NovelToon NovelToon
Seseorang Yang Datang Saat Aku Rapuh

Seseorang Yang Datang Saat Aku Rapuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Cintamanis / Office Romance / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:25.2k
Nilai: 5
Nama Author: LyaAnila

"Tidak ada pengajaran yang bisa didapatkan dari ceritamu ini, Selena. Perbaiki semua atau akhiri kontrak kerjamu dengan perusahaan ku."

Kalimat tersebut membuat Selena merasa tidak berguna menjadi manusia. Semua jerih payahnya terasa sia-sia dan membuatnya hampir menyerah.

Di tengah rasa hampir menyerahnya itu, Selena bertemu dengan Bhima. Seorang trader muda yang sedang rugi karena pasar saham mendadak anjlok.

Apakah yang akan terjadi di dengan mereka? Bibit cinta mulai tumbuh atau justru kebencian yang semakin menjalar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LyaAnila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 32 : Sebelum Semuanya Terlambat

Selena terbangun dengan dada yang masih berat. Bukan karena segudang mimpi buruk, melainkan karena penyebab lain yaitu ia menyadari bahwa hidupnya sekarang ini sudah tidak lagi di jalur yang sama seperti bulan-bulan sebelumnya. Ia sering melamun, menatap keluar jendela yang berisi aktivitas orang-orang yang sepertinya hidupnya tidak kacau. Tidak seperti hidupnya.

"Kadang, diam itu diperlukan. Supaya kita bisa mendengar diri kita sendiri ingin apa."

Kalimat Aksa itu terus terngiang-ngiang dikepala Selena seperti kaset rusak yang diputar terus menerus tanpa henti.

"Tapi masalahnya, gue nggak tau lagi apa yang gue mau," gumam Selena.

Perlahan, ia berjalan ke dapur kecil, menyeduh cokelat hangat. Uap tipis yang sudah mengepul. Setelah dirasa cukup, ia membawanya ke meja dan kembali menyalakan laptop. Namun, tujuannya bukan untuk menulis, melainkan membuka folder yang sudah lama ia hindari.

Folder itu bernama "ARSIP PRIBADI"

Di dalam folder tersebut, terdapat berbagai tangkapan layar email anonim, catatan waktu, dan tanggal yang ia kumpulkan. Perlahan, Selena menarik napas panjang.

"Selena Aira Widyantara, kalau lu mau takut, boleh. Tapi takutnya harus sambil mikir, bodoh. Jangan takut-takut aja. Nanti nggak bakal kelar-kelar ni masalah," gumamnya.

Kembali ia mulai mencocokkan waktu yang ada di tangkapan layar.

Pertama, email masuk tiga minggu tepat dua hari setelah ia bertemu dengan Aksa untuk pertama kali. Kedua, email kembali datang lagi setelah Aksa menanyakan kondisi laptopnya. Dan ketiga, email masuk beberapa jam setelah ia mengobrol lama dengan Aksa di PawPaw cafe.

Perlahan, Selena membeku.

"Semua ini bukan hanya kebetulan aja," bisiknya.

Di tengah lamunannya, gawainya bergetar. Nama Rani muncul di layar.

"SELENA, LU LAGI NGAPAIN SEL?" suara Rani berteriak di seberang sana.

"Lagi nyoba mikir pakai logika, nggak pakai perasaan lagi. Napa mang nya? Lu bisa nggak, nggak usah teriakin gue. Lama-lama ini kuping ke THT mulu gegara lu teriakin," keluh Selena.

"Owh gitu. Syukurlah. Sejujurnya gue mau minta sama lu."

"Minta apaan?"

Rani diam sejenak. Baru ia melanjutkan perkataannya. "Syukurlah. Selena dengerin gue. Lu jangan ketemu sama Aksa dulu ya hari ini," pinta Rani.

Selena menghela napas pelan. "Kenapa semua orang ngelarang gue buat ketemu sama dia?"

"Karena lu berubah sejak kemunculan dia," jawab Rani cepat. "Lu jadi gampang kepikiran, Selena. Dan gue menyadari itu bukan lu. Lu nggak sadar emangnya?"

Tak ada jawaban dari Selena."Masa si, atau mungkin ini adalah diri gue yang baru." Gumamnya.

"Len," suara Rani perlahan melembut. "Lu bukan jadi lebih dewasa. Tapi lu jadi sendiri. Gue sampai nggak ngenalin lu semenjak lu ketemu sama Aksa,"katanya.

Kalimat itu terasa seperti hujaman belati yang melukai hati Selena.

"Gue nggak janji ya. Tapi, gue bakal lebih hati-hati lagi mulai saat ini."

"Ya udah kalau gitu," jawab Rani. "Gue nggak bakal maksa lu. Tapi kalau lu sampai diapa-apain sama Aksa. Gue bakal nyalahin diri gue seumur hidup." Kata Rani sebagai penutup telfonnya.

Setelah sambungan telfon terputus, Selena perlahan memejamkan matanya.

Untuk pertama kalinya, ia menyadari hal sederhana namun menakutkan yaitu ia mulai menyembunyikan sesuatu dari Rani, sahabatnya yang ia percaya kurang lebih selama sepuluh tahun.

******

Sementara itu, di gedung x yang menjulang tinggi dan dingin, Bhima menatap layar monitornya dengan rahang mengeras.

Data pergerakan saham semakin bergerak liar, namun sayangnya fokusnya bukan disana.

Bhima meraih gawainya, membuka pesan-pesan lama yang dikirimkan dari nomor yang tidak dikenal.

"Lu nggak perlu campur tangan, Bhima Artha Pradana. Ini bukan soal lu."

Bhima berdiri dan berjalan menuju ke jendela besar dekat mejanya.

"Hemth. Kalau bukan soal gue, terus kenapa lu pakai nama palsu buat deketin Selena?" Gumamnya.

Gawainya kembali bergetar dan nama Gatra Daraksha Maheswara muncul kembali.

Tanpa berlama-lama, ia langsung mengangkat telepon itu tanpa basa-basi. "Lu makin keterlaluan, Tra."

"Ck! Semuanya tergantung sama sudut pandang masing-masing," jawab santai Gatra. "Menurut gue, yang gue lakuin sekarang adalah konsisten."

"Kurang ajar lu, karena lu dia jadi mikir kalau orang-orang di sekelilingnya nggak patut untuk dipercaya."

"Bukan gue," potong Gatra. "Gue cuma nunggu dia sadar aja dengan sendirinya.

"Dengan cara apa? Lu udah ngontrol ruang aman dia. Lu pasti paham dengan itu." Kata Bhima. Wajahnya sudah memerah menahan amarahnya sendiri.

Tak ada jawaban.

Beberapa detik kemudian, Gatra tertawa kecil. "Kenapa lu berubah. Bodoh kek nya mulai nguasai pikiran lu."

"Dan lu terlalu tenang untuk orang yang katanya peduli." Jawab Bhima kembali.

Perlahan, nada suara Gatra sedikit lebih rendah. "Justru karena gue peduli sama dia, gue nggak bakal biarin dia terus bergantung sama orang yang suatu saat bakal ninggalin dia."

Prang...

Akhirnya, gelas kaca yang digenggamnya pun pecah berkeping-keping. "Lu ngomong seolah lu satu-satunya orang yang ada buat dia," ujarnya dengan tangan yang sudah berdarah-darah.

"Belum, tapi saat waktu yang tepat aja."

Panggilan pun terputus. Kembali Bhima menatap layar hitam gawainya dan tangannya yang sudah berdarah-darah.

Untuk pertama kalinya, ada keraguan menyusup di hatinya. Bukan pada niat Gatra. Namun, pada kemampuannya sendiri untuk menghentikan semua kekacauan ini.

Bhima ke kamar mandi untuk membasuh lukanya dan menuju ke ruang seperti ruang uks untuk mengobati tangannya yang sudah berdarah-darah.

******

Suatu sore, Selena duduk di cafe kecil sekitar kost. Namun bukan lagi PawPaw cafe.

Ia memilih tempat baru karena ia ingin melihat apakah ia masih merasa diawasi.

Ia memesan teh lemon dan kue tiramisu kesukaan nya.

Gawainya bergetar kembali dan layar gawainya muncul nama "Aksa Maheswara ".

"Kamu lagi dimana Sel? Di luar ya?"

Deg....

Selena perlahan mengeryit. "Ha, kok dia bisa tau?". Perlahan, ia menghapus pikiran itu.

"Iya nih, kenapa?" Balasnya singkat.

Tak sampai satu menit, balasan pun datang.

"Tetap waspada, kadang tempat baru tidak senyaman kelihatannya."

Selena menegang, badannya sudah panas dingin dan sudah khawatir.

"Memangnya kamu tau darimana aku lagi di luar?

Tiga titik hilang timbul hilang timbul. Hingga akhirnya.

"Tidak. Aku hanya menebak saja. Kamu biasanya keluar kalau lagi stress."

Selena menatap gawainya lama.

"Bukan bukan. Ini bukan perhatian," gumamnya. "Ini udah masuk penguntitan."

Tangannya bergetar ketika akan membalas pesan.

"Kamu pernah merasa tidak enak nggak karena terlalu ikut campur dengan urusan orang lain?".

Tak ada balasan. Beberapa menit kemudian, balasan yang dinanti datang.

"Aku akan merasa bersalah jika aku tidak melakukan apapun,"tulis Aksa. "Dan jika aku kehilangan mereka."

Selena menelan saliva.

"Kehilangan? Kehilangan siapa?"

Namun, ditunggu - tunggu pun balasan itu tidak datang-datang.

Pertama kalinya Aksa memilih diam membisu.

******

Bulan pun menggeser posisi matahari untuk menerangi kehidupan manusia di bumi.

Selena akhirnya berjalan pulang ke kost dengan langkah yang nampak cepat dari biasanya. Ia merasa lelah, bukan secara fisik. Namun karena pikirannya terus dipenuhi dengan rasa was-was.

Sesampainya di kamar, ia langsung mengunci pintu, lalu duduk menyandarkan punggungnya di samping ranjang.

"Nggak bisa kalau gini terus," gumamnya.

Ia meraih ponsel yang masih berada di tas dan mencari satu nama yang selama ini ia hindari untuk dihubungi terlebih dahulu.

Bhima Artha Pradana.

Jemarinya menggantung beberapa detik di atas layar sebelum akhirnya ia menekan panggil.

Tak ada balasan. Selena hendak mengakhiri panggilan tersebut, namun tiba-tiba terdengar suara dari ujung telepon.

"Selena?"

Suaranya terdengar kaget namun ada rasa sedikit lega.

"Halo, aku nggak bakal ngobrol lama. Aku mau tanya satu hal sama kamu." Ujar Selena cepat.

"Silakan, mau tanya apa?"

"Kalau seseorang terlalu tenang, mengetahui batasan dan terlalu sering muncul ketika gue lagi lemah.... Apakah itu pertanda baik atau malah berbahaya?" Tanyanya.

Tak ada jawaban.

"Gue mau jawaban jujur. Nggak mau tipu-tipu," tegasnya.

Mendengar penegasan itu, Bhima menghela napas berat. "Itu pertanda bahwa dia sudah lama mengawasi kamu," jawab nya.

"Hemth. Berarti insting Rani nggak salah," gumamnya.

"Selena," kembali terdengar suara Bhima yang sudah lembut. "Kamu nggak sendirian. Tapi, kamu juga harus bisa memilih siapa orang yang rela berdiri di samping kamu dengan tulus."

Selena merasa bimbang. Apa yang dikatakan Bhima memang ada benarnya. Dia harus mulai memilih siapa yang sebenarnya ada di pihaknya, atau siapa yang hanya memanfaatkan keadaan nya karena sedang terpuruk.

"Ya sudah, terima kasih sudah mau mendengarkan aku." Katanya.

Hampir aja Selena akan mengakhiri panggilan tersebut, suara Bhima muncul kembali.

"Selena, kalau kamu berkenan. Boleh kita liburan ke pantai sama-sama?" Tanya nya.

"Ha, ke pantai. Kenapa tiba-tiba ngajak gue ke pantai?"

"Nggak, cuma kelihatannya kamu lagi suntuk aja. Kalau kamu berkenan, kamu bisa membagi keluh kesah mu padaku ketika di pantai. Mendengar deburan ombak biasa nya membantu menenangkan pikiran yang sedang jakut," terang Bhima panjang lebar.

"Ya sudah kalau gitu, gue diskusi dulu sama Rani," ucapnya akhirnya.

Panggilan pun berakhir, Selena menatap langit-langit kamarnya kembali sambil mempertimbangkan kembali ajakan Bhima untuk ke pantai.

******

1
putri bungsu
perbanyak sabar nya ya sel
Vᴇᴇ
selena itu udaa pusing mikirin cobaan bertubi tubi malah denger tuduhan begini /Speechless/ siap" si bima hutang kata maaf sama selena
Risa Sangat Happy
Bhima kamu harus melindungi Selena dari kejahatan Gatra
@dadan_kusuma89
Selena, berpikirlah positif! Mungkin saja dengan hadirnya Bhima dalam hidupmu, akan bisa membantu dan meringankan problematika yang sedang kau alami. Kau tak perlu menutup diri untuk itu.
@Yayang Suaminya Risa
Tujuan Gatra meneror Selena kira kira apa ya
Risa and My Husband
Bhima kamu harus ada di dekat Selena terus
@dadan_kusuma89
Selena, kau butuh seseorang untuk berbagi keluh kesah, meski hanya sekedar untuk mendengarkan ceritamu. Kau harus menumpahkan itu semua, jangan kau pendam, karena lama-lama bisa konslet kalau di pendam diri sendiri terus.
Yayang Risa Always Together
Kasihan mental Selena pasti terganggu akibat teror terus menerus
Risa Nikah Dong
Bhimaa dan teman temannya cari bukti kejahatan Gatra biar cepat di tangkap polisi itu Gatra
Risa Yayang Married
Selena lain kali ke kamar mandi dulu sebelum tidur supaya ngga kebelet dong
Risa Selalu Teristimewa
Rani nyenyak tidurnya sampai Selena ke kamar mandi tetap masih tidur Rani
Risa Selalu Beautiful
Selena kamu tenangkan dirimu dulu soalnya sahabat kamu sedang menyelidiki pelaku yang teror kamu
Risa Happy With Yayang
Kasihan Selena sendirian karena sahabatnya sibuk bersama Bhima dan teman temannya
Yayang Guanteng Milik Risa
Rani kamu berbohong demi kebaikan jadi ngga usah merasa bersalah
Yayang Guanteng Milik Risa
Selena kamu pengertian banget ngga mau ganggu Rani yang sedang tidur
Risa Cuantik Yayang Tuampan
Rani, Bhima, dan teman temannya Bhima ngga tidur buat bahas rencana penyelidikan Gatra
Risa Yayang Couple Selamanya
Bhima dan teman temannya cepat tangkap orang yang meneror Selena
Risa And My Husband
Selena jangan banyak pikiran sahabat kamu sedang menyelidiki kasus kamu
Wida_Ast Jcy
tetap semangat ya bima
Wida_Ast Jcy
nggk... itu maksudnya apa Thor. nggak ya. usahakan jangan disingkat begitu ya thor🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!