NovelToon NovelToon
Sang Istri Muda

Sang Istri Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Liaramanstra

"Saya memilih dia sebagai istri bukan karena dia spesial, tapi karena kemungkinan memberontaknya lebih kecil. Dia lemah, ceroboh, dan bodoh. Dia tidak akan terlalu mempengaruhi hidup saya."

Itulah kata-kata yang Prabujangga lontarkan saat sang ayah terus mendesaknya untuk menikah. Diantara semua pilihan, Prabujangga memilih seorang gadis yang jauh lebih muda darinya.

Dia Kharisma, putri bungsu kesayangan di keluarganya. Terlalu dijaga, hingga tak pernah mengenal dunia luar sampai akhirnya harus menikah dengan Prabujangga yang tak lain adalah CEO dingin yang tak pernah menganggap cinta itu ada.

Prabujangga memilih Kharisma bukan karena cinta, tapi karena dia terlalu polos untuk memberontak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liaramanstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 : Ingin Memenangkan Persaingan

Helaan napas panjang lolos dari bibir mungil Kharisma saat dia menutup pintu kamar di belakangnya. Dia masih tidak mengerti dengan perubahan Ivana yang tiba-tiba.

Apa sebenarnya salahnya? Apakah ia membuat Ivana kesal? Tapi karena apa?

Dengan tangan bertaut gelisah Kharisma melangkah. Bukan untuk mendekat ke arah para keluarga Wimana berkumpul, tapi ke tempat di mana ia anggap sunyi dan memberinya ketenangan untuk berpikir.

Kharisma menunduk, menatap lantai dengan raut lesu yang sangat kontras dengan keceriaan yang selalu ia tunjukan.

Hari ini ia mengalami begitu banyak hal. Mendengar percakapan Prabujangga dan Batra di teras, menangis di Mall setelah belanja, dan sekarang sikap Ivana yang tiba-tiba ini.

Tapi saat Kharisma berpikir, ternyata semua ini bisa dihubungkan.

Ivana tiba-tiba berubah karena Kharisma ingin menjabat tangan dan menyentuhnya. Lalu Ivana sedikit menuduhnya bahwa ia ingin menyentuh wanita itu karena ingin hamil juga. Lalu percakapan Prabujangga dan Batra di teras, di mana Batra sepertinya menjadi alasan mengapa Prabujangga sangat ingin memiliki seorang anak.

Prabujangga dituntut, dan Kharisma sungguh sedih membayangkan beban itu.

Sepertinya di keluarga ini ada persaingan ketat soal keturunan dan anak. Spesifikasinya adalah anak laki-laki.

Kharisma jadi ingat beberapa saat setelah ia menikah dengan Prabujangga. Laki-laki itu dengan lantangnya mengatakan bahwa dia menginginkan anak laki-laki. Bahkan, Kharisma masih ingat saat Prabujangga mengatakan ingin menghamilinya berkali-kali sampai mendapatkannya. Mendapatkan bayi laki-laki.

Kharisma memejamkan matanya, punggungnya bersandar pada tembok.

Ia perlu bernapas sejenak.

Tepat saat Kharisma membuka mata kembali, ia mendapati kehadiran seseorang tepat di hadapannya. Kharisma berharap bahwa saat membuka mata ia akan melihat lantai kosong, tapi ia justru melihat sepatu seseorang yang kini berada di hadapannya.

Kharisma menatap sepatu laki-laki itu, yang merupakan sepatu kulit mahal yang terlihat mengkilap tanpa debu, sebelum akhirnya mendongakkan kepala dan mendapati kehadiran Prabujangga di sana.

"Mas—"

"Ada apa?"

Bibir Kharisma terkatup saat Prabujangga menyela ucapannya.

Prabujangga melangkah maju dan mempersempit jarak, membiarkan ujung sepatunya bersentuhan dengan ujung kaki Kharisma. Posisi ini membuat Kharisma mau tak mau melesak ke dinding karena dihimpit oleh tubuh besar suaminya itu.

"Sudah saya duga pasti ada yang salah," bisik Prabujangga, mengangkat dagu Kharisma dengan jari telunjuknya. "Tadi tiba-tiba menangis, lalu sekarang diam-diam menyendiri di lorong?"

Tatapan Prabujangga sepenuhnya melunak, ekspresi keras nan datar yang biasanya menghiasi wajah tampannya kini sedikit luntur saat berhadapan dengan Kharisma.

"Ingin menangis lagi?"

Pertanyaan itu langsung saja membuat Kharisma menggeleng kuat.

"Tidak, aku tidak ingin menangis lagi kok, Mas..." ucap Kharisma, bibirnya mengerucut tak suka mendengar pertanyaan Prabujangga. Laki-laki itu pasti ingin mengatainya kekanak-kanakan lagi.

"Lalu?" Prabujangga sedikit memiringkan kepalanya. "Kenapa tidak bergabung dengan yang lain dan diam di sini?"

"Hanya ingin saja, sambil menunggu Mas Prabu," dalih Kharisma, sengaja mengalihkan pandangan.

Prabujangga ini entah kenapa membuat jantungnya tiba-tiba berdegup kencang. Ekspresi melunak laki-laki itu yang terlihat lebih bersahabat sepertinya membuat Kharisma merasakan sesuatu yang aneh. Ia tidak pernah melihat Prabujangga menatapnya dengan tatapan seintens itu.

"Menunggu saya? Jangan berbohong." Prabujangga menegakkan tubuh, tangannya bersedekap di dada. "Kamu meninggalkan saya tadi, sekarang mengaku menunggu."

Kharisma mencebik. "Tapi kan tadi Mas yang tiba-tiba menghilang," balasnya, ragu-ragu menatap Prabujangga. "Katanya teman-teman Kak Ivana akan datang, jadi Mas tidak bisa masuk."

Kharisma bisa melihat ekspresi Prabujangga sedikit berubah.

"Teman-teman?" ulangnya, langsung mendapatkan anggukan dari Kharisma.

"Tapi sudah diputuskan hanya akan ada anggota keluarga saja yang datang," ucap Prabujangga dengan sebelah alis terangkat, seolah-olah mempertimbangkan apakah Kharisma jujur atau berbohong. "Teman-temannya jelas tidak bisa jika ingin datang sekarang."

"Tapi Kak Ivana berkata seperti itu, kok." Kharisma menghela napas, sekarang baru menyadari bahwa ternyata ia diusir. "Sepertinya dia memang ingin aku pergi saja..." gumamnya.

"Ingin apa?"

Kharisma kembali melirik ke arah Prabujangga.

"Katakan dengan jelas jika bicara dengan saya, jangan berbisik seperti itu," tuntutnya pelan. "Ivana ingin apa tadi?"

"Ingin... aku pergi," cicit Kharisma, kepalanya tertunduk, dan tubuhnya berayun-ayun pelan dengan gugup. "Sepertinya Kak Ivana lelah—"

"Memangnya kenapa?"

Tapi Prabujangga kembali menyela.

"Kamu mengatakan apa pada Ivana sampai dia berbohong seperti itu dan ingin kamu pergi dari ruangannya?"

Entah kenapa pertanyaan itu justru Kharisma anggap sebagai tuduhan. Jelas-jelas nada Prabujangga tidak menyudutkannya, tapi pertanyaan itu secara tidak langsung menunjukkan bagaimana tidak yakinnya Prabujangga pada Kharisma, kan?

"Aku hanya ingin memberi selamat saja, Mas..." ungkap Kharisma merasa bersalah. "Aku mengulurkan tangan seperti ini." Kharisma mempraktekannya dengan mengulurkan tangan ke arah Prabujangga. "Tapi tiba-tiba Kak Ivana berubah tidak senang. Aku tidak tau kalau di bersentuhan dengan orang hamil itu artinya ingin hamil juga."

Kharisma memperhatikan reaksi Prabujangga. Dia menendang-nendang kecil ujung sepatu suaminya itu. "Sepertinya Kak Ivana tidak suka disentuh—"

"Jika dia beranggapan seperti itu, artinya dia tidak ingin kamu hamil juga, Kharisma."

Kharisma terbelalak mendengar pernyataan Prabujangga yang blak-blakan.

"Kamu tidak mengerti maksud saya?" Prabujangga menatap Kharisma dengan sorot yang kembali menajam, tangannya terulur untuk meraih tangan sang istri yang terjulur. "Jika dia tidak ingin kamu menyentuhnya setelah salah menganggap bahwa kamu ingin hamil juga, itu sudah pasti dia tidak ingin kamu hamil juga. Di keluarga saya untuk hal seperti ini memang sangat ketat persaingannya."

Kharisma mengangguk pelan, memaksakan senyum tipis. "Itu juga makannya Mas ingin cepat-cepat memiliki anak, kan? Karena ingin memenangkan persaingan?"

...***...

"Menurut kamu, siapa yang akan datang untuk mewakilkan kakek?"

Pertanyaan Nada sontak membuat Prabujangga buyar dari lamunannya. Laki-laki itu mendongak, tapi bukan untuk menatap ibunya yang duduk tepat di sampingnya. Tapi pada Kharisma yang berdiri di seberangnya.

Setelah percakapan yang belum sepenuhnya selesai, Kharisma tak sama sekali bicara padanya selama tiga puluh menit penuh. Perempuan itu pasti benar-benar berasumsi bahwa Prabujangga memang menganggap semua ini sebagai persaingan. Tapi seharusnya Prabujangga tidak merasa frustasi seperti ini, kan? Lagipula memang benar Prabujangga ingin memenangkan persaingan. Lalu kenapa ia jadi begitu tidak senang hati saat Kharisma bereaksi kecewa?

"Sepertinya Benjamin. Dia selalu dipercaya untuk datang di momen-momen seperti ini," jawab Prabujangga, tanpa menoleh ke arah Nada yang membuang napas panjang. Tentu saja Nada menyadari keanehan ini.

"Kamu berantem sama istri kamu?" tanya Nada, mengikuti arah pandang Prabujangga yang terfokus pada Kharisma yang sengaja membuang muka, menatap benda apapun selain laki-laki itu.

"Tidak," jawabnya enggan. "Hanya sedikit kesalahpahaman."

Tepat di saat bersamaan, pintu ruangan terbuka dengan cukup keras. Hal itu mengagetkan hampir sebagian besar para Wimana yang menunggu di luar, mengalihkan atensi mereka sepenuhnya.

Batra yang tengah sibuk berbincang dengan saudara-saudaranya seketika berhenti, begitupun dengan Dela dan juga para menantu yang langsung menghentikan gosip rumah tangga mereka. Di seberang, Kharisma langsung mendongakkan kepala.

"Ada apa, Indra?" Viraj—ayah Indra, buru-buru mendekat dengan raut bingung saat melihat putranya keluar kamar rawat dengan rahang mengetat.

Prabujangga bangkit, mengikuti sang ibu yang juga bangun dari duduknya. Tapi tatapannya tak bisa lepas dari Kharisma yang mengerjap bingung di tempatnya.

"Indra, Papa bicara pada kamu—"

"Hasilnya sudah keluar," sela Indra, tangannya bergerak mengacak-acak rambut dengan frustasi.

Gestur itu jelas mengundang tanda tanya pada seluruh anggota keluarga. Mereka saling bertukar pandang, dan Prabujangga menggunakan kesempatan lengah itu untuk memposisikan diri tepat di samping istrinya yang jelas tidak sadar.

"Sepertinya hasilnya tidak memuaskan?"

Kata-kata berani yang terlontar dari mulut Prabujangga membuat Indra menoleh tajam, tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih.

"Mas," Nada menegur dengan suara berbisik, namun Prabujangga tak hirau sama sekali.

Mungkin untuk urusan-urusan kekeluargaan mereka para kepala rumah tangga di keluarga ini akan terlihat damai-damai saja, dan sifat asli mereka akan keluar jika sudah menyangkut jenis kelamin bayi yang jelas menjadi bentuk persaingan dalam diam.

Mulut Indra sudah terbuka untuk menjawab ucapan Prabujangga, namun dia terpaksa menelan kata-katanya saat sebuah suara—yang rendah namun tajam—menyela seperti pisau yang membelah.

"Selamat untuk anak perempuan pertamamu, Indra."

Suara ketukan nyaring dari kayu yang dipoles membelah kerumunan Wimana menjadi dua kubu. Mereka menyingkir untuk melihat tamu tak diundang yang tiba-tiba datang diantara mereka. Membawa kabar mengejutkan yang membuat udara menebal.

Anak perempuan.

Bayi itu bukan laki-laki.

Di sana—di arah yang semakin terkikis, siluet seorang wanita terlihat semakin jelas. Rambut berpotongan pendeknya jatuh tepat sebahu, tubuhnya yang ramping dibalut dengan pakaian formal yang menunjukkan dinamika kekuasaan. Dan yang menarik perhatian, adalah hak tinggi yang menjadi asal suara ketukan yang memekakkan.

"Lihana?"

Satu nama yang membuat seluruh tubuh mematung di tempatnya—termasuk Prabujangga.

Tangannya secara naluriah melingkari pinggang Kharisma yang berada di sampingnya, menarik perempuan itu hingga menempel di sisi tubuhnya. Sikap protektif yang bahkan ia sendiri tidak sadari saat melihat sosok itu—kakak perempuannya yang sempat ia anggap dongeng belaka—berdiri di hadapan seluruh anggota keluarga.

"Saya sempat dengar kamu mengatakan pada Tuan Besar dengan begitu yakin bahwa bayi itu adalah laki-laki." Nadanya terdengar meremehkan saat Lihana bicara, tatapannya menyapu dingin seluruh anggota keluarga yang berdiri mengelilinginya.

"B-bagaima..." Indra tercengang, napasnya memberat saat melihat siapa yang berdiri di hadapannya.

"Saya mendapatkan informasi langsung dari dokter di sini. Tentu saja sebelum hasilnya sempat dimanipulasi," wanita itu tidak repot-repot menanggapi reaksi lawan bicaranya.

Lihana kembali mengedarkan pandangannya. Saat tatapannya berhenti pada Prabujangga, matanya berpindah pada perempuan di sampingnya yang membalas tatapannya dengan binar mata kepolosan.

"Jadi... ini menantu baru Wimana?"

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!