Dian meninggal dengan sangat menyedihkan: dikhianati tunangannya sendiri dan saudara tirinya, dihina sebagai wanita miskin pengemis cinta, lalu tewas dalam kecelakaan yang "disengaja". Namun saat membuka mata, ia kembali ke masa 3 tahun lalu—tepat saat ayahnya menawarkan pernikahan kontrak dengan pria paling dingin, misterius, dan ditakuti di kota: Erlan Pratama.
Di kehidupan dulu, Dian menolak tawaran itu dan memilih setia pada tunangannya yang brengsek. Kali ini, Dian tersenyum dingin dan menyetujuinya. Ia pikir ini hanya langkah untuk selamat dari nasib buruk—sampai ia perlahan sadar: pria yang terlihat tidak peduli itu diam-diam melindunginya, menyembunyikan rasa sakit yang sama, dan ternyata sudah mencintainya sejak lama... bahkan di kehidupan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ristika Rachma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 : Pertarungan Hati di Bawah Pohon Kenangan
Kaki-kakiku terasa berat seolah tertanam ke tanah saat melihat sosok itu berdiri di hadapanku. Angin malam yang berhembus kencang menerpa rambut panjangku yang terurai liar, membawa serta debu dan dedaunan kering yang berputar di sekitar kami. Dimas berdiri diam di pinggir jalan raya yang sepi, tidak bergerak maju maupun mundur, hanya menatapku lekat-lekat dengan pandangan yang sulit dibaca, campuran antara dendam, kerinduan, dan keraguan yang mendalam. Cahaya lampu jalan yang remang-remang menerangi separuh wajahnya, membuat bayangannya tampak panjang dan mengerikan di aspal dingin.
"Lari ke mana kau, Dian?" suaranya terdengar berat dan serak, bukan seperti suara orang yang siap menyerang, melainkan orang yang sedang berjuang melawan dirinya sendiri. "Kau pikir dengan membawa benda itu kau bisa mengubah segalanya? Kau pikir Erlan benar-benar bisa melindungimu dari segala bahaya?"
Aku berhenti beberapa langkah darinya, napasku terengah-engah karena berlari dan ketakutan. Tanganku masih mencengkeram liontin giok itu erat di dalam saku jaket, seolah itu adalah satu-satunya jangkar yang menjagaku tetap berdiri tegak. "Aku tidak lari dari kebenaran, Dimas. Aku lari demi menyelamatkan orang-orang yang kucintai. Kau tahu betul bahwa Paman Haris bukanlah orang yang dia tampakkan. Dia yang memanipulasimu, dia yang memutarbalikkan fakta agar kau membenci keluarga Erlan dan keluargaku!"
Dimas tertawa kecil, namun tawanya terdengar penuh kepedihan. Dia melangkah perlahan mendekat, tangannya terkepal kuat di sisi tubuh. "Manipulasi? Selama sepuluh tahun aku hidup dalam kesendirian dan rasa sakit itu, Dian! Dia adalah satu-satunya orang yang mendekatiku saat semua orang meninggalkanku. Dia yang memberitahuku bagaimana kakek Erlan merebut tanah kami, bagaimana ayahmu diam saja saat orang tuaku membutuhkan pertolongan. Dan sekarang kau menyuruhku percaya padamu begitu saja?"
"Itu karena kau tidak pernah mau mendengar sisi lain ceritanya!" seruku berani, menahan rasa takutku agar tidak merosot ke kaki. "Kita bisa pergi ke tempat itu bersama-sama. Di rumah tua di bukit itu tersimpan seluruh catatan sejarah yang jujur. Jika kau benar-benar ingin tahu kebenaran, jangan jadikan aku musuhmu. Jadilah saksi bersamaku."
Kalimat itu seolah memukulnya keras. Dia berhenti melangkah, matanya menatapku lekat-lekat seolah sedang mencari kebohongan di mataku yang dulu selalu dia percaya sepenuhnya. Selama beberapa detik yang terasa berabad-abad, dia diam membisu, bergumul dengan perasaan yang bertolak belakang di dalam dadanya. Akhirnya dia menghela napas panjang, lalu perlahan menyingkirkan jalannya, namun matanya tetap waspada ke arah rumah sakit di kejauhan.
"Aku tidak mempercayai Erlan, dan aku belum mempercayaimu sepenuhnya," ucapnya tegas. "Tapi aku tidak akan membiarkan Paman Haris mendapatkan apa yang dia inginkan, apa pun kebenarannya. Aku akan menemanimu ke sana. Tapi jika kau membohongiku, Dian... aku tidak akan ragu untuk mengambil keputusan sendiri."
Tanpa menunggu jawabanku lagi, dia berjalan mendahuluiku menuju sebuah motor tua yang terparkir di balik semak-semak. Kami segera melaju membelah jalanan kota yang mulai sepi, menuju bukit yang penuh kenangan masa kecil kami. Di sepanjang perjalanan, pikiranku terus melayang pada Erlan. Apakah dia selamat? Apakah dia berhasil lolos dari kepungan mereka? Aku berjanji dalam hati, apa pun yang terjadi di sana, aku akan kembali padanya dan kami akan menyelesaikan semuanya bersama-sama.
Sesampainya di kaki bukit, kami harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Semak belukar yang tinggi dan akar pohon yang menjulang membuat langkah kami terhambat, namun semangat untuk menemukan kebenaran menjadi kekuatan tambahan. Semakin kami mendekat ke puncak bukit, semakin jelas terlihat bangunan rumah kayu tua itu dindingnya sudah mulai lapuk dimakan usia, jendela-jendelanya pecah, namun pohon beringin raksasa di halamannya masih berdiri tegak kokoh seolah menjadi penjaga setia tempat itu.
Di bawah cahaya bulan yang mulai muncul dari balik awan, aku melihat dengan jelas ukiran di pintu depan rumah itu: dua simbol yang saling bertautan, matahari dan bulan. Tanpa ragu lagi, aku mengeluarkan liontin giok berbentuk matahari itu dan meletakkannya ke dalam lekukan yang pas persis di ukiran tersebut. Suara bunyi halus terdengar saat kunci itu menyatu, dan pintu tua itu perlahan terbuka sendiri tanpa disentuh, memancarkan cahaya keemasan samar dari dalamnya.
Suasana di dalam rumah itu tidaklah berdebu dan rusak seperti yang terlihat dari luar. Ruangan itu bersih dan rapi, seolah masih ada penghuni yang merawatnya setiap hari. Di tengah ruangan terdapat sebuah meja batu datar yang besar, dan di atasnya tepat berada di tengah cahaya itu, tergeletak cincin emas tua yang berukiran bulan sabit, cincin pusaka yang selama ini dicari-cari. Namun di sekeliling meja itu, tertata rapi tumpukan buku harian dan dokumen kuno yang mengungkap kebenaran yang selama ini tersembunyi.
Dimas mendekat perlahan, tangannya gemetar saat mengambil salah satu buku harian paling atas. Saat dia mulai membaca isinya, wajahnya perlahan berubah pucat selembar kertas. Ternyata benar semua yang kukatakan. Di sana tertulis jelas bahwa kakek Erlan justru berusaha menyelamatkan keluarga Dimas dari utang yang tak sanggup mereka bayar, dan tanah itu diserahkan secara sukarela oleh ayah Dimas sendiri demi menjamin pendidikan masa depan anaknya. Kecelakaan itu memang murni ulah kelompok yang dipimpin oleh kakek Paman Haris, yang sejak dulu mengincar kekuatan yang tersimpan di tempat ini. Paman Haris hanya melanjutkan ambisi ayahnya yang gagal dulu.
"Aku... aku telah melakukan kesalahan besar..." bisik Dimas dengan suara tercekik, air mata menetes jatuh ke halaman buku itu. "Aku membenci orang yang tidak bersalah, aku menyakiti orang yang dulu ingin melindungiku... dan aku hampir membiarkan ambisi orang jahat itu merenggut nyawamu juga."
Aku mendekat dan meletakkan tanganku di bahunya dengan lembut. "Kau tidak tahu, Dimas. Semua kesalahpahaman itu sengaja diciptakan agar kau menjadi senjata bagi mereka. Sekarang kau tahu kebenarannya, kau bisa memilih untuk memperbaikinya."
Belum sempat kami menyatukan liontin dan cincin itu, suara tepuk tangan terdengar dari pintu masuk. Paman Haris berdiri di sana dengan senyum kemenangan yang menjijikkan, diikuti oleh beberapa orang anak buahnya yang masih tersisa. Di belakangnya, mereka menyeret Erlan yang tangan dan kakinya terikat, wajahnya penuh luka memar namun tatapannya tetap tajam dan tak pernah lepas dariku.
"Terima kasih telah menemukan kuncinya untukku, Dian," ucap Paman Haris dengan nada bangga. "Kalian berdua memang sangat berguna. Sekarang serahkan benda itu padaku, atau Erlan akan kehilangan nyawanya di tempat ini."
Erlan berusaha melawan, namun ikatan itu terlalu kuat. Dia menatapku tajam dan berteriak sekuat tenaga: "Jangan lakukan, Dian! Jangan biarkan dia mendapatkannya! Ingat janjimu padaku!"
Hatiku terasa teriris melihat kondisinya. Di satu sisi ada nyawa orang yang kucintai, di sisi lain ada nasib seluruh dunia yang terancam jika kekuatan itu jatuh ke tangan yang salah. Namun saat aku melirik Dimas, aku melihat perubahan tekad yang kuat di matanya. Dia melangkah berdiri di sampingku, menatap tajam ke arah Paman Haris.
"Kau tidak akan mendapatkan apa-apa," ucap Dimas tegas. "Mulai detik ini, aku tidak lagi menjadi alatmu. Dan aku akan memastikan kau tidak pernah menyakiti mereka berdua lagi."
Pertarungan yang sesungguhnya kini baru saja dimulai. Di satu sisi ada kekuatan yang berlebihan dan ambisi yang tak terbatas, di sisi lain ada kebenaran yang akhirnya bersinar terang dan persahabatan yang kembali bersatu setelah hancur bertahun-tahun lamanya. Namun satu hal yang membuatku ragu: jika kami menyatukan kedua benda itu, apakah kami benar-benar siap menghadapi apa pun yang akan muncul dari sana? Dan apakah pengorbanan yang diminta kekuatan itu tidak lebih besar daripada yang bisa kami berikan?