pengalaman pahit serta terburuk nya saat orang yang dicintai pergi untuk selama-lamanya bahkan membawa beserta buah hati mereka.
kecelakaan yang menimpa keluarganya menyebabkan seorang Stella menjadi janda muda yang cantik yang di incar banyak pria.
kehidupan nya berubah ketika tak sengaja bertemu dengan Aiden, pria kecil yang mengingatkan dirinya dengan mendiang putranya.
siapa sangka Aiden adalah anak dari seorang miliarder ternama bernama Sandyaga Van Houten. seorang duda yang memiliki wajah bak dewa yunani, digandrungi banyak wanita.
>>ini karya pertama ku, ada juga di wattpad dengan akun yang sama "saskavirby"
Selamat membaca, jangan lupa vote and coment ✌️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saskavirby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
eps 32
Selang beberapa hari Stella kembali dikejutkan dengan kehadiran Dewi beserta Jihan, adik dari mendiang suaminya -Hari-.
Stella sudah yakin itu berhubungan dengan uang lagi, tapi, bukankah dia sudah menyerahkan sertifikat rumahnya, lalu untuk apa lagi mereka datang?
Setelah berbasa-basi, Dewi langsung memulai tujuannya.
"Stella, Ibu sudah memikirkan ini matang-matang, dan Ibu sudah berdiskusi dengan Ayahmu."
Kalimat yang Dewi ucapkan sedikit membuat perasaan Stella khawatir.
Dewi menarik nafas pelan. "Ibu akan menjual rumah ini."
Stella tercengang, matanya melotot sempurna menatap dua orang di depannya. "Maksud Ibu?"
"Rumah ini atas nama Hari 'kan? Dan Ibu sebagai orangtuanya membutuhkan biaya untuk pengobatan Ayahnya, jadi, Ibu berniat menjual rumah ini," terang Dewi tanpa beban.
"Ini rumah Stella juga, Bu, Ibu tidak berhak menjual rumah ini, Stella tidak akan menjual rumah ini," tolak Stella memprotes.
"Kalau begitu berikan uang seratus juta, Ibu tidak akan menjual rumah ini," Dewi menantang.
Stella melotot terkejut. "Apa?! Seratus juta, Bu?" ulangnya. "Stella tidak punya uang sebanyak itu, lagipula untuk apa uang sebanyak itu, Bu, bukankah dulu sudah Stella berikan uang, dan juga Ibu sudah membawa sertifikat rumah ini sebagai jaminan bank," tambahnya.
"Ibu berubah pikiran, lebih baik Ibu jual rumah ini, toh, ini pembelian anak Ibu juga, dan kamu sekarang sudah bukan menjadi istrinya Hari," terang Dewi dengan santainya.
Stella mengepalkan tangannya, menarik nafas dalam untuk menahan luapan emosi. "Tapi Stella ikut andil membeli rumah ini, Bu, kami berdua bekerja keras untuk membeli rumah ini," bantahnya.
"Ya sudah, berikan seratus juta."
Stella memejamkan mata, mengusap wajahnya lelah. "Stella tidak punya uang sebanyak itu, Bu," ucapnya melembut.
"Mbak minta saja sama pacar Mbak yang kaya raya itu," Jihan yang sedari tadi diam mulai membuka suara.
"Apa maksud kamu, Jihan?" cetus Stella menatap tidak suka pada adik iparnya itu.
"Kami tahu Mbak Stella pacaran sama pengusaha kaya raya bernama Sandy, uang seratus juta nggak akan ada artinya bagi dia," balas Jihan sinis seraya melipat kedua tangan.
"Benar apa kata Jihan, kamu minta saja sama pacarmu itu, jadi Ibu tidak perlu menjual rumah ini," Dewi ikut menambahi.
Stella menatap keduanya sambil menggeleng. "Aku tidak akan melakukan itu," tolaknya.
"Kalau begitu kamu setuju Ibu menjual rumah ini," tanggap Dewi kembali mengutarakan keinginannya.
Stella menahan agar tidak membentak kedua orang di depannya itu, dia menarik nafas dalam. "Lebih baik Ibu keluar dari rumah Stella," ucapnya kemudian.
"Mbak ngusir kami?" tanya Jihan tak percaya.
Stella berdiri. "Silahkan," ucapnya mempersilahkan keduanya keluar.
Jihan berdecak kesal.
"Ibu akan ke sini lagi lusa, dan kamu harus memberikan jawaban," ucap Dewi mengancam sebelum meninggalkan kediaman Stella.
Stella menutup pintunya keras setelah kedua wanita itu pergi. Dia menyender pada pintu, tubuhnya luruh di lantai, dia menangis menahan sesak yang ditahan sedari tadi. Apa yang harus dia lakukan, dia tidak ingin menjual rumah itu, rumah itu mempunyai banyak kenangan antara dirinya dan juga mendiang suami dan anaknya. Dia juga tidak mau membawa Sandy dalam masalahnya. Tapi darimana dia mendapatkan uang sebanyak itu?
...***...
Seperti yang dikatakan Dewi, dia benar-benar datang lagi ke rumah Stella, menuntut jawaban atas keinginannya.
Dengan keukeuh, Stella mempertahankan dan tidak ingin menjual rumahnya. "Bu, rumah ini banyak kenangan Stella dengan Mas Hari serta Rafa, Bu, Stella tidak akan menjual rumah ini," tolaknya. "Stella akan tinggal dimana, Bu?" ucapnya memohon.
"Kamu 'kan bisa minta belikan rumah sama calon suamimu yang kaya raya itu," jawab Dewi acuh tak acuh.
Stella terlihat sangat frustasi. "Stella mohon, Bu, jangan jual rumah ini, rumah ini satu-satunya peninggalan Mas Hari, Bu," runtuh sudah pertahanan Stella, airmatanya mengalir di kedua pipinya yang putih, seraya menggenggam tangan Dewi yang duduk di hadapannya.
"Ibu butuh uang, Ste, untuk pengobatan Ayahnya Hari, Ibu tidak punya apa-apa lagi," Dewi ikut terisak.
Keduanya menangis, Dewi yang frustasi terus dikejar penagih hutang karena tidak bisa membayar hutangnya, dan juga suaminya yang sedang membutuhkan biaya sangat besar untuk penyakitnya. Bahkan Dewi membawa suaminya pindah ke rumah sakit yang ada di Jakarta, karena di Bandung dirinya terus didatangi rentenir. Dan jihan yang harus putus kuliah karena tidak adanya biaya.
Sedangkan Stella yang menangis karena tidak ingin menjual rumah hasil kerja kerasnya bersama mantan suaminya dulu, banyak kenangan di dalamnya, ada kenangan bersama mendiang putranya juga.
Dewi menghapus air matanya. "Kamu masih punya orang tua, Ste, kamu bisa tinggal dengan mereka," usulnya kemudian.
Stella masih sesegukan, sesekali menghapus air matanya.
"Lagipula kamu masih punya butik dan mobil 'kan? Kamu bisa tinggal di butikmu," Dewi menambahi.
"Tapi, Bu, rumah ini —"
"Ah, sudahlah, keputusan Ibu sudah bulat, Ibu tetap akan menjual rumah ini," putus Dewi final dan tidak ingin dibantah.
Dewi beranjak dari duduknya. "Bersiap kemasi barang-barang kamu, Ste."
"Bu, Stella mohon," Stella hendak meraih tangan Dewi, namun Dewi menyingkir dan melenggang pergi.
Setelah kepergian Dewi, Stella terus saja menangis, mengambil pigura berisi foto dirinya bersama Hari dan Rafa, dia mengelus dan memeluk foto itu, airmatanya senantiasa mengucur deras di pipinya.
Tiba-tiba pintu rumahnya kembali di ketuk, dia segera mengusap kedua pipinya.
Tok! Tok! Tok!
"Mama?"
"Ste, kamu kenapa?" tanya Laras terkejut melihat penampilan Stella dengah wajah sembab.
Stella tersenyum. "Tidak apa-apa, Ma, mari masuk, Ma."
Laras memperhatikan wajah wanita yang duduk di sampingnya, mata sembab dengan sisa air mata di bulu mata lentiknya, juga hidung yang memerah, dia tahu kalau Stella habis menangis.
"Ada apa, Ma? Tumben Mama ke sini?" tanya Stella mengalihkan tatapan menyelidik dari lawan bicaranya.
"Kamu bisa cerita sama Mama," ucap Laras mengelus pundak Stella.
Stella menggeleng. "Stella cuma kangen sama Rafa, Ma," bohongnya.
Laras menatap Stella lekat, dia tahu Stella berbohong, tapi dia juga tidak ingin mengorek lebih dalam, mungkin Stella sedang ada masalah pribadi. Dia menghela nafas dalam. "Mama cuma mau ngundang kamu makan malam di rumah, Aiden yang meminta," ucapnya kemudian.
"Aiden dimana, Ma? Dia tidak ikut?"
"Dia lagi les, makanya Mama tinggal ke sini sebentar, kalau Mama bilang mau ke sini pasti dia ngotot ikut dan tidak jadi les," jawab Laras terkekeh.
Stella tersenyum dan mengangguk.
"Oh, iya, tadi kayaknya Mama lihat mantan mertua kamu di luar, dia habis dari sini?"
Stella tersentak, kemudian mengubah ekspresinya seperti sebelumnya. "Iya, Ma, Ibu tadi ke sini."
"Kalau boleh Mama tahu, ada apa dia ke sini, sepertinya dia sering kemari, ya?"
Stella tersenyum kecut. "Itu, Ma, Ibu minta diantar ke makamnya Mas Hari sama Rafa," bohongnya.
"Memangnya dia tidak tahu makam anaknya dimana?" selidik Laras curiga.
Stella gelagapan, dia menggigit lidahnya. "Tahu, Ma, tapi biar ada temen makanya ngajak Stella juga."
Laras mengangguk paham, sedangkan Stella menghembuskan nafas pelan.
'Hampir saja.'
...***...
Dewi yang sedang terburu-buru tidak menyadari di depannya ada sebuah mobil yang sedang melintas.
Tiinnnnnnn!!
Ciiittttttttt!!
Bunyi klakson yang sangat nyaring serta suara decitan ban yang bergesekan dengan aspal terdengar memekakkan telinga.
Dewi tersentak ke belakang, menyentuh dadanya yang seakan lepas dari tempatnya saat sadar dirinya akan tertabrak mobil.
Seorang perempuan sekitar umur empat puluh tahunan namun masih kelihatan muda keluar dari mobil.
"Anda tidak apa-apa?"
Dewi yang masih shock hanya mampu mematung dengan tubuh bergetar.
"Bu?"
"Ah, i-iya, saya tidak apa-apa," jawab Dewi tergagap.
"Dewi? Kau Dewi bukan?" tebak wanita itu.
Dewi menyernyit, kemudian mengangguk pelan.
"Aku Ayu, Wi, kau tidak mengingatku?"
Dewi nampak berfikir. " Bu Ayu Diana?" tebaknya.
Ayu mengangguk tersenyum.
"Astaga, kau berubah ya, Yu, sekarang, tambah cantik aja," puji Dewi menatap Ayu dari atas sampai bawah.
"Biasa saja, masih seperti yang dulu. Kau mau kemana?" tanya Ayu kemudian.
"Oh, aku mau ke restoran cari makan."
"Kebetulan aku juga mau makan, bareng aja, ayo?"
"Tidak usah, Yu, terimakasih," tolak Dewi.
"Tidak apa-apa, kalau ada teman 'kan lebih enak bisa sambil ngobrol," usul Dewi tersenyum.
"Tapi—"
"Sudah, ayo," paksa Ayu menarik tangan Dewi.
*
Ternyata wanita yang menolong Dewi bernama Ayu, teman kerjanya dulu, lebih tepatnya Ayu atasan Dewi, karena waktu itu jabatan Ayu lebih tinggi dibanding Dewi. Meskipun jabatan Ayu lebih tinggi, dia tidak mau dianggap sebagai bos, dia tetap mau berteman dengan siapa saja termasuk bawahannya.
"Ada perlu apa ke Jakarta, Wi?"
"Kebetulan ke Jakarta cuma mampir ke rumah mantan menantuku."
"Mantan menantu?" Ayu membeo.
Dewi mengangguk. "Iya, jadi, anakku sudah menikah tapi karena kecelakaan menyebabkan dia meninggal enam tahun yang lalu."
Ayu membulatkan mulutnya. "Lalu? Untuk apa kau menemui mantan menantumu?"
Dewi menyedot minumannya. "Aku butuh uang," akunya jujur.
Ayu menyernyit bingung.
"Rumah yang ditinggali menantuku itu rumah pembelian anakku, aku berniat menjualnya, mereka 'kan sudah bukan suami istri lagi. Lagipula dia juga akan menikah dengan duda kaya raya," jawab Dewi tak senang.
"Apa dia setuju kau menjualnya?" tanya Ayu penasaran.
Dewi menggeleng. "Dia tidak mau menjualnya, dia bilang banyak kenangan bersama mendiang anak dan cucuku. Tapi aku akan tetap menjualnya."
Ayu menyernyit. 'Apa dia sudah gila?' bathinnya bertanya-tanya. "Mungkin dia benar, tidak mau menjual karena terlalu banyak kenangan di dalam rumah itu," tanggapnya.
Dewi mengangguk. "Tapi aku butuh uang banyak, kalau rumah itu dijual 'kan bisa beli rumah lagi meskipun lebih kecil dari itu," bantahnya.
"Kau bilang dia akan menikah dengan duda kaya, kau tahu darimana? Bukannya kau baru pindah ke Jakarta?"
"Aku belum tahu pasti seperti apa calon suaminya itu, tapi anakku, Jihan, mendapat informasi dari temannya."
"Jihan?"
"Iya, dia anak keduaku, kalau aku bisa menjual rumah itu, Jihan juga bisa lanjut kuliah di sini."
Ayu mengangguk saja, sebenarnya dia bingung, sebagai mantan mertua kenapa Dewi masih mengurusi harta warisan mendiang anaknya? Bukankah seharusnya itu milik istri dan anaknya? Ah, dia juga tidak paham masalah harta gono gini.
"Apa anakmu tidak membuat surat wasiat sebelum meninggal?" tanya Ayu lagi.
"Untungnya tidak, atau belum sempat mungkin," jawab Dewi mengendikkan bahu. "Yang pasti rumah itu seratus persen atas nama putraku" sambungnya.
"Memangnya menantumu, em, mantan menantumu kerja apa sekarang?"
"Dia punya butik. Kalau aku menjual rumahnya, dia bisa tinggal di butik 'kan? Dia punya mobil juga, aku yakin mobil dan butik itu juga pemberian mendiang anakku," Dewi menjeda ucapannya untuk meneguk minumannya. "Jadi itu sudah termasuk warisan bukan? Dia juga tidak akan tinggal di rumah itu lagi saat sudah menikah dengan duda kaya raya itu," imbuhnya tersenyum sinis.
Dewi terlihat kesal, dia teringat percakapannya dengan Jihan waktu itu.
Flashback on
Dewi sedang duduk lesehan di bawah brangkar suaminya, selama di Jakarta, dirinya dan juga Jihan menginap di rumah sakit karena mereka belum menemukan tempat tinggal. Dia tidak mau menginap di rumah Stella, dia tidak mau merepotkan Stella, lagi.
Ceklek!
"Bu, Ibu harus lihat ini," Jihan datang dan menghampiri Dewi, memperlihatkan layar ponselnya pada Dewi.
Dewi memperhatikan video di dalam layar ponsel itu, terlihat Stella dan satu orang wanita serta anak kecil yang tengah duduk di restoran. "Apa maksudnya, Jihan? Ibu tidak mengerti."
"Ibu tahu anak ini?" Jihan menunjuk gambar anak kecil.
Dewi mengamati lebih dekat. "Sepertinya Ibu pernah lihat, tapi dimana, ya?"
"Ini anaknya Sandyaga, Bu, calon suaminya Mbak Stella," terang Jihan.
"Siapa Sandyaga?" tanya Dewi bingung.
Jihan berdecak. "Ibu tidak tahu? Dia itu pengusaha kaya raya, Bu, cabang perusahaanya dimana-mana, usahanya banyak, ganteng, tajir, ah, pokoknya sempurna, Bu, kekayaannya enggak akan habis sampe tujuh turunan," terang Jihan hiperbola.
Dewi melotot. "Kamu serius?"
Jihan mengangguk cepat. "Iya, Bu, enggak nyangka Mbak Stella bisa dapat duda kaya raya setelah ditinggal Mas Hari meninggal," komentarnya. "Aku juga enggak keberatan kalau dapat duda ganteng, kaya raya seperti Sandyaga, meskipun harus ngurus anaknya juga aku mau," Jihan senyum-senyum sendiri membayangkan.
Dewi menepuk lengan anaknya. "Ngawur aja kalau ngomong, Ibu nggak setuju kalau kamu nikah sama duda, punya anak lagi," protesnya.
Jihan mencibir. "Pasti Mbak Stella mau nikah sama Sandy karena dia kaya, Bu."
"Jangan sembarangan kamu kalau ngomong."
"Ih, bener lagi, Bu, Mbak Stella 'kan cantik, Bu, pasti dia menggoda pengusaha kaya raya itu biar mau menikahinya," sungut Jihan mengutarakan kesimpulan di otaknya. "Bayangkan, Bu, pengusaha kaya raya sekelas Sandyaga Van Houten mau menikah dengan Mbak Stella yang notabene keluarganya itu, tahu sendiri 'kan? Itu nggak mungkin, Bu," terangnya menggebu. "Lagipula, Sandyaga punya anak, Jihan dengar mantan tunangan Sandyaga yang dulu putus gara-gara orang ketiga," imbuhnya lagi. "Oh, jangan-jangan orang ketiganya itu mbak Stella, Bu?" tebak Jihan terkejut.
"Kamu itu kalau ngomong jangan sembarangan, Stella mana mungkin seperti itu, Jihan," bantah Dewi.
"Ih, Ibu belum tahu aja sih, orang bisa gila gara-gara uang, Bu, semua akan dilakukan demi mendapatkan uang," protes Jihan bersungut.
Dewi terus aja memikirkan ucapan Jihan, apa benar Stella seperti itu?
Flashback off
.
.
tbc
...Yang suka boleh vote and coment 😍...
...Terimakasih...
kok milih perempuan kasar bgt nganggep cocok to dia
aneh sich
tp bnyak kok orang yg ga paham dng pilihannya