"Bu, sorry nih ya. Gak ada maksud apa-apa, tapi saya pengen satu kelompok sama. Okta," tiba-tiba Janu bersuara.
Clarissa melipat tangan penuh curiga. "Tidak bisa. kalian harus harmoris dengan semua anggota."
"Bukan soal harmonis, Bu. Kita semua harmonis kok. Tapi kalau misalnya menang, kan hadiahnya dibawa tim masing-masing. Nah, berhubung saya sama Okta satu kelas, ada yang mau kita teliti di luar."
"Eh iya, bener. Ada komponen yang mau kita observasi, Bu," Okta menambahkan, terlihat meyakinkan.
Clarissa melirik-lirik para pembimbing lain yang cuma mengangkat batu, lalu berpikir sejenak. Akhirnya ia mengangguk pasrah. Alasan mereka masuk cakal, lebih ke riset daripada sekadar jalan-jalan.
"Oke. Kimi, kamu tukeran sama Okta," Kimi mengedip beberapa kali. Demi apa doanya terkabul? Dia memang berharap bisa. satu kelompok dengan Ruby. Ini jelas kesempatan langka untuk bisa dekat tanpa dicurigai.
Dengan semangat yang ditahan-tahan, Kimi mendekat ke kelompok lima. Agus cuma nyengir pasrah, sementara Ruby tetap santai. Meski ia sempat bingung, kenapa semesta tega bikin dia satu tim sama cewek sok asik ini?
Semuanya masih terkendali, sampai Pak Guntur membagikan senter ke masing-masing anggota.
"Senter buat apaan, pak? kan di dalam juga terang," kata Septi, menatap senter di tangannya dengan heran.
Pak Guntur menggeleng serius. "Kecuali rumah pembimbing dan staf, listrik bakal dimatiin."
Seketika semua cengok. Tapi niat protes gagal saat Clarissa memberi aba-aba untuk bergerak.
Tim Kimi mulai dari asrama cewek, sedangkan yang lain bergerak ke asrama cowok dan kampus. Kamar yang terisi? Dilarang diperiksa. Hanya kamar kosong yang boleh.
"Dih, sumpah. Kenapa harus dimatin segala listriknya? Ini udah kayak uji nyali," oceh kimi kesal. "Lagian gimana lihat kotaknya coba, mana item begitu. Terus asrama kalau gelap ini kok serem banget ya?"
"Lo takut?" Agus cekikikan. "Hati-hati kim. Nih asrama udah setahun gak ditempatin, kan cuma diisi pas pelatihan,"
Kimi memutar mata. Dia tidak takut hantu. Yang bikin deg degan itu orang jahat, apalagi kalau brewokan.
"Kita mencar aja biar cepet. gw cari bagian belakang. kalian terserah," kata Ruby, langsung bergerak sendiri.
Kimi ingin menahan, tapi ide Ruby masuk akal juga.
"Gw di bawah, lo ke lantai atas aja, Di atas lebih dikit," kata Agus sambil mulai jalan.
Kimi mendengus, lalu naik tangga denan hati-hati. Rata-rata anggota memang ambil kamar atas. Di lantai bawah cuma tiga kamar yang terisi, katanya sih pemandangan di atas lebih oke.
Dia mulai memeriksa kamar-kamar kosong. Hasilnya Benar-benar kosong. Kotak hitam berisi voucher itu tak tampak. Balkon? Nihil juga.
Saat kimi menyerah dan mulai menuruni tangga., tiba-tiba kakinya tergelincir di beberapa anak tanga terakhir. Teriakannya yang brutal membuat Agus dan Ruby langsung kabur ke depan.
"Ya ampun! kok bisa nyungsep?!" seru Agus panik, langsung meraih tangan Kimi agar berdiri.
"Bentar! Bentar! Kaki aku kayaknya patah. Lutut copot. Pantat pecah!" keluh kimi hampir nangis.
"Coba lihat," kata Ruby sambil menyorotkan sinar senternya ke lutut kimi. Ada lebam di salah satu lututnya, tapi tidak terlalu jelas.
"Bisa berdiri?" tanya Agus lagi, mulai ngeri kaki kimi beneran patah.
Kimi mengangguk sok kuat. "Bisa. Tenang. Aku setrong."
Akhirnya kimi berdiri, tapi jalannya pincang. Lutut dan pergelangan kaki kirinya terkilir. Saat Ruby ingin membantu, Agus langsung mendorongnya menjauh.
"No. Jangan sentuh-sentuh. Entar lo napsu lagi," sindir Agus keras.
Ruby terdiam. Kimi menganga.
"Lah, Gus, kamu kok gitu sih? Dia teman kita juga kan?" kata Kimi berusaha membela.
"Jangan kasih ikan asin ke kucing. Jauhi masalah itu salah satu cara biar hidup tenang," kata Agus serius.
"kamu ngomong apa sih?" kimi menoleh ke Ruby yang akhirnya berjalan sendiri.
"Eh, eh. Uby! Bantu dong. Aku gak bisa jalan-" "Apa sih, kim? Gw sendiri juga bisa kalau gendong lo doang."
Kimi menatap punggung Agus yang berjongkok di depannya. Memang tubuh Agus lebih besar sedikit dari kimi, tapi aneh kalau digendong. kecuali sama Ruby, baru Kimi mau. Agak lain sih. Dan sekarang dia malah penasaran dengan rasa punggung Ruby.
"Enggak deh. Jalan sendiri aja," kata kimi sewot.
Agus cuma bisa melongo melihat kimi terpincang, sesekali berhenti menarik napas. Ia tahu kimi marah karena ucapan tajamnya tadi ke Ruby, tapi ia tetap merasa tidak ada yang salah. Ruby itu maniak. Kimi harus dijaga agar tidak jadi korban.
"Uby!"
Ruby menoleh, Ia hanya melihat Kimi terpincang-pincang, tapi tak lagi berniat membantu.
"Uby, maafin omongan nya Agus ya. Kayaknya dia tipe yang asal ceplos. Gak pake mikir."
Agus yang menyusul cuma bisa memutar mata. Dijagain malah marah, batinnya kesal.
Ruby tidak menjawab, malah terus melangkah ke arah pembimbing. Bu Salma dan Clarissa yang melihat Kimi kesulitan langsung setengah berlari menyusul dan menolong.
"Ini temennya pincang begini kok gak ada yang mau bantu sih?" tegur Clarissa tak habis pikir.
"Kamu kenapa, Kimi?"
"Tadi gak sengaja jatuh di tangga, Bu," jawab Kimi masih bete.
"Sorry nih, Bu. Bukan gak mau bantu, tapi dia-nya. yang gak mau," Agus membela diri.
Clarissa. mendengus. Setelah berkumpul dengan pembimbing lain, akhirnya ia meminta semua anggota menghentikan permainan karena sudah ada korban. Kecewa memang, tapi siapa yang mau ambil resiko?
Saat Clarissa hendak memberitahu lokasi kotak hitam, Ruby mengeluarkan amplop hitam dari kantong jaketnya.
"Ini bukan?" tanyanya sambil mengangkat amplop.
"Benar! Itu vouchernya," kata Carissa sambil menepuk tangan kagum. "Ketemu di manca?"
"Gudang belakang asrama. Nyempil di balik rongsokan," jawab Ruby agak kesal. Posisi amplop itu memang tersembunyi total. Untung Ruby totalitas membongkar semuanya, karena ia curiga melihat gudang jauh lebih berantakan dari sebelumnya.
"Itu bukan kotak, Bu. Itu amplop!" protes Marey setengah ngamuk.
Clarissa terkekeh senang. "Ya, biar makin seru kan. Tapi saya gak nyangka kamu bisa nemuin amplop ini. Padahal sudah diselipkan sedalam itu,"
"Bu, niat ngasih gak sih? kok kesannya kayak gak pengen ditemuin amplopnya?" Juli ikut kesal.
Clarissa dan pembimbing lain tertawa canggung. Mereka memang tidak terlalu serius soal hadiahnya. Tapi karena sudah ditemukan, ya mau bagaimana lagi.
Akhirnya permainan malam itu dimenangkan kelompok lima. Meski begitu, keseruan tetap terasa karena kelompok lain juga bersenang-senang, saling menakuti, dan bahkan setelah listrik kembali menyala, wajah pucat beberapa peserta menunjukkan kalau mereka sudah jadi korban keisengan teman-temannya.
Saat semua dibubarkan, Febi, Desi, dan Juli mengantar kimi ke klinik. kimi jalan terpincang sambil menggerutu.
"Sumpah, dari semua orang, kenapa harus aku yang sial?"
Juli hampir tertawa. "Makanya punya mata dipake. Udah tau gelap, malah merem."
"Aku gak merem, Cuma lagi apes aja."
Desi ikut nimbrung. "Perasaan tangganya gak licin deh. Jangan- jangan ada yang dorong kamu. Penghuni asrama misalnya."
Kimi makin bete, matanya menatap Desi. "Demit? kalau emang tadi ada, bakal ku ajak joget salsa."
Tidak ada yang bisa menahan tawa, dan itu sukses bikin kimi makin manyun. Tapi dibalik itu, ia cukup lega karena bisa cepat akrab dengan semuanya. Apalagi sekarang mereka benar-benar khawatir, sampai mau mengantar dan mendengar keluh kesahnya.
Setelah diperiksa, ternyata tidak ada tulang yang patah, hanya memar dan keseleo. Meski begitu, Kimi harus istirahat selama beberapa hari. Kelompok nya memang menang, tapi malam itu rasanya kimi termasuk sial.
"Kamu hebat. Sayangnya aku gak bisa ikut jalan-jalan," kata Anela saat mereka berjalan kembali ke asrama.
"Hm, iya. Jalan-jalan sebentar mungkin bisa balikin mood. Tapi kalau mau, aku bisa minta ke Bu Rissa buat tuker tempat sama kamu," Ruby terkekeh kecil.
"Serius?"
Ruby mengangguk, sempat melirik anak tangga tempat Kimi jatuh tadi sebelum naik ke atas.
"Tapi enggak deh. kalau jalan gak sama kamu,tetep aja gak asik," kata Anela lagi.
"kalau mau jalan bareng, ya nunggu sepuluh minggu lagi."
Anela tertawa, sedikit bergeser saat Janu dan 0kta naik melewati mereka tanpa menoleh.
"Anjir, nyesel gw pindah ke kelompok lo," gerutu Okta, suaranya lebih mirip mengeluh main-main.
Janu terkekeh. "Emang kenapa? Daripada lo dicium orang random. Ketularan baru tau lo,"
"Buset, ogah banget."
Keduanya tertawa, sementara Anela dan Ruby masih berjalan pelan di belakang tanpa terganggu sama sekali. Mereka bukan tidak tahu target sindiran itu, tapi ya..sudahlah.
Ruby menatap sekeliling. Dunia di sini sempit sekali. Diluar sana, mungkin tidak pernah ada orang yang menghakiminya. Tapi di sini, ia baru sadar seperti apa orang lain melihat dirinya.
.