Felisberta Divya Deolinda gadis pemalas dan putri kesayangan keluarganya, Naumi sebagai seorang sahabat selalu membantu dia dalam pelajaran. Sampai suatu hari terjadi kecelakan dan membuat Feli koma, saat terbangun dia terkejut mendapatkan dirinya ada di dalam novel yang selalu dibacanya berjudul ‘Bos Mafia Muda’. Pemeran utama wanita di novel itu bernama Shanaya, dalam cerita Shanaya berakhir menyedihkan. Feli menjadi Shanaya dan menjadi istri dari Bos Mafia Muda itu yang bernama Shankara Pramudya Anggara. Di usia yang masih muda Shankara bisa menaklukkan semua Mafia yang ada di Negaranya, sosok laki-laki itu ditakuti semua orang tidak ada siapa pun yang berani menentang maupun melawannya karena itu Shankara Pramudya Anggara dikenal sebagai Bos dari semua Mafia yang ada di Negaranya atau di sebut Bos Mafia Muda. Alur ceritanya berubah seiring waktu setelah Feli menjalankan kehidupannya bersama Shankara.
@KaryaSB026
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibela26 Siyoon93, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31
Meski ada tikus yang menyelamatkan mereka, Hera tidak percaya begitu saja dia meminta anak buahnya menangkap orang yang bersembunyi.
Seseorang menarik Maya dan Feli sembari membungkam mulut mereka “Emmnn lepaskan kami,” suara tidak jelas mereka berdua memberontak.
“Suutts,” wajah orang itu terlihat.
“Shan ?”
“Ray bawa dia !” Raymond manggut.
“Kamu disini ?” Shankara membawa Feli dan maya ke tempat yang cukup jauh dari markas Hera.
“Ray bagaimana situasinya ?”
“Mereka tidak menyadarinya Bos,” melepaskan bungkaman Maya.
“Ahh terlalu menakutkan …”
Raymond menyimpan beberapa tikus disana untuk menipu Hera dan anak buahnya.
“Kamu berhutang penjelasan padaku !”
“Aku ?”
“Iya.”
“Bukannya terbalik ?” Shankara menatap balik Feli.
“Pokonya kamu yang berhutang penjelasan padaku.”
Menarik pinggang Feli lalu mengecup bibirnya “Pergi tanpa mengatakan apapun ? sungguh kejam.”
“Jangan bilang kalau dia calon istri kedua Bos ?” menyondong ke Maya.
“Dari awal sampai sekarang istrinya cuma dia.”
“Haha lucu .”
“Aku serius.”
“Dia Annya ?”
“Sekarang sudah ganti nama,” duduk di bagian depan mobil.
“Kamu ? mereka ada disini,” Feli tersipu malu menyembunyikan wajahnya.
“Hah walaupun aku tidak suka pada laki-laki itu,” menunjuk Shankara dan membuat Raymond tidak menyangka Maya memiliki keberanian itu.
“Kamu tau dia siapa ?”
“Hanya seorang laki-laki yang tergila-gila pada adikku,” membuang napas berat.
“Dia bener-bener ??”
“Ehh kenapa mengalihkan pembicaraan.”
“Sebenarnya apa yang terjadi.”
“Nanti aku jelaskan,” meraih tangan Feli.
“Tapi Bos ?”
Shankara menatap “Hah sebaiknya kita segera pergi sekarang.”
Mereka dengan cepat kembali ke penginapan “Syukurlah kalian baik-baik saja.”
“Guru …”
“Kalian bertindak gegabah tidak memberitahuku lebih dulu,” memukul Feli dan Maya.
“Soal itu tanyakan padanya,” menunjuk Feli.
“Tidak perlu, Shankara sudah memberitahuku.”
“Dia ?”
“Aku membawa penyadap suara.”
“Lalu dimana sekarang penyadap suaranya ?”
Raymond mencari di setiap sudut saku baju dan celanannya “Tidak ada.”
“Dasar ceroboh.”
“Feli apa lagi yang kamu ketahui ?” tanya Guru.
“Itu hanya kecurigaanku untuk membuktikannya aku harus pergi ke markasnya mencari tahu kebenarannya, selain itu ada hal lain yang ingin lakukan karena itu membawa Kak Maya bersamaku.”
“Apa itu ?”
“Kebenaran siapa sebenarnya Hera.”
“Seharusnya kamu memberitahu kami.”
“Khara ? Apa yang kamu rasakan sekarang ?”
“Tinggal pemulihan.”
“Ehhem.”
“Aku tidak akan mengambilnya darimu.”
“Siapa yang akan percaya itu.”
“Ohok …” batuk darah.
“Guru ?” Feli berlari mendekatinya.
“Apa yang terjadi ?” cepat bawakan air.
“Guru apa kamu tadi keluar ?”
“Hanya mencari udara segar ohok …”
“Dia bertindak terlalu jauh,” Feli memukul meja sampai retak.
“Sepertinya Hera sudah bosan hidup.”
“Bos biarkan aku yang menyelesaikannya.”
“Tidak berhenti disana ohok ohok …” cegah Guru.
“Sebaiknya anda berkata jujur.”
“Tidak sempat, tolong jaga muridku !”
Teg hati Feli merasakan sakit “Gu guru ….”
Semua orang terdiam dan merenung sejenak “Kak tolong berikan pemakaman terbaik untuk Guru,” suara sayu Feli.
Maya masih menangis tapi tetap harus melakukannya. Hati Mugo tergerak melihat Maya yang menangis tanpa suara dan dia pun membantunya.
Shankara terdiam bingung harus melakukan apa melihat situasinya.
“Khara bisa kamu selidiki apa yang terjadi dengan Guru !”
“Tentu saja,” mengajak semua anak buahnya keluar.
Di ruangan kini hanya tersisa Feli dan Shankara, Feli perlahan mendekati Shankara dengan menunduk lalu menjatuhkan dirinya yang tidak berdaya untuk memeluk Shankara.
“Baru kali ini aku melihat dia seperti ini,”membalas pelukan Feli.
“Menangislah jika itu meringankan semua kesedihan yang ada di hatimu,” mengelus lembut rambut Feli.
Feli menangis tersedu-sedu selama beberapa menit, dan Shankara hanya diam membiarkan Feli meluapkan semua amarah bercampur kesedihan di hatinya. Maya dan yang lainnya selesai membuat pemakaman untuk guru datang memberikan informasi tapi saat dia sampai di ruangan melihat Feli yang matanya sembab tertidur di samping Shankara.
“Biarkan dia disini, mari kita lakukan pemakamannya segera.”
“Tapi dia mungkin akan marah jika kita melakukan pemakaman guru tanpanya ?”
“Jika dia ikut serta belum tentu mampu untuk berdiri melihat orang yang sangat dia sayangi tiada di depan matanya.”
“Benar juga, baiklah kali ini aku percaya padamu.”
Selesai memakamkan guru mereka semua berkumpul di depan rumah sembari mencari kebenaran kematian Guru, Feli yang sudah bangun hanya mendengarkan dari jendela.
“Kamu medapatkan sesuatu ?”
“Dua hari yang lalu Guru sengaja menemui Hera.”
“APA !!”
“Kamu yakin ?”
“Bukti rekaman CCTV saat guru melewati jalan yang hanya tertuju ke markas Hera.”
“Untuk apa guru kesana ?”
“Masih belum di ketahui.”
“Hanya Hera yang punya jawabannya,” ketika Shankara mengatakan itu terdengar suara motor keluar.
Semua orang panic melihat Feli dengan kecepatan penuh pergi yang entah kemana “Cepat susul Feli kenapa malah bengong !” teriak Maya.
Tidak butuh waktu yang lama Feli pun tiba di markas Hera dengan keadaan emosi Feli menghajar semua orang yang menghalangi jalannya. Hera yang mendengar kabar itu bergegas menuju gerbang utama markas.
“Apa yang dia lakukan ?” melihat Feli memegang pedang berlumuran darah.
“Dunia ini memang kejam tidak bisa sedikit pun melihat orang baik tetap hidup,” ucapan Feli dengan gemetar karena amarahnya yang masih membara.
“Nampaknya kamu ingin mengantar kematianmu sendiri yah,” Hera mengambil senapan.
“Jika hari ini adalah hari kematianku, tidak masalah tapi kamu harus mati bersamaku.”
Hera menembak Feli tapi meleset, menembak kembali Feli “Hanya segitu kemampuanmu ?”
“Meremehkanku,” dor satu tembakan terkena tangan kanan Feli.
“Keberanianmu semakin besar saja,” Shankara tiba tepat waktu sebelum peluru menembus dada Feli.
“Feliiii …” semua orang datang bersamaan.
“Ooo ohh ternyata kalian semua ada disini yah ?”
“Merasa takut ?”
“Takut ? menurutku lebih cepat lebih baik, tiga hari lagi aku berencana menghabisi kalian tapi sepertinya kalian sudah tidak sabar,” meniup senapan miliknya.
“Hatinya terbuat dari apa sih ?”
“Dia tidak punya hati.”
“Pantas saja.”
“Dia itu bukan manusia makanya gak punya hati.”
“Tahan amarahmu,” Shankara melepaskan pedang dari tangan Feli.
“Tanganmu terluka. Kak Maya tolong bantu obati dia.”
“Shan kamu membelanya ?”
“Serahkan dia padaku.”
Maya membawa Feli menjauh dari Hera “Lukamu cukup dalam dan apa semua ini ?” luka goresan dari pisau.
“Bagus sekali kini Bos Mafia ada di depan mata, Shan mengalah kah dan jadi suamiku. Jika kamu menyerahkan statusmu aku akan memperlakukanmu dengan baik.”
“Jangan terlalu berharap.”
“Lagi pula dia akan segera mati,” menunjuk Feli.
“Akting yang bagus, strategi yang kamu gunakan patut dipuji.”
“Tentu saja, jika tidak seperti itu bagaimana bisa aku mencapai semua mimpiku ? dari kecil aku melihat kamu layaknya seorang pangeran tetapi setelah dewasa aku mulai berpikir menjadi penguasa lebih baik tentunya dengan memilikimu juga. Hah sulit menyembunyikan semua kemampuan yang aku miliki dari kamu dan keluargaku.”
“Kamu adalah dalang dari hancurnya keluarga Anggara ?”
“Shan ternyata sangat pintar seperti biasanya.”
“Memprovokasi mereka sangat mudah.”
“Mereka adalah keluargamu ? bagaimana bisa kamu melakukan itu ?” Raymond berkomentar.
“Mereka terlalu merendahkan wanita, mereka berkata wanita tidak bisa jadi pewaris ataupun memiliki kekuasaan hahahha …”
“Alurnya menyimpang sangat jauh,” batin Feli menahan rasa sakit.
“Jadi perlahan aku menghasut mereka menghancurkan semua orang yang menghina ku dengan begitu tidak perlu mengotori tanganku.”
“Ayahmu meninggal pasti ulahmu juga.”
“Tebakan yang benar, dia itu bodoh dan pengecut membiarkan Ibuku dianiaya oleh selingkuhannya. Dia pantas mati dia tidak layak hidup,” mengambil tombak di sampingnya.
“Fel Feli bangun …” Maya panik karena Feli tiba-tiba tidak sadar.
“Babe …”
“Ada apa dengannya ?”
Disaat semuanya fokus dengan keadaan Feli, Hera meminta Haselin melakukan tugas penting untuknya.
“Bukannya kamu juga ahli pengobatan ?” tanya Khara.
“Gawat pelurunya beracun,” mendengar itu detak jantung Shankara seakan berhenti.
“Kita harus bawa dia pulang !”
“Yang dikatakan benar, jika terus disini kita sulit untuk bergerak.”
“Keselamatan Feli adalah yang terpenting.”
Menggendong Feli “Urusan kita belum selesai,” ucap Shankara dingin kejam.
“Perlu kamu ketahui Shan, aku sangat membenci dia. Kita dari kecil selalu bersama bahkan kamu berjanji akan menjagaku, aku melakukan ini karena aku mencintaimu. Dia tidak pantas untukmu Shan.”
“Hanya dia yang pantas.”
“KENAPA ?? karena dia lebih cantik bukannya aku juga sangat cantik, atau karena dia pintar, Shan aku memiliki penawar racunnya. Datanglah padaku maka dia akan selamat,” berlinang air mata.
“Tidak akan aku ulangi hal yang sama,” pergi.
“AAAAAHHHHH …..” Hera mengamuk.
“KENAPA ORANG BARU MENGALAHKANKU ?? KENAPA ?? BANYAK ORANG YANG MENYAYANGINYA TAPI AKU ….” membakar ruangan itu.
Anak buahnya segera menjauh “Cepat kita pergi dulu dari sini …”
“Kalian pergilah aku dan Mugo akan mengawasi Hera !” Shankara mengerti lansung tancap gas.
“Denyut nadinya semakin melemah,” Maya terus mendampingi Feli.
“Apa ada penawarnya ?”
“Pasti tapi ….”
“Tapi apa ?”
“Racun jenis ini hanya Guru dan Feli yang bisa membuat penawarnya.”
“Ray ?”
“Iya Bos ?” mengangkat telpon.
“Temui mereka semua suruh menghadap padaku !!!”
“Baik Bos,” mobil yang di kendarai Raymond belok kiri.
“Pasti ada jalan lain bukan ?”
Walaupun ragu Maya tetap berkata “Tentu.”
“Fel, aku mohon bertahanlah. Aku hampir kehilanganmu berkali-kali, aku mohon kali ini pun tetaplah hidup bersamaku. Apa yang harus aku katakan pada Abah dan Emak, apa kamu mau mereka memarahiku hemn ?” mengenggam erat tangan Feli yang mulai dingin.