Tisha Silvalia gadis panti asuhan yang dibuang oleh orang tuanya.dan harus menerima kenyataan bahwa suami yang menemaninya selama tiga tahun ini mengucapkan kata cerai saat Tisha mengandung Buah hati pertama mereka,kehadiran orang ketiga memicu pertengkaran mereka dan dengan mudah Ardan suami Tisha mengucapkan talak.Hati Tisha hancur namun memilih menerima keputusan suaminya.selama pernikahan suami nya tidak pernah memperdulikan kebahagia Tisha.Ardan memilih tinggal menetap diluar negeri hanya sekali-kali pulang ke Indonesia saat ingin mengecek beberapa cabang bisnisnya.Dan kesalahan terbesar menurut Ardan adalah menerima Tisha sebagai istrinya yang tak dicintainya karena perjodohan yang direncanakan Orang tua Ardan dengan ancaman kalau menolak semua aset kekayaan akan papanya ambil alih.tentu Ardan tidak mau kehilangan semua itu ia tidak bisa hidup tanpa harta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Princes Annie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 32
Cintya menunggu anak dan menantunya untuk makan malam bersama,ayah Raksa pergi keluar kota tanpa didampingi Istrinya.Cintya belum mau meninggalkan Tisha sebelum memastikan Ardan sudah bisa menerima kehadiran Tisha.
Ardan menggenggam tangan Tisha menuju meja makan,dan Cintya yang melihat itu merasa senang.
"Awal yang baik sha!!!!!!"ingin rasanya Cintya bersorak
"Sini sayang duduk samping mama"Cintya menggeser kursi disampingnya dan Ardan pun ikut duduk sejajar dengan mamanya.
Tisha mulai mengambilkan nasi untuk suaminya dia sudah sebulan ini terbiasa melakukannya, walau di awal merasa kaku,selama pernikahan tak pernah Tisha melakukan itu,pasti Ardan melarangnya keras.
Selesai makan malam Ardan ingin duduk sebentar diruang keluarga sambil menonton televisi yang sedang memberitakan tentang sebuah perusahaan yang sedang berkembang pesat milik keluarga Wijaya.
"Mas Ardan gak langsung tidur,Pasti lelah seharian bekerja"Tisha mencoba memberi perhatiannya.
"Sha,,duduk sini"Ardan menarik pelan tangan Tisha mengajaknya duduk disampingnya.
Tisha pun menurut,sambil memakan Puding buah buatan mamanya,Tisha sangat menyukai rasa pudingnya.
"Enak sha????"Tanya Ardan yang melihat Istrinya makan dengan lahap hingga meninggalkan Sedikit noda di ujung bibirnya.
Tisha hanya mengangguk karena mulutnya masih dipenuhi puding.
"Pelan-pelan sha,nanti kesedak lho"Ardan mengingatkan istrinya.Tisha pun memperlambat kunyahan.
Tisha pun mengambil Air mineral dimeja dan meminumnya.Ardan mengambil Tisu dan membantu mengelap bibir Tisha yang berwarna pink muda itu,Ardan memperhatikan dalam bibir istrinya dan ingin ******* nya.
Belum bibir Ardan sampai tepukan dibelakang pundaknya membuat Ardan tersentak.
"Kalo mau mesra-mesraan didalam kamar sana,Kasian mama sama mbok yang Jomblo".Cintya menggoda Anak dan menantunya itu.
Mbok Jumi hanya senyum-senyum dan meletakkan beberapa cemilan dimeja.
Ardan lagi-lagi kesal dengan Mamanya sudah dua kali mengganggu Olahraga bibirnya.Tisha hanya tertunduk malu.
Melihat wajah Ardan kesal Tanpa merasa bersalah Cintya pun ikut duduk menonton televisi.
"Udah jangan kesal sama mama,kalo mau lanjut pergi aja kekamar sana,mama gak bakal ganggu kok,iya kan Mbok".
"Gak dikamar juga mama ganggu,tadi sore"ucap Ardan keceplosan
"Wah berarti kalian kena prank mama donk"lagi-lagi Cintya tertawa
Tisha hanya tertawa melihat pertengkaran kecil karena tingkah usil mama mertuanya ,dari dulu sudah seperti ini sebab itu Ardan memilih untuk pindah dari rumah mamanya,bukan karena ia membenci mamanya hanya saja keusilan mamanya kadang diambang batas normal.dan juga memiliki tujuan lain saat itu Ardan ingin menyiksa Tisha tanpa sepengetahuan orang tuanya.
Cintya melihat kearah televisi dia pun terkejut saat melihat berita yang ditayangkan.
"Bukankah ini perusahaan yang ingin papamu ajak kerjasama,Wah mama gak nyangka perkembangan perusahaannya semakin pesat aja,papamu gak salah pilih kolega bisnis".Mama berdecak kagum
"Tapi kata Rumor yang mama dengar,Keluarganya termasuk orang-orang yang bergelut didunia mafia,Mama sempat melarang papa untuk menjalin kerja sama pada mereka,Tapi papa mu tetap bersikeras dan tak percaya dengan rumor yang beredar".mimik wajah Mama Cintya tiba-tiba memasang mode serius.
"Aku dengar dari Taufan,papa dan salah satu dari keluarganya adalah sahabat papa sejak Sekolah"Ardan juga fokus melihat berita di televisi.
"Wah, benarkah mama kok baru tau,mama mau minta penjelasan dari papa nanti,pantas aja dia kekeh sekali ingin tetap menjalin kerja sama walau mama melarang karena takut dengan latar belakang keluarga mereka".
"Apa kamu tau siapa nama sahabat papamu itu"Cintya penasaran
"Mana Ardan tau ma,,!!!Mama,papa dan Tisha aja Ardan lupa"Ucap Ardan santai
Cintya mendengus"Kamu ini ya lupa sama gak lupa ingatan juga tetap sama,Mulutnya seperti cabe pedes!!!!!!".Dan menjewer anaknya itu
"Ishhhhhh,ma sakit"Ringis Ardan
Tisha hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan mertua dan suaminya.Tisha merasa sangat bahagia dan berharap Ardan sekarang tetaplah seperti ini sampai ia sudah mengingat semuanya.
Dan mata Tisha menatap layar televisi ia melihat pasangan suami istri yang sedang di wawancara.
"Heiii,,,,bukan kah itu Edwar Wijaya dan Ana Wijaya"sontak Cintya melihat orang yang sangat ia kenal
''Mama mengenalnya"tanya Ardan heran melihat mamanya yang begitu excited
"Tentu saja,dia juga sahabat mama yang selama ini mama cari.Lama sekali tak bertemu dengan mereka,ahhhhh dunia memang sempit ya,,,"
"Sha,,,kok wajah Ana mirip dengan mu ya"Tanya Cintya tiba-tiba saat memperhatikan wajah Sahabatnya ditelevisi.
"Mirip dari mana nya ma,,"Tisha ikut memperhatikan dengan seksama wanita bergaun Hitam yang tampak elegan dilayar televisi itu.deg,,,apa yang dikatakan mamanya Tisha juga mengakuinya.
"Mama baru sadar,Setiap lihat kamu jadi teringat seseorang".
"Kebetulan mirip aja kali ma,,bukankah mama bilang Tisha sudah yatim piatu".Ardan mengingatkan mamanya tentang ucapan nya beberapa Minggu lalu saat Ardan menanyakan Perihal keberadaan orang tua Tisha.
"Ya kamu benar,kemungkinan hanya mirip saja"Berbeda dengan pemikiran Tisha,walau saat itu ia masih kecil Tisha sedikit mengingat orang tua nya yang membuangnya.
Namun pesan sebelum Bu Ningsih meninggal masih di pegang sampai sekarang.
"Tisha apapun yang terjadi jangan pernah mencari keberadaan orang tuamu,kalau ada yang bertanya tentang identitasmu jangan pernah menggunakan nama Icha lagi,nyawa mu sedang terancam,itu mungkin alasan orang tua mu memutuskan meninggalkanmu dipanti ini"Tisha masih ingat akan kejadian kebakaran dan menewaskan Ibu Ningsih dan Nindi selalu menyalahkan dirinya.
"Apa mungkin mereka orang tua kandungku,perasaan apa ini"Bathin Tisha merasa sakit saat mengingat kembali orang tua nya meninggalkannya waktu itu, dimana tisha masih sangat membutuhkan kedua orang tuanya.