Di balik senyumnya yang tenang, Arumi menyimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh. Pernikahannya dengan Ardi hanya tinggal formalitas. Demi puteri kecilnya, Kayla, Arumi bertahan.
Segalanya berubah ketika ia bertemu seorang psikiater muda, Dimas, yang baru saja bekerja di klinik psikiatri Dokter Arisa langganannya.
Dimas yang tenang dan hangat selalu membuat Arumi merasa didengar. Di ruang konsultasi yang seharusnya penuh batas, justru tumbuh perasaan yang tak diundang.
Tanpa Arumi sadari Kayla, puteri kecilnya yang cerdas, melihat semuanya. Ia tahu ibunya tidak bahagia. Ia juga tahu, ada cahaya berbeda di mata ibunya setiap kali pulang dari pertemuan dengan Mas Dokter —panggilan akrab Kayla pada Dimas.
Apakah perasaan Arumi pada Dimas yang tumbuh di ruang konsultasi hanya sebatas pelarian? Ataukah rumah yang selama ini Arumi rindukan?
Simak kisah selengkapnya dalam Mengejar Cinta Mas Dokter untuk Mama
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Antara Hasrat dan Akal Sehat
"Untung saja klien langsung menyetujui proposal yang kita ajukan," kata Damar lega sambil membereskan berkas-berkas yang masih berserakan di atas meja.
Ardi tersenyum. Saat sedang membereskan berkas-berkas miliknya, tangan Ardi tak sengaja menyentuh tangan Farida yang mengambil berkas yang sama.
"Ah, maaf," kata Ardi kikuk sambil melepaskan tangannya dengan cepat. Farida tersenyum.
"Oh. Ini berkas kamu. Maaf," kata Farida sambil memberikan berkas yang dipegangnya pada Ardi. Ardi mengangguk sambil tersenyum kikuk lalu menerima berkas dari Farida. Farida tersenyum.
"Kamu bareng aku atau..."
"Kamu duluan aja. Aku Masih ada urusan," kata Farida pada Damar.
"Oh. Oke. Kalo gitu saya duluan ya," pamit Damar pada Ardi sambil mengulurkan tangan.
"Oh. Ya. Terimakasih," kata Ardi sambil menjabat tangan Damar.
"Sama-sama. Aku duluan, Far," kata Damar pada Farida yang dibalas anggukan dan senyuman oleh Farida.
Damar berlalu meninggalkan Farida dan Ardi berdua. Farida menatap Ardi yang masih sibuk dengan berkas-berkasnya.
"Kenapa kamu blokir nomor ku?" tanya Farida pada Ardi tiba-tiba, membuat tangan Ardi berhenti membereskan berkas seketika. Ardi diam, mencoba mencari alasan.
"Kamu takut ketauan isteri mu?" tanya Farida sambil mendekatkan kursinya ke kursi Ardi. Ardi membeku.
"Atau... kamu merasa bersalah sama isteri mu?" tanya Farida lagi sambil mencondongkan badannya ke arah Ardi.
Ardi menelan ludah. Dia dapat mencium aroma parfum Farida yang begitu menggoda. Bayangan satu malam bersama Farida satu tahun yang lalu kembali muncul. Bibir kenyalnya, kulit mulusnya, dada montoknya, semua memenuhi ruang pikiran Ardi, membuat sesuatu dalam dirinya bergejolak. Farida tersenyum.
"Kamu jahat banget sih? Padahal malam itu..." Farida kembali menggeser tubuhnya lebih dekat. Tangan Farida perlahan mendarat di atas paha Ardi yang mematung. Farida mendekatkan bibirnya ke telinga Ardi.
"Kamu sangat bergairah... sampai aku kewalahan," bisik Farida. Nada menggodanya sukses membuat Ardi merinding dan menelan ludah susah payah.
Farida tersenyum lalu menarik tubuhnya bersandar ke sandaran kursi. Tangannya kembali ke atas meja.
"Malam ini... bagaimana kalau kita... nostalgia?" tanya Farida.
Senyum nakal dan menggoda menghiasi wajahnya. Dia bahkan sengaja menggesekkan kakinya ke betis Ardi. Ardi semakin menegang.
"Aku liat... kamu..."
"Maaf, aku harus pulang," kata Ardi lalu segera berdiri meninggalkan Farida, sebelum akal sehatnya benar-benar hilang.
Farida dengan cepat menarik tangan Ardi. Mata Ardi membulat.
"Kamu tega, Mas!" tiba-tiba Farida berteriak. Seluruh pengunjung resto hotel segera menoleh ke arah Ardi dan Farida.
Ardi menatap sekeliling. Sudah jelas mereka menganggap bahwa Ardi dan Farida adalah pasangan yang sedang bertengkar. Suara isak tiba-tiba terdengar. Ardi menoleh ke arah Farida yang entah sejak kapan sudah berderai airmata.
Ardi yang tak ingin mengganggu kenyamanan pengunjung lain segera memapah Farida keluar dari resto hotel, menuju lobi. Farida masih menangis —atau begitu kelihatannya— hingga tiba di lobi hotel. Ardi melepaskan tangannya dari tubuh Farida.
"Jangan pura-pura lagi. Aku benar-benar harus pulang," kata Ardi dingin lalu hendak berjalan keluar hotel saat tangan Farida kembali menariknya.
"Aku boleh nebeng? Aku janji, nggak akan ganggu kamu lagi," kata Farida dengan mata masih basah. Ardi menatap mata Farida sejenak.
"Oke," kata Ardi akhirnya.
Ardi berjalan menuju area parkir hotel diikuti Farida. Ardi merasa dia harus segera menyelesaikan masalahnya dengan Farida sebelum Farida kembali menjebaknya dengan godaan yang tentu saja memabukkan.
Dari sudut lain ruang lobi hotel, sepasang mata tengah mengawasi Ardi dan wanita yang dia tahu bukan isterinya. Rahang mengeras. Dada nyeri. Tangan mengepal.
'Apa yang dia lakukan dengan wanita itu?'
***
Ardi menghentikan mobilnya di sebuah rumah bergaya minimalis modern dengan cat warna tosca yang cerah. Suasana petang di sekitar sangat sepi. Bahkan sejak Ardi memasuki gang, mobil Ardi tak berpapasan dengan satu orang pun.
"Dah sampe," kata Ardi dingin. Farida meletakkan tangannya di atas paha Ardi dan mencondongkan tubuhnya ke arah Ardi.
Ardi hanya melirik. Dari sudut matanya, dia bisa melihat belahan dada Farida yang menyembul dari balik kemeja kerjanya.
"Mampir dulu, Mas," kata Farida lembut. Ardi bergeming.
"Nggak perlu. Aku harus..."
Tangan Farida yang bebas dengan cepat meraih wajah Ardi lalu memalingkannya menghadap Farida.
"Kenapa dari tadi kamu nggak mau liat aku, Mas?" tanya Farida sambil tersenyum nakal. Ardi menelan ludah.
"Aku mohon kamu hentikan ini," kata Ardi. Tangan Farida yang berada di paha Ardi perlahan bergerak ke atas.
"Kalau aku nggak mau berhenti... gimana?" tanya Farida, kali ini dia lebih mendekatkan tubuhnya pada Ardi, membuat Ardi benar-benar bisa melihat belahan dadanya yang seolah mengundangnya.
"Aku tau kamu pengen, Mas," kata Farida dengan senyuman nakalnya.
"Masuk dulu. Kita bisa nostalgia sebentar... atau lama. Terserah kamu," kata Farida semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Ardi yang sudah memanas.
"Aku tau kamu nggak bisa tahan liat aku. Iya kan, Mas?" Farida terus menggoda, terus mendekatkan wajahnya ke wajah Ardi. Ardi terus menelan ludahnya, mencoba menolak godaan yang terlalu menggiurkan untuk dilewatkan.
Saat Ardi tengah bergelut antara akal sehat dan hasratnya. Sesuatu yang kenyal dan basah menempel di bibirnya. Farida menciumnya! Di dalam mobilnya! Mata Ardi membulat. Dengan cepat Ardi mendorong Farida.
Bukannya marah, Farida malah tersenyum. Lalu kembali mencondongkan badannya ke arah Ardi.
"Aku nggak akan bilang siapa-siapa, Mas. Janji," kata Farida sambil mengikat rambutnya asal, memperlihatkan lekuk lehernya yang indah.
"Aku suka sama kamu dari awal kita ketemu," kata Farida, semakin mendekat lagi ke arah Ardi.
"Sayang, kamu udah nikah," lanjut Farida sambil terus mendekat pada Ardi. Ardi mematung, nafasnya memburu. Ada gejolak aneh dalam dirinya.
"Tapi... malam itu... waktu liat kamu begitu bergairah sama aku... aku seneeeeng banget," Farida makin mendekat.
"Artinya... aku bisa bikin kamu... puaaasss,"
Satu ciuman mendarat lagi di bibir Ardi. Lembut, kenyal, dan basah. Kali ini, Ardi tidak menolak. Farida tersenyum dalam ciumannya. Perlahan Farida mengulum bibir Ardi. Ardi terlihat menikmatinya. Dia mengulum bibir Farida yang kenyal dengan sedikit lebih kasar. Farida melepaskan dirinya lalu tersenyum ke arah Ardi.
"Ini baru pemanasan, Mas," kata Farida sambil tersenyum nakal.
"Mau yang lebih panas? Masuk dulu yuk. Sebentar aja," ajak Farida lagi.
Kali ini, Ardi seperti terhipnotis. Dia turun dari mobil, mengikuti Farida memasuki rumahnya yang sunyi. Begitu Farida mengunci pintu depan, tanpa aba-aba, Ardi langsung menghambur memeluk tubuh Farida, menciumi lekuk lehernya dari belakang sambil tangannya sibuk membuka kancing kemeja Farida satu per satu.
Farida tersenyum penuh kemenangan. Dia membalik tubuhnya menghadap Ardi lalu melumat bibir Ardi dengan nakal. Keduanya begitu hanyut dalam hasrat yang lama terpendam. Ardi mendorong Farida ke sofa ruang tamu. Kemeja kerja Farida yang sudah terbuka mengekspos dada yang sedari tadi mengundang untuk dijamah.
Pada akhirnya, gairah Ardi meluap, membuncah hingga mengalahkan akal sehatnya yang sedari tadi dia pertahankan.
'Sial! Ini terlalu... menggiurkan,'
***