"Saya mohon menikah lah dengan putri saya! Putri saya sangat mencintai nak Tomi. Waktu saya tidak lama lagi, dan saya akan pergi dengan tenang jika sonia telah menikah." Tangis Sonia semakin pecah mendengar permintaan Daddy-nya sedang kritis di rumah sakit, kepada pria yang sudah setahun terakhir dicintainya secara diam-diam. Ya, diam-diam, sebab Sonia tidak pernah mengutarakan perasaannya terhadap pria itu kepada siapapun, termasuk pada Daddy-nya.
Sonia memang sangat mencintai pria yang merupakan bosnya tersebut, akan tetapi Sonia juga tidak ingin menikah dengan cara seperti itu. Ia ingin berusaha menaklukkan hati Pria bernama Tomi tersebut tanpa permintaan atau paksaan dari pihak manapun. Namun kondisi Daddy-nya yang sedang sekarat membuat Sonia tak tega untuk banyak berkata-kata, apalagi untuk menolak.
Akankah pernikahan Sonia berjalan layaknya pernikahan bahagia pada umumnya, atau justru kandas ditengah jalan, mengingat Tomi tidak memiliki perasaan apapun terhadap Sonia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32.
Seperti permintaan tuannya semalam, pagi ini asisten Azam melaporkan informasi yang diinginkan oleh tuannya.
"Bagaimana, apa kau sudah berhasil mendapatkan informasi yang saya inginkan?." Baru saja panggilannya tersambung, Asisten Azam sudah di cecar oleh Tomi.
"Iya, tuan." Asisten Azam mengangguk mengiyakan, seolah saat ini Tomi sedang berada dihadapannya.
"Menurut informasi yang saya dapatkan, ternyata nona Cili mengajar di kampus yang sama dengan Nona Sonia, tuan. Nona Cili mengajar pada jurusan modeling. Dan menurut informasi dari beberapa orang mahasiswa, mereka sempat melihat Nona Cili mengobrol dengan Nona Sonia." Asisten Azam melaporkan hasil penyelidikannya semalam. Pria itu hampir bergadang semalaman untuk mendapatkan informasi yang diinginkan oleh tuannya. Untungnya hari ini hari Minggu sehingga ia bisa tidur setelah memberikan laporan pada Tomi.
"Sudah kuduga, semua ini pasti ada hubungannya dengan Cili." Gumam Tomi dan masih terdengar oleh asisten Azam.
"Saya rasa keputusan anda semalam sudah tepat, tuan." Awalnya asisten Azam kurang setuju jika Tomi hendak bertemu dengan Cili karena ia tahu betul bagaimana liciknya wanita itu. Namun setelah Tomi menyerahkan sampel rambut miliknya serta sampel rambut milik putranya Cili, asisten Azam baru menyadari bahwa tuannya itu memiliki maksud dan tujuan tertentu sehingga mengajak Cili serta putranya untuk bertemu.
"Jika hasilnya sudah ada, cepat kabari saya!"
"Baik, tuan."
Setelahnya, Tomi segera menyudahi pembicaraan bersama asisten Azam, pria itu kembali memasukkan ponselnya ke saku celananya. Tomi merasa harus segera membicarakan hal ini pada Sonia. Pria itu beranjak meninggalkan ruang kerjanya dan kembali ke kamar.
"Sayang....?." Seruan Tomi terdengar begitu lembut.
"Iya, mas." Sonia yang sedang merapikan posisi bantal di ranjang sontak menoleh.
"Mas ingin membicarakan sesuatu sama kamu."
"Apa mas Tomi ingin membahas tentang Cili dan putranya? Atau mungkin, mas Tomi ingin mengutarakan niatnya menceraikan aku, lalu kembali pada nona Cili dan putra mereka?." Batin Sonia. Sonia mulai menyiapkan hati untuk menerima kenyataan yang mungkin akan sangat melukai hatinya.
Tomi beranjak ke sofa dan menepuk sisi sofa yang kosong. "Kemari lah, sayang!." pinta pria itu.
Perlahan Sonia mengayunkan langkah mendekat pada Tomi, mendudukkan tubuhnya tepat di samping sang suami.
Dari raut wajah Tomi seolah mengisyaratkan bahwa apa yang hendak dibicarakannya sangat penting, hingga degup jantung Sonia semakin tak karuan dibuatnya.
Tomi meraih tangan sang istri dan membawanya ke dalam genggaman.
"Sayang, sebelumnya mas ingin kamu tetap tenang, karena apa yang ingin mas bicarakan nanti pasti akan mengejutkanmu."
Deg
"Apa mas berniat mengakhiri pernikahan kita?." Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Sonia. Tatapan mata wanita itupun sudah berubah sendu.
"Hei...." Tomi mengusap lembut pipi istrinya dengan ibu jarinya. "Kenapa kamu berpikir ke arah sana, sayang? Sampai mati pun, mas tidak akan menceraikan kamu." Tomi menatap bola mata sendu Sonia.
"Lalu, apa yang ingin mas bicarakan kalau bukan soal perpisahan?." Nampaknya ketakutan Sonia berpisah dengan sang suami menyebabkan wanita itu berpikiran negatif.
Tomi nampak menghela napas panjang sebelum mulai berbicara.
"Ternyata selama ini Cili memiliki seorang putra dan mas pun baru mengetahuinya belum lama ini." Tomi merasa, dengan menceritakan yang sebenarnya pada Sonia akan mengurangi dampak buruk yang bisa saja terjadi pada hubungan rumah tangga mereka.
Deg.
Jika mas Tomi baru mengetahui keberadaan putranya Cili belum lama ini, apa itu artinya pernyataan Cili kemarin adalah sebuah kebohongan. Sonia masih diam saja seraya menatap manik mata suaminya, seolah mencari kebohongan di sana. Akan tetapi, tak ada kebohongan yang terpancar dari sorot mata Tomi, yang ada hanyalah kejujuran. Sonia tak menyela, membiarkan Tomi melanjutkan ceritanya.
"Demi Tuhan, sayang, mas tidak pernah sekalipun menyentuhnya, tapi dia mengatakan bahwa anak itu adalah putranya mas." Lagi-lagi, sebuah kejujuran terpancar jelas dari sorot mata Tomi.
Air mata Sonia langsung jatuh membasahi pipi mendengarnya. Akhirnya, Tomi menceritakan semuanya kepada dirinya.
"Mas berani bersumpah demi apapun, mas tidak pernah menyentuh Cili, anak itu bukan milik mas, Sonia." Menyaksikan istrinya menangis, sontak saja Tomi memeluknya. "Mas mohon percaya pada mas, Sonia!."
Sonia menarik diri dari pelukan Tomi guna memberi jarak agar dapat menatap wajah suaminya.
"Apa mas bersungguh-sungguh mencintai aku?."
"Harus bagaimana lagi mas membuktikan padamu, agar kamu percaya bahwa mas sangat mencintaimu, Sonia?." Kedua bola mata Tomi terlihat nanar kala berujar.
"Aku percaya padamu, mas."
"Terima kasih, sayang." Tomi kembali membawa tubuh sang istri ke pelukannya.
"Jangan pernah berpikir untuk pergi meninggalkan mas, Sonia! Mas mohon, berikan mas waktu untuk membuktikan bahwa anak itu bukan da-rah daging mas!."
"Jangankan hanya sekedar memberi kesempatan, kalaupun benar anak itu adalah da-rah daging mas, aku tidak keberatan jika mas tetap bertanggung jawab sebagai seorang ayah. Asalkan, mas benar-benar mencintaiku dan tidak berniat kembali pada nona Cili." Sebesar itu rasa cinta Sonia pada Tomi hingga seandainya terbukti putranya Cili adalah da-rah daging Tomi, ia akan berlapang dada menerimanya, selagi Tomi benar-benar mencintainya dan tidak berniat kembali pada ibu dari anak itu.
Deg.
Tomi tidak dapat berkata-kata mendengarnya. Sungguh, ia tidak menyangka sebesar itu rasa cinta Sonia kepadanya. Wanita itu bahkan rela berlapang dada jika seandainya putranya Cili adalah anaknya.
"Jangan bicara seperti itu, Sayang! Kamu orang pertama dan satu-satunya yang pernah menemani mas ditempat tidur. Jadi, mana mungkin mas bisa punya anak dari wanita lain."
Tanpa di sadari oleh Tomi dan Sonia, rupanya di depan pintu kamar mereka yang tidak tertutup dengan sempurna, sejak tadi berdiri ibunya Tomi. Wanita itu mendengar semua percakapan antara anak dan menantunya. Tanpa sadar, ibunya Tomi turut menitihkan air mata mendengar pernyataan Sonia. Sebesar itu cinta menantunya terhadap putranya.
"Terima kasih, Tuhan.... Terima kasih telah menghadirkan menantu sebaik menantuku ini." Batin ibunya Tomi sebelum beranjak dari posisinya. Tadinya ibu hendak memanggil putra dan menantunya untuk sarapan bersama, namun siapa sangka ia Justru mendengar semua itu.
"Wanita itu sudah sangat keterlaluan." Gumam ibunya Tomi di sela langkah menuruni anak tangga, hendak kembali ke meja makan.
"Mana Tomi dan Sonia, mah? Apa mereka tidak turun untuk sarapan?." Tanya ayah melihat sang istri turun seorang diri tanpa putra dan menantu mereka.
Mengingat di meja makan hanya ada sang suami, sedangkan Zira sudah pergi bersama teman-temannya, ibu lantas menceritakan apa yang didengarnya.
"Sepertinya selama ini kita sudah cukup sabar menghadapi perangai buruk wanita itu. Sekarang sudah waktunya papah turun tangan. Kalau tidak, wanita itu pasti akan terus mengusik kehidupan Tomi dan istrinya." Ayahnya Tomi merasa sudah sangat muak dengan semua perangai Cili. Dulu wanita itu yang pergi begitu saja dihari pernikahan sehingga keluarga Tomi harus menanggung malu di hadapan tamu undangan yang hadir dan kini ia pula yang kembali dan mengacaukan kehidupan rumah tangga Tomi.
dari kisah keluarga besar orang tua Abil dan Dika juga🤗😍🙏