Aprilia Suci Prabowo anak dari seorang Pengusaha terkaya No.1 di Negeri ini harus menelan pahitnya kenyataan saat mengetahui Papihnya mempunyai wanita idaman lain selain Mamihnya.Dan yang lebih parahnya lagi,mempunyai anak dari perselingkuhannya itu.
Raditya Putera Pratama seorang Polisi tampan nan gagah di pilih untuk bekerja sebagai Bodyguard sekaligus sopir pribadi April wanita cantik tapi jutek.
Bagaimana kelanjutan kisahnya,akankah berakhir bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MERASA BERSALAH
🏵
🏵
🏵
🏵
🏵
Radit terduduk di kursi tunggu yang ada di depan ruangan rawat April.Radit menundukkan kepalanya,dia merasa jadi orang yang tidak berguna.
Tidak lama kemudian,pintu ruangan rawat April terbuka.
"Radit,kok ga masuk?" tanya Papih Anwar.
"Om..maaf Om,Radit tidak bisa menjaga April dengan baik," ucap Radit dengan menundukkan kepalanya.
Papih Anwar menepuk pundak Radit.
"Ini bukan salah kamu,kejadiannya kan di Kampus April sedangkan kamu sedang Dinas,sudahlah jangan menyalahkan diri sendiri," ucap Papih Anwar.
Radit tidak percaya,kalah Papih Anwar akan berkata seperti itu.
"Terima kasih Om," ucap Radit.
"Lebih baik sekarang kamu masuk,mungkin April lebih membutuhkan kamu.Om mau cari tahu siapa yang berani berbuat jahat kepada April," sahut Papih Anwar.
"Baiklah,terima kasih Om" ucap Radit.
Radit pun memasuki ruangan rawat April,dilihatnya wajah April yang cantik sekarang terlihat pucat,pipinya yang mulus terlihat lebam dengan luka di sudut bibir April.Hati dan dada Radit begitu sakit melihat pemandangan itu,Radit mengepalkan tangannya.
"Tante.." ucap Radit.
"Radit..."
"Bagaimana keadaan April Tante?"
"Masih belum sadar Dit,mungkin masih terpengaruh dengan obat yang diberikan Dokter."
Mamih Lisda mengajak Radit untuk duduk di sofa.
"Tante benar-benar tidak habis pikir,siapa yang tega melakukan semua ini terhadap April.Padahal April itu anak yang baik,dari dulu April tidak pernah mempunyai musuh."
Mamih Lisda terlihat meneteskan air matanya.
"Tante jangan khawatir,Radit bakalan cari tahu siapa yang sudah melakukan semua itu kepada April."
Disaat Mamih Lisda dan Radit sedang melamun dengan pikiran mereka masing-masing,tiba-tiba April sadar dan berteriak-teriak.
"Pergi jangan sentuh aku,aku mohon jangan sentuh aku," teriak April.
Radit dan Mih Lisda segera menghampiri April yang sedang teriak-teriak.
"April kamu kenapa?" tanya Radit khawatir.
Tapi April terus saja berontak dan teriak-teriak,Radit yang melihat itu langsung memeluk April.
"Jangan sentuh aku,pergii" April terus saja berontak dan berteriak di pelukan Radit,sementara Mamih Lisda menutup mulutnya dan menangis.
"Tenang Sayang,ini aku Radit kamu jangan takut ada aku disini," sahut Radit.
"Jangan sentuh aku..jangan sentuh aku," April memukul dada Radit dan menangis sejadi-jadinya.
Radit semakin mempererat pelukkannya.
"Tenang Sayang tenang,ini aku Radit tidak akan ada orang yang bisa nyakitin kamu lagi," ucap Radit.
Perlahan sedikit demi sedikit April mulai tenang dan menangis di pelukkan Radit.
"Tolongin aku Dit,aku takut" ucap April lirih.
"Tenang Sayang,kamu ga usah takut ada aku disini."
Radit memgelus-ngelus punggung April dan menciumi pucuk kepala April berkali-kali.
Sementara Mamih Lisda tidak tega melihat keadaan anaknya seperti ini,dia memilih untuk keuar dan menangis diluar.
Setelah lelah menangis,April mulai meregangkan pelukkannya.Ditatapnya mata Radit dengan air mata yang terus mrngalir.
"Maaf,karena aku tidak bisa menyelamatkan kamu," ucap Radit dengan menghapus air mata April dengan lembut.
April menggelengkan kepalanya,Radit mengusap lembut pipi April yang lebam kemudian turun ke sudut bibir April.
"Aku berjanji,mereka harus membayar setiap rasa sakit yang sudah kamu alami."
April kembali menitikkan air mata dan Radit kembali memeluk wanita yang sangat dia cintai itu.
"Kamu makan dulu ya,habis itu minum obat biar kamu cepat sembuh dan pulang ke rumah," seru Radit.
April menganggukkan kepalanya,Radit pun mulai menyuapi April dengan penuh rasa kasih sayang.
Tidak lama kemudian Papih Anwar dan Mamih Lisda masuk ke ruangan rawat April.
"Bagaimana Pih,siapa yang sudah berbuat jahat kepada April?" tanya Mamih Lisda.
"Belum ketahuan,soalnya ketiga laki-laki itu bungkam tidak mau bicara siapa yang menyuruh mereka," jelas Papih Anwar.
"Kok bisa Om?" tanya Radit.
"Om juga tidak tahu Dit,bahkan mereka bertiga bersedia mati daripada harus memberi tahu siapa yang sudah membayar mereka."
"Radit yakin Om,mereka di bayar sangat besar dan orang yang membayar mereka pasti orang yang sangat berpengaruh," sahut Radit.
"Dan menurut pihak Kampus,mereka itu bukan Mahasiswa melainkan orang luar yang sengaja di bayar dan masuk ke Kampus dengan mudahnya," jelas Papih Anwar.
Papih Anwar dan Radit terlihat berpikir.
Tok..tok..tok..
Terdengar pintu di ketuk..
"Assalamualaikum" ucap Sella.
"Sella,sini masuk" sahut Mamih Lisda.
"Sella bawa teman Tante!!Brian,Andre ayo masuk," ajak Sella.
"Bagaimana keadaan April,Tante" tanya Sella.
"Sudah membaik,walaupun tadi dia sempat teriak-teriak dan histeris," ucap Mamih Lisda.
"Hei anak ingusan,apa tadi pagi lo tahu sesuatu?" tanya Radit.
Brian terlihat mendengus kesal,pasalnya dia selalu di panggil anak ingusan oleh Polisi yang ada di hadapannya ini.
"Kenapa sih lo selalu panggil gue anak ingusan,menyebalkan sekali" kesal Brian.
"Udah jawab aja."
"Gue ga tahu apa-apa,yang jelas tadi pagi April sama Sella ga masuk kelas.Gue heran aja ga biasanya mereka bolos Mata Kuliah soalnya mereka anak yang paling rajin," jelas Brian.
Semuanya menghela nafas kasar,siapa yang sudah melakukan semua ini masih belum tahu.
Semua itu,di sebuah rumah mewah dan megah.
"Pah,Papah beneran sudah mengurus semuanya?" tanya Sisil.
"Sudah Sayang,semuanya sudah beres kamu ga usah khawatir," ucap pria paruh baya itu dengan santainya.
"Papah bisa jamin,kalau ketiga orang itu ga bakalan ngebocorin semuanya?" tanya Sisil kembali.
"Kamu tidak percaya sama Papah?Papah jamin 100% mereka tidak akan buka mulut ke siapa pun karena nasib keluarga mereka ada di tangan Papah," jelas Papah Sisil.
"Ah Papah memang hebat,makasih Pah," Sisil memeluk Papahnya.
Kembali ke Rumah Sakit...
"Tante,Om,Radit pulang dulu sebentar mau bersih-bersih dan ganti baju dulu," ucap Radit.
"Ya sudah,makasih ya Dit sudah mau jagain April," seru Mamih Lisda.
"Sama-sama Tante,ini sudah jadi kewajiban Radit buat menjaga April,nanti malam Radit kesini lagi."
Radit pun pergi dari Rumah Sakit,setelah sebelumnya berpamitan dan mencium tangan Mamih dan Papih April.
Sesampainya di rumah,Radit langsung ke kamar mandi untuk bersih-bersih.
" Kok baru pulang Nak?" tanya Ibu.
"Radit habis dari Rumah Sakir Bu,April mengalami musibah."
"Inalillahi..."
"Habis ini Radit maubke Rumah Sakit lagi Bu,mau menemani April" sahut Radit.
"Ya sudah,kamu makan dulu Ibu sudah masakin masakan kesukaan kamu."
Setelah bersih-bersih,ganti pakaian dan makan juga,Radit bersiap-siap pergi lagi menuju Rumah Sakit.
Tidak membutuhkan waktu lama,Radit sudah sampai di Rumah Sakit,pada saat Radit ingin membuka pintu ruangan rawat April,pintu terbuka bersamaan dengan munculnya Dika.
"Mau ngapain kamu kesini?" tanya Dika dingin.
"Ya mau jagain pacar akulah."
"Jagain,terus tadi pagi kemana aja saat April membutuhkanmu."
"Sudahlah ini Rumah Sakit,ga baik bertengkar apalagi ini sudah malam," ucap Radit.
"Radit,kamu sudah kenal dengan Dika?" tiba-tiba Papih Anwar muncul dari dalam ruangan.
"Tidak Om..." Radit dan Dika menjawab serempak.
"Wah..wah..wah,kompak sekali" ucap Papih Anwar dengan tawa kecilnya.
"Maaf Om,Dika permisi dulu Dika masih ada urusan," seru Dika.
"Udah sana pergi," bisik Radit tapi masih di dengar oleh Dika dan Dika menatap ke arah Radit dengan tatapannya yang tajam.
"Kalau begitu,Dika permisi dulu Om."
Dika pun pergi meninggalkan Rumah Sakit,tadinya Dika ingin menjaga April tapi Asistennya menghubungi kalau Perusahaannya yang berada di Luar Kota mengalami masalah.
"Lebih baik Om dan Tante pulang saja,biar Radit yang menjaga April kayanya Om dan Tante butuh istirahat," sahut Radit.
"Memangnya kamu tidak apa-apa kalau kami tinggal?" tanya Mamih Lisda.
"Tidak apa-apa Tante,tenang saja."
"Ya sudah kalau begitu,terima kasih banyak sebelumnya," ucap Mamih Lisda.
"Tolong jagain April,kalau ada apa-apa langsung hubungi Om," seru Papih Anwar.
"Baik Om..."
Papih dan Mamih April pun pergi meninggalkan Rumah Sakit.
Radit menghampiri ranjang April dan duduk di sebelah April,cukup lama Radit memandang dan memperhatikan wajah kekasihnya itu.
Karena rasa lelah yang melanda,akhirnya Radit pun tertidur di samping April dengan posisi tangan masih menggengam tangan April.
Waktu menunjukkan pukul 1 pagi,tiba-tiba April mengerutkan keningnya seolah-olah peristiwa itu masih terngiang-ngiang di kepalanya.
April bermimpi kejadian kemarin pagi yang menimpanya,keringat mulai muncul di keningnya,genggaman tangan April mulai kuat meremas tangan Radit.
Radit yang merasa tangannya ada yang menggenggam dengan kuat,mulai bangun dan membuka matanya.
Dilihatnya wajah April yang sudah dipenuhi dengan keringat dan kening yang terus mengerut membuat Radit khawtir tapi matanya tetap terpejam.
"Sayang,kamu kenapa?" Radit menepuk-nepuk pipi April dengan lembut.
"Jangan..jangan dekati aku,jangan sentuh aku,pergi..pergi.." April terus mengigau.
"Sayang,buka mata kamu ini aku Radit" ucap Radit.
Seketika April bangun,di lihatnya di hadapannya Radit sedang menatapnya.
"Radit..." April langsung memeluk Radit.
"Kamu mimpi buruk ya?" tanya Radit dengan mengelus rambut panjang April.
April menganggukkan kepalanya dan menangis,pelukkannya semakin erat.
"Kamu jangan takut ada aku disini,aku akan terus menjaga kamu," Radit menciumi pucuk kepala April berkali-kali.
Ada rasa marah pada dirinya sendiri yang Radit rasakan.Dia benar-benar merasa bersalah karena tidak bisa menjaga April,sampai-sampai peristiwa itu selalu menghantui wanita yang sangat dia cintai.
April melepaskan pelukkannya,dengan deraian air mata April menatap dalam ke arah mata Radit.
"Jangan tinggalkan aku Dit,aku takut sendirian," ucap April.
"Tidak Sayang,aku tidak akan meninggalkanmu.Kamu jangan takut ya!!" Radit menghapus air mata April dengan kedua jempolnya.
"Sekarang kamu tidur lagi ya,ini masih malam," ucap Radit.
"Tapi kamu disini kan nemenin aku," seru April.
"Iya Sayang."
April pun merebahkan kembali tubuhnya,Radit memgelus kepala April dan mencium kening April cukup lama.
"I LOVE YOU,APRILIAN SUCI PRABOWO."
"I LOVE YOU TOO."
April mulai memejamkan matanya dan kembali terlelap,begitu pun Radit yang sudah kelelahan.
Keesokan harinya...
April sudah bangun,sementara Radit masih setia memejamkan matanya mungkin karena kelelahan.
April mengusap pipi Radit lembut dengan senyum yang tersungging dibibirnya.
Radit mulai melenguh merasa ada yang mengelus pipinya,dan akhirnya dia bangun.
"Maaf,aku ganggu ya!!" ucap April.
"Ga..apa ada sesuatu yang kamu butuhkan?" tanya Radit.
April menggelengkan kepalanya.
"Apa kamu tidak sakit semalaman tidur seperti itu?" tanya April.
"Tidak."
Tiba-tiba pintu ruangan rawat April terbuka...
"Selamat pagi.." sapa Mamih Lisda.
"Pagi Mamih."
"Kamu sudah baikan Sayang?" tanya Mamih Lisda.
"Sudah Mih,nanti Mamih bilang sama Dokter ya kalau April ingin pulang," ucap April.
"Iya Sayang."
"Dit,ayo sarapan dulu Tante bawakan sarapan buat kamu," ucap Mamih Lisda.
"Iya Tante."
Radit cepat-cepat menuju kamar mandi untuk bersih-bersih.Dan Radit pun sarapan bersama Mamih Lisda.
"Tante,maaf Radit harus pulang soalnya Radit harus Dinas sekarang terima kasih untuk sarapannya." seru Radit.
"Oh gitu,ya sudah sekali lagi Tante mengucapkan terima kasih ya karena sudah menjaga April," ucap Mamih Lisda.
"Sama-sama Tante."
Kemudian Radit menghampiri April yang terlihat cemberut.
"Ko cemberut," Radit mengacak-ngacak Rambut April.
"Ih..apaan sih." April memalingkan wajahnya.
"Aku pulang dulu ya,nanti pulang Dinas aku kesini lagi," Radit mengelus-ngelus kepala April.
"Emangnya ga bisa libur sehari?" rengek April.
"Kalau aku libur,bagaimana tabungan aku bisa bertambah aku kan penge cepat-cepat nikahin kamu," seru Radit yang mencubit hidung April karena gemas.
Seketika wajah April tampak memerah,mendengar ucapan Radit dan senyum-senyum sendiri sembari memalingkan wajahnya.
"Aku janji,habis pulang Dinas aku langsung kesini lagi ok!!" ucap Radit.
April pun menganggukkan kepalanya,Radit mengelus kepala April dan mencium pucuk kepala April.
"Ya sudah,aku pulang dulu ya."
Radit pun meninggalkan Rumah Sakit,karena hari ini dia harus Dinas.
"Cie..cie...ada yang wajahnya merah nih," goda Mamih Lisda.
"Ih,Mamih apaan sih."
Mamih Lisda memeluk anak satu-satunya itu.
"Semoga kamu bahagia Sayang,Mamih selalu mendoakan yang terbaik buat kamu."
"Makasih Mih."
Sore pun tiba,hari ini April di perbolehkan pulang,karena April memaksa ingin pulang.April pun sudah menghubungi Radit kalau hari ini dia sudah pulang,dan Radit nanti malam akan ke rumah April.
Sella,Brian,dan Andre sudah berada di Rumah Sakit untuk menjemput April.
"Sell,Ponsel lo sudah ketemu?" tanya April.
"Belum Pril,gue juga merasa aneh kok bisa Ponsel gue ga ada,sementara pas kejadian lo mendapatkan pesan dari gue," sahut Sella.
"Pasti Ponsel lo ada yang nyuri Sell,dan orang yang nyuri Ponsel lo itu orang yang sudah melakukan kejahatan sama lo Pril," sambung Andre.
Tiba-tiba pintu ruangan rawat April terbuka.
"Lho kok sudah siap-siap?" tanya Dika.
"Iya Pak,hari ini April mau pulang," jawab Sella.
"Memangnya kamu sudah sembuh Pril?" tanya Dika.
"Sudah Pak,sudah baikkan.Oh iya, Pak saya belum sempat berterima kasih sama Bapak,terima kasih ya Pak karena sudah menolong saya kalau waktu itu Bapak tidak datang,saya tidak tahu apa yang akan terjdi sama saya," ucap April.
"Sudahlah jangan dipikirin,karena saya akan selalu ada untuk kamu," jawab Dika.
Sella,Brian,dan Andre saling pandang,mereka tidak mengerti apa arti dari ucapan yang Dika berikan barusan kepada April.
"Sudah selesai,ayo kita pulang sekarang," seru Mamih Lisda.
Disaat April mau menuruni tangga dan duduk di kursi roda,tiba-tiba saja Dika dengan sigap menggendong April.
"Eh Pak,saya bisa turun sendiri," ucap April.
Dika tidak bicara sedikitpun,lalu Dika mendudukkan April di kursi roda dan mendorongnya menuju parkiran.
Ada perasaan tidak enak di hati April dengan perlakuan yang Dika berikan.
Tidak lama kemudian,semuanya sampai di rumah April.Saat April turun dari mobil,betapa terkejutnya dia karena di depan rumah Orang Tua Dika sudah menunggu kedatangan April bersama Papih Anwar.
"Tante,Om,kok ada disini?" tanya April.
"Sayang,maaf Tante dan Om baru sempat menjenguk kamu karena Tante sama Om baru kembali dari Amerika kemarin Daddynya Dika ada urusan kerja disana," jelas Mommy Dika.
"Tidak apa-apa Tante."
"Kok malah ngobrol di luar,ayo kita masuk" ucap Mamih Lisda.
Semuanya masuk ke dalam rumah,dan berkumpul di ruangan keluarga.
Sementara itu,Radit bersiap-siap mau berangkat ke rumah April dengan membawa opor ayam masakan Ibunya yang merupakan kesukaan April.
Tidak membutuhkan waktu lama,Radit sudah sampai di rumah April.Radit mengerutkan keningnya karena banyak mobil yang terparkir di depan rumah April.
Pada saat Radit baru sampai di depan pintu rumah April,Radit mendengar pembicaraan seseorang dari dalam rumah.
"Sayang,maaf mungkin ini waktu yang tidak tepat karena kamu baru saja pulang dari Rumah Sakit,tapi tujuan Om dan Tante kesini ingin melamar kamu untuk menjadi istrinya Dika," ucap Mommy Dika.
Jedaaaarrrrr....
Semua orang sangat kaget dengan ucapan Mommynya Dika,Radit pun yang berada di balik pintu tak kalah terkejutnya.
Tangan Radit mulai bergetar,dan akhirnya opor ayam yang Ibu Radit titipkan untuk April jatuh juga ke lantai dan berserakan di lantai membuat suara nyaring.
Semua orang menoleh ke arah pintu,Radit dengan cepat-cepat pergi dari dari rumah April dan melajukan motornya meninggalkan rumah April.
April yang melihat Radit,langsung berlari menyusul Radit ke luar tapi Sayang Radit keburu pergi.
"Radit tunggu Dit," teriak April.
Sella mencegah April,dan akhirnya luruh sudah air mata April.
"Radit Sell,pasti dia mendengar pembicaraan barusan," ucap April dengan deraian air mata.
"Sudah Pril,nanti kita jelasin sama Radit lebih baik sekarang kamu masuk kan kamu baru sembuh," ucap Sella.
Disaat April mau memasuki rumah di lihatnya opor ayam yang Radit bawa tadi berserakan di lantai,air mata April kembali jatuh.
"Radit kamu salah paham," batin April.
🌼
🌼
🌼
🌼
🌼
Hallo Reader-reader ku tercinta yang masih setia dengan cerita April dan Babang Radit,maaf ya baru Up🙏🙏
Dan sebagai gantinya,hari ini Author Crazy Up ya untuk kalian semua semoga kalian suka🙏🙏😘😘
Jangan lupa
like
vote n
komen
TERIMA KASIH
LOVE YOU💋💋💋