Arjuna Baskoro adalah ketua Geng Petir yang tampan, kaya, dan berpengaruh di SMA Cendekia. Ia dikenal sebagai pemuda yang suka bersenang-senang dan menganggap hubungan dengan wanita hanya sebatas hiburan semata. Semua berubah saat ia bertemu Laila Arsyila-siswi berprestasi, sederhana, mandiri, dan harus bekerja paruh waktu untuk membantu kehidupan keluarganya.
Awalnya Arjuna hanya iseng mengganggu Laila, karena gadis itu satu-satunya yang tidak terpesona dan selalu berani melawannya. Namun rasa penasaran itu perlahan berubah menjadi cinta yang tulus untuk pertama kalinya. Sementara Laila yang awalnya kesal dan menolak, mulai melihat sisi baik Arjuna di balik sikap nakalnya.
Dengan latar belakang kehidupan yang sangat berbeda, keduanya harus menghadapi berbagai rintangan mulai dari kecemburuan orang lain, pandangan lingkungan, hingga tantangan untuk saling memahami. Mampukah cinta mereka menyatukan dua dunia yang terasa begitu jauh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Anggit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25. Satu Lawan Tujuh
Motor sport itu menabrak batang pohon tua dengan suara dentuman yang mengerikan. Arjuna terpental ke samping, punggungnya menghantam tanah berbatu dengan keras.
BRUK!
Ia meringis menahan nyeri yang menjalar seketika. “Anjir… punggung gue rasanya mau copot. Nanti encok nggak ya kalau begini?” keluhnya pelan sambil mencoba menggerakkan bahu.
Laila yang mendengar suara tabrakan itu langsung melirik spion. Matanya membelalak kaget saat melihat Arjuna tergeletak di pinggir jalan. Niatnya sempat berhenti, tapi ingat intruksi Arjuna—ia harus ke bengkel itu. Dengan hati berdebar kencang, Laila menambah kecepatan motornya dan tak lama kemudian sampai di depan bengkel.
Ia mematikan mesin dengan tergesa-gesa dan berlari masuk. Di sana, Bowo sedang duduk santai di teras sambil menyeruput kopi panas.
“Wah nikmat apa lagi yang kau dustakan… ngopi sakabeh!” ucapnya santai sambil menawari yang lain.
Laila langsung menghampirinya dengan napas memburu. “Bowo… Wo… Juna… Juna!”
Bowo mengerutkan kening bingung. “Loh kenapa La? Juna nggak ada di sini, palingan dia masih pelor di rumahnya.”
Laila menggeleng cepat panik. “Bukan! Juna diserang Geng Elang!”
Seketika gelas kopi di tangan Bowo tergeletak jatuh ke tanah. Ia berdiri tegak dengan wajah memerah menahan amarah, dan seluruh anggota Geng Petir yang ada di bengkel langsung berhenti bekerja, menatap siaga.
“Anjing… Di mana dia sekarang?” tanyanya dengan suara berat.
“Di dekat pertigaan!”
Tanpa banyak bicara lagi, mereka semua langsung melompat ke atas motor. Laila berusaha ikut naik di belakang salah satu motor, meski sudah dilarang, ia tetap bersikeras harus ikut.
Sementara itu, Arjuna baru saja berhasil bangkit berdiri dengan susah payah. Tubuhnya terasa nyeri di mana-mana, namun ia tetap berdiri tegak. Tujuh pengendara Geng Elang sudah mengepungnya rapat, tak memberi celah untuk lari.
Ketua Geng Elang turun dari motornya sambil tertawa meremehkan. “Hahaha! Gimana rasanya? Sakit kan?”
Arjuna meliriknya tajam, lalu perlahan menyunggingkan senyum seringai yang menakutkan. “Eh Bang Sat… kalau mau ajak berantem lihat jam dong. Gue kan mau berangkat sekolah, beda sama lu yang udah kuliah tapi kelakuannya kayak bocah SD.”
“BACOT LU!” Ketua Geng Elang menendang kerikil ke arahnya. “Gara-gara Geng Petir lu, semua rencana gue gagal total! Serang dia habis-habisan!”
Enam orang anak buahnya langsung menerjang bersamaan.
Arjuna tidak mundur selangkah pun. Saat tangan yang pertama mencengkeram kerahnya, Arjuna menangkis dengan siku ke ulu hati lawan, lalu memutar tubuhnya hingga lawan itu terlempar ke tembok. Namun dua orang lain sudah datang dari samping, meninju rusuknya bersamaan.
BUG!
Arjuna meringis, tapi tangannya tak diam. Ia menangkup kepala salah satu penyerang dan menekannya ke lututnya sendiri hingga terdengar erangan kesakitan. Belum sempat ia bernapas, satu orang lagi melompat memeluk punggungnya dari belakang, sementara tiga orang lainnya menyerang beruntun.
Arjuna menghentakkan kaki kuat ke tanah, lalu menjungkirbalikkan tubuhnya hingga orang yang memeluknya terlempar ke depan. Keringat dingin mulai bercucuran, ia sedikit kewalahan apalagi tujuh orang sekaligus yang bergerak serempak. Ia harus mengandalkan kecepatan, bukan kekuatan kasar.
Satu lawan satu ia tak kalah, tapi tujuh orang membuatnya harus terus berputar, menghindar, dan menangkis. Tinju dan tendangan musuh hampir mengenai wajahnya berkali-kali. Sesekali ia tertabrak, membuat rasanya punggung yang tadi terbentur tanah makin perih.
Namun Arjuna adalah Arjuna—yang bertahan di puncak selama bertahun-tahun bukan karena keberuntungan. Ia mencari celah saat mereka berdesakan, lalu melakukan serangan beruntun: tendangan ke perut, pukulan ke leher, dan kuncian tangan yang membuat lawan berteriak kesakitan. Satu per satu musuhnya jatuh terkapar, tapi masih tersisa tiga orang yang menyerang dengan geram.
Darah menetes dari sudut bibir Arjuna, napasnya memburu, tapi matanya makin berkilat penuh amarah. Ia menghadapi ketiga orang itu dengan nekat, tak peduli kalau tangannya pun terluka.
Saat ketua Geng Elang hendak menghunus senjata tajam dari saku jaketnya, tiba-tiba terdengar deru puluhan motor yang melaju kencang dari kejauhan.
“ANJING LU, BERANINYA KROYOKAN!” teriak Bowo di barisan paling depan.
Melihat pasukan bantuan datang, ketua Geng Elang panik dan langsung memberi isyarat mundur. Mereka segera melompat ke atas motor dan melesat pergi secepat kilat sebelum terkepung sepenuhnya.
Arjuna yang berdiri tegak dengan napas berat, perlahan berlutut karena tenaganya habis total. Laila segera turun dari motor dan berlari menghampirinya dengan air mata yang sudah menetes.