Bismarck telah tenggelam. Pertempuran di Laut Atlantik berakhir dengan kehancuran. Kapal perang kebanggaan Kriegsmarine itu karam, membawa seluruh kru dan sang laksamana ke dasar lautan. Di tengah kegelapan, suara misterius menggema. "Bangunlah… Tebuslah dosamu yang telah merenggut ribuan nyawa. Ini adalah hukumanmu." Ketika kesadarannya kembali, sang laksamana terbangun di tempat asing. Pintu kamar terbuka, dan seorang gadis kecil berdiri terpaku. Barang yang dibawanya terjatuh, lalu ia berlari dan memeluknya erat. "Ana! Ibu kira kau tidak akan bangun lagi!" Saat melihat bayangan di cermin, napasnya tertahan. Yang ia lihat bukan lagi seorang pria gagah yang pernah memimpin armada, melainkan seorang gadis kecil. Saat itulah ia menyadari bahwa dirinya telah bereinkarnasi. Namun kali ini, bukan sebagai seorang laksamana, melainkan sebagai seorang anak kecil di dunia yang sepenuhnya asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akihisa Arishima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nordhafen
Di luar ruang kontrol utama kapal perang raksasa, Bismarck berdiri tegap memandangi cakrawala yang membentang luas. Angin laut berhembus kencang, menerbangkan rambut pirangnya yang panjang, namun ekspresinya tetap tenang dan penuh wibawa. Di dekatnya, Seraphina dan Katarina tengah mengamati peta navigasi, mencari jalur terbaik menuju tempat berlabuh berikutnya.
Seraphina melangkah mendekat, suaranya lembut namun menyiratkan rasa ingin tahu yang mendalam.
"Namamu Bismarck, bukan?" tanyanya membuka percakapan.
Bismarck menoleh perlahan, ekspresinya tetap tenang dan sopan. "Tentu saja, Nona. Apa ada yang bisa saya bantu?"
Seraphina menggeleng kecil, sudut bibirnya melengkung membentuk senyum tipis. "Tidak ada. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih karena telah menyelamatkan kami dari bencana itu," ucapnya tulus.
"Tidak perlu berterima kasih, Nona Seraphina. Saya senang bisa membantu," jawab Bismarck dengan nada lembut namun tegas.
Seraphina terdiam sejenak sebelum akhirnya bertanya lagi, kali ini nada suaranya penuh rasa penasaran. "Tapi aku masih ingin tahu... apa kapal raksasa ini milikmu?"
Bismarck tersenyum tipis, lalu menggeleng perlahan. "Tidak, Nona. Sebenarnya, kapal ini bukan milikku—kapal ini adalah aku," jawabnya, seolah itu adalah hal yang biasa.
Seraphina mengernyit bingung. "Apa maksudmu?" tanyanya, merasa jawaban itu terlalu sulit dipahami.
Bismarck menarik napas ringan sebelum menjelaskan lebih lanjut. "Yang berada di hadapan Nona ini adalah perwujudan manusianya, tetapi aku dan kapal ini adalah satu kesatuan. Aku bisa mengendalikan kapal ini sepenuhnya karena pada dasarnya, aku adalah kapal ini."
"Jadi... tubuhmu ini adalah wujud manusia dari kapal perang raksasa yang sedang kita naiki?" Seraphina mencoba memastikan.
"Benar sekali," jawab Bismarck sambil mengangguk pelan. "Karena kapal sebesar ini jelas tidak bisa berbicara atau bertindak sendiri, maka wujud ini diciptakan agar aku bisa berinteraksi seperti manusia biasa."
Seraphina menatap Bismarck dengan kagum sekaligus heran. "Itu... luar biasa," gumamnya pelan.
Sebelum percakapan mereka berlanjut lebih jauh, suara Hans terdengar dari dalam ruang kontrol, memecah keheningan.
"Nona! Kita akan menuju ke mana sekarang?" serunya dengan nada sedikit mendesak.
Seraphina menghela napas ringan, lalu menoleh ke arah sumber suara. "Aku datang!" balasnya, sebelum kembali melirik Bismarck dengan tatapan penuh rasa ingin tahu yang belum sepenuhnya terjawab.
Seraphina menoleh ke arah suara itu. "Aku datang," balasnya, kemudian kembali melirik Bismarck sebentar sebelum melangkah masuk.
Di dalam ruang kontrol, mereka mulai memeriksa posisi mereka di peta dan mempertimbangkan jalur terbaik untuk berlabuh. Setelah beberapa saat berdiskusi, mereka sepakat untuk menuju desa Nordhafen—sebuah desa di wilayah Drachenburg, tanah yang dikuasai oleh suami Seraphina, Heinrich.
"Kita hampir sampai di desa Nordhafen," ucap Seraphina, menunjuk arah di peta melalui kaca jendela besar di ruang kontrol. "Desa ini memiliki pelabuhan yang cukup besar dan laut yang cukup dalam. Kapal sebesar ini seharusnya bisa bersandar dengan aman. Selain itu, desa ini juga menjadi sumber utama ikan bagi wilayah Drachenburg, jadi tempat ini cukup strategis."
Bismarck mengangguk pelan. "Baiklah. Kita akan menuju ke sana," ucapnya mantap, matanya tetap menatap lurus ke depan, memastikan perjalanan mereka berjalan lancar.
Seraphina memandang ke arah laut yang membentang luas. Hatinya masih berat setelah semua yang terjadi di Fischerdorf. Ia menarik napas dalam, mencoba menenangkan pikirannya yang kalut.
"Hans, kau sudah mengirim pesan ke Kalmar, kan? Kalau dugaan kita benar, Heinrich mungkin ada di sana," ucapnya pelan.
"Ya, aku sudah memastikan pesannya terkirim," jawab Hans dari belakang, suaranya mantap meski ada kekhawatiran di matanya.
Bismarck yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara. "Aku akan memastikan kita tiba dengan selamat. Meski perjalanan ini belum selesai, aku tidak akan membiarkan bahaya mengancam kalian." Tatapan tajamnya menegaskan tekadnya.
Beberapa jam kemudian, mereka akhirnya tiba di perairan Nordhafen. Desa ini, meski masih berada di bawah wilayah Drachenburg, jauh lebih sibuk dibandingkan Fischerdorf. Dermaga dipenuhi kapal dagang dan nelayan yang berlalu-lalang, namun keheningan melanda saat bayangan kapal perang raksasa Bismarck perlahan mendekat.
"Apa-apaan itu?" seru seorang nelayan, suaranya gemetar saat melihat kapal yang belum pernah mereka saksikan sebelumnya.
"Kapal sebesar itu... dari mana asalnya?" bisik seorang warga lainnya, ketakutan mulai menyebar di antara penduduk desa.
Melihat kemunculan kapal asing yang begitu besar, penjaga desa segera dikerahkan. Beberapa kapal kecil mulai bergerak untuk mencegat, meski jelas terlihat dari wajah para kesatria bahwa mereka merasa gentar.
"T-Tuan Kapten... Apa kita benar-benar harus mendekati kapal itu?" tanya seorang prajurit muda dengan suara bergetar.
Kapten penjaga, seorang pria bertubuh tegap dengan janggut lebat, berusaha tetap tegar meski matanya menyiratkan kehati-hatian. "Kita tidak punya pilihan. Kita harus memastikan niat mereka. Bersiaplah!" perintahnya tegas.
Namun, sebelum mereka benar-benar mendekat, sebuah skoci mulai turun dari kapal perang. Kapal kecil itu membawa sepuluh orang yang selamat dari pertempuran di Fischerdorf. Di antara mereka adalah Anastasia, Seraphina, Hans, Katarina, dan beberapa kesatria lainnya.
Saat skoci mencapai dermaga, Kapten penjaga melangkah maju dengan hati-hati. Matanya tajam memeriksa setiap orang di skoci. "Siapa kalian, dan apa tujuan kalian di Nordhafen?" tanyanya tegas.
Seraphina melangkah turun lebih dulu, tatapan matanya yang dingin namun penuh wibawa membuat beberapa prajurit menahan napas. "Kami bukan musuh," ucapnya dengan suara jernih dan tenang.
Kapten penjaga itu tertegun sejenak sebelum matanya membelalak. "Astaga! Bukankah Anda Nona Seraphina? Mengapa Anda berada di kapal sebesar itu? Bukankah Anda seharusnya berada di desa Fischerdorf?"
Seraphina menghela napas panjang sebelum menjawab, suaranya sedikit lebih pelan. "Tidak, Tuan Kapten... Desa Fischerdorf sudah hancur. Itu karena ada serangan goblin dalam jumlah besar."
"Serangan goblin?" Kapten penjaga tampak terkejut. "Berapa banyak jumlah mereka?"
"Awalnya sekitar lima puluh, tetapi mereka berkembang biak dengan cepat dan jumlahnya terus bertambah. Mereka menyerang desa kami tanpa ampun," jelas Seraphina, suaranya tegas meski ada luka emosional yang tersirat di matanya.
"Astaga..." Kapten penjaga menundukkan kepala, seakan membayangkan kehancuran yang diceritakan Seraphina. "Kalau begitu... desa itu sudah benar-benar hancur? Dan bagaimana jika goblin-goblin itu menyerang lagi?"
Seraphina menggeleng pelan. "Goblin tidak akan menyerang lagi. Kami sudah mengalahkan hampir semuanya. Yang tersisa tidak cukup kuat untuk menjadi ancaman besar."
Kapten penjaga menghela napas berat, seolah beban besar baru saja dilepaskan dari pundaknya. "Syukurlah... Terima kasih atas keberanian kalian. Jika bukan karena kalian, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi." Ia menatap mereka dengan penuh rasa hormat.
Ia kemudian melirik wajah-wajah lelah di depan mereka. "Aku mohon maaf jika banyak bertanya, tapi bagaimana kalau Anda sekalian beristirahat dulu? Walaupun aku hanya mendengar kisahnya, aku yakin pertempuran itu sangat menguras tenaga kalian."
Seraphina tersenyum tipis. "Terima kasih, Tuan Kapten. Kami hargai tawaran Anda." Ia melirik Anastasia yang tampak kelelahan, dan Bismarck yang berdiri di belakang mereka dengan sikap dingin dan waspada.
Kapten penjaga menatap kelompok itu dengan penuh rasa ingin tahu. Matanya kembali melirik kapal perang raksasa yang bersandar di kejauhan. "Apakah masih ada orang lain di kapal sebesar itu?" tanyanya curiga.
"Ah, tidak ada," jawab Seraphina sambil menggeleng pelan. "Hanya kami bersepuluh yang selamat dari pertempuran di Fischerdorf."
Kapten itu mengernyit, jelas tak sepenuhnya percaya. "Tunggu..." katanya ragu. "Kapal sebesar itu... Bagaimana kalian mengendalikannya hanya dengan sepuluh orang? Bukankah kapal sebesar itu memerlukan ratusan awak untuk berlayar?"
Bismarck, yang sejak tadi diam, melangkah maju. "Aku bisa mengendalikannya sendiri tuan," ucapnya tenang, nada suaranya sopan namun tegas.
Sebelum sang kapten sempat merespons, kapal perang raksasa itu mulai bergerak perlahan. Dengan gerakan yang anggun namun mengintimidasi, kapal itu meluncur di permukaan air dan merapat di dermaga dengan perarian yang terlihat cukup dalam. Para penjaga dan nelayan yang menyaksikan pemandangan itu ternganga kaget.
"A-Astaga! Kapal itu bergerak sendiri? Apa kau menggunakan sihir?" seru kapten penjaga, matanya membelalak tak percaya.
Bismarck tersenyum tipis, memberikan jawaban yang setengah jujur. "Ya, tentu saja."
"Luar biasa... Walaupun kau terlihat muda, sihirmu sungguh hebat," gumam kapten itu kagum.
Seraphina tertawa kecil. "Dia memang istimewa." Tatapannya beralih pada Anastasia yang tampak sedikit terhuyung. "Anastasia, kau baik-baik saja?"
"Aku... Aku baik," jawab Anastasia pelan, meskipun raut wajahnya mengatakan sebaliknya. Efek samping dari skill terakhir yang ia gunakan masih terasa menyakitkan di seluruh tubuhnya.
Kapten penjaga, yang mulai menyadari kondisi mereka, melunak. "Kalau begitu, ikutlah denganku. Desa ini mungkin tidak sebesar Drachenburg, tapi kami memiliki penginapan yang cukup layak untuk beristirahat."
Dengan isyarat tangannya, para penjaga yang lain mulai beringsut mundur, memberi ruang bagi kelompok Bismarck untuk bergerak masuk ke desa.
Saat mereka berjalan melewati dermaga, bisikan dan tatapan penasaran dari penduduk desa menyertai langkah mereka.
"Siapa mereka?"
"Apa kapal raksasa itu milik mereka?"
"Gadis berambut pirang itu... Dia terlihat sangat berwibawa..."
Bismarck mengabaikan tatapan tersebut, pikirannya tetap fokus pada tujuan mereka. Namun, Seraphina tersenyum kecil mendengar gumaman-gumaman itu. Ia terbiasa menjadi pusat perhatian, tapi kali ini, suasananya berbeda. Mereka bukan hanya menjadi tamu—mereka adalah penyintas dari bencana yang baru saja mereka lalui.
Setibanya di pusat desa, kapten penjaga berhenti di depan sebuah bangunan kayu besar dengan papan bertuliskan "Penginapan Lautan Tenang". "Kalian bisa beristirahat di sini," katanya ramah. "Jika kalian butuh sesuatu, beri tahu saja. Kami akan memastikan kebutuhan kalian terpenuhi."
Seraphina mengangguk sopan. "Terima kasih atas kebaikan Anda, Tuan Kapten. Kami benar-benar menghargainya."
Saat mereka melangkah masuk ke dalam penginapan, suasana hangat langsung menyambut. Aroma kayu yang terbakar di perapian bercampur dengan wangi sup hangat, menciptakan rasa nyaman yang begitu menenangkan setelah perjalanan panjang di lautan. Lampu-lampu minyak menggantung di dinding kayu, menerangi ruangan dengan cahaya temaram yang terasa damai.
"Akhirnya... sedikit kedamaian," bisik Hans lega, membiarkan tubuhnya yang lelah bersandar di kursi kayu dekat perapian.
Bismarck duduk di sudut ruangan, tetap menjaga sikap tenangnya. Matanya yang tajam mengamati sekeliling, memastikan tidak ada ancaman yang mengintai.
Namun, rasa penasaran yang menggelitik pikiran Hans tak kunjung hilang. Ia melirik Bismarck, mencoba menyusun pertanyaan yang sejak tadi mengganggunya. Akhirnya, ia tak bisa menahan diri.
"Kau benar-benar bisa mengendalikan kapal sebesar itu menggunakan sihir sendirian?" tanyanya pelan, suaranya sarat dengan ketidakpercayaan.
Bismarck menoleh sekilas, ekspresinya tetap datar, namun ada senyum samar yang menghiasi wajahnya. "Kapal itu… aku sebenarnya tidak mengendalikannya dengan sinir, karena kapal Itu adalah diriku sendiri," jawabnya tenang.
Jawaban singkat itu membuat suasana hening sejenak. Seraphina yang mendengar penjelasan tersebut kembali teringat percakapan mereka di atas dek. Meski Bismarck berbicara dengan sederhana, jelas ada sesuatu yang jauh lebih besar di balik keberadaannya.
Katarina menatapnya dengan dahi berkerut. "Jadi... kau dan kapal itu benar-benar satu kesatuan?" tanyanya, mencoba memastikan.
Bismarck mengangguk pelan. "Ya. Aku merasakan setiap gelombang di lambung kapal, setiap pergerakan di dalamnya. Begitu pula sebaliknya, kapal ini bergerak sesuai keinginanku."
Seraphina menghela napas panjang, berusaha mencerna kata-kata itu. "Kalau begitu, kau jauh lebih luar biasa dari yang kubayangkan."
Namun, tidak ada yang bertanya lebih lanjut. Mereka tahu, di balik sikap tenangnya, Bismarck menyimpan banyak rahasia yang belum terungkap—dan malam ini bukan waktu yang tepat untuk menggali lebih dalam.