Atas desakan ayahnya, Poppy Yun datang ke Macau untuk membahas pernikahannya dengan Andy Huo. Namun di perjalanan, ia tanpa sengaja menyelamatkan Leon Huo — gangster paling ditakuti sekaligus pemilik kasino terbesar di Macau.
Tanpa menyadari siapa pria itu, Poppy kembali bertemu dengannya saat mengunjungi keluarga tunangannya. Sejak saat itu, Leon bertekad menjadikan Poppy miliknya, meski harus memisahkannya dari Andy.
Namun saat rahasia kelam terungkap, Poppy memilih menjauh dan membenci Leon. Rahasia apa yang mampu memisahkan dua hati yang terikat tanpa sengaja?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
“Paman tidak berhak mengaturku,” bantah Poppy dengan suara bergetar menahan emosi. “Aku mau pulang atau tidak, itu urusanku sendiri.”
“Apakah kau bosan hidup?” balas Leon tajam. “Dengan kelakuanmu seperti tadi, kau hanya menjerumuskan dirimu ke dalam bahaya.”
“Aku tidak akan pulang sebelum menemukan mama,” suara Poppy meninggi, matanya memerah namun penuh tekad. “Aku ingin tahu apakah dia masih hidup atau tidak. Masih banyak hal yang belum aku ketahui.”
Leon menghela napas panjang, berusaha menenangkan dirinya. “Aku berjanji akan mencarinya,” katanya akhirnya. “Tapi hanya jika kau patuh dan berhenti bertindak sembarangan. Kalau kau menurut, aku akan melanjutkan penyelidikan.”
“Tidak mau!” Poppy menggeleng keras. “Paman mau bantu atau tidak, itu tidak masalah. Aku bisa mencari penyidik sendiri untuk menemukan mamaku.”
Ia menyerahkan tongkat biliar itu ke tangan Leon dengan gerakan tegas, lalu berbalik dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi.
“Poppy Yun!” seru Leon.
Namun gadis itu sama sekali tidak berhenti. Langkahnya justru semakin cepat, seolah ingin menjauh sejauh mungkin.
Tiba-tiba ponsel Leon berdering.
“Hallo,” sahutnya dengan nada dingin.
“Bos, polisi sudah tiba,” laporan Vic terdengar tergesa. “Dan sepertinya pelakunya bukan hanya satu orang. Dari rekaman CCTV, ada dua orang mencurigakan. Satu di antaranya masih lolos.”
Tatapan Leon langsung mengeras. “Cari dia sampai dapat,” perintahnya tanpa ragu. “Jangan sampai lolos. Blokir semua pintu keluar masuk dan periksa seluruh pengunjung.”
Sambungan terputus. Leon langsung bergerak cepat, mengejar Poppy.
Saat Poppy hendak meninggalkan area kasino, tiba-tiba pergelangan tangannya ditarik kuat. Tubuhnya tersentak ke belakang dan sebelum sempat bereaksi, Leon sudah menyeretnya menuju koridor privat, ke arah ruang kantornya.
“Paman…” ucap Poppy kaget, berusaha melepaskan diri.
Namun genggaman Leon justru semakin menguat, sorot matanya dipenuhi kecemasan yang bercampur amarah.
Leon menutup pintu kantornya dengan rapat, bunyinya menggema di ruangan sunyi itu. Tanpa memberi kesempatan Poppy bereaksi, ia menarik gadis itu ke arah sofa dan mendudukkannya di sana.
“Paman, kenapa membawaku ke sini?” tanya Poppy, suaranya masih dipenuhi sisa ketegangan.
“Untuk malam ini, kau tetap di sini,” ujar Leon tegas. “Jangan ke mana-mana.”
“Apa alasannya?” Poppy bangkit dari sofa, wajahnya menunjukkan penolakan. Namun belum sempat ia berdiri sempurna, Leon sudah menahan lengannya.
“Terjadi sesuatu,” jawab Leon dengan nada rendah. Ia menunduk, menatap Poppy dari jarak yang begitu dekat hingga gadis itu bisa merasakan hembusan napasnya. “Dan salah satu mata-mata yang dikirim musuh belum ditemukan.”
Leon melepaskan pegangannya perlahan, seolah menahan diri. “Kalau kau mengantuk, tidurlah,” katanya kemudian, nada suaranya sedikit melunak. “Kalau lapar, makan saja. Ada makanan di kulkas.”
Tangannya terangkat dan mengelus kepala gadis itu sekilas, sentuhan singkat namun penuh makn sebelum ia berbalik dan melangkah pergi menuju pintu.
Poppy terpaku di sofa, menatap punggung Leon yang menjauh.
Poppy bangkit dari sofa dan melangkah menghampiri pintu kantor itu. Ia memutar gagangnya sekali, lalu dua kali. Tidak bergerak. Alisnya berkerut saat ia menyadari pintu tersebut telah dikunci dari luar.
“Kenapa dikunci…?” gumam Poppy pelan. “Apa paman takut penjahat yang belum ditemukan akan masuk ke sini?”
Ia mendengus kecil, lalu tersenyum tipis seolah baru memahami sesuatu.
“Sudah kuduga… dia sebenarnya mencemaskanku,” lanjutnya lirih. “Paman, walau wajahmu dan tatapanmu selalu dingin, hatimu selembut kapas.”
Tanpa lagi berusaha membuka pintu, Poppy kembali ke sofa. Ia duduk bersandar dengan santai, menyilangkan kakinya, seolah ruangan itu benar-benar tempat paling aman baginya malam ini.
Sementara itu, di luar kantor, suasana jauh dari kata tenang.
Leon berdiri berhadapan dengan kapten polisi yang memimpin penggerebekan. Wajah sang kapten tampak kaku, sorot matanya penuh kecurigaan. Beberapa petugas bersenjata berdiri di belakangnya, mengawasi setiap sudut kasino.
“Kami menerima laporan bahwa tempat ini digunakan untuk menyimpan narkotika,” ujar sang kapten dengan nada datar namun menekan.
Leon membalas tatapan itu tanpa gentar. Wajahnya tetap tenang, namun aura dingin terpancar jelas.
“Silakan periksa sesuai prosedur,” jawabnya singkat. “Kasino ini tidak pernah bermain-main dengan barang terlarang.”
Ketegangan mengendap di udara. Jelas terlihat, kedua pihak sama-sama tidak menyukai posisi ini—polisi curiga, sementara Leon paham betul bahwa satu kesalahan kecil saja bisa menjadi senjata bagi musuh-musuhnya.
up nya jgn dkt ya thor
semangatt💪💪💪💪
gantung nih