Kael Lucien Raventhorne dikenal sebagai bos mafia paling berkuasa, tampan, dan dingin. Di balik reputasinya yang membuat semua orang segan, ia menyimpan luka yang tak pernah diketahui siapa pun. Sebuah kecelakaan tragis merenggut harapan terbesarnya setelah dokter memvonisnya mandul. Kehancuran itu mengubah cara pandangnya terhadap hidup. Ia berhenti memercayai cinta dan memilih menjalani kehidupan tanpa ikatan, berganti pasangan dari waktu ke waktu demi mengisi kekosongan yang terus menghantuinya.
Namun takdir mempermainkannya.
Suatu malam, takdir mempertemukannya dengan seorang gadis berusia dua puluh tahun yang polos dan cantik. Kesalahpahaman dan rangkaian kejadian di luar dugaan membuat gadis itu kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya. Kael menganggap peristiwa itu hanya akan menjadi satu bab yang terlupakan, sementara sang gadis berusaha bangkit dari kenyataan yang mengubah hidupnya.
Sebulan kemudian, gadis itu kembali hadir di hadapan Kael dengan kabar yang musta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudi Chandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Aurora mengintip pelan dari balik pintu toilet. Koridor hotel tampak lengang. Musik pesta yang semula riuh kini hanya terdengar samar dari kejauhan. Ia menggenggam sepatunya di satu tangan agar langkahnya tak menimbulkan suara. Dengan napas tertahan, ia mulai berjalan cepat, berharap bisa keluar dari ballroom tanpa menarik perhatian siapa pun.
Namun baru beberapa langkah, sebuah tangan besar tiba-tiba meraih pergelangan tangannya dari belakang.
Aurora tersentak hebat.
"Ke mana kau mau pergi, hm?" suara rendah itu terdengar dingin, membuat bulu kuduknya meremang.
Tubuh Aurora membeku. Jantungnya seperti berhenti berdetak sesaat. Ia mengenali suara itu tanpa perlu menoleh.
Kael.
Perlahan ia memejamkan mata, seolah berharap semua ini hanyalah mimpi buruk.
"Selesai sudah..." batinnya lirih.
Dengan gerakan kaku, Aurora membalikkan badan. Benar saja, Kael berdiri tepat di hadapannya. Pria itu masih mengenakan setelan jas hitam yang sempurna, sementara tatapan tajamnya mengunci wajah Aurora tanpa sedikit pun memberi kesempatan untuk menghindar.
Kael mengamatinya beberapa detik sebelum kembali membuka suara.
"Apa yang sebenarnya kau lakukan di sini?" tanyanya datar. "Aku tidak pernah memasukkan namamu dalam daftar tamu undangan."
Ucapan itu terdengar tenang, tetapi sorot matanya menyiratkan kecurigaan yang begitu jelas.
Aurora menelan ludah. Seluruh rencana untuk melarikan diri seketika runtuh.
"Celaka... kali ini aku benar-benar tidak punya jalan keluar."
Aurora memaksakan senyum canggung meski jantungnya berdebar tak karuan.
"Hehe... aku cuma kebetulan lewat, Om. Sebenarnya aku juga sudah mau pulang."
Ia tertawa kecil, berusaha mencairkan suasana yang terasa mencekam.
"Jangan marah dulu, ya. Aku benar-benar tidak berniat mengganggu pestamu. Lagipula... usiaku baru dua puluh tahun. Aku masih ingin menikmati hidup."
Kael mengangkat sebelah alis, lalu mendengus pelan.
"Berhenti memanggilku 'Om'. Kita tidak punya hubungan keluarga."
Tatapan pria itu kemudian menyapu penampilan Aurora dari ujung kepala hingga kaki. Gaun merah muda yang dikenakannya membuat Aurora tampak anggun sekaligus menonjol di tengah kemewahan pesta. Rambutnya yang ditata sederhana justru semakin mempertegas kecantikannya.
Untuk sesaat, Kael terdiam.
Ada sesuatu yang mengusik pikirannya. Ia tidak menyukai kenyataan bahwa kehadiran gadis itu mampu menarik perhatiannya. Perasaan itu datang begitu saja, membuatnya kesal pada dirinya sendiri.
Ia selalu menganggap ketertarikan hanyalah kelemahan yang tidak boleh dimiliki. Namun entah mengapa, setiap kali berhadapan dengan Aurora, keyakinan itu seperti diuji.
Kael menatap Aurora beberapa saat tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Entah dorongan apa yang menguasainya, pria itu tiba-tiba mengangkat dagu Aurora dengan jemarinya.
Sebelum Aurora sempat bereaksi, Kael mendekat.
Seketika bibir mereka bertemu dalam sebuah ciuman lembut yang sama sekali tidak diduga Aurora. Tangan Kael yang lain secara refleks menahan pinggang gadis itu agar tidak mundur.
Mata Aurora membelalak. Otaknya seolah berhenti bekerja selama beberapa detik.
Begitu kesadarannya kembali, ia segera mendorong dada Kael sekuat tenaga hingga jarak di antara mereka terbuka kembali.
Plak!
Suara tamparan bergema di koridor yang lengang.
Telapak tangan Aurora mendarat tepat di pipi Kael. Wajah gadis itu memerah, bukan karena malu, melainkan dipenuhi amarah dan rasa terkejut.
"Kupikir kau pria terhormat. Ternyata aku salah." ucap Aurora dengan suara bergetar, menahan emosi.
Tanpa memberi kesempatan Kael membalas, Aurora segera berbalik dan berlari meninggalkan tempat itu. Langkahnya semakin cepat hingga sosoknya menghilang di balik keramaian hotel.
Kael tetap berdiri di tempatnya.
Tangannya perlahan menyentuh pipi yang baru saja ditampar. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia tampak benar-benar terkejut. Tak ada seorang pun yang pernah berani memperlakukannya seperti itu.
Namun yang lebih mengganggu pikirannya bukanlah tamparan tersebut, melainkan perasaannya sendiri yang tiba-tiba sulit ia pahami.
Tak lama kemudian, Aurora memesan taksi daring dan memutuskan pulang lebih dulu. Selama perjalanan, ia hanya memandang keluar jendela tanpa benar-benar melihat pemandangan di luar. Bayangan kejadian barusan terus berputar di kepalanya.
Beruntung, ia tiba di rumah lebih dahulu daripada Adrian.
Sesampainya di kamar, Aurora menjatuhkan tubuhnya ke tepi ranjang. Kedua tangannya tanpa sadar menutupi perutnya yang masih datar.
Air matanya perlahan mengalir.
"Apa yang harus kulakukan sekarang?" bisiknya lirih. "Aku tidak mungkin menyembunyikan kehamilan ini selamanya."
Pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan. Ia sadar, cepat atau lambat semua orang akan mengetahui kenyataan itu. Yang paling ia takutkan bukan hanya menghadapi Kael, tetapi juga menjelaskan semuanya kepada kakaknya.
Malam itu, Aurora hanya bisa memeluk lututnya sendiri sambil berusaha mencari jalan keluar bagi masa depan dirinya dan bayi yang sedang ia kandung.
Aurora menatap pantulan dirinya di cermin dengan mata yang mulai memerah. Jemarinya saling bertaut gelisah di depan dada. Berkali-kali ia mengusap perutnya yang masih rata, seolah mencari jawaban atas masa depan yang kini terasa begitu kabur.
"Aku tidak sanggup kehilanganmu..." bisiknya lirih, suaranya bergetar. "Tapi... siapa yang akan menerima aku sekaligus kamu? Ayahmu bahkan menolak mengakuimu dan menyuruhku mengakhiri semuanya."
Ia menggigit bibir bawah, berusaha menahan air mata yang terus menggenang. Bayangan wajah kakaknya membuat dadanya semakin sesak. Jika pria itu mengetahui kehamilannya, entah apa yang akan terjadi.
Dengan tangan gemetar, Aurora membuka ponselnya. Ia menelusuri berbagai informasi di internet mengenai klinik kesehatan reproduksi. Pencarian itu bukan karena ia telah mengambil keputusan, melainkan karena kebingungan telah mendorongnya mencari segala kemungkinan.
Aurora bahkan menggunakan akun anonim agar aktivitasnya tidak mudah diketahui siapa pun. Di lubuk hatinya yang paling dalam, ia sama sekali belum siap mengambil langkah yang akan mengakhiri kehidupan kecil yang sedang bertumbuh di dalam rahimnya.
"Aku hanya ingin tahu... apakah dia masih punya hati." gumamnya pelan.
Sebuah rencana perlahan terbentuk di kepalanya. Ia ingin menguji Kael. Jika pria itu benar-benar datang ketika dipanggil dan bersedia bertanggung jawab, Aurora akan memperjuangkan hubungan mereka di hadapan kakaknya. Namun jika Kael tetap menolak dan membiarkannya menghadapi semuanya sendirian, setidaknya ia akan mengetahui dengan pasti siapa pria yang selama ini ia harapkan.
Aurora kemudian mengambil kartu nama yang pernah diterimanya. Pandangannya berhenti pada deretan angka yang tertera di sana.
Dengan napas panjang untuk mengumpulkan keberanian, ia mengetik sebuah pesan untuk Kael. Jemarinya sempat berhenti beberapa kali di atas layar, ragu untuk menekan tombol kirim. Setelah beberapa detik yang terasa begitu panjang, akhirnya ia memejamkan mata dan mengirimkan pesan itu.
Kini, yang bisa ia lakukan hanyalah menunggu... sambil berharap pria berhati sedingin es itu masih memiliki sedikit kepedulian yang tersisa.
Aurora duduk terpaku di tepi ranjang, menatap layar ponselnya cukup lama. Jantungnya berdegup tidak beraturan. Setelah mengumpulkan keberanian, ia mulai mengetik sebuah pesan panjang yang ditujukan kepada
Kael.
Om... jika dalam waktu dua puluh empat jam kau tetap menolak bertanggung jawab dan tidak mau menikahiku, aku akan mengambil keputusan yang mungkin akan kusesali seumur hidup. Jika benar kau divonis tidak bisa memiliki keturunan, maka bayi yang kukandung ini mungkin adalah satu-satunya kesempatanmu untuk menjadi seorang ayah.
Pesan itu terkirim.
Tak lama kemudian, Aurora menyadari bahwa nomor yang ia hubungi ternyata bukan milik Kael secara langsung, melainkan nomor pribadi Cassian, tangan kanan sekaligus asisten kepercayaannya. Tanpa membuang waktu, Cassian segera menyerahkan ponselnya kepada sang bos.
Aurora kembali mengirimkan pesan demi pesan, seolah seluruh keberaniannya hanya mampu tersampaikan melalui layar ponsel.
Aku bersumpah, tidak pernah ada pria lain dalam hidupku selain dirimu.
Beberapa detik berlalu, lalu satu pesan lain menyusul.
Demi Tuhan, bayi ini benar-benar darah dagingmu.
Tangannya semakin gemetar. Ia menarik napas panjang sebelum menuliskan pesan berikutnya.
Besok pagi pukul sembilan aku akan pergi ke sebuah klinik. Bukankah itu yang pernah kau inginkan? Jika kau tetap memilih diam, aku akan menganggap kau telah membuat keputusanmu. Bila saat itu terjadi, kau mungkin akan kehilangan kesempatan untuk mengenal anakmu.
Aurora berhenti mengetik sesaat. Air matanya jatuh mengenai layar ponsel sebelum ia melanjutkan.
Aku tidak sedang bercanda, Om. Aku sungguh serius. Aku hanya ingin kau datang... dan mendengarkan penjelasanku sekali saja.
Masih ada beberapa pesan lain yang ia kirimkan setelah itu. Sebagian berisi penjelasan, sebagian lagi hanya luapan rasa takut dan harapannya agar Kael mempercayainya.
Di sisi lain, Kael membaca rentetan pesan tersebut dengan wajah yang tetap datar. Setelah mengakhiri pesan terakhir, ia mengembuskan napas pelan dan menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Benar-benar gadis keras kepala." gumamnya lirih, meski untuk pertama kalinya sejak pertemuan mereka, keraguan mulai menyusup ke dalam pikirannya. Mungkinkah selama ini ia telah menilai Aurora terlalu cepat?
...****************...
maap,unfollow dan unsubscribe