Kini aku sudah resmi menjadi istri dari Anggara Putra Gibson. Namun, aku menjadi istri kedua. Aku yang masih duduk di perkuliahan semester delapan, menyusun skripsi sembari menata hidup baru bersama lelaki yang sudah mempunyai istri itu, dan dia adalah suamiku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gustinara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#31 MENURUT
Episode 30 itu sebenernya gak sampe situ gais, nyah kenapa selesai di review malah kepotong🥺
Padahal diriku ngetik dengan semangat sampe 3000+ kata😭
Tapi yaudah, yuk lanjoot!
***
Anggara memarkirkan mobilnya di masjid besar Palembang. Ia berniat untuk mengajak Luna melakukan ibadah sholat isya bersama di masjid ini. Tetapi Luna sedang datang bulan.
"Datang bulan kamu, masih sakit?" Ucap Anggara.
"Sedikit. Udah hari kelima kok" ucap Luna.
"Tapi udah gak sakit? Hari pertama kamu gimana?"
"Ya gitu, kayak biasa."
"Terus?"
"Gak terus-terusan. Aku sedia obat juga alat penghangat yang di tempel gitu." Ucap Luna. Anggara menganggukkan kepalanya.
"Kalau bulan depan kamu datang bulan lagi dan ngerasa sakit, bilang aku"
Aku.
Luna sedikit tercengang. Baru kali ini suaminya tidak berbicara formal padanya. Menyebut nama saya menjadi aku. Hal itu membuat seolah kupu-kupu berterbangan keluar dari perut Luna.
"Saya sholat dulu, kamu diem disini ya jangan keliaran. Banyak orang jahat" ucap Anggara. Luna langsung mengangguk cepat.
Lagi lagi Luna bangga pada suaminya. Kemarin dirinya menjadi penyelamat hidup dan sekarang kepribadiannya yang taat membuat Luna semakin suka. Tapi berkali-kali Luna menepis rasa itu seolah haram bila harus membiarkannya tumbuh.
Lima belas menit Luna menunggu dan akhirnya Anggara datang kembali. Dengan sigap Luna menyambut Anggara dengan senyum sumringah yang entah kenapa. Anggara pun sedikit aneh melihat perubahan mood Luna.
"Tuan udah makan?" Tanya Luna.
"Sudah, kamu?" Ucap Anggara yang baru saja masuk kedalam mobil. Luna mengangguk.
"Yuk keluar"
"Hah?"
"Keluar, kita jalan-jalan"
"Disini?"
"Iya, mau tahu Jembatan Ampera enggak?"
"Mau!"
Luna sangat senang kala Anggara mengajaknya berjalan-jalan. Semakin betah saja dirinya berada di sebelahnya. Walau degupan jantung yang tak karuan, tapi Luna merasa aman dan nyaman berada disisinya.
Pasutri itu berjalan beriringan. Anggara sangat melindungi Luna disaat ia berjalan dan menyebrang. Sampai-sampai Anggara menyuruh Luna untuk memegang lengannya sepanjang jalan.
"Bukan apa-apa, disini banyak orang jahat" ucap Anggara.
Mereka menaiki tangga yang akan menghantarkan mereka ke atas Jembatan Ampera. Banyak sekali kendaraan yang melintas disana. Ada juga sekelompok orang pengunjung yang sepertinya sedang membuat vlog untuk urusan pribadinya.
Begitu sampai diatas, Luna sangat terkesima melihat tulisan "AMPERA" yang terpajang jelas di tengah-tengah jembatan merah itu.
Masih dengan beriringan, Luna dan Anggara melanjutkan langkah kakinya. Anggara tersenyum melihat istrinya itu sangat senang.
Langkah mereka terhenti di tengah-tengah jembatan. Luna melepas kaitan tangannya dan bertengger di sisi samping jembatan.
Dari atas sana mereka bisa melihat begitu luasnya Sungai Musi. Jembatan ini menghubungkan daerah Seberang Ulu dan Seberang Ilir yang dipisahkan oleh sungai tersebut.
Cukup tinggi dari permukaan air, Luna sedikit merinding melihat kebawah. Tetapi terpaan angin dan ramainya jalanan membuat air tenang itu tak dihiraukan oleh Luna.
"Kalau takut jangan intip kebawah" ucap Anggara menyandarkan tubuhnya ke pagar besi.
"Berapa meter ya dalemnya?" Tanya Luna penasaran. Jujur Anggara tak tahu menahu tentang itu.
"Tuan pernah kesini?"
"Kamu bisa ganti panggilan itu?" Bukannya menjawab malah menanya balik.
"Tuan- nya?" Tanya Luna ragu. Anggara mengangguk.
"Terus aku harus panggil apa? Bapak?"
"Bukan atasan kamu" tolak Anggara. Luna sedikit berfikir.
"Apa dong? Aa? Mas? Uda? Abang? Kakak?" Tawar Luna tetapi Anggara enggan memilih panggilannya.
"Mas aja deh. Biar kayak bunda" ucap Luna yang kini menemukan panggilan yang tepat. Anggara mengangguk dan Luna tersenyum.
"Jadi.. mas udah pernah kesini?"
"Pernah"
"Kapan?"
"Udah lama waktu jaman kuliah" ucap Anggara. Luna ber-oh ria.
"Kamu pernah ke Palembang?" Tanya Anggara. Luna menggeleng.
Lima belas menit disana membuat Luna kedinginan. Padahal atmosfer disana cukup panas. Terlihat dari lipatan lengannya yang memeluk erat tubuhnya sendiri.
"Yaudah yu balik" ucap Anggara. Yang diajak malah sibuk mencari ponselnya di tas. Ekspresi sedih yang Luna keluarkan membuat Anggara menyerngit bingung.
"Kenapa?"
"Mau foto tapi hp aku mati" ucap Luna sedih. Anggara menarik nafas dan membuangnya. Ia merogoh saki celana dan memberikannya pada Luna. Luna langsung kegirangan hampir loncat-loncat disana.
Tapi hatinya sedikit sakit saat ia baru saja menatap layar ponsel suaminya. Terpampang foto Anggara dengan Silvi saling sandar sembari duduk dikursi restoran. Yang pasti restoran mahal bernuansa romantis.
Luna menatapnya sebentar lalu tersenyum. Mungkin ini pengingat baginya bahwa Anggara bukanlah milik Luna seutuhnya. Anggara tahu apa yang dilihat Luna, ia sedikit khawatir dan lupa akan wallpapernya.
"Mau difotoin?" Tanya Anggara. Luna mengangguk dan memberikan ponsel tersebut pada Anggara. Mereka saling mundur beberapa langkah dan mulai melakukan aktivitasnya.
Yang tak Luna duga adalah Anggata mengajaknya berselfie. Lelaki itu bermaksud untuk mengirimkannya pada bunda, tetapi Luna salah mengartikannya.
"Yaudah yuk. Anginnya udah gak enak" ucap Anggara.
Mereka kembali ke parkiran masjid yang tak jauh dari sana. Anggara kini merangkul bahu Luna. Berniat untuk melindungi tetapi lagi lagi lain maksud yang Luna rasakan. Sentuhan ini benar-benar sangat menenangkan.
Keduanya melangkahkan kaki seirama. Walaupun kaki Anggara lebih panjang, ia mensejajarkan langkahnya dengan sang istri. Kini Anggara tidak merangkul Luna, melainkan memegangi lengannya.
"Kamu udah baik-baik aja kan?" Tanya Anggara.
"Ba-baik ko"
"Kejadian kemarin, kamu pernah ngalamin ya?" Tanya Anggara hati-hati. Terlihay Luna menarik nafasnya dan membuangnya kasar. Ya, bagaimanapun juga dirinya harus memberitahu suaminya. Walaupun memang ini tidak penting baginya tapi setidaknya ada sesuatu dalam dirinya yang Anggara sendiri tahu.
"Anxiety disorder. Tapi aku sudah sembuh kok" ucap Luna sembari tersenyum mendongak ke wajah Anggara yang memperhatikannya.
"Dari kapan? Boleh tahu?"
"Mas mau tahu?" Goda Luna. Anggara tertawa mendengarnya. Ini kali pertama mereka ngobrol seru.
"Gimana ya.. Saya cuma penasaran aja"
"Mas?"
"Hm?"
"Ngomongnya santai aja ya, saya juga istri mas bukan klien" ucap Luna.
Luna sedang lupa diri sekarang. Tapi beruntung Anggara mengiyakannya.
"Aku akan mencoba. Mencoba juga untuk memperhatikan kamu layaknya seorang istri" ucap Anggara.
"Apa?" Tanya Luna karena suara Anggara tidak jelas karena kendaraan yang berlalu lalang dijalanan.
Anggara melihat sekitar. Sepertinya memang bukan tempat untuk mengobrol. Anggara malas jika harus mengulangi perkataan-perkataan yang canggung itu.
"Kita masuk mobil dulu" ucap Anggara. Luna yang dituntunnya hanya menurut saja.
Lupa dengan percakapannya, Anggara dan Luna malah membahas hal lain didalam mobil. Mereka saling tukar cerita tentang hari ini dan menilai warga sekitar. Hingga sampai tak terasa, mobil sedan itu telah sampai di depan hotel yang diinap oleh Luna.
"Mas makasih ya" ucap Luna sembari tersenyum.
"Sama-sama." Ucap Anggara. Luna membereskan barang-barangnya dan membuka handle pintu.
"Eh Lun" ucap Anggara menahan lengan Luna untuk keluar. "Besok malam, kamu ikut aku ke pesta pernikahan adiknya bule Lia ya"
"Bule Lia istrinya pakle Bin? Ada sikembar dong?"
"Iya, besok adiknya nikah. Aku juga bilang ke pakle kalau ada kamu di Palembang. Gaenak kan kalau datang sendiri"
"Tapi aku gak bawa pakaian yang layak mas." Ucap Luna beralasan.
"Beli lah, kamu bukan orang susah. Kamu itu istri seorang juragan hutan loh" ucap Anggara serius. Tetapi hal tersebut sangat lucu bagi Luna, apalagi melihat ekspresi wajahnya. Luna tertawa.
"Iya iya. Besok juga aku udah beres kerjaan kok"
"Yaudah aku jemput besok jam 10 ya. Nanti biar aku aja yang bilang Fadlan"
"Jam 10 malem?"
"Siang.."
"Kok siang?"
"Kan beli baju buat kamu yaampun, gimana sih" ucap Anggara sedikit kesal. Lagi lagi Luna tertawa melihat wajah Anggara dan mendengar nada bicaranya.
"Seneng saya kesel huh?"
"Iya mas maaf. Iya besok saya tunggu ya. Hati-hati ya mas" ucap Luna sembari mencium lengan Anggara. Sudah lama rasanya Anggara mendapatkan perlakuan seperti ini. Dan ntah mengapa hatinya berbeda, seperti menghangat dan sangat nyaman.
***
Baru saja Luna terbangun dari tidurnya, ponsel yang sudah di isi daya semalaman berbunyi.
"Hallo" ucap Luna parau.
"Lun saya di loby, sini" ucap lelaki dari seberang sana. Seketika Luna membulatkan matanya terkejut.
"Hah? Ngapain?"
"Kesini dulu aja, jangan banyak nanya!" Ucap Anggara kesal dan langsung mematikan sambungan ponselnya. Luna yang aneh melihat nanar layar ponsel yang mulai padam.
Ia langsung terbangun dan mengikat rambutnya. Mengurungkan niatnya untuk mengganti pakaian. Masih berpakaian tanktop dan celana pendek, Luna memakai kain pantai untuk menutupi sebagian tubuhnya.
Ia langsung pergi turun ke loby dengan langkah tergesa. Saat keluar dari lift ia langsung mendapati Anggara yang sudah bersetelan kasual dengan kaos hitam dan celana sontog nya duduk di sofa. Auranya benar-benar membuat Luna terpana. Namun Luna langsung menepis fikirannya itu.
"Mas?" Teriak Luna. Anggara menoleh dan Luna melambaikan tangannya memberi tanda agar Anggara menghampirinya.
"Ka-kamu kok pake baju gini?" Ucap Anggara kaku saat sudah berada didepan Luna.
"Eh iya aku-- takutnya mas nunggu lama kalau aku ganti baju dulu" ucap Luna sembari berjalan kembali ke lift diekori Anggara.
"Bukan masalah itu Lun. Takutnya ada orang jahat kayak kemarin gimana?" Omel Anggara. Luna hanya bisa menghela nafasnya dan mengucapkan maaf juga menutup-nutupi bagian yang terbuka dengan kain tipisnya.
"Kamu baru bangun?" Tanya Anggara.
Tring. Pintu lift terbuka. Luna mengangguk sembari melangkahkan kakinya keluar.
Mereka masuk kekamar hotel yang langsung menampakkan ranjang doublebed nya. Cukup sempit bagi Anggara tapi ini sangat cukup bagi Luna.
"Ini serius Lewis yang kasih hotel begini?" Tanya Anggara lagi saat pandangannya menyapu ruangan.
"Iya mas" jawab Luna sembari membereskan pakaian dan ranjangnya.
"Perusahaan sebesar itu kasih hotel kayak gini" protes Anggara. Lagi lagi Luna menghela nafasnya. Ia tak tahan dengan omelan suaminya pagi ini.
"Aku mandi dulu ya mas. Di kulkas ada minuman kalau mas haus" ucap Luna.
"Kamu belum makan?"
"Belum. Kan baru bangun juga"
"Yaudah nanti makan bareng saya" ucap Anggara. Luna tersenyum dan mengangguk lantas masuk ke kamar mandi.
Selama mandi, Anggara berkeliling dan melihat kearah luar jendela. Pemandangan kota Palembang dipagi hari yang indah. Sampai ia tersadar dari kenikmatannya oleh suara notifikasi ponsel.
[Kak Cheko]: Pulang kapan nih? Aku lagi di Bandung kebetulan.
[Kak Cheko]: Oleh-oleh ya jangan lupa!
[Kak Cheko]: Oh iya hati-hati disana kan kamu tamu, kita gak tau budayanya jadi stay safety ya!!
Anggara masih bisa melihat isi pesan itu walau ponsel tersebut dalam keadaan terkunci. Ia tahu nama itu. Lelaki yang waktu itu bertemu di loby apartemen Luna sedang bersama Mesa. Apa mereka sedekat itu?
Dengan rasa penasaran ingin melihat isi ponsel istrinya, Anggara mencoba mengasal membuka kode ponsel sembari duduk diatas ranjang. Sayangnya sudah percobaan ke empat kali Anggara tak mampu menebak kodenya.
Ia lantas sedikit melempar ponsel Luna diatas ranjang. Tak lama Luna keluar sudah dengan memakai pakaian lengkap yakni kemeja softpink bermotif garis horizontal putih dan celana bahan berwarna krem.
Wajahnya yang segar juga tubuhnya yang menguarkan wewangian membuat Anggara menatap wanita muda itu seksama. Wajah naturalnya membuat hati Anggara bergejolak.
"Bentar ya mas aku dandan dulu" ucap Luna yang duduk sembari menggosokkan rambutnya dengan handuk. Tak menoleh sama sekali kepada Anggara yang menatapnya lekat. Sudah lama Anggara tidak menonton pemandangan ini.
"Jadi sekarang kita mau kemana pagi-pagi banget?" Tanya Luna.
"Kita jemput pakle dulu"
"Terus?"
"Nengokin lahan satu lagi sebentar. Abis itu kita ke pasar dan belanja oleh-oleh. Kamu pulang kapan?"
"Besok dini hari mas. Mas sendiri?"
"Pestanya sampe subuh biasanya Lun"
"Terus?" Ucap Luna sembari serius mengukir halisnya.
"Ya kamu jangan pulang jam segitu dong"
"Udah diatur sama perusahaan kan mas"
"Biar saya yang bilang sama Fadlan. Kamu cukup nurut aja sama saya" Kalau sudah begini, bagaimana Luna bisa membantah.
"Kamu check out jamberapa?"
"Kayaknya sampe besok siang masih aman"
"Biar gak usah bolak balik, checkout aja sekarang. Nanti biar aku yang bilang Fadlan" Perintah Anggara. Lagi lagi Luna tak bisa membantah.
"Iya mas" dengan sedikit malas Luna mengiyakan.
Demi mempersingkat waktu, Anggara membantu Luna membereskan barang-barangnya dan memasukkannya kedalam koper besar.
Saat mereka hendak keluar menuju lift, mereka berpapasan dengan Fadlan dan Denis yang terlihat baru saja keluar dari kamar masing-masing.
"Eh Ang? Masih pagi udah disini?" Tanya Fadlan yang sedikit terkejut. Tetapi sepertinya Denis lebih terkejut lagi.
"Eh Fad" ucap Anggara berhenti dan langsung merangkul Luna posesif. "Anak lo gue bawa dulu ya. Ada acara keluarga disini dan dia checkout sekarang dan gak pulang bareng sama penerbangan lo" Luna sedikit heran mengapa Anggara seperti ini padanya.
"Acara apa?" Tanya Fadlan kaku menatap pasangan itu.
"Nikahan adik bule gua. Yaudah kita duluan ya" ucap Anggara melanjutkan langkahnya yang masih merangkul Luna dan satu tangan yang lain menyeret koper.
"Pak Fadlan, pak Denis saya duluan ya.. Maaf" ucap Luna canggung.
"Iya hati-hati Luna" ucap Fadlan sembari mencoba tersenyum dan melambaikan tangan.
"Bos? Mereka ada hubungan?"
"Katanya sih sepupuan mereka" ucap Fadlan sembari menggedikkan bahunya. Denis hanya mengangguk saja.
Sedangkan Luna didalam lift terheran heran karena Anggara belum juga melepaskan rangkulannya.
"Mas dekat ya sama pak Fadlan?"
"Iya dia temen SMA aku"
"Jangan jangan dia yang desain kantor Gibson?"
"Iya kenapa?"
"Wah hebat!" Puji Luna. Anggara langsung melepas rangkulannya dan pergi keluar lift karena pintu lift sudah terbuka.
***
Mobil yang dikendarai bos kelapa sawit itu berhenti di baseement hotel mewah. Luna terheran, ia tahu hotel ini adalah hotel dimana Anggara menginap.
"Kok kita malah ke hotel?"
"Pakle ada disini. Diacheckin tadi malem seudah nginep beberapa hari di rumah mertuanya. Nikahannya juga di deket hotel ini kok" ucap Anggara dan Luna ber-oh ria.
"Nah itu pakle" ucap Anggara menunjuk keluar. Keduanya langsung keluar dari mobil tersebut.
Luna menyapa pakle dan bule juga kedua balita kembar yang masing-masing di gendong orang tuanya. Langsung saja Luna menyambar Adelio yang di gendong oleh bule Lia.
"Yaampun io, makin lucu makin chubby deh" ucap Luna gemas sembari mencubit kecil pipi Adelio yang tembam. Semuanya tertawa melihat respon Adelio yang nyaman berada di gendongan Luna.
"Yuk Ngga. Pake mobil yang satu lagi aja, takut gasruk lagi pake mobil bule mu mah" ucap Bintoro sembari berjalan ke salah satu mobil SUV hitam milik mertuanya.
"Biar pakle yang nyetir" ucap Bintoro.
"Asik" ucap Anggara kegirangan dan langsung masuk kekursi belakang diikitu Luna di bagian yang lain.
Perjalanan yang sedikit panjang memang karena jarak dari hotel ke lahan sedikit jauh dan dipelosok. Bintoro menyaksikan Luna dan Anggara yang bermain bersama Adelio lewat kaca sepion tengah.
"Kalian udah cocok toh. Kapan rencana?" Tanya Bintoro pada pengantin yang baru saja berumur sebulan itu. Anggara menatap Luna yang tertunduk kaku sembari menggigit bibir bawahnya.
***
Kira-kira Anggara jawab apa ya?
Eh kan Silvi lagi hamil. Pasti kalau berita itu sampai ditelinga keluarga besar, Silvi bakal dibanggakan dan Luna dilupain deh🙈
By the way judul novelku yang baru itu adalah "COMING BACK AS WE ARE"
Yuk baca yuk😘
Tbc-
kasihan mbak luna yg jd korban.
tapi y sdh lah, takdir kehidupan terus berlanjut, dengan jln ny masing2
Mugi yg bosan dengan usaha ny tuk tanggung jawab pergi.
raasain lo dilvi nikmati hasil yg kau tanam
pantes aja si silvi ngelunjak.
Anggara ny yg bego
udah di selinguhi, masih ja mau baikan.
stukurin ..bakalan ngebesarin anak orang yg nitip benih ny ke rahim silvi
tapi takut di cerai kan 😀😀😀
takit gsk dapatateri dari kamg Anggara 😁😁😁
gak bisa mov on dari istri tercinta ny yg terang2 an selingkuh di belakang ny.