Malam itu hujan turun deras, membasahi gaun pengantin Kirana yang berlari sekuat tenaga menuju rumah calon suaminya, Reuben. Bukan untuk menikah — tapi untuk memohon agar seseorang, siapa pun, percaya bahwa dia tidak membunuh siapa-siapa. Namun dunia memilih untuk tidak percaya. Di balik kaca mobil, sahabat yang berkhianat, Jessica, tersenyum penuh kemenangan sebagai pembunuh yang sesungguhnya, sementara Reuben — pria yang seharusnya membelanya — hanya diam dan berbalik pergi. Tiga tahun di penjara merenggut segalanya dari Kirana: nama baik, keluarga, bahkan neneknya tercinta, Nio, yang menghilang entah ke mana selama dia dipenjara.
Keluar dari balik jeruji dengan status mantan narapidana, ditolak di mana-mana, Kirana nyaris tak punya siapa-siapa lagi — sampai dia bertemu seorang pria misterius yang mengaku hanya sopir biasa bernama "Leon". Demi bertahan hidup dan melindungi Nio, Kirana menerima pernikahan kontrak dengannya: nikah siri, tanpa cinta, hanya perjanjian satu tahun yang bisa berakhir kapan saja.
Yang tak pernah dia duga, "Leon" bukan sekadar sopir. Pria yang setiap malam pulang ke rumah sederhana bersamanya itu, siang harinya adalah Nathaniel — CEO Boyantara Group, konglomerat yang namanya membuat seisi dunia bisnis Indonesia gentar. Ketika kedok itu akhirnya terbongkar, semua sudah terlambat: Kirana sudah jatuh cinta pada pria yang menipunya sejak hari pertama.
Sementara itu, dendam lama belum tuntas. Jessica sang pembunuh sesungguhnya masih berkeliaran bebas dan tersenyum di atas penderitaan Kirana. Dan jauh di dasar masa lalunya, tersimpan sebuah rahasia identitas yang jauh lebih besar daripada sekadar nama seorang "sopir" palsu.
Bisakah cinta yang lahir dari kebohongan benar-benar bertahan? Dan siapa sebenarnya Kirana — mantan narapidana biasa, atau seseorang yang jauh lebih berharga dari yang pernah dibayangkan siapa pun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Bab 6: Tanggung Jawab
"Kamu kenapa?"
Pertanyaan Kirana menggantung di udara yang mendadak terlalu panas.
Leon tidak menjawab. Satu tangannya masih menekan tepi meja, buku-bukunya memutih. Cangkir teh di depannya bergetar sedikit saat napasnya semakin berat. Wajahnya tetap berusaha tenang, tetapi mata yang menatap Kirana sudah kehilangan jarak dingin yang tadi melindungi mereka berdua.
Kirana berdiri cepat.
"Aku panggil staf."
"Jangan."
Satu kata itu keluar rendah, tertahan, namun cukup untuk menghentikan langkahnya.
Kirana menatap pintu. Ruangan privat itu terlalu sunyi. Musik dari aula utama hanya terdengar seperti dengung jauh. Di luar, koridor kosong. Entah siapa yang membawa mereka ke sini, entah siapa yang menyiapkan teh itu, tiba-tiba semuanya terasa seperti jebakan yang ditutup pelan dari luar.
"Tehnya bermasalah?" tanya Kirana.
Leon mengangkat wajah. Ada keringat tipis di pelipisnya. "Kamu belum minum?"
"Belum."
"Bagus."
Jawaban itu membuat punggung Kirana dingin. Ia langsung menjauh dari meja, tetapi Leon sudah berdiri. Gerakannya tidak stabil. Tubuh tinggi itu seperti menahan gelombang yang lebih kuat daripada kendalinya.
"Dengar," katanya, setiap suku kata seperti dipaksa keluar. "Keluar dari sini. Sekarang."
Kirana seharusnya langsung pergi.
Ia tahu itu.
Namun kaki yang sudah siap mundur berhenti ketika Leon terhuyung dan hampir jatuh ke sisi sofa. Naluri yang pernah membuatnya berlari mencari Reuben malam hujan itu masih ada, meski kini lebih berhati-hati. Ia tidak bisa melihat orang jatuh di depannya lalu meninggalkannya begitu saja.
"Kamu butuh dokter."
"Aku butuh kamu pergi."
"Kalau ada orang sengaja memasukkan sesuatu ke minumanmu, orang itu mungkin masih di luar."
Leon tertawa pendek. Tidak terdengar lucu. "Kamu baru keluar hari ini dan masih sempat memikirkan keselamatan orang asing?"
"Aku tidak ingin ada orang mati lagi di dekatku."
Kalimat itu membuat Leon diam.
Untuk satu detik, panas di matanya bergeser menjadi sesuatu yang lebih manusiawi. Lalu gelombang itu kembali. Ia memejamkan mata, menahan napas panjang, tetapi tangannya bergerak cepat meraih ponsel.
"Leo," katanya setelah panggilan tersambung. Suaranya datar, terlalu datar untuk orang yang sedang diserang obat. "Kunci lantai dua. Cari pelayan yang membawa teh. Jangan panggil siapa pun ke ruangan ini."
Kirana mendengar suara laki-laki panik dari seberang. Leon memutus panggilan sebelum orang itu selesai bicara.
"Namamu Leon, tapi kamu menelepon Leo?"
"Bukan waktunya."
"Ini sangat waktu yang tepat untuk tahu dengan siapa aku terkunci."
Leon menatapnya. Bahkan dalam keadaan seperti itu, tatapannya masih bisa membuat orang ingin mundur.
"Aku tidak akan menyakitimu."
"Orang yang berbahaya sering mengatakan hal yang sama."
"Kalau aku berbahaya, kamu tidak akan sempat berdiri sejauh itu."
Kirana menggenggam tasnya lebih erat. Ucapan itu seharusnya menakutkan. Anehnya, justru karena ia mengatakannya dengan sadar, Kirana merasa pria ini sedang berusaha menjaga batas terakhirnya.
Di luar pintu terdengar langkah tergesa, lalu berhenti. Seseorang mencoba kenop pintu dari luar.
"Bos?" suara laki-laki terdengar tertahan. "Saya di luar."
"Jangan masuk," kata Leon.
"Tapi kondisi Bapak..."
"Jangan masuk."
Kirana menangkap panggilan itu. Bapak. Sopir macam apa yang dipanggil begitu oleh stafnya sendiri?
Namun sebelum ia sempat bertanya, Leon kembali limbung. Kali ini Kirana tidak berpikir. Ia maju, menopang lengannya, dan langsung menyesal karena panas tubuh pria itu terasa jelas menembus kain jas.
Leon menegang. "Jangan dekat."
"Duduk dulu."
"Kirana."
Itu pertama kalinya ia menyebut namanya tanpa nada menguji.
Kirana memaksanya duduk di sofa. "Aku tahu kamu sedang berusaha waras. Jadi tetap waras."
Leon tertawa pelan, pahit. "Kamu galak juga."
"Aku pernah hidup dengan orang yang membuatku terlihat bersalah karena menangis. Aku tidak punya tenaga untuk lembut kepada pria yang keras kepala."
Kalimat itu keluar tanpa rencana.
Leon menatapnya lama. Pupil matanya melebar, tetapi di balik obat yang bekerja, ada kesadaran yang masih mencatat semua hal.
"Mereka menjebakku," katanya.
"Siapa?"
"Orang yang ingin melihat aku kehilangan kendali."
"Kamu punya banyak musuh?"
"Lebih banyak dari yang kamu perlukan untuk bertahan hidup."
Kirana ingin mundur. Tetapi pintu di luar masih dijaga, ruangan ini masih menjadi tempat paling berbahaya dan paling aman sekaligus. Di meja, cangkir teh yang belum ia sentuh berdiri seperti bukti kecil bahwa malam ini bukan kebetulan.
Leon mengulurkan tangan, bukan untuk menariknya, melainkan untuk mengambil segelas air di meja samping. Tangannya gemetar. Air tumpah ke karpet.
Kirana mengambil gelas itu, menyerahkannya. "Minum."
Jari mereka bersentuhan.
Hanya sebentar.
Namun napas Leon berubah tajam.
Kirana menarik tangan secepat mungkin. "Maaf."
"Jangan minta maaf."
Suaranya makin parau.
Malam setelah itu bergerak dalam potongan-potongan kabur yang tidak ingin Kirana susun dengan kalimat lengkap. Pintu tetap terkunci dari luar atas perintah Leon. Obat di tubuh pria itu bekerja lebih ganas daripada yang mereka duga. Ia beberapa kali meminta Kirana pergi, lalu menahan dirinya sendiri agar tidak menyentuhnya. Kirana sendiri terjebak di antara takut, kasihan, dan kesadaran pahit bahwa jika ia keluar sekarang, orang-orang di luar bisa membuat cerita apa pun tentang mereka.
Ketika batas akhirnya runtuh, tidak ada kata-kata manis.
Tidak ada janji kosong.
Hanya dua orang yang sama-sama terperangkap oleh rencana orang lain, oleh tubuh yang dipaksa bereaksi, dan oleh malam yang menutup semua jalan keluar.
Lampu kota di luar jendela tetap menyala sampai lewat tengah malam.
Menjelang subuh, Kirana terbangun di sofa panjang dengan selimut menutupi tubuhnya. Ruangan itu berantakan kecil: cangkir pecah di dekat karpet, air mengering di meja, jas Leon tergeletak di kursi. Pria itu duduk di sisi lain ruangan, sudah memakai kemejanya dengan rapi meski wajahnya masih pucat.
Ia tidak mendekat.
"Kamu sadar?" tanyanya.
Kirana duduk perlahan. Seluruh tubuhnya kaku. Wajahnya panas oleh malu yang tidak tahu harus diarahkan ke siapa.
"Aku harus pergi."
"Tunggu."
"Jangan."
Satu kata itu keluar lebih tajam daripada yang ia inginkan.
Leon berhenti. Ia menerima batas itu tanpa membantah. Justru hal itu membuat dada Kirana semakin sesak.
"Aku akan bertanggung jawab," katanya.
Kirana tertawa kecil. Kering, kosong. "Pria selalu suka kalimat itu setelah sesuatu telanjur terjadi."
"Aku tidak sedang menghapus apa pun. Aku juga tidak akan menyalahkanmu."
"Bagus. Karena aku memang bukan orang yang menuang obat itu."
"Aku tahu."
Kirana menoleh.
Leon berdiri, mengambil amplop cokelat miliknya dari meja, lalu meletakkannya di dekat tas tanpa menyentuhnya. "Aku akan mencari tahu siapa yang melakukannya. Dan tentang kasusmu, aku akan dengar."
"Kenapa?"
"Karena semalam kamu bisa saja meninggalkanku, tapi tidak."
"Itu bukan alasan untuk percaya pada pembunuh."
"Aku belum pernah bilang kamu pembunuh."
Kirana tidak punya jawaban untuk itu.
Di luar pintu, suara Leo terdengar lagi, lebih pelan. "Bos, mobil sudah siap."
Leon tidak menoleh. "Kirana, beri aku alamatmu."
"Untuk apa?"
"Aku bilang aku akan bertanggung jawab."
Kirana mengambil tasnya. Tangannya gemetar, tetapi langkahnya tegas. "Kalau kamu benar-benar ingin bertanggung jawab, jangan cari aku sebelum kamu tahu apa arti kata itu."
Ia keluar sebelum Leon sempat menjawab.
Di koridor, beberapa staf menunduk terlalu cepat saat melihatnya. Kirana tahu tatapan seperti itu. Mereka tidak bertanya, tetapi mata mereka sudah menyusun cerita. Ia berhenti sebentar, memaksa punggungnya tetap tegak, lalu berjalan melewati mereka tanpa mempercepat langkah. Dulu ia pernah berlari di bawah hujan dan semua orang menyebutnya bersalah. Pagi ini ia tidak akan memberi siapa pun gambar perempuan yang kabur.
Di lift, cermin memantulkan wajahnya yang pucat. Ada bekas merah samar di pergelangan tangannya karena terlalu keras menggenggam tas. Ia mengusapnya pelan, bukan karena sakit, melainkan karena benda kecil itu mengingatkannya pada satu hal: tubuhnya masih miliknya. Apa pun yang terjadi semalam, ia harus menjadi orang pertama yang mengatakannya pada diri sendiri.
Di lantai atas, Leon masih berdiri di ruangan yang berantakan. Leo masuk setelah mendapat izin, wajahnya kaku begitu melihat cangkir, karpet basah, dan pecahan porselen.
"Siapa yang menyiapkan teh?" tanya Leon.
"Nama di daftar staf bukan pegawai tetap, Bos. Orangnya sudah hilang."
"Cari."
"Baik."
"Dan perempuan tadi," Leon menambahkan, suaranya lebih rendah. "Tidak ada satu pun rekaman dari lantai ini yang keluar."
Leo mengangguk cepat. "Saya paham."
Leon menatap cangkir Kirana yang masih utuh. Fakta bahwa ia tidak meminumnya adalah satu-satunya hal yang membuat dadanya tidak sepenuhnya sesak. Jika ia juga terkena obat itu, malam ini akan berubah menjadi sesuatu yang lebih buruk, sesuatu yang tidak akan bisa ia tebus dengan kata tanggung jawab semahal apa pun.
"Siapkan mobil," katanya. "Aku akan menemuinya."
Pagi baru pecah ketika Kirana sampai di kontrakan kecil yang masih ia tempati sementara. Ia mandi lama, mengganti pakaian, lalu duduk di lantai sampai cahaya matahari merambat ke pintu.
Ia tidak menangis. Air mata terasa seperti kemewahan yang hanya boleh keluar kalau seseorang punya tempat aman untuk runtuh.
Saat ia akhirnya hampir tertidur, ketukan terdengar dari luar.
Sekali.
Dua kali.
Suara Leon menyusul, tenang dan tidak memberi ruang untuk pura-pura tidak mendengar.
"Kirana, buka pintunya. Kita perlu bicara."
apa mereka udah melebur semalam tor🤔🤔🤔