Usianya baru menginjak 20 tahun, dia masih kuliah semester empat. Kania Gabriela, gadis yang ceria dan manja itu bersahabat dengan Bella Anastasya yang memiliki seorang paman bernama Axel Niel Pradita Winata.
Laki-laki blesteran Jerman Jawa itu adalah seorang duda beranak satu. Kania mengenal Axel dari sahabatnya Bella yang juga blesteran Jerman Jawa dari mamanya.
Karena iseng sering mengobrol dengan Axel om dari sahabatnya, Kania justru mengajak laki-laki itu menikah.
"Om, nikah yuk?"
"Eh, bocah. Kuliah yang benar, jangan mikir nikah."
Begitulah ketengilan Kania pada
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummi asya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
09. Baikan
Sudah satu Minggu lebih Kania dan Bella tidak lagi sering berkunjung satu sama lain, kedua orang tua mereka heran kenapa sahabat anaknya itu tidak pernah datang lagi.
"Kania, kok Bella ngga kesini lagi ya. Ada apa sih?" tanya mamanya Kania.
"Ngga apa-apa ma, mungkin dia sibuk." jawab Kania.
"Sibuk? Sibuk apaan? Dia lagi beternak?"
"Iya kali." jawab Kania malas.
Perempuan yang masih berwajah cantik itu meski usianya sudah empat puluh tahun lebih hanya menggeleng kepala saja dengan jawaban anaknya.
"Kalian lagi berantem ya?" tanya mamanya lagi.
"Ngga."
"Kalau ngga berantem, kenapa Bella ngga pernah main lagi kesini."
"Mama kepo banget deh, ya ngga tahu dia kenapa ngga mau main kesini lagi," jawab Kania dengan kesal.
"Kania, kamu itu udah sahabatan sama Bella udah lama. Sejak kelas dua SMA, kenapa sekarang jadi berantem. Memangnya kalian ribut apa sih? Rebutan cowok?" tanya mamanya lagi dengan tidak sabar.
Kania menatap mamanya sambil mendengus kasar, tapi kembali memainkan ponselnya.
"Sayang, kalau berteman itu harus baik-baik. Jangan sering berantem, coba bayangkan kalau kamu ngga punya teman lagi. Ngga punya sahabat lagi, pasti hidupmu ngga enak."
"Di kampus aku banyak teman ma, ngga temenan sama Bella juga ngga apa-apa. Lagian itu itu aneh, masa aku suka sama om Axel ngga boleh.," ucap Kania tanpa sadar.
"Apa?! kamu suka siapa?" tanya mamanya terkejut.
Kania menoleh pada mamanya lalu memejamkan mata tanda menyesal.
"Bukan gitu ma, ya kan Bella itu punya Om ganteng. Kan ngga apa-apa cuma kenal doang kan," ucap Kania mencoba menenangkan mamanya.
"Tunggu, Bella punya om? Lalu kamu suka sama omnya Bella?"
"Suka aja ma."
"Omnya Bella punya istri?"
"Punya anak juga."
"Astaga Kania, kamu itu ya. Ya tentu saja Bella marah sama kamu, kok suka sama om-om sih? Teman cowok kamu di kampus juga banyak kan yang ganteng-ganteng."
"Ya emang kenapa kalau suka om-om? Om Axel itu baik ma, lagian ya punya istri tapi kan bisa cerai."
"Astaga Kania, jangan bicara seperti itu. Anak kecil bicara yang tidak baik."
Kania diam, dia menatap mamanya yang marah sekali padanya.
"Kalau gitu, ngga usah lagi pergi ke rumah Bella. Malu mama jadinya dengan tingkahmu itu," ucap mamanya.
"Ih, siapa juga yang mau ke rumah dia. Aku lagi marah sama dia, ma." ujar Kania.
"Baguslah kalau begitu, biar kamu ngga menggoda suami orang."
Setelah berkata seperti itu, perempuan yang masih terlihat cantik tersebut pergi meninggalkan anaknya. Yang awalnya penasaran kenapa bisa Bella tidak pernah datang lagi. Dan ternyata memang anak gadisnya menyukai om-om.
_
Sejak ucapan mamanya padanya, Kania banyak merenung dengan sikapnya itu yang menyukai laki-laki yang lebih dewasa. Meski pun memang itu hal lumrah, namun tidak lumrah kalau menyukai laki-laki yang sudah beristri.
Dan sebutan seseorang yang merebut suami orang namanya pelakor, Kania tidak mau di juluki seperti itu. Harga dirinya akan jatuh jika statusnya menjadi pelakor.
Setelah beberapa kali berpikir, Kania akhirnya mengalah. Dia ingin berbaikan dengan Bella sahabatnya.
Pagi itu, Kania datang menjemput Bella untuk pergi ke kampus, seperti biasa gadis itu mengendarai motor Scoopy-nya menjemput Bella. Sengaja dia tidak memberitahu melalui telepon agar untuk kejutan untuk Bella.
"Halo pak, selamat pagi," sapa Kania pada sang penjaga rumah Bella.
"Eh, non Kania. Tumben datang lagi, lama lho ngga jemput non Bella ke kampus."ucap satpam.
"Iya, kita tadi lagi marahan pak. Tapi sekarang udah ngga lagi, heheh," jawab Kania, berharap memang begitu adanya setelah ketemu Bella.
"Oh begitu ya, pantas saja. Dan non Bella juga ngga pernah tanya sepertinya."
Kania tersenyum, dia masuk ke dalam halaman rumah besar itu. Rumah Bella dan rumahnya sama-sama besar, mobil Bella juga punya tiga. Satu punya mamanya, satu punya papanya dan satu sebenarnya untuk Bella. Tapi gadis itu tidak mau pergi ke kampus dengan mobil, lebih suka naik motor dengan Kania.
Mereka bergantian naik motor, kadang Scoppy punya Kania yang di pakai. Kadang juga milik Bella, namun begitu persahabatannya kali ini dengan Bella, baru pertama kali ini ribut yang sangat serius.
Ting tong.
Kania memencet tombol rumah beberapa kali, tak lama muncul Bella dengan penampilan yang sudah siap pergi ke kampus juga. Gadis itu kaget Kania berdiri di depan rumahnya dengan wajah ceria dan senyum manisnya.
"Hai Bella," sapa Kania.
Bella membola matanya tapi kemudian dia melangkah keluar tanpa menjawab sapaan Kania. Tentu saja Kania kaget sikap sahabatnya masih kesal padanya.
Dia mengejar Bella dan menarik tangan gadis itu dengan keras membuat Bella kaget dan hampir jatuh.
"Apaan sih, gue mau jatuh ini!" ucap Bella kesal.
"Eh, gue udah damai ya tadi. Lo kok tinggalin gue begitu aja," Kania membalas ucapan Bella.
"Ck, gue mau berangkat ke kampus sendiri." kata Bella.
"Gue udah datang mau jemput Lo berangkat kuliah bareng."
"Ogah. Lo belum minta maaf sama gue," ucap Bella.
"Ya elah, kan yang salah Lo. Kok gue sih yang harus minta maaf, udah bagus gue datang duluan ke rumah Lo."
Bella menatap kesal pada Kania, beberapa detik mereka saling tatap. Tapi kemudian tersenyum kecil lalu tertawa.
"Udah yuk berangkat."
"Let's go!"
mereka pun menaiki motor, satpam yang melihat kejadian kedua gadis cantik itu pun menggeleng kepala. Heran yang awalnya teriak-teriak tapi kemudian kini sudah ceria lagi.
"Ck, aneh sekali mereka. Tapi syukurlah sudah baikan lagi."
_
_
*****