NovelToon NovelToon
Rerindang Dan Mira

Rerindang Dan Mira

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Romansa Fantasi / Fantasi Wanita / Fantasi / Romansa
Popularitas:493
Nilai: 5
Nama Author: Chiknuggies

Mira akhirnya harus kembali ke desa setelah kehilangan pekerjaannya di kota.

Kepulangan itu bukan karena keinginan, melainkan keterpaksaan yang lahir dari keadaan.

Rumah yang dulu ia tinggalkan masih sama, orang tuanya tetap setia dengan rutinitas sederhana.

sementara ia datang membawa beban kegagalan dan kegelisahan yang sulit ia sembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chiknuggies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 32 Semangka Segar dengan Lalat Buah.

Malam turun di kebun, canda juga percakapan tanpa arah kini berakhir pada jalan buntu.

Entah harus bicara kepada siapa lagi. Ingin mengungkapkan nama Marcel kepada Raka, namun sukar rasanya menimbun masalah kepada orang lain.

"Lagi pula, bagaimana kalau nanti Raka menjauh?!" Teriakku dalam hati.

Senyum Marcel kini selalu menghantui di kala aku menutup mata. Bayangan yang selalu kuingat, sebagai tali tambang berdarah tempatku berpijak dahulu.

"Aku bisa tanpamu, Marcel!" Kusebut lagi di dalam hati, janji sama keseribu kali yang tak akan pernah aku tepati.

Ya, aku masih merindukannya. Bahkan di tengah malam begini, ketika tidak ada seorangpun yang bangun, di dalam sepi senyumku tersungging renyah mengingat Marcel.

Di sisi lain, Raka di sebelahku tengah menikmati bintang yang mulai terlihat bersama sebatang rokok, tanpa suara.

Tanpa senyuman, tanpa karisma seperti yang Marcel miliki ketika masih bersamaku dulu.

Tuhan, aku tidak pantas memilih. Karena nyatanya, wanita mana yang sanggup membuang masa lalu meski ada pria baru di sebelahnya.

Aku menatap Raka dari sudut mata, asap rokoknya melayang perlahan ke udara, bercampur dengan dingin malam yang menekan kulitku.

Ia tampak tenang, seakan bintang-bintang di atas sana cukup untuk menemaninya. Sementara aku, hatiku masih terikat pada bayangan yang tak pernah benar-benar pergi.

Marcel hadir di setiap jeda, di setiap diam, bahkan di sela napas yang kuhela. Raka duduk di sampingku, nyata, tapi aku masih terjebak pada masa lalu yang membekas.

"Hubungan apa yang sebenarnya ada di antara kami?" bisikku dalam hati.

Raka tidak pernah menuntut, tidak pernah memaksa, hanya hadir dengan caranya yang sederhana.

Tapi justru kesederhanaan itu membuatku semakin bingung, apakah aku benar-benar bisa membuka ruang baru, atau hanya menjadikan Raka sebagai pelarian dari luka yang tak kunjung sembuh?

Aku menunduk, jemariku meraba tikar yang dingin. Malam semakin pekat, suara jangkrik bersahut-sahutan, seakan menegaskan bahwa aku sedang berada di persimpangan.

Aku ingin bicara, ingin jujur, tapi kata-kata itu tertahan di tenggorokan. Nama Marcel masih terlalu berat untuk diucapkan, sementara kehadiran Raka terlalu rapuh untuk ditimpa beban yang belum selesai.

Aku menoleh perlahan, menatap Raka yang masih sibuk dengan rokoknya. Asap tipis melayang ke udara, bercampur dengan dingin malam. Dadaku bergetar, seakan ada pintu yang harus segera kubuka, meski aku tahu risikonya.

"Rak…" suaraku pelan, nyaris tenggelam oleh suara jangkrik. "Ada sesuatu yang harus aku bilang. Aku takut kamu salah paham, tapi aku nggak bisa simpan ini sendiri."

Raka menoleh, matanya penuh perhatian, meski wajahnya tetap tenang. "Bilang aja, Mir. Aku dengerin kamu kok."

Aku menarik napas panjang, jemariku meremas tikar. "Pagi tadi… aku ditelepon seseorang. Namanya Marcel."

Hening seketika menyelimuti. Angin berhenti, seakan ikut menunggu reaksi Raka.

Suaraku bergetar. "Dia mantan pacarku. Gak pantas memang, tapi meski kami sudah berpisah, aku juga gak bisa lepas begitu aja dari dia."

Raka menatapku lama, rokok di tangannya padam tanpa ia sadari. Tidak ada kata-kata keluar, hanya tatapan yang membuatku semakin gugup.

Raka akhirnya menghela napas panjang, lalu mematikan rokoknya dengan gerakan pelan. Tatapannya kosong, seakan bintang-bintang di atas tidak lagi berarti apa-apa.

"Mir..." suaranya lirih, tapi tegas. "Aku butuh waktu. Kata-kata kamu barusan… berat buat aku simpan."

Ia bangkit dari tikar, langkahnya tenang namun terasa jauh lebih dingin daripada angin malam. Aku hanya bisa menatap punggungnya, sama seperti aku menatap punggung Marcel.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!