Kisah Lyla, seorang make-up artist muda yang menjalin hubungan diam-diam dengan Noah, aktor teater berbakat. Ketika Noah direkrut oleh agensi besar dan menjadi aktor profesional, mereka terpaksa berpisah dengan janji manis untuk bertemu kembali. Namun, penantian Lyla berubah menjadi luka Noah menghilang tanpa kabar. Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka lagi. Lyla yang telah meninggalkan mimpinya sebagai make-up artist, justru terseret kembali ke dunia itu dunia tempat Noah berada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meongming, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 : Akhir Ujian
Tidak terasa waktu berjalan cepat hari terakhir ujian Akhirnya tiba. Begitu bel tanda selesai berbunyi, seluruh kelas langsung meledak seperti balon yang pecah.
“AKHIRNYAAA!!”
Teriak Wendy sambil menjatuhkan pensilnya ke meja, wajahnya bahagia campur lelah.
Nomi tertawa, “Otakku udah gosong! Aku bahkan lupa cara nulis namaku sendiri!”
Lyla cuma tertawa kecil melihat kekacauan itu. Suasana kelas mendadak penuh tawa dan jeritan lega—semua orang berlari keluar kelas, beberapa sudah sibuk berencana mau makan di luar atau tidur seharian. Ia ikut berjalan ke luar sambil merenggangkan tubuh. Angin siang menerpa wajahnya, hangat, tapi nggak tahu kenapa… hatinya terasa sedikit kosong.
“Lyla, kamu kenapa?” tanya Nomi yang menyadari ekspresi temannya.
“Enggak, cuma lega aja ujian udah selesai,” jawab Lyla cepat sambil tersenyum kecil tapi di dalam hati, yang muncul hanya satu pikiran apa Noah juga udah selesai ujiannya?
Sorenya, suasana mulai sepi. Lyla pulang terakhir karena ada sesuatu yang harus diselesaikan. Saat akan melewati aula klub teater, ia terus berjalan—sampai melihat Juliet masuk ke dalam. Langkah Lyla terhenti. Perlahan, ia melangkah masuk; suara pintu berderit pelan. Juliet duduk di panggung darurat, bahunya sedikit menunduk.
“Ka Juliet…?” panggil Lyla pelan.
Juliet menoleh, tersenyum tipis. “Oh, Lyla. Ujiannya udah selesai?”
“Iya,” jawab Lyla sambil mendekat. “Ka Juliet lagi apa disini?”
Juliet menatap kosong ke depan, lalu menghela napas. “Rasanya aneh, ya… setelah semuanya hampir selesai. Dulu, waktu aku masuk klub ini pertama kali, aku cuma anak baru yang bahkan nggak berani ngomong di depan orang,” katanya pelan. “Tapi sekarang, lihat deh… klub teater ini sudah jadi bagian dari hidupku.”
Lyla diam, mendengarkan dengan mata yang sedikit berkaca.
Juliet menatap ke atas, suaranya bergetar, “Sebentar lagi aku lulus. Rasanya aneh banget, Lyla. Aku gak tahu… setelah aku gak ada, klub ini bakal gimana. Noah juga nggak bisa bantu banyak lagi.”
Lyla menoleh cepat. “Eh? Maksudnya?”
Juliet terdiam sejenak, lalu berkata pelan “Dia kan mau pindah ke asrama Starline setelah ujian. Katanya mulai latihan buat trainee.”
Dunia Lyla seperti berhenti sesaat.
“...Apa?” suaranya nyaris berbisik.
Tanpa sadar, ia bangkit berdiri kakinya melangkah cepat, hampir berlari keluar aula.Lorong sekolah terasa panjang. Nafasnya memburu.
Ia berlari ke kelas Noah—kosong.
Ke taman belakang—tak ada siapa-siapa.
Panik, Lyla berlari ke gerbang sekolah.
Matanya terus mencari, seolah Noah bisa muncul di antara kerumunan siswa yang mulai pulang. Tapi tidak ada—hanya angin sore yang lewat pelan, dan dada Lyla yang terasa sesak entah kenapa.
Langit sudah mulai sore ketika Lyla menatap layar ponselnya. Jarinya berhenti di kolom pesan, tapi tak satu kata pun terketik. “Apa yang harus aku Katakan…” gumamnya pelan. Akhirnya ia menghela napas, memasukkan ponselnya ke dalam saku dan melangkah pulang.
Namun di tengah jalan menuju halte, langkahnya terhenti. Di bangku halte, duduk seseorang yang sangat ia kenal. Rambut kecokelatan, bahu yang sedikit membungkuk, dan… senyum kecil itu.
“Noah…”
Tanpa berpikir panjang, Lyla langsung berlari. Ranselnya bergoyang, napasnya memburu. Noah yang mendengar langkah cepat itu mendongak, lalu berdiri dan melambaikan tangan.
“Lyla!”
Begitu sampai di hadapannya, Lyla berhenti dengan napas tersengal. Matanya sedikit berkaca-kaca, tangannya refleks memegang ujung jaket Noah “Kenapa kamu… gak bilang?” suaranya bergetar menahan tangis.
Noah menatapnya bingung. “Bilang apa?”
Lyla menunduk sedikit, bibirnya bergetar.
“Ka-Juliet bilang… setelah ujian kamu bakal masuk asrama. Buat trainee.”
Suasana seketika sunyi hanya terdengar suara kendaraan lewat dan napas Lyla yang belum teratur.
Noah terdiam, tatapannya berubah lembut tapi juga penuh rasa bersalah. “...Jadi kamu udah tahu.”
Noah menunduk pelan, senyum tipis muncul di wajahnya yang tampak lelah. “Maaf…” katanya lirih. "Tadinya hari ini aku mau bilang, tapi ternyata kamu udah tahu lebih dulu.”
Lyla menggigit bibirnya, mencoba menahan suara yang mulai bergetar.
“Kenapa… mendadak banget?”
Ia mengangkat wajah, matanya menatap Noah dengan campuran bingung dan sedih. “Selama ujian kita aja jarang ketemu… tapi sekarang kamu malah mau pergi.”
Noah terdiam sejenak, seperti mencari kata yang tepat. Noah menarik napas pelan. “Iya… memang mendadak.... aku juga baru dapat emailnya semalam.”
Ia menatap Lyla, senyum kecil muncul di wajahnya, tapi ada sesuatu di balik senyum itu—seperti berat yang tak bisa disembunyikan. “Aku juga masih kaget… tapi kalau aku nggak berangkat sekarang, kesempatan ini bisa hilang.”
Lyla menunduk, jarinya menggenggam ujung jaket Noah makin erat.Ia ingin bilang sesuatu, tapi suaranya seperti tersangkut di tenggorokan.
Noah melanjutkan dengan lembut,
“Makanya aku ingin ketemu kamu dulu hari ini… sebelum semuanya mulai berubah.”
Lyla masih menunduk. Dadanya terasa sesak—antara ingin marah, sedih, dan takut kehilangan.
“Noah…” suaranya nyaris bergetar, “kalau kamu pergi… nanti aku gimana?”
Noah menatapnya lama. “Aku nggak akan pergi jauh, Lyla. Aku janji tetap akan hubungi kamu.”
Lyla menggeleng pelan, suaranya kecil. “Tapi rasanya tetap jauh…”
Noah menunduk sedikit, lalu mengulurkan tangannya, menepuk kepala Lyla lembut.
“Makanya jangan sedih. Aku mau kamu nunggu aku dengan senyum, bukan dengan air mata.”
Lyla menatap jalan, suaranya lirih nyaris tertelan angin. “Terus… kamu berangkatnya kapan?”
Noah menarik napas pelan. “Besok.”
Kepala Lyla langsung terangkat, matanya membulat, seperti tak percaya. “B–besok?”
Noah tersenyum tipis, mencoba menenangkan. “Iya… tapi hari ini aku nggak mau kamu sedih.”
Ia menatap Lyla lembut. “Sore ini, aku mau waktuku cuma buat kamu. Karena besok… mungkin aku nggak sempat lagi ketemu.”
Lyla terdiam. Angin sore menyapu rambutnya pelan, membuat dadanya terasa hangat sekaligus berat.
**
Setelahnya, Lyla dan Noah sudah berada di sebuah game arcade. Lampu-lampu berkelap-kelip, suara mesin dan musik bercampur jadi satu.
Lyla menatap sekeliling dengan mata berbinar. “Aku udah lama banget nggak ke tempat kayak gini.”
Noah tersenyum kecil. “Makanya aku ajak ke sini, biar kamu lupa kalau habis ujian.”
Ia lalu mengambil kartu dari saku dan menyerahkannya ke Lyla. “Pilih permainan yang kamu mau.”
Lyla menatap kartu itu, lalu menunjuk mesin tembak bebek. “Yang itu!” katanya semangat.
Beberapa menit kemudian, keduanya sibuk menembak target bebek plastik sambil tertawa-tawa. Lyla salah sasaran terus, sampai Noah menahan tawa dan akhirnya membantu dari belakang... tangannya menuntun arah tembakan Lyla.
“Aku bisa sendiri!” protes Lyla dengan pipi memerah.
Noah terkekeh. “Tapi kamu dari tadi nembak udara, bukan bebeknya.”
Mereka tertawa bersama, suara mereka tenggelam di antara riuhnya arcade Sore itu… terasa menyenangkan, seolah waktu berhenti hanya untuk mereka berdua.
Lyla berdiri di depan mesin capit hadiah dengan wajah murung. Boneka beruang kecil di dalam kotak kaca itu terus bergoyang setiap kali capitnya turun... dan gagal lagi.
“Ugh! Kenapa susah banget sih,” keluh Lyla sambil menatap mesin seolah mesin itu bersalah.
Noah yang berdiri di sebelahnya malah ngakak kecil. “Kamu udah tiga kali. Kasihan beruangnya, dia udah pasrah.”
Lyla manyun. “Jahat banget, aku hampir dapet tadi!”
Noah menahan tawa, lalu dengan nada menggoda berkata, “Kalau aku yang main, sambil merem juga bisa dapet, tau.”
Lyla menatapnya setengah tak percaya. “Sok banget!”
“Yakin mau taruhan?” Noah mengangkat alis, mengambil kartu dan memasukkannya ke mesin.
Dengan gaya percaya diri, ia menurunkan capit . Lyla menyipit curiga… tapi detik berikutnya klik! Capitnya benar-benar berhasil menangkap boneka.
“No way…” Lyla melotot, sementara Noah dengan santainya mengambil boneka itu dan mengangkatnya tinggi-tinggi.
“Tuh kan sambil merem juga bisa,” katanya sambil menyeringai puas.
Lyla menatapnya sebal tapi tak bisa menahan senyum. “Nyebelin banget sih kamu.”
Noah tertawa pelan, lalu tanpa banyak kata, menyodorkan boneka itu ke tangan Lyla.
“Buat kamu.”
Lyla terdiam sejenak, matanya berkedip cepat menatap boneka kecil di tangannya.
“…Makasih,” ucapnya pelan, dengan senyum yang nyaris malu-malu.
Setelah sejam main di game arcade mereka kini sudah berada di depan halte, suasana sore mulai meredup. Angin membawa sisa suara tawa orang orang yang lewat, tapi nggak tahu kenapa dada Lyla terasa sedikit sakit.
Noah berdiri di depannya, menatap ke arah jalan. “Aku… nggak bisa pulang bareng hari ini,” katanya pelan. “Ada urusan.”
Lyla mengangguk, mencoba tersenyum. “Oh… iya.”
Tapi senyum itu terasa kaku di wajahnya.
Noah menatap Lyla sebentar, lalu tangannya mengacak pelan rambut gadis itu.. “Jangan cemberut gitu, nanti aku dikira jahat banget ninggalin kamu.”
Lyla memalingkan wajah cepat-cepat. “Aku nggak cemberut,” gumamnya lirih.
Bus datang dengan suara rem lembut.
Noah mundur selangkah. “Sampai rumah kabarin yah ,hati-hati Lyla.”
Lyla menatapnya dari pintu bus.
“…Kamu juga.”
Pintu tertutup.
Bus mulai berjalan dari balik kaca jendela, Lyla melihat Noah yang masih berdiri di tempatnya—menatap bus itu sampai benar-benar menghilang dari pandangan.