Demi menyelamatkan nyawa sang adik yang mempunyai penyakit jantung bawaan, Alina Savina seorang figuran terpaksa menerima tawaran gila dari Leon Gennadi Alexander.
Leon, aktor mega bintang sekaligus pewaris tunggal imperium bisnis Alexander Group, membutuhkan istri instan demi menghindari perjodohan kolosal keluarganya.
Sebuah kecelakaan tak sengaja di basement apartemen membawa keduanya ke meja pernikahan kontrak yang rahasia, dingin, dan penuh batasan ketat.
Di balik dinding kaca penthouse yang megah, sandiwara pernikahan satu tahun dimulai.
Sanggupkah mereka menjaga hati agar tetap logis, ataukah skenario takdir akan meruntuhkan dinding keangkuhan yang telah mereka bangun?
JANGAN LUPA KEPOIN CERITANYA YAAAAA
FOLLOW IG @LALA_SYALALA13
SUBSCRIBE YT @NOVELLALAAA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jadilah Istriku
Alina bersujud di depan sepatu kulit mengkilap milik Leon. Perilaku ini terasa sangat memuaskan ego bagi sebagian orang, namun bagi Alina, ini adalah sisa-sisa harga diri yang dia buang demi kelangsungan hidup adiknya.
"Saya mohon, Tuan Alexander... Adik saya sedang menunggu di rumah sakit sekarang. Dia butuh obat jantung. Kalau saya harus bayar ganti rugi sekarang... adik saya bisa mati, Tuan. Saya mohon belas kasihan Anda..." pinta Alina memohon keringanan.
Leon terdiam. Matanya yang tajam menelisik penampilan Alina dari ujung kepala hingga ujung kaki. Jaket ojek yang robek di bagian siku, celana jins murah yang basah, dan wajah yang penuh keputusasaan murni. Tidak ada kepura-puraan di sana. Sebagai seorang aktor, Leon tahu mana akting dan mana ekspresi realita yang hancur.
Tiba-tiba, ponsel di saku jas Leon bergetar. Dia merogohnya, melihat nama yang tertera di layar, lalu menghela napas panjang dengan raut wajah yang mendadak berubah menjadi sangat muak. Dia menggeser tombol hijau, lalu menempelkan ponsel itu ke telinganya tanpa menjauh dari Alina.
^^^Leon: [Ya, Nek.] kata Leon, suaranya melunak sedikit namun tetap terdengar kaku.^^^
^^^Leon: [ku sudah bilang, aku tidak mau dijodohkan dengan anak rekan bisnis kakek. Aku bisa mencari calon istriku sendiri.] ujar Leon dengan nada tegas, menahan kekesalan yang mendalam.^^^
^^^Leon: [Minggu depan? Tidak mungkin. Aku sudah punya kekasih. Kami bahkan berniat untuk segera melegalkannya.] ucap Leon berbohong tanpa berkedip.^^^
Matanya tiba-tiba kembali tertuju pada Alina yang masih terisak di bawahnya. Sebuah kilatan ide gila, dingin, dan penuh perhitungan mendadak melintas di benak sang aktor utama.
^^^Leon: [Baik. Aku akan membawanya ke rumah utama minggu depan untuk menemui Nenek dan Kakek. Jadi, batalkan semua kencan buta konyol itu.] ucap Leon final, lalu langsung mematikan sambungan telepon sebelum sang nenek sempat memprotes lebih jauh.^^^
Leon memasukkan kembali ponselnya. Dia menatap Alina yang mendongak dengan wajah basah oleh air mata, tampak bingung dengan percakapan yang baru saja didengarnya.
Leon berlutut dengan satu kaki, menyamakan tingginya dengan Alina. Bau parfum maskulin yang sangat mahal menyerbu indra penciuman Alina, sangat kontras dengan bau oli dan keringat yang menguar dari tubuhnya sendiri.
"Siapa namamu?" tanya Leon, suaranya kini tidak lagi membentak, melainkan terdengar seperti seorang negosiator yang sedang menyudutkan mangsanya.
"Al... Alina. Alina Savina, Tuan." jawab Alina terbata-bata.
"Alina," Leon menyebut nama itu dengan datar.
"Kamu bilang kamu tidak punya uang untuk ganti rugi mobilku yang ratusan juta ini, kan? Dan adikmu butuh biaya pengobatan jantung yang mahal?" seru Leon.
Alina mengangguk pelan, perasaannya mendadak menjadi tidak enak. Tatapan mata Leon saat ini bukan lagi tatapan marah, melainkan tatapan seorang pengusaha yang sedang melihat sebuah komoditas berharga murah namun memiliki fungsi yang tinggi.
"Aku punya tawaran bagus untukmu," kata Leon, seringai tipis muncul di sudut bibirnya.
"Tawaran yang bukan hanya akan menghapus seluruh utang ganti rugimu malam ini, tapi juga akan membiayai seluruh pengobatan jantung adikmu di rumah sakit terbaik, dengan dokter terbaik, sampai dia sembuh total." ucap Leon memberikan tawaran yang cukup menggiurkan.
Alina tertegun. Matanya melebar, menatap Leon dengan rasa tidak percaya sekaligus curiga.
"T-tawaran apa, Tuan? Saya... saya tidak mau melakukan hal-hal yang melanggar hukum atau..." tanya Alina terpotong oleh Leon.
"Ini legal. Di atas kertas bermaterai," potong Leon cepat. Dia menegakkan kembali tubuhnya, menatap Alina dari ketinggian dengan angkuh.
"Jadilah istriku. Kita tanda tangani kontrak pernikahan selama satu tahun. Setelah satu tahun selesai, kamu bebas pergi dengan membawa uang kompensasi yang cukup untuk membuatmu dan adikmu hidup mewah seumur hidup." seru Leon tanpa pikir panjang.
Alina membeku di tempatnya. Angin basement yang dingin berembus, membuat tubuhnya menggigil. Menikah? Dengan Leon Gennadi Alexander? Pria yang berada di puncak piramida sosial, sementara dirinya hanya sebutir debu di lantai studio syuting?
"Bagaimana, Alina Savina?" Leon merogoh dompetnya, mengeluarkan selembar kartu nama berlapis emas dan beberapa lembar uang pecahan seratus ribu yang cukup banyak, lalu menjatuhkannya begitu saja ke atas pangkuan Alina.
"Ambil uang ini untuk obat adikmu malam ini. Besok pagi, datang ke alamat yang ada di kartu nama itu. Jika kamu tidak datang, aku pastikan besok siang surat tuntutan ganti rugi dan laporan polisi sudah sampai di tanganmu." ucapnya dengan dingin.
Leon berbalik, berjalan kembali ke mobilnya tanpa menunggu jawaban Alina. Dia masuk ke dalam mobil sport-nya, memundurkannya sedikit, lalu melesat pergi meninggalkan Alina sendirian di dalam basement yang sunyi, ditemani motornya yang rusak dan tumpukan uang serta kartu nama yang terasa seperti tali kekang yang baru saja melilit lehernya.
Deru mesin mobil sport milik Leon Gennadi Alexander telah lama lenyap, menyisakan kesunyian basement yang kembali mencekam. Bau bensin yang merembes dari tangki motor bebeknya yang ringsek bercampur dengan aroma asap knalpot yang pekat.
Alina masih mematung di atas lantai semen yang dingin. Jemarinya yang gemetar mencengkeram erat beberapa lembar uang ratusan ribu dan sebuah kartu nama berlapis emas yang terasa begitu berat di telapak tangannya.
"Pernikahan... kontrak?" bisik Alina, suaranya tercekat di tenggorokan.
Otaknya yang telanjur lelah menolak untuk memproses tawaran gila tersebut. Menikah dengan Leon Alexander yaitu pria yang dunianya berjarak jutaan tahun cahaya dari kehidupannya begitu terdengar seperti lelucon paling tidak masuk akal yang pernah dia dengar.
Alina menatap kartu nama di tangannya. Nama yang tercetak dengan huruf timbul itu berkilau samar di bawah temaram lampu basement, seolah mengejek kemiskinan yang sedang mencekiknya.
Drrt... Drrt... Drrt...
Keheningan malam itu pecah oleh getaran hebat dari ponsel di saku jaket Alina. Layar ponselnya yang retak seribu menyala, menampilkan nomor tidak dikenal dengan kode area rumah sakit kota.
Jantung Alina seketika mencelos. Ketakutan yang jauh lebih besar dari sekadar ancaman hukum Leon langsung menyergap dadanya.
Dengan tangan gemetar, Alina menggeser tombol hijau ke atas.
^^^Alina: [Ha... halo? Selamat malam.]^^^
Suster: [Selamat malam. Benar ini dengan Nona Alina Savina, kakak dari pasien bernama Agra Savina?] suara dingin khas administrasi rumah sakit terdengar dari seberang sana.
^^^Alina: [Iya, benar, Sus. Saya kakaknya. Ada apa dengan Agra? Apa kondisinya memburuk?]^^^
Alina langsung berondong dengan pertanyaan, mengabaikan rasa perih di lutut dan sikunya yang mulai mengering.
Suster: [Pasien Agra saat ini kondisinya sudah stabil setelah diberikan tindakan darurat di ICU setengah jam yang lalu karena sempat mengalami gagal napas akibat penumpukan cairan. Namun, kami dari bagian administrasi ingin menginfokan bahwa batas waktu pelunasan deposit ruang perawatan intensif dan penebusan resep obat khusus berlapis emas untuk jantungnya sudah lewat dua jam yang lalu.]
.
.
Cerita Belum Selesai.....
kuraanggg terus
kelamaan nunggu bsok thor😭😭😭😭
apa lagi perasaan wanita yg lemah lembut kaya lelembut wehhh melot duluan
gak sabar nunggu leon bucin akut 🤣🤣🤣