“Aku sudah membelimu, jadi menurutlah. Patuhi semua keinginanku! Kau hanya budak di sini, tidak ada pilihan lain selain menuruti semua yang kukatakan!” Zico Archiven berkata pada seorang gadis cantik yang baru dibelinya dari tempat pelelangan.
Zico Archiven adalah seorang Tuan Muda generasi penerus dari keluarga Archiven di Italia. Dia adalah pebisnis sukses yang mempunyai beberapa usaha yang tersebar di seluruh dunia. Tak hanya jadi pebisnis sukses, dia juga menjabat sebagai ketua Mafia warisan dari sang Ayah yang sudah meninggalkannya lima tahun yang lalu.
Zico mempunyai kelainan aneh, dia tidak suka melihat wanita yang terlahir dari keluarga kaya raya. untuk itu dia mencari seorang budak untuk dijadikannya sebagai tempat pelampiasan hasr4tnya.
Bagaimana kelanjutan kisah Zico? Saat melihat gadis budaknya, Zico merasakan sesuatu yang beda. Dia seperti pernah melihat gadis tersebut. Siapakah gadis itu? Rahasia apa dibalik rasa penasarannya itu? Baca selengkapnya di sini, ya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neoreul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 32 Misi Berhasil
Fedric sudah sampai di tempat Zico berada. Dia membantu mengeksekusinya para musuh yang tersisa. Sebagian besarnya masih hidup. Hanya beberapa saja yang meninggal di tempat.
"Tuan, misi telah selesai. Saya sudah mengamankan para tawanan. Saya juga sudah menghancurkan beberapa ruangan tempat mereka. Juga, saya tidak menemukan jejak Nona Aurora. Mungkin dia tidak ada di sini," ucap Fedric melaporkan semuanya.
Zico mengusap tangannya yang berlumuran darah. "Kita segera selesaikan tempat ini. Apa kau mempunyai petunjuk lain saat berada dalam ruangan yang telah kau hancurkan?"
"Ya, Tuan. Saya sudah mendapatkan salinan pekerjaan di tempat ini. File tersebut bisa menunjukkan siapa saja yang berkontribusi dalam bisnis ini. Sebaiknya kita bergegas, Tuan. Saya khawatir mereka menghubungi pasukan bantuan." Fedric terus melakukan yang terbaik.
Zico mengintruksikan membawa musuh yang masih hidup untuk diinterogasi. Para tawanan sendiri sudah berada di tempat aman. Markas tersebut juga sudah dijelajahi sehingga tidak ada lagi yang tersisa.
Kabar penggrebekan itu telah diketahui oleh Nicco. Tentu saja dia merasa terkejut karena tidak ada di tempat. Bahkan rahasia perusahaan telah bocor pada orang lain.
"Apa yang kalian lakukan? Mengapa bisa lengah? Bukankah penjagaan ketat di sana? Lalu, apa ini? Mengapa bisa mereka menghancurkan usaha kita dalam hitungan jam saja?" Nicco memarahi asistennya yang melapor.
"Kita harus segera pergi dari sini. Aku yakin, dalam beberapa jam mereka akan mengetahui markas kita. Aku akan menghubungi Tuan Maxime. Pasti dia akan marah besar kali ini!" kata Nicco panik.
Nicco dan asistennya segera melakukan penyelamatan. Mereka akan segera kabur ke tempat Maxime yang ada di luar Kamboja.
Saat kekacauan itu terjadi, Aurora sedang merakit senjata di dalam kamarnya. Gadis itu sedang menyiapkan sesuatu untuk melindungi dirinya sendiri.
Senjata rakitan berupa pisau tipis yang dimodifikasi. Dia mendapatkannya dari gudang penyimpanan. Tangan itu dengan terampil merangkai dan mengikat dengan kuat.
Setelah selesai, terdengar pintu kamarnya diketuk dari luar. Aurora beranjak dari tempatnya dan segera membukanya.
"Ada apa, Tuan?" tanya Aurora berakting seperti bangun tidur.
"Kita segera pergi dari sini! Markas ini sudah ketahuan, dan sebentar lagi akan ada banyak orang yang datang ke sini," jawab Nicco panik.
Aurora menjawab dengan tenang, "Kita mau pergi ke mana, Tuan?"
"Kita akan pergi dari negara ini. Tuan Maxime meminta kita untuk bersembunyi di sana. Cepat jangan buang waktu lagi!" perintah Nicco.
Aurora segera bergegas. Dia bisa saja memberontak, tapi gadis itu sedang penasaran dengan asal usulnya.
"Aku harus ikut ke tempat orang itu. Aku harus tahu siapa keluargaku sebenarnya," batin Aurora, dia mengambil jaket dan juga topinya.
Saat keluar dari pintu, Aurora menghentikan langkahnya. Dia teringat pada Zico. "Apa ini target operasinya Zico? Jika aku tidak ikut pergi, takutnya bajingan itu akan mencurigaiku. Mungkin aku bisa menjadi mata-mata untuknya. Maaf, Tuan. Aku harus ikut pergi saudara kembarmu."
Aurora melanjutkan lagi langkahnya. Nicco mengajaknya naik ke atap karena sudah ada helikopter yang menunggu di sana. Mereka kabur ke bandara menggunakan jalur udara agar tidak ketahuan.
Nicco membawa banyak sekali dokumen penting. Dia tidak ingin meninggalkan jejak apa pun. Sementara itu, Aurora masih diam dengan banyak asumsi.
Helikopter bersiap untuk lepas landas. Aurora melihat ke luar jendela. Dia terus memikirkan tentang Zico yang sedang mencari keberadaannya.
"Maaf, Tuan. Saya harus pergi! Jika ada petunjuk, saya akan beritahukan pada Anda." Aurora membatin dalam hati. Dia akan pergi menjauh.
****
Beberapa jam berlalu, Zico dan anggotanya sudah berada di kantor rahasia yang ditinggalkan oleh Nicco. Mereka mencari petunjuk, tetapi tidak menemukan apa pun.
"Sial, mereka sudah kabur. Jadi dia meninggalkan semua yang ada di hutan itu. Aku yakin, Aurora berada di sini. Tapi, mengapa dia memilih ikut dengan Nicco? Apa dia tidak bisa melawan bajingan itu?" Zico bergumam dalam hati.
"Fedric lacak jejak mereka! Aku ingin petunjuk secepatnya!" Zico merasa frustasi karena kehilangan Aurora lagi.
"Baik, Tuan. Saya hanya menemukan ini di dalam kamar yang ada di ujung sana!" Fedric menyerahkan besi kecil dan beberapa serpihan sisa pembuatan benda tajam.
"Apa ini?" tanya Zico tidak mengerti.
"Itu adalah sisa serpihan besi yang digunakan untuk membuat senjata darurat Tuan. Mungkin Nona Aurora sempat membuat senjata itu sebelum pergi dari sini," jawab Fedric.
Zico berpikir sejenak, dia mencerna apa yang sedang dihadapinya. "Menurutmu, apa Aurora mengkhianatiku? Aku rasa dia sudah tahu jika aku akan ke tempat ini. Tetapi, mengapa dia justru pergi mengikuti Nicco?"
"Tuan, sebelumnya saya minta maaf. Saya akan memberikan penjelasan tentang apa yang saya lihat," balas Fedric. "Kita dapat menghancurkan markas yang ada di hutan itu berkat petunjuk dari Nona Aurora. Alasannya mengikuti mungkin ingin mencari petunjuk lain, Tuan."
"Itu sangat berbahaya, mengapa dia mengambil resiko itu sendiri? Dia bisa menunggu kita dan melakukan itu bersama! Aku sungguh tidak menyangka jika dia mempunyai keputusan sendiri," ucap Zico terlihat kecewa.
Fedric tidak bisa menjawab, dia mengerti dengan apa yang dirasakan oleh majikannya. Zico mendesah pelan, dia menarik napas dalam dan mengembuskan secara kasar.
"Ayo kita pergi dari sini! Kau laporkan semuanya tugas yang kuberikan tadi." Zico menepuk pundak asistennya. Setelah itu dia pergi dari sana.
Zico berjalan dengan penuh rasa kecewa. Dia masuk ke dalam mobil tanpa memerhatikan sekelilingnya. Saat tiba di persimpangan jalan, pria itu bertemu dengan seseorang yang sedang berdiri menghadang di tengah jalan.
Fedric menghentikan mobilnya. Dia keluar dan menemui orang tersebut. "Siapa kau? Apa yang kau lakukan di sini? Beraninya kau menghadang jalanku."
"Saya hanya ingin menyampaikan pesan dari seseorang. Lihatlah dokumen penting ini!" ucap pria misterius itu.
Zico tidak langsung menerima, dia masih membaca gerak-gerik pria yang ada di depannya itu.
"Saya tidak bermaksud jahat, Tuan. Ini murni dokumen penting dari seseorang yang tidak bisa saya sebutkan namanya," jelas pria tersebut.
Merasa penasaran, Zico menerima map berwarna coklat itu. Dia menurunkan rasa curiganya. Pria itu langsung pergi setelah menyerahkan tugasnya.
Zico masuk ke dalam lagi. Fedric menjalankan mobilnya. "Apa isinya, Tuan? Apa Anda tidak merasa curiga?" tanya Fedric ikut penasaran.
"Entahlah, aku juga ingin tahu isinya." Zico membuka map tersebut. Dia membaca lampiran dokumen yang dipegangnya. "Apa-apaan ini? Bagaimana bisa kasus sepenting ini dibocorkan begitu saja?"
Zico membolak-balikkan dokumen tersebut. Lalu, dia menemukan sebuah silsilah. "Aurora adalah putri dari James Arthur Voldeblik. Nama aslinya adalah Avenna."
"Bukankah itu pembunuhan masal oleh satu keluarga, Tuan? Bahkan kasusnya sudah menghilang karena belum terpecahkan. Apa maksud orang itu mengirimkan data sepenting ini pada, Anda? Apa mungkin orang itu tahu jika Anda berhubungan dengan Nona Aurora?" Fedric terus berspekulasi.
"Bisa jadi, mungkin orang ini bermaksud untuk meminta bantuan untuk penyelidikan. Mungkin, Aurora pergi untuk menyelidiki statusnya. Fedric, segera menuju markas. Kita harus mencari petunjuk atas data ini!"
"Baik, Tuan."