NovelToon NovelToon
Story Of Love

Story Of Love

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Penyesalan Suami
Popularitas:22.2k
Nilai: 5
Nama Author: Greytha

Zeya Aurelie mencintai Dewangga Lintang Geraldo selama empat tahun, dua tahun penuh kebahagiaan, dan dua tahun berikutnya dipenuhi jarak yang tak kasat mata. Sejak kematian sahabat Dewangga, kehadiran Selina Amoura sebagai tanggung jawab yang harus ia lindungi perlahan menggeser posisi Zeya sebagai prioritas di hidupnya.

Hingga pada hari yang seharusnya menjadi awal bahagia mereka, justru menjadi hari paling kelam dalam hidup Zeya. Di saat ia kehilangan kedua orang tuanya secara tragis, Dewangga tak pernah datang, lebih memilih berada di sisi wanita lain. Hancur dan kecewa, Zeya memilih pergi, membawa luka, dan sebuah kehidupan yang berada didalam rahimnya.

Kini, ketika penyesalan akhirnya menyadarkan Dewangga, semuanya sudah terlambat. Ini adalah kisah tentang cinta yang dikhianati, tentang kehilangan, dan tentang perjuangan seorang pria untuk mendapatkan kembali wanita, serta anak, yang hampir ia kehilangan selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Greytha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 32

Di sebuah kamar yang luas dengan dominasi warna putih dan krem, suasana justru terasa dingin dan tidak nyaman.

Di atas tempat tidur, Selin duduk bersandar dengan wajah yang sudah dipenuhi perasaan kesal. Rambut panjangnya terurai berantakan, sementara satu tangannya terus menggulir layar ponsel dengan gerakan cepat dan tidak sabar.

Jarinya kembali menekan tombol panggil. Panggilan tersambung namun tidak diangkat.

Selin mencobanya lagi, menunggu beberapa detik lebih lama, berharap kali ini berbeda,Tetap tidak ada jawaban.

Ia langsung memutus sambungan dengan rahang mengeras, lalu tanpa menyerah kembali menelepon untuk kesekian kalinya. Nada sambung terdengar cukup lama, namun lagi-lagi tidak ada yang mengangkat.

Ekspresinya semakin buruk, wajahnya memerah menahan marah.

Sudah tiga tahun.

Tiga tahun sejak semuanya berubah. Tiga tahun sejak Dewangga mulai menjauh sedikit demi sedikit darinya.

Awalnya Selin berpikir itu hanya sementara. Ia yakin Dewangga hanya butuh waktu untuk melupakan Zeya dan akhirnya melihat dirinya. Namun semakin lama, pria itu justru semakin dingin.

Pesannya dibalas seperlunya, bahkan sering tidak dibalas sama sekali. Telepon hampir tidak pernah diangkat. Setiap kali ia mencoba bertemu, selalu gagal, dan yang datang hanya asistennya untuk menyampaikan penolakan dengan bahasa yang sopan dan alasan yang sama, sibuk.

Dan sekarang, Dewangga pergi entah ke mana tanpa memberi tahu dirinya.

Selin membuang ponselnya ke samping dengan kesal. "Apa sih maunya?"

Ia mengusap wajahnya kasar, lalu menutup kepala dengan bantal dan berteriak pelan menahan frustrasi.

Satu minggu.

Sudah satu minggu Dewangga sulit dihubungi.

Bahkan asistennya pun ikut tidak pernah mengangkat telepon. Terakhir empat hari lalu, dan itu pun hanya untuk memberitahunya agar dirinya berhenti mengganggu bosnya.

Selin tertawa kecil. Tawa yang terdengar hampa.

Matanya menyipit perlahan "Dewangga, kenapa kamu nggak bisa lihat gue sekali aja?"

Ia kembali mengambil ponselnya lalu membuka galeri. Sebuah foto lama muncul.

Foto dirinya dan Dewangga yang ia ambil diam-diam.

Tatapannya sempat melembut beberapa detik sebelum perlahan berubah lagi menjadi sesuatu yang lebih rumit, tatapan yang penuh obsesi.

"Dewangga gue pasti bakal buat lo jadi milik gue secepatnya," gumamnya lirih.

...****************...

Sementara itu, orang yang sejak tadi dihubungi sedang berdiri santai di depan rumah Zeya dengan senyum yang tidak pernah luntur.

Di tangannya ada kantong kecil dan sebuah boneka kelinci mini berwarna krem.

Ia berdiri menunggu sambil sesekali melihat jam.

Begitu suara pintu terbuka terdengar, Dewangga langsung menegakkan badan dan memasang ekspresi paling ramah yang ia punya.

Namun saat melihat siapa yang membuka pintu, senyumnya langsung menghilang digantikan wajah datarnya.

Linda yang masih memakai kaus rumah juga ikut diam mematung dengan wajah cemberut.

Keduanya saling diam beberapa detik.

Linda mendengus pelan, lalu melipat tangan di depan dada. "Mas Dewangga?"

Dewangga ikut mendengus tipis. Harapannya disambut Zeya pagi-pagi dengan senyum manisnya langsung hilang.

"Iya, kenapa emang?" Linda menaikkan alis.

Dewangga melirik ke dalam rumah lalu kembali menatap Linda. "Minggir, Mas mau masuk."

Belum sempat Linda menjawab, Dewangga sudah melangkah masuk dan mendorong pelan pundaknya ke samping.

Linda langsung mengikuti dari belakang dengan wajah kesal. "Halah, ngapain pagi-pagi udah bertamu ke rumah orang aja?"

Dewangga berjalan santai. "Harusnya saya yang nanya begitu. Saya ke sini mau ketemu anak saya, emang kamu ada kepentingan?"

Linda langsung menunjuk dirinya sendiri. "Mas Dewangga nanya aku ngapain di sini? Jelas karena aku tinggal di sini bareng keponakanku!"

Dewangga melirik singkat. "Nggak dibutuhin juga. Mending balik sana ke vila."

Linda tertawa sinis."Oh ya?"

Dewangga hanya menganngguk-anggukan kepalanya. Tatapannya turun ke arah Linda, membuat gadis itu langsung waspada.

"Sepertinya kamu sudah terlalu lama santai akhir-akhir ini."

Tatapan Linda menyipit. Perasaannya mulai tidak enak melihat senyum licik kakaknya.

Dewangga memasukkan tangan ke saku. "Mungkin sudah waktunya perusahaan diurus olehmu ."

Mata Linda langsung membesar. "...Hah?"

Dewangga terlihat santai. "Kebetulan ada satu posisi kosong. Mas bakal aturin kamu posisi itu di perusahaan buat kamu. Biar ada kegiatan."

Linda langsung menunjuk dirinya sendiri tidak percaya dengan mulut yang sedikit terbuka. "AKU?"

Dewangga mengangguk. "Iya."

Linda diam beberapa detik menyadarkan dirinya dari rasa shock "ZEYAAA!"

Teriakannya langsung memenuhi rumah. Zeya yang sedang di dapur keluar sambil melepas celemek dengan wajah panik.

"Ada apa?"

Namun begitu melihat Dewangga berdiri di dekat pintu, langkahnya ikut melambat sesaat.

Dewangga mengangguk kecil. "Pagi."

Zeya membalas pelan."Pagi."

Linda langsung menunjuk Dewangga. "Zeya, dia ngancam aku suruh kerja!"

Dewangga langsung menyela. "Saya cuma kasih dia sedikit pekerjaan."

Linda mendelik. "Itu bohong. Sedikit menurut Mas Dewangga itu kerja seharian tanpa istirahat!"

Zeya mengusap pelipis. "Kalian ini pagi-pagi sudah ribut."

Linda masih mencak-mencak, sementara Dewangga terlihat sangat tenang seperti tidak melakukan apa-apa.

Zeya hanya menggeleng. "Masuk dulu."

Linda langsung menoleh tidak percaya."Hah? Kok disuruh masuk?"

Zeya melirik sekilas."Nanti gue jelasin."

Linda langsung membuang muka berbeda dengan Dewangga menahan senyum lalu masuk lebih dulu.

Baru beberapa langkah, suara langkah kecil terdengar. Cici muncul dari ruang tamu.

Begitu melihat Dewangga, matanya langsung membesar. "PAPPAAA!"

Ia langsung berlari kecil menghampiri. Dewangga refleks berjongkok dan beberapa detik kemudian tubuh kecil itu sudah masuk ke pelukannya.

Dewangga tertawa kecil sambil mengangkatnya.

"Selamat pagi, princess."

Cici langsung menunjuk boneka yang dibawanya. "Kici!"

Dewangga menurunkan Cici dari gendongannya dan menyerahkan boneka itu. "Ini buat Cici."

Cici langsung memeluk boneka kelinci itu lalu mencium pipi Dewangga penuh semangat.

Setelah itu ia menarik tangan Dewangga menuju ruang tamu.

Linda yang berdiri di belakang hanya melotot.

"Busett, udah nyuri start duluan."

Ia melirik Zeya. "Dia udah kayak bapak beneran."

Zeya menatap Cici dan Dewangga beberapa detik sebelum menjawab pelan.

"Memang dia udah jadi bapak beneran, Lin."

Setelah mengatakan itu, Zeya ikut masuk ke ruang tamu sementara Linda berjalan di belakang dengan ekspresi yang masih sulit menerima.

Suasana rumah yang tadinya tenang perlahan berubah ramai.

Cici duduk di tengah karpet, Dewangga di kanan, Linda di kiri.

Linda langsung melipat kertas. "Ci, lihat. Mami bisa bikin burung."

Dewangga yang melihat itu tidak mau kalah. "Cici mau Papa bikinin kelinci?"

Linda langsung menoleh sinis "Eh, siapa suruh ikut?"

Dewangga mengangkat bahu.

"Kompetisi sehat."

Cici menatap keduanya bergantian lalu tertawa.

Sepuluh menit kemudian,Origami gagal, Boneka jatuh. Balok berantakan.

Dan dua orang dewasa itu malah sibuk pamer.

"Cici, sini sama Papa"

"Cici sini sama Mami."

"Cici lihat ini."

"Cici lihat yang ini."

Cici menatap mereka lama dengan wajah bingung.

Tidak lama kemudian, Zeya datang dari dapur membawa piring berisi kentang goreng dan roti.

Begitu melihat Zeya, mata Cici langsung berbinar.

"MAMAAA!" Ia berdiri lalu berlari memeluk kaki Zeya.

Zeya tertawa kecil. "Loh kok ke Mama?"

Cici mengangkat tangan kecilnya. "Mau uk."

Zeya menaruh piring lalu mengangkat Cici ke pelukannya.

Tanpa pikir panjang, Cici langsung memeluk leher Mamanya erat sambil menempelkan pipinya.

Dewangga dan Linda yang sejak tadi semangat tiba-tiba diam.

Keduanya saling melirik sebentar lalu secara bersamaan membuang muka ke arah berlawanan dengan ekspresi kesal.

Linda melipat tangan."Halah."

Dewangga menyandar ke sofa."Hm."

Zeya menatap mereka berdua bergantian sebelum akhirnya tersenyum kecil sambil menggeleng tidak percaya.

Dua orang dewasa yang sejak tadi sibuk berebut perhatian kalah telak hanya karena satu pelukan dari Mama.

1
Bagong
KLO nuntut dino kahin SDH pasti bukan wanita baik baik ,,,,gitu aja kok g mikir,,,,,wanita yg mencintai almarhum suaminya akan sulit Nerima kehadiran pria baru ato mungkin TDK akan bisa,,,,,lah ini hitungan hari bulan SDH terobsesi sama pria lain nuntut alasan hutang nyawa bener an dia cinta sama almarhum ato dia diam diam suka sama temen almarhum selama ini benernya,,,,,ato jg jg kecelakaan ini dia yg buat skenarionya supaya dpt menjerat sang teman suami
Bagong
pret,,,,,ntar amanatnya mau bundir za di kawinini
Bagong
bukan g punya kesempatan tp pria yg membuang waktu dan kesempatan demi ngurusin wanita lain,,,,itu namanya apa namanya g cinta
Bagong
Halah laki labil buat apa bertahan disisinya KLO hanya utk menyaksikan sang lelaki yg selalu memprioritaskan wanita lain,,,g ada wanita yg mau oon,,,,seharusnya senang dong bisa bebas jalanin amanat,,,,,amanat yg salah alamat anak kecil aja tahu dasarnya aja laki Maruk merasa dibutuhkan byk wanita,,,,,
falea sezi
😒 tuh liat akibat lu belain janda kegatelan🤣
Mommy tulipp
Smga Mama baik2 saja ya Zea
Mommy tulipp
Kok tega tinggalkan Zeya
falea sezi
🤣🤣 laki bloon
Anonim
semangat author
Pingky-Puzzle
Haii readers, ketemu lagi sama author, gimana ada yang kangen ngak sama author? atau kangen sama Zeya dan Dewangga?, jangan lupa like and comment yahh, supaya author makin semangat updatenya 😍🤏
HjRosdiana Arsyam
Luar biasa
Daulat Pasaribu
alhamdulillah zeyanya uda pergi dari kehidupan dewangga
Daulat Pasaribu
aku bilang mampooss kau dewangga....cowok bodoh nyia nyia kan cewek yg uda setia dan tulus sama mu kau buang
Daulat Pasaribu
ini lah cowok paling bodoh,tolol,paok sedunia....bisa-bisanya lebih memilih nenek lampir dari pada ceweknya sendiri yg uda 4 tahun bersama
Daulat Pasaribu
suka sama persahabatn mereka saling mendukung😍
Daulat Pasaribu
sampai depresi gitu si zeya.memang kelewatan si dewangga
Daulat Pasaribu
loh kok cepat kali hamilnya thor.bukannya mereka baru ya ngelakuiinya
fanny tedjo pramono
semangat update ditunggu guys
fanny tedjo pramono
mampir baca guys
Pingky-Puzzle
soalnya author rencana mau konsisten nulis, dan namatin cerita ini, tapi agak ragu, menurut kalian gimana?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!