Niat hati ingin menghilangkan semua masalah dengan masuk ke gemerlap dunia malam, Azka Elza Argantara justru terjebak di dalam masalah yang semakin bertambah rumit dan membingungkan.
Kehilangan kesadaran membuat dirinya harus terbangun di atas ranjang yang sama dengan dosen favoritnya, Aira Velisha Mahadewi
Apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka berdua? Apakah hubungan mereka akan berubah akibat itu semua? Dan apakah mereka akan semakin bertambah dekat atau justru semakin jauh pada nantinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Musoka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 32
Pintu utama sebuah ruangan studio musik mewah secara perlahan-lahan mulai terbuka, menampilkan sosok Rhea dan juga Livia sedang melangkahkan kaki masuk ke dalam seraya mengobrol serta bercanda ria secara bersama-sama.
Akan tetapi, itu tidak berlangsung lama, lantaran aktivitas kedua cewek berparas cantik itu seketika terhenti saat tiba-tiba saja melihat sosok Azka yang seperti tengah melamun sambil memainkan piano.
Rhea dan Livia saling pandang beberapa saat—sorot mata mereka menunjukkan rasa penasaran serta kekhawatiran sangat luar biasa—sebelum pada akhirnya kembali melanjutkan langkah kaki mendekati tempat Azka berada saat ini. Mereka berhenti tepat di belakang tubuh Azka, memperhatikan setiap gerak-gerik cowok itu yang menghasilkan alunan musik merdu dan terasa sangat menyakitkan.
Livia hanya mematung, kedua tangannya terlipat di depan dada, seolah sedang berusaha menilai situasi tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Sementara Rhea mengerutkan kening, sedikit mencondongkan tubuhnya guna menangkap ekspresi yang sedang ditunjukkan oleh Azka pada saat ini.
Alunan nada piano yang sedang dimainkan oleh Azka benar-benar terdengar sangat lembut—tetapi penuh akan tekanan emosional yang sangat sulit untuk dijelaskan. Jari-jemarinya bergerak secara halus, tetapi sesekali gemetar, seakan musik itu bukan sekadar alunan, melainkan tempat dirinya menumpahkan seluruh isi di dalam kepalanya.
Detik demi detik berlalu, secara perlahan-lahan Rhea mulai membuka suara saat sudah tidak bisa menahan emosi saat mendengar alunan musik yang begitu sangat menyayat hati.
“Azka,” panggil Rhea dengan begitu sangat pelan, sembari menggerakkan tangan untuk memberikan tepukan di bahu kanan sahabat baiknya itu.
Nada piano seketika terhenti, Azka mematung di tempatnya, kedua bahunya sedikit menegang seolah baru saja ketahuan melakukan sesuatu yang ingin dirinya tutupi. Ia menundukkan kepala, menarik napas panjang, sebelum secara perlahan-lahan menoleh ke arah dua sahabatnya yang sedang menatapnya dengan penuh kekhawatiran.
“Oh … ternyata kalian berdua,” gumam Azka singkat, sembari memaksakan senyuman tipis yang sama sekali tidak berhasil menutupi suasana hatinya pada saat ini.
Rhea langsung duduk di sampingnya tanpa meminta izin, sementara Livia memilih duduk di sofa yang berada tepat di sisi kanan Azka.
“Lu lagi ada masalah lagi, Az?” tanya Rhea—to the point—tidak menahan diri sedikit pun.
Azka seketika terdiam seribu bahasa sejenak, sebelum pada akhirnya menggeleng-gelengkan kepala dengan begitu sangat cepat. “Nggak ada? Emangnya kenapa?”
Rhea menatap ke arah Livia sejenak—seolah ingin memastikan sahabat ceweknya itu menyerahkan semuanya kepada dirinya—sebelum pada akhirnya menangkup kedua pipi putih milik Azka. “Jangan bohong. Lu tipikal orang yang jarang banget mau mainin lagu sedih … dan kalau lu udah mulai mainin lagu genre itu … Pasti ada sesuatu yang lagi lu hadapi saat ini. Az, kalau ada masalah itu cerita … bukan dipendam sendirian … Gue udah sering bilang hal ini ke lu, lo—”
Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Rhea sontak berhenti berbicara saat tiba-tiba saja mendengar suara dering handphone milik Azka berbunyi. Ia secara perlahan-lahan melepaskan tangkupan pada wajah tampan sahabat baiknya itu, lantas melihat Azka yang mulai mengambil handphone dari dalam saku celana dengan begitu sangat cepat.
Azka membuka layar handphone, membaca sebuah pesan yang telah masuk—pesan dari salah satu suster rumah sakit tempat Aira berada sekarang—lantas tanpa aba-aba dan mengatakan apa-apa sesegera mungkin bangun dari atas tempat duduk. Ia mengambil tas dari sisi kiri sofa tempat Livia berada, sebelum pada akhirnya berjalan secara tergesa-gesa meninggalkan bagian dalam studio—meninggalkan kedua sahabatnya itu di dalam sana.
Sepeninggal Azka, Rhea dan Livia saling pandang dengan begitu sangat lama—sorot mata mereka menunjukkan rasa penasaran sangat tinggi—sebelum pada akhirnya menghela napas panjang.
“Biarin aja dulu, Rhe … siapa tahu dia memang masih bisa ngatasin masalahnya sendirian,” ucap Livia, bangun dari atas tempat duduk dan melangkahkan kaki menuju tempat gitar berada, “Daripada mikirin Azka dan nungguin anak-anak cowok yang belum tentu datang … mending kita cover lagu … lumayan buat konten sosmed.”
Rhea menatap pintu studio yang kini sudah tertutup rapat—pintu yang baru saja dilalui Azka dengan langkah tergesa dan wajah yang tampak penuh kecemasan. Hatinya terasa tidak tenang, tetapi ia memilih mengembuskan napas perlahan, mencoba menyingkirkan pikiran buruk mengenai sahabatnya itu.
“Mungkin lu bener …,” gumam Rhea pada akhirnya, meski suaranya terdengar tidak begitu yakin.
Livia hanya tersenyum tipis, menepuk pelan bahu sahabatnya sebelum kembali menoleh ke arah rak tempat semua alat musik tertata rapi. “Kita mulai dari nada rendah dulu atau langsung ambil intro tinggi?”
Rhea terkekeh kecil mendengar pertanyaan itu, perlahan-lahan mulai mengikuti langkah Livia menuju area rekaman. “Ngawur. Gue suara tinggi dari lahir juga susah.”
“Ya udah … lu ambil middle harmony aja, biar gue yang ambil bagian tinggi.” Livia mengambil gitar favoritnya—gitar berwarna hitam matte dengan permukaan mengilap—dan mulai menyetem senarnya sedikit demi sedikit.
Rhea duduk di kursi kecil dekat mikrofon, memutar tubuhnya beberapa derajat untuk melihat layar monitor. “Kita cover apa? Lagu galau? Romantis? Atau yang lagi viral?”
Livia memainkan satu kord pelan, mencoba mencari feeling. “Yang galau, deh. Mood gue mendadak turun setelah lihat Azka kayak gitu.”
Rhea mengangguk pelan. “Iya … alunannya tadi udah cukup bikin hati ikut nyesek.”
Beberapa detik berlalu, Livia akhirnya menemukan chord progression yang pas, lalu mulai memetik dengan ritme lembut, tetapi tajam—ritme yang menciptakan nuansa sendu memenuhi seluruh studio musik itu.
Rhea menutup mata, mencoba menangkap emosi yang ingin disampaikan oleh tiap petikan gitar Livia.
“Gue ikutin dari verse, ya?”
“Terserah. Yang penting feel-nya dapet.”
Rhea menarik napas panjang, kemudian mulai bernyanyi pelan. Suaranya terdengar serak lembut, penuh emosi—tepat seperti yang ia butuhkan untuk membangun vibe lagu tersebut. Livia menyusul dengan harmoni ringan, membuat suasana semakin syahdu.
Akan tetapi, di sela-sela lantunan melodi dan vokal, pikiran Rhea terus terlempar kembali kepada Azka. Ia menghela napas sejenak di tengah verse, lalu membuka mata dan menatap Livia.
“Liv …,” panggil Rhea dengan begitu sangat lirih.
Livia menghentikan petikan gitarnya. “Hm?”
“Lu yakin … Azka beneran baik-baik aja?”
Livia terdiam. Senyum kecil yang sebelumnya terpajang di wajahnya perlahan memudar, digantikan ekspresi ragu yang selama ini ia sembunyikan.
“Jujur, gue nggak yakin,” jawab Livia akhirnya, “Tapi, gue juga nggak mau maksa dia cerita kalau dia belum siap.”
Rhea mengangguk pelan, menatap lantai studio. “Gue cuma takut… dia nyimpen sesuatu sendirian sampai akhirnya jatuh.”
Livia bangkit dari tempatnya, berjalan mendekati Rhea lalu menepuk bahu sahabatnya dengan lembut. “Makanya… nanti kita tungguin dan bujuk dia pelan-pelan. Kayak yang biasa lu lakuin, Rhe … Jadi, tenangin pikiran lu dan berpikir lebih jernih seperti biasanya.”
Rhea menatap Livia, dan untuk pertama kalinya sejak Azka pergi tadi, ia tersenyum kecil. “Iya … bareng-bareng.”
Livia kembali mengambil posisi, menata headphone, lalu tersenyum tipis. “Sekarang rekaman dulu. Kalau galau di kepala kebanyakan, suara kita yang kasihan.”
Rhea terkekeh kecil, mengambil mikrofon dan bersiap. “Oke. Take satu.”
Studio kembali dipenuhi musik—indah, sendu, dan penuh perasaan. Namun, jauh dari sana, di rumah sakit tempat Azka berada, cerita yang jauh lebih besar sedang menunggu untuk terungkap.
Aira , terima dong biar belum cinta usaha jalani sama-sama . cinta akan datang seiring waktu