NovelToon NovelToon
RAHIM UNTUK ISTRINYA

RAHIM UNTUK ISTRINYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Ibu Pengganti / Mafia / Nikah Kontrak
Popularitas:29.4k
Nilai: 5
Nama Author: Wiw1tt

Aku hanya diminta untuk mengandung anaknya.
Tidak untuk dicintai, tidak untuk dipertahankan.
Setelah melahirkan, aku harus pergi… membawa hati yang hancur, dan meninggalkan bayi yang kukandung dengan air mata.

Namaku Naira.
Aku bukan siapa-siapa — hanya wanita yang dijodohkan demi rahimku, agar keluarga besar Arga punya pewaris.
Pernikahan ini semu, cinta ini tidak pernah diminta.
Tapi di setiap detik aku merasakan kehidupan tumbuh di dalam perutku, aku juga mulai merasakan sesuatu yang tak seharusnya: aku jatuh cinta pada suamiku sendiri.

Namun di rumah itu, ada satu nama yang tak pernah bisa kulewati — Raisa, istri pertamanya.
Wanita sempurna yang tak bisa mengandung, tapi memiliki seluruh hatinya.

Aku hanyalah bayangan, tapi bagaimana jika bayangan ini mulai memiliki cahaya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiw1tt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

NYONYA YANG SEBENARNYA

🌻🌻🌻

Naira masih duduk di tepi kasur dengan wajah pucat. Tangannya masih menggenggam ponsel erat. Isi kepalanya terlalu penuh.

973 juta.

Nama kamu ikut tercantum.

Perusahaan Arga akan hancur.

Dadanya masih terasa sesak mengingat itu, bukan Ayahnya yang ia pikir kan sekarang, melainkan...Arga. Ia merasa sangat tidak enak dengan Arga, karena ulah ayahnya sekarang perusahaan Arga menjadi sasaran utamanya.

Lalu apa yang harus Naira lakukan sekarang. Ia juga tidak punya uang sebegitu banyaknya... Uang sisa tabungan yang benar-benar Naira punya hanya tinggal 147 juta.

Naira mengelus perutnya yang semakin membuncit, Ia menepis pikiran-pikiran buruk itu supaya tidak berpengaruh ke bayinya. Naira menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskan kannya perlahan.

Tok... Tok... Tok

Pintu kamar Naira diketuk, Ia buru-buru mengusap air mata di pipinya.

"Iya?" jawabnya pelan.

Tanpa menunggu jawaban, pintu kamar langsung terbuka. Naira yang masih duduk di tepi kasur langsung buru-buru mengusap air matanya. Wajahnya sedikit pucat.

"Mba Raisa..."

Raisa masuk dengan langkah tenang. Rapih, Elegan dan Wajahnya dingin seperti biasa. Tatapannya menyapu kamar beberapa detik sebelum berhenti tepat di wajah Naira. Tangannya menyilang di depan dada dengan alis yang dinaikan satu.

"Nangis?" Tanya Raisa, bukan pertanyaan penuh khawatir. Lebih seperti memastikan.

Naira langsung berdiri dan menggeleng kecil.

"E-Engga kok mba... "

Raisa terkekeh tipis.

"Kalau mau berbohong, minimal rapikan muka kamu dulu"

Deg.

Naira langsung menunduk. Entah kenapa setiap berhadapan dengan Raisa, ia selalu merasa kecil.

Raisa melangkah pelan dan masuk lebih dalam tanpa dipersilakan. Seolah kamar itu juga bagian dari kuasanya.

Matanya sempat menangkap ponsel di atas kasur lalu kembali melirik Naira yang masih menunduk.

"Duduk" Perintah Raisa. Patuh, Naira langsung kembali duduk di tepi kasur dengan memegang pinggangnya yang terasa sedikit sakit.

Sedangkan Raisa duduk di sofa dekat jendela sambil menyilangkan kaki.

"Aku mau tanya sesuatu sama kamu Naira, Tolong jawab dengan... Jujur"

Naira mengangguk kecil.

"B-baik mba Raisa"

Sunyi, Namun justru sunyi itu terasa lebih menekan. Raisa memperhatikan Naira beberapa detik.

"Kamu nyaman tinggal di sini?" Tanya Raisa, Pertanyaan itu membuat Naira sedikit bingung. Naira Bingung harus menjawab apa.

"N-nyaman Mba... " Jawab Naira, Raisa Terkekeh pelan dan tersenyum sinis.

"Apa yang membuat kamu nyaman tinggal di sini? Aku pikir... kamu ngga senyaman itu tinggal disini"

"Aku hanya... Berusaha untuk nyaman mba"

"Bagus." jawab Raisa cepat. Tatapannya berubah lebih tajam.

"Karena jangan sampai kamu lupa posisi kamu Naira"

Deg.

Naira langsung menegang. Tangannya refleks menggenggam ujung baju. Raisa berdiri dan Melangkah pelan mendekati kasur sampai berdiri tepat di depan Naira.

"Aku Nggak suka mengulang omongan yang sama, Tapi karena kamu sepertinya melupakan sesuatu, maka dengan berat hati... Aku tegaskan sekali lagi Naira!" suaranya tenang, dingin dan tegas.

"Jadi denger baik-baik." Lanjut Raisa. Naira menelan ludah.

"Kamu... ada di rumah ini karena keadaan." lanjut Raisa tanpa berkedip.

"Karena hutang ayahmu dan Karena Bayi itu." Tatapan Raisa turun ke perut Naira sebentar. Sedangkan Naira refleks menunduk dan mengelus perus buncitnya.

"Bukan karena Arga memilih kamu, ataupun bukan karena Arga CINTA sama kamu, Ingat kata-kata itu Naira"

Deg.

Dada Naira langsung mencelos mendengar perkataan Raisa. Benar, itu semua memang benar. Dari awal juga memang itu yang terjadi, lantas kenapa Naira harus sakit hati jika ada yang mengatakan tentang fakta tersebut. Disini Naira tidak punya hak untuk membela diri.

"Tidak usah salah paham dengan perhatian kecil yang Arga berikan akhir-akhir ini." lanjut Raisa.

"Arga hanya menjalankan tanggung jawab nya! Bukan kepada kamu Naira. Tapi... Bayi yang kamu kandung"

Kalimat itu terasa seperti Tamparan keras kepada Naira. Ia menunduk.

"Iya mba..." lirihnya. Raisa sedikit menyipitkan mata.

"Aku belum selesai."

Sunyi.

"Arga itu suami aku." Nada suaranya tetap rendah. Tapi penuh penegasan.

"Aku yang selalu ada sama Arga dari awal. Aku yang nemenin Arga waktu jatuh bangun." Raisa Satu langkah lagi mendekat ke arah Naira.

"Jadi... aku tidak suka kalau ada orang mulai lupa batas."

Naira langsung buru-buru menggeleng.

"Aku nggak pernah punya maksud..."

"Kamu merasa?" Potong Raisa dengan alis yang dinaikan satu. Naira menggeleng pelan.

"E-engga mba... "

"Bagus." Potong Raisa cepat. Karena memang bukan penjelasan yang ia mau. Raisa menarik kursi kecil lalu duduk tepat di depan Naira. Membuat Naira seperti tidak punya ruang menghindar.

"Mulai sekarang..." suara Raisa lebih pelan dan tajam. Ia mengelus kepala Naira dan menyelipkan rambut Naira yang sedikit menutupi wajahnya ke belakang telinga.

"...kalau Arga sampai terlalu perhatian sama kamu, jaga sikap kamu Naira"

Naira terdiam.

"Jangan cari perhatian, jangan terlalu manja Dan jangan merasa Bahwa Arga mulai ada rasa dengan kamu Naira. Itu hal... mustahil yang tidak akan pernah terjadi, dan jangan bandingkan rumah singgah dengan rumahnya sendiri." Ucap Raisa tegas. Naira langsung menegang, dan entah kenapa Air mata Naira sudah menggenang di pelupuk mata. Tidak... Naira tidak boleh menangis.

"T-tapi aku nggak..."

"sstttt.... Aku tidak mau mendengar pembelaan apapun dari kamu Naira... "

Tes...

Satu tetes air mata berhasil jatuh membasahi pipi Naira. Nada Raisa kali ini tegas. Tidak memberi ruang bantahan.

"Aku cuma mau, dengarkan apa yang saya katakan dan cerna itu baik-baik di otak kamu!" Ucap Raisa sambil menunjuk kepala Raisa dengan jari telunjuknya.

Lalu Raisa menyandarkan tubuhnya sedikit.

"Dan Satu lagi... " Tatapannya lurus menusuk.

"Kalau aku meminta sesuatu, Tidak ada alasan kamu untuk menolak"

Naira membeku.

"Kamu tinggal di rumah ini, makan di rumah ini dan hidupmu dibantu oleh suami aku Naira." suara Raisa tetap tenang, tapi terasa seperti tekanan.

"Jadi jangan Buat aku susah." Jantung Naira mulai berdetak tidak nyaman, Air matanya sudah mulai turun tanpa bisa ia bendung. Raisa tersenyum sinis.

"Lemah, Aku tidak suka drama dan Aku tidak suka dibantah." Mendengar itu Naira langsung buru-buru menghapus air matanya.

"B-baik mba Raisa... "

Dan senyum tipis muncul di bibir Raisa.

"Kalau kamu nurut... semuanya akan gampang."

Kalimat itu terdengar lembut. Tapi anehnya justru terasa seperti ancaman. Naira menunduk pelan.

"Iya Mba..." Untuk pertama kalinya sejak masuk kamar, Raisa terlihat puas

Bagus. Naira masih sama, Terlalu lembut dan Terlalu gampang ditekan. Dan itu berarti Naira Masih mudah diatur.

Tepat saat itu Suara mobil berhenti di halaman. Raisa menoleh ke arah jendela. Arga sudah pulang.

Tatapan matanya berubah cepat. Lalu tanpa peringatan Raisa berdiri. Merapikan ekspresinya.

Dan beberapa detik kemudian, suaranya berubah jauh lebih lembut.

"Istirahat ya, Naira. Jangan terlalu dipikirkan karena tidak baik untuk... Bayi aku dan Arga" Ucap Raisa Seolah tidak terjadi apa-apa. Seolah sejak tadi ia tidak sedang menanam kendali perlahan pada Naira.

1
Atifah Diani
lanjuttttt
Dewi Andika
kyknya author ny kehabisan ide🤭
Wiw1tt: LANJUTTTT
total 1 replies
Atifah Diani
lanjuttttt
Wiw1tt: LANJUT!!
total 1 replies
zoya
kapan lanjut nya thot
Wiw1tt: LANJUT!!
total 1 replies
Atifah Diani
lanjuttttt
Wiw1tt: LANJUT!!!
total 1 replies
anis abdullah
Reno bener gk sih
Wiw1tt: LANJUT!!
total 1 replies
zoya
blm up ka
Wiw1tt: LANJUT!!
total 1 replies
zoya
Lanjut ka
Wiw1tt: gass lanjuttt
total 1 replies
Atifah Diani
lanjuttttt
Wiw1tt: gass lanjuttt
total 1 replies
Dewi Andika
atau jgn2 raisa thor.. oh my god..
Wiw1tt: Mungkin aja si, kan raisa emang udah ngga suka sama Naira tuh 🤔
total 1 replies
anis abdullah
Kq aq curiga Raisa ya dalang dibalik semua ini
Wiw1tt: Tapi bisa jadi yang lain nihhh
total 1 replies
Atifah Diani
lanjut
Dewi Andika
duh.. curiga deh kalau reno tu sebenarnya ada hati ma naira🤭
Dewi Andika
syukaa👍
Wiw1tt: YUK LANJU!! UDAH UP LAGI NIH💪
total 1 replies
Datu Zahra
Raisa 👎
Wiw1tt: YUK LANJU!! UDAH UP LAGI NIH💪
total 1 replies
Datu Zahra
Bikin Naira kuat lah kak othor, lawan itu Raisa.
anis abdullah
Udah jatuh cinta tp egonya lbh tinggi
Wiw1tt: YUK LANJUT GUYSS!! 😍
total 1 replies
Dewi Andika
udah gk sabar liat kelanjutannya smpe naira melahirkan..
Wiw1tt: YUK LANJUT!! 😍
total 1 replies
Datu Zahra
Raisa ambisius, Arga bodoh. Pasangan cocok, memuakkan
Wiw1tt: UDAH UP LAGI NIHH, YUK LANJUT LAGI🤭
total 1 replies
Nada Afifah
jadi naira sakit, begitu juga jadi raisa dan arga, lanjut dong thor, sampai bawa mimpi, jujur aku suka gaya penyampaiannya , semangat 😍😍
Wiw1tt: UDAH UP NIHH, YUK LANJUT LAGII💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!