Di negara barat, menyewa rahim sudah menjadi hal lumrah dan sering didapatkan.
Yuliana adalah sosok ibu tunggal satu anak. Demi pengobatan sang anak, ia mendaftarkan diri sebagai ibu yang menyewa rahimnya, hingga ia dipilih oleh satu pasangan.
Dengan bantuan alat medis canggih, tanpa hubungan badan ia berhasil hamil.
Bagaimana, Yuliana menjalani kehamilan tersebut? Akankah pihak pasangan itu menyenangkan hatinya agar anak tumbuh baik, atau justru ia tertekan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kinamira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sapaan Pagi
Yuliana yang malas berdebat dan cari masalah dengan Clara, membuatnya lebih banyak menghabiskan waktu di kamar. Sekali ingin makan pun, ia akan memisahkan diri.
Namun, sayangnya, wanita itu mulai ketergantungan dengan kehadiran Sean di sisinya. Hormon hamilnya meningkat, membuatnya mual muntah, jika sehari saja ia tidak bertemu.
Yuliana kesal dalam posisi itu, namun ia tidak bisa menahan apalagi melawannya.
Beruntung Sean pun tampaknya sama. Nyaris setiap malam, pria itu akan datang padanya.
Yuliana merapatkan tubuhnya pada Sean, tangannya mengusap lembut wajah lelap Sean yang tengah tertidur lelap.
Suara dengkurannya menandakan pria itu begitu lelap dalam tidurnya.
"Apa aku bisa lepas dari kenyamanan ini?" batinnya memandang lembut pria itu.
"Apa posisiku akan terus seperti ini, dan akan hilang begitu saja setelah melahirkan?" Yuliana terus bertanya-tanya akan hal itu.
Mencintai pria beristri memang salah. Namun, Yuliana tidak mampu menghindari itu, setelah apa yang terus terjadi.
"Sebenarnya bagaimana orang-orang di luar sana, terus berhubungan tanpa ada rasa?" gumamnya mengusap rahang yang kokoh dan tegas itu.
Yuliana menghela nafas kasar, ia mendekatkan wajahnya, merapatkan antara pipinya dan kening Sean. "Pantas saja banyak yang mau jadi selingkuhan. Ternyata memang seenak itu. Apalagi sama suami orang," batinnya mulai paham jika ia sulit lepas dari rasa itu.
"Tapi ..., statusku kan bukan selingkuhan? Hah, sepertinya aku lebih rendahan dari wanita selingkuhan di luar sana," gumamnya memeluk erat kepala Sean.
"Aku tidak bisa terus-terusan begini, aku harus bisa berhenti dan lepas dari Sean. Sampai kapanpun posisiku tidak akan berubah," batinnya sembari mengusap rambut Sean.
Ia lalu mencium puncak kepala Sean dan menghirup aromanya dengan rakus, karena sadar esok pagi Sean akan kembali ke kamarnya.
"Malaikat kecil, kita hirup aroma Daddy kamu sekarang yang banyak, dan besok pagi jangan rewel ya," batinnya berharap setelah melakukan itu, besok pagi tubuhnya akan baik-baik saja.
***
Bangun pagi sudah biasa bagi Yuliana. Wanita itu kini sudah berkutat di dapur, menyiapkan sarapan, dengan membuat sup hangat untuk mengisi perutnya.
Saat ia tengah memasak, seorang pelayan datang menghampiri dan menyahuti dengan sinisnya.
"Hey, tadi malam kamu dan Tuan Sean kembali berhubungan kan?"
Ucapan itu tentu membuat Yuliana sadar diri jika dirinya yang dimaksud. Wanita itu menoleh, menatap pelayan setengah paruh baya memandangnya dengan tajam.
"Apa kamu tidak tau diri, melakukan itu di rumah nyonya-mu sendiri?" ucapnya dengan sinis.
Yuliana mengerjapkan matanya beberapa saat. "Aku rasa kamu tau sendiri, siapa yang datang dan siapa yang didatangi. Kamu tau, bagaimana aku selalu mengunci pintu kamarku, dan bagaimana dia membukanya. Bukannya kamu menguntitku?" ucapnya dengan tenang.
Wanita itu mendengkus kesal mendengar tanggapan tenang Yuliana. "Wanita rendahan memang selalu punya cara menjawab!"
Yuliana mengedikkan bahu, enggan menanggapi, ia melanjutkan memasak sup yang hampir matang itu.
"Sebaiknya kamu berhenti dan jangan berhubungan lagi. Kalau perlu pergi dari sini, gugurkan anak itu. Karena sampai kapanpun, kamu tidak akan sanggup mengganti posisi nyonya Clara!" ucap pelayan itu dengan tegas memperingatinya.
Yuliana terdiam, kepalanya bergerak menatap tajam pelan itu. Dengan suara dingin dan tak suka ia berucap. "Jaga ucapanmu. Sekalipun Sean dan Clara tidak menginginkan anak ini. Maka aku menginginkannya dan akan merawatnya sebaik aku merawat anakku!"
Wanita berpakaian hitam putih selayaknya pelayan yang ada di sana melotot, ia berkacak pinggang menatap rendah dan tajam pada Yuliana.
"Kamu semakin lancang saja ya. Bahkan memanggil Tuan dan Nyonya dengan nama saja. Hebat sekali," ucapnya dengan ketus, diiringi dengan tawa sinis yang terkesan tidak suka.
"Dan kau juga tidak berhak merawat anak itu!" ucapnya dengan tegas membuat Yuliana semakin jengkel dan tidak terima atas pernyataan itu.
Yuliana menghela nafas kasar, mencoba bersabar, agar tidak sampai mengamuk atas hak yang dikatakan tidak ada itu.
"Di banding aku dan kamu, kau jauh tidak punya hak. Jadi, jangan berani mengaturku!" ucapnya dengan tegas diikuti sorot matanya yang tidak kalah tegasnya.
"Kau!" Wanita itu melotot padanya, bibirnya bergetar tidak tau harus berucap apa diantara rasa kesalnya.
"Jangan menggangguku, jangan mengatakan hal seperti itu lagi, atau aku akan melaporkanmu pada Nyonya Jessy!" sahut Yuliana kembali membuat wanita itu semakin bungkam.
"Dasar kau!" Wanita itu mendengkus dan memilih pergi dengan menahan sebuah amarah di hatinya. Sedangkan Yuliana memilih melanjutkan memasak meski hatinya pun mulai panas.
"Dasar menyebalkan! Jelas-jelas bukan aku yang salah. Kenapa aku yang disalahkan?" batinnya menggerutu.
Yuliana mengambil dan membuang nafas kasar, untuk mengurai rasa emosinya. "Pokoknya aku harus melakukan sesuatu. Ini harus dihentikan! Aku tidak mau semakin terlena dalam bayangan Sean!" batinnya dengan penuh tekad.
Namun, dalam sekejap pula, tekadnya dihancurkan oleh dirinya sendiri. "Tapi, bagaimana caranya? Kalau malaikat kecilku saja, selalu rewel, jika tidak ditemui Daddy-nya? Dan Sean juga selalu pengang kunci kamarku," batinnya kembali resah sendiri.
Bagaimana pun, dia wanita yang masih memikirkan harga dirinya. Rasa bersalah masih selalu muncul dalam dirinya.
Saat ia tengah berusaha berpikir apa yang harus dilakukan, tiba-tiba sebuah tangan melingkar di perutnya, lalu disusul dengan usapan lembut di perutnya.
"Selamat pagi."
Sapaan itu membuat Yuliana membalikkan tubuh, matanya membulat tajam melihat Sean yang berdiri, dan tersenyum manis padanya.
"Ka-kamu, kenapa, kenapa ada di sini?" tanyanya memandang tidak percaya.
"Aku mencium aroma masakanmu, cepat sajikan, aku sudah lapar," pinta Sean menatap sup yang mengundangnya ke sana.
"Hah?" Yuliana mengerjapkan mata cepat. ia masih tidak percaya akan adanya Sean di sana.
"Di mana Clara? Kenapa kamu di sini? Aku tidak mau ya diamuk dia," ucapnya melirik ke arah pintu masuk dapur.
"Dia masih di atas. Tenang saja," ucap Sean dengan santai. Tangannya terulur, menyepit lembut pipi Yuliana hingga bibirnya sedikit maju. Tanpa ragu Sean mengecupnya pelan.
Yuliana yang geram melayangkan satu pukulan cukup kuat di dada Sean. "Sudah ku bilang jangan mendekatiku lagi Sean. Istrimu sudah di rumah, aku tidak mau terus-terusan diamuk," pintanya dengan wajah melemas.
"Dan jangan bertingkah manis begini, nanti malah aku semakin menyukaimu," batinnya merasa hampir meleleh dengan perlakuan manis Sean pagi itu.
Semangat bikin kelanjutan ceritanya kak🔥💪
lanjut
Semangat kak Bikin ceritanya! 💪🏻🔥
kapan ya part sean tau clara berkhianat sama anak yg di kandung clara bukan anak sean, biar menyesal seumur hidup sean,