"Aku mau menjadi istrimu, hanya karena itu permintaan terakhir suamiku."
-Anna-
"Akupun mau menikahimu dan mengambil tanggung jawab atas anak itu hanya karena permintaan adikku."
-Niko-
Anna, wanita tunanetra berparas cantik yang sederhana mendapatkan donor mata dari suaminya yang meninggal saat usia pernikahan mereka baru beberapa minggu saja. Sebelum meninggal, suami Anna berwasiat agar Anna bersedia menikah dengan kakaknya, Niko.
Niko adalah pria tampan berhati dingin. Ia memiliki seorang kekasih, namun tidak ada niat untuk segera menikah.
Bagaimana kisah Anna dan Niko dalam menjalani kehidupan rumah tangganya?
Ada peristiwa apa di balik trauma yang di alami oleh Anna?
------------
Cerita ini hanya fiksi, jika ada nama, tempat dan kejadian yang sama, itu hanya kebetulan semata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon el nurmala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bertemu kembali
Happy reading...
Suasana musim gugur di negara ini sudah mulai terasa. Dedaunan yang mulai berwarna merah kecoklat-coklotan juga udaranya yang terasa dingin. Viona dan Rian kini sedang berada dalam mobil yang di kemudikan Niko.
Perjalanan dari bandara ke mansion sore ini terasa sangat lama bagi Viona. Ia mengenang kembali terakhir kali datang ke negara ini. Saat itu jadi pertama dan terakhir kalinya ia bertemu kedua orang tua Rian, pria yang menikahinya.
"Anna sudah tahu kami akan datang, Nik?" tanya Papa Rian.
"Belum, Pa. Biar jadi kejutan," sahut Niko dengan senyum tersungging di wajahnya.
Sesaat Rian merasa heran atas sikap putranya yang tidak biasa itu. Walaupun mereka tidak dekat, tapi Rian tahu bagaimana Niko dan mengikuti perkembangan putra sulungnya itu dari Frans, sahabatnya.
"Apa Niko sudah mulai menaruh hati pada Anna?" batin Rian.
Sementara itu di mansion...
Anna dan beberapa pelayan sedang menikmati susu hangat yang dibuatkan Bi Ani di meja dapur. Ia tidak berani ikut bergabung dengan Kakek dan Nenek di ruang perapian. Walaupun ia sangat ingin. Anna suka sekali dengan rasa hangat yang di hasilkan tungku perapian itu.
"Bi, kalau di perhatikan Bibi agak mirip dengan Ibu." Ujarnya.
"Oh, ya? Mungkin karena Bibi seumuran sama ibumu dan disini yang dari Indonesia cuma Bibi, jadi kamu merasa seperti melihat Ibumu."
"Mungkin ya, Bi."
"Kamu pasti sedang merindukan ibumu. Iya kan?" tanya Bibi.
"Iya, Bi." Anna tersenyum kecut.
"Kapan biasanya kamu menelepon?"
"Malam, karena disana pagi."
"Kalau kamu kangen, coba kamu telepon sekarang. Ibumu pasti sudah bangun," saran Bibi.
Anna menoleh pada jam yang terpaku di dinding. Pukul enam sore, disana pukul enam pagi. Ibunya pasti sedang sibuk bekerja. Dan baru kemarin ia menelepon ibunya itu.
"Kemarin ibu tidak terlihat sedih seperti biasanya, ada apa ya? Ibu juga mengatakan akan ada yang menemaniku dalam waktu dekat ini. Apa maksud dari ucapannya? Apakah bayi ini yang di maksudnya? Hmm," batin Anna mendengus kecewa.
"Eh, Anna! Sore begini kok melamun. Katanya akan menelepon ibumu."
"Enggak, Bi. Lain kali aja. Anna tidak mau mengganggu Ibu." Sahutnya.
Di kejauhan, tepatnya di pintu gerbang utama terlihat Pak Dani dan beberapa security sedang menyapa seorang pria. Pria itu datang bersama seorang wanita dan juga Niko.
Anna mengernyitkan dahinya saat merasa postur tubuh dua orang itu tarasa tak asing baginya. Tapi kemudian ia menepisnya.
"Ah, nggak mungkin. Nggak mungkin Papa dan Mama ada disini," batin Anna.
Disisi lain tempat itu, Rian dan Viona disambut dengan ekspresi kaget dari beberapa pekerja pria yang masih mengenali mereka terutama Rian, tuan muda mereka dulu. Memang beberapa pekerja disana termasuk Pak Dani terbilang sudah sangat lama mengabdi di mansion itu.
Saat hendak masuk ke dalam mansion, Viona terlihat ragu. Ia merasakan tubunya berkeringat di cuaca yang dingin ini. Sebuah genggaman di tangannya mengejutkannya. Viona menoleh dan ternyata Nikolah yang sedang menggenggamnya.
"Ayo, Ma!" ajak Niko yang menuntunnya masuk ke dalam mansion.
"Vi!" seru Nenek Murni. Wanita berumur itu terlihat senang melihat kehadiran Viona.
"Bu, apa kabar?" Viona tersenyum haru melihat ibu mertuanya itu.
"Kabar ibu baik, Nak. Bagaimana perjalanan kalian?" Murni memeluk erat menantunya. Viona bisa melihat punggung ayah mertuanya yang tidak bergeming.
"Lancar, Bu."
"Dimana Rian? Ah, anak itu pasti di ajak ngobrol sama si Dani," ujar Murni saat di lihatnya Putra semata wayangnya itu masih diluar.
Tak lama kemudian, Rian pun masuk ke dalam mansion.
"Bu!" seru Rian riang.
Dari ujung mata, Viona dapat melihat Kakek Rahardian langsung menoleh ke arah suaminya. Dalam hati Viona tersenyum. Pria itu pastilah sangat merindukan putranya.
Rian memeluk erat ibunya. Ia bahkan mengusap air mata yang menetes di wajah ibunya yang sudah renta itu.
"Kamu kemana saja? Ibu kangen, Rian." Isaknya. Murni kembali memeluk erat putranya seakan takut kehilangan.
"Maaf, Bu. Maafkan, Rian." Suara Rian terdengar berat.
"Kamu akan lama kan disini?" tanya Murni. Ia sangat senang melihat anggukan Rian.
Suara deheman mengalihkan perhatian mereka. Dengan raut wajah senang Rian menghampiri ayahnya.
"Ayah," ucapnya langsung memeluk Rahardian.
Kali ini, Rahardian tidak bisa lagi menyembunyikan kebahagiaannya. Ia membalas pelukan putranya dengan senyum tipis terlihat di wajahnya.
"Yah," ucap Viona.
Rian menarik pelan Viona agar mendekat padanya. Viona tersenyum kecil sambil mengulurkan tangannya. Awalnya Rahardian nampak ragu menyambut uluran tangan menantunya itu. Namun melihat tatapan penuh harap dari putranya, ia pun merelakan punggung tangannya dicium Viona.
Sedangkan Niko yang tadi langsung mencari Anna di dapur, nampak sudah tak sabar ingin melihat ekspresi bahagia wanita itu.
"Niko, aku nggak bisa jalan cepat."
"Hehe, maaf."
Sayup-sayup Anna mendengar suara Viona. Awalnya Anna meragukan pendengarannya, namun saat mulai memasuki mansion suara itu semakin jelas.
"Mama," ucap Anna. Ia mempercepat langkahnya.
"Anna, jangan cepat-cepat. Nanti jatuh," ujar Niko dengan raut khawatir.
"Sayang!" seru Viona yang berjalan cepat menghampiri Anna.
"Ma!" pekik Anna tanpa sadar.
Kedua wanita itu saling berpelukan. Namun tak bisa erat, karena terganjal perut besar Anna. Viona berkali-kali menatap mata Anna. Mata itu milik putranya. Saat bertemu Anna, ia juga merasa seperti bertemu putranya.
"Anna," panggil Rian.
"Papa! Apa kabar?"
Kini Anna beralih memeluk Rian.
" Baik, Sayang. Kamu bagaimana, sehat? Bagaimana kabar cucu Opa?" Rian mengusap lembut perut Anna seolah sedang menyapa.
Anna hanya tersenyum tipis. Viona yang tak ingin Anna merasa canggung, cepat-cepat mengalihkan pembicaraan.
"Anna, Mama mau dengar cerita kamu selama disini. Ayo!" Viona mengajak Anna duduk di sofa.
"Nanti aja, Ma. Mama tidur di kamar Anna ya," pinta Anna dengan nada sedikit manja.
Viona menoleh kepada suaminya. Rian mengangguk pelan.
"Terima kasih, Pa." Ucapnya.
Murni menatap kedekatan Anna dengan anak menantunya itu. Ia bisa melihat ketulusan yang terpancar dari ketiganya.
Niko terpana melihat senyum yang tak lepas dari wajah Anna. Bersama kedua orang tuanya, Anna bahkan tak segan untuk tertawa.
Tak hanya Niko, Kakek Rahardianpun mencuri pandang pada tiga orang yang sedang melepas rindu itu. Untuk pertama kalinya ia merasa hangat saat mendengar tawa renyah Anna.
Namun tawa itu terhenti. Raut wajah Anna yang tadi bahagia berubah seperti orang yang sedang menahan sakit.
"Ada apa, Sayang?" tanya Viona cemas.
"Perut kamu sakit?" tanya Nenek tak kalah cemas.
"Apa mungkin kamu merasakan kontraksi, An?" tanya Viona lagi sambil mengusap-usap punggung Anna.
"Nik, siapkan mobil!" titah Rian.
"Sakit, Ma," ringis Anna.
Niko yang melihat dan mendengar Anna kesakitan mulai merasa panik. Ia bergegas menelepon Dokter Olivia untuk memberi kabar. Dan dokter itu menyarankan Anna di bawa kerumah sakit.
"Dani, siapkan mobil!" Serunya.
Niko kemudian kembali menghampiri Anna.
"An, kita ke rumah sakit sekarang."
Anna yang terisak meremas kuat lengan Niko.
"Anna, kamu masih bisa menahannya kan?" tanya Viona.
"Ma," ringis Anna.
"Cepat Niko, bawa dia! Biar cepat di tangani Olivia," ujar Kakek yang juga merasa panik.
Niko mengangkat tubuh Anna dengan kedua lengannya dan membawanya ke mobil.
"Kamu tenang dulu ya, tahan sebentar."
"Cepat, Nik! Aku nggak tahan," pinta Anna sambil meringis.