NovelToon NovelToon
Lingsir Wengi

Lingsir Wengi

Status: tamat
Genre:Romantis / Misteri / Supernatural / Spiritual / Horor / Tamat
Popularitas:3.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: Laila Al Hasany

Ana kidung rumeksa ing wengi
Teguh hayu, luputa ing lara
Luputa bilahi kabeh
Jim setan datan purun
Paneluhan tan ana wani
Niwah panggawe ala
Gunaning wong luput
Geni atemahan tirta
Maling adoh tan ana ngarah ing mami
Guna duduk pan sirno ....

Ya, itu!
Lingsir Wengi, Rumeksa ing Wengi. Tembang yang selalu disenandungkan simbah putri setiap menidurkanku. Ketika simbah Putri meninggalkanku di kamar sendirian, lamat-lamat kulihat sesosok wanita ayu yang duduk dan tersenyum. Aroma bunga Mawar, menyeruak memenuhi ruangan kamar tidurku.

Aroma itu akan selalu muncul ketika simbah putri mulai bersenandung. Tapi malam ini, siapa? Siapa yang bersenandung? Aku juga belum sempat bertanya kepada simbah putri, tentang siapa sebenarnya sosok wanita berkebaya dan berkerudung itu ....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila Al Hasany, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32

Bau anyir darah, seperti menusuk hidungku. Aku melihat sesosok makhluk dengan wajah hancur hampir terlihat tulang tengkoraknya, di bawah sana. Ia menyeringai padaku. Aku memejamkan mata sebentar. Setelah membuka mata, makhluk itu sudah tidak ada lagi. Aku kembali duduk tegak di ranjangku lalu memandang sekeliling, tidak ada tanda-tanda makhluk itu.

Aku merasa janggal. Kenapa bisa akhir-akhir ini, aku diganggu makhluk-makhluk aneh seperti itu? Padahal sebelumnya aman-aman saja! Ada apa sebenarnya? Nyai Sekar berkata padaku, pagar gaib masih ada dan berfungsi dengan baik. Tadi juga Nyai Sekar berkata juga akan mengirimkan beberapa prajuritnya untuk berjaga-jaga. Aku harus mengeceknya.

Aku membuka sedikit jendelaku, untuk mengintip. Benar saja, aku melihat dua prajurit berdiri di depan pintu. Dan yang lainnya berkeliling di halaman. Tapi aneh, kenapa tak satu pun dari mereka menyadari keberadaan mahkluk tadi? Apa cuma halusinasiku saja?

Aku menutup rapat jendelaku kembali, dan berbaring di ranjang, bersiap untuk tidur. Aku menyelimuti badanku lagi, hingga sebatas dada. Kali ini tidak ada yang menarik selimutku lagi. Entah kenapa aku merasa sangat mengantuk dan mulai jatuh tertidur.

Aku terbangun dengan keringat bercucuran. Kali ini, kenapa hawa kamar ini begitu panas? Kulirik jam di dinding, baru saja lewat tengah malam. Aku merasa haus. Aku bangun dari ranjangku, bermaksud menuju ke dapur untuk mengambil minum. Aku melewati kamar simbok, tidak ada cahaya lampu yang keluar dari kamar simbok, itu artinya, simbok belum bangun.

Aku meneruskan langkahku menuju dapur. Dengan duduk di depan, aku meminum habis segelas air dengan cepat. Tenggorokanku sudah lebih nyaman rasanya. Aku kembali ke kamar dengan membawa segelas air lainnya. Jadi, kalau-kalau nanti haus lagi, aku tidak perlu ke dapur.

Setelah meletakkan gelas tadi, aku berbaring lagi di ranjangku. Baru saja aku ingin memejamkan mata, aku dikagetkan dengan sesuatu! Kedua kakiku seperti ditahan oleh tangan, begitu juga tanganku. Tiba-tiba tanganku tertarik ke samping dan sesuatu mencengkeram erat di sana. Aku hampir terpekik ketika melihat sosok makhluk yang kulihat di kolong ranjang, duduk di sampingku, menyeringai, dan mengelus pipiku dengan tangannya yang juga terlihat koyak-koyak. Bau amis, lagi-lagi menusuk hidungku.

Aku mulai panik, mencoba sekuat tenaga melepaskan diri. Namun, makhluk itu mendekatkan wajahnya ke wajahku, aku spontan memejamkan mata. Aku merasakan kedua tangan makhluk itu di leherku dan mulai menekannya.

"Uhuk ... Uhuk ...." Aku mulai terbatuk-batuk.

Makhluk ini mencoba mencekikku. Aku berusaha melawan, mencoba berkomat-kamit melafalkan doa yang terlintas dalam pikiranku.

Tekanan di leherku makin kuat. Aku tidak boleh mati sekarang! Aku tidak boleh! Aku mencoba memfokuskan diri, membayangkan wajah Nyai Sekar, berusaha memanggilnya. Mungkin ini jalan terakhir yang bisa kucoba. Aku mulai pasrah, meski tetap berdoa dan mengharap pertolongan.

Aku membuka mata, napasku sudah tinggal satu-satu. Tiba-tiba, sekelebatan cahaya melesat, menyambar makhluk yang mencekikku, aroma bunga Mawar menguar, lalu kelebatan itu menyeret keluar makhluk yang berusaha mencekikku menembus jendela. Aku melihat sekilas wajah Nyai Sekar yang dipenuhi amarah. Kemudian suara ledakan dan teriakan terdengar keras dari arah luar.

Aku mulai kembali bernapas dengan normal, mencoba bangun dan duduk. Aku mengusap leherku. Makhluk itu ingin membunuhku? Tapi kenapa? Ditengah-tengah lamunanku, aku merasakan kehadiran Nyai Sekar. Benar saja, Nyai Sekar sudah duduk di hadapanku, dengan wajah penuh kekhawatiran.

Aku melihat buliran air di ujung mata Nyai Sekar. Nyai Sekar meraba leherku. Kemudian ia menengadahkan tangan, muncul lah sebuah wadah kecil di sana. Nyai Sekar mengoleskan sesuatu, seperti salep di leherku, aromanya juga Mawar.

Nyai Sekar terisak ketika mengoleskan benda itu ke leherku.

"Gusti Allah ... kenapa ini bisa terjadi, Nduk? Telat sedikit lagi, aku mungkin tidak bisa menyelamatkanmu! Lalu apa yang harus kukatakan pada rakyatku, bahwa aku melindungimu saja, tidak mampu!"

Aku meraih tangan Nyai Sekar.

"Tapi aku selamat, atas ijin Tuhan lewat bantuan Nyai. Nyai gak perlu menyalahkan diri sendiri."

"Aku membakar habis makhluk tadi, sebelumnya, aku hanya melempar makhluk-makhluk yang berusaha menerobos wilayah kerajaanku untuk maksud yang tidak baik."

Aku masih melihat amarah di mata Nyai Sekar. Kemudian mata itu berubah lembut ketika menatapku.

"Aku terpaksa memerintahkan dayang khusus untuk menjaga kamar ini."

Tangan Nyai Sekar berhenti mengusap leherku.

Kemudian Nyai Sekar melambaikan tangan di udara kosong. Lalu muncul lah sesosok wanita cantik. Meski ia juga terlihat seperti dayang lain, tetapi tangan kirinya menenteng pedang, ia memakai kerudung seperti Nyai Sekar, warnanya senada dengan kebayanya, warna kuning agak kehijauan. Bedanya, wanita itu memakai celana di balik kain jariknya yang diwiru, pendek sebatas lutut. Wanita itu memberi salam pada Nyai Sekar dengan penuh penghormatan.

"Kenanga, jaga genduk Dyah, ketika ia tidur. Jangan pernah lepaskan pengawasanmu. Untuk kenyamanan genduk Dyah, buat dirimu tidak terlihat, dan bersemayam lah di salah satu benda di ruangan ini."

"Baik Kanjeng Ratu, titah segera dilaksanakan."

Lalu kulihat sosok itu menghilang.

"Ramuan ini kubuat agar bekas di lehermu memudar, sekaligus menghilangkan sisa-sisa energi negatif yang tertinggal."

Nyai baru saja selesai mengoleskan benda yang seperti salep tadi.

"Apa bekasnya akan terlihat oleh manusia Nyai?"

"Ya, tapi ramuanku ini akan menghilangkan bekasnya, hingga tidak terlihat oleh manusia."

"Simbok juga gak bakal bisa lihat bekasnya kan Nyai?"

"Ya ... Tapi tunggu dulu Nduk." Nyai Sekar mengangkat tangannya, ada cahaya kecil keluar dari jari telunjuk dan jari tengahnya, kemudian mengusap bekas di leherku.

"Saat ini, bahkan mbok Minten juga tidak akan melihat bekas ini Nduk."

"Ya Nyai, aku gak mau simbok khawatir padaku terus-terusan."

"Simbok orang yang baik, meskipun bukan pewaris sesungguhnya, ia menjaga warisan yang ditinggalkan Ndoro Putri dengan baik. Aku tidak pernah melihat ambisi atau niat jahatnya, walaupun bisa saja ia mengambil semuanya untuk kepentingan pribadinya. Ketulusannya membuatku terkagum-kagum. Ndoro putri tidak salah memilih orang."

Simbok memang seperti itu, dari kecil pun aku dirawatnya dengan baik. Ketika aku dimarahi simbah putri atau ibu, dan menangis, simbok akan datang menghiburku. Bahkan setiap aku berlibur ke rumah ini. Simbok merawatku, menjagaku, dan melindungiku.

"Sekarang istirahatlah Nduk, ini masih malam." Suara Nyai Sekar membuyarkan lamunanku.

"Iya Nyai."

"Aku akan tetap di sini, sampai Genduk Cah Ayu, tidur."

"Iya Nyai."

Aku berbaring, Nyai Sekar duduk di tepi ranjang mengelus kepalaku dan mulai menembang . Dan lama-kelamaan aku semakin mengantuk.

Sepertinya aku mulai bermimpi aneh lagi, kali ini aku berjalan di sebuah tanah yang luas, bunga-bunga tumbuh bertebaran di sini.

Bersambung...

1
Nur Bahagia
Ripin 🤣
Nur Bahagia
jangan2 Sada jadi jin pendamping nya Garvi 🤩
Nur Bahagia
kubah gaib warna perak🤔
Nur Bahagia
siapa nih? 🤔
Nur Bahagia
kannn bener murni sama Rian.. 🤩
Nur Bahagia
ai mbok ga diajak kah? 🤔🥺
Nur Bahagia
sama Rian aja.. yg ketua karang taruna itu 🤗
Nur Bahagia
bisaa aja thaliaa 🤣
Nur Bahagia
Alhamdulillah pak samijan yg terpilih jadi kades nya 🤩
Nur Bahagia
wahh Pin.. Aripiinn... awakmu di senengi wong kutho ki lhoo.. wehhh bejomu lee 😅
Nur Bahagia
🥰
Nur Bahagia
🤩
Nur Bahagia
😍
Nur Bahagia
Alhamdulillah si mbok baik2 aja.. diantara semua tokoh yg ada di novel ini, cuma si mbok idolaku 🔥🥰
Nur Bahagia
ehhh begini doang
Nur Bahagia
malah ngomongin mau nikah.. iki piyee thoo.. mikir selamat aja duluu.. si mbok gimana ini si mbookkk 😭
Nur Bahagia
heettt malah ngobrol.. buruan tuh tolongin mbok Minten 🤦‍♀️
Nur Bahagia
ini lagi si kenanga.. suruh jagain 24 jam, malah ngendon aja di dalam kotak.. duhh 🤦‍♀️
Nur Bahagia
ya elaaahhh Thor aku kecewaaa.. kenapa harus mbok Minten 😭
Nur Bahagia
yesss akhirnya terbongkar semua kebusukan mu Senen 🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!