"Papa tidak setuju!"
Terdengar suara tinggi Dion setelah mendengar keinginan anaknya, yang ingin menikah dengan pria yang berjarak 13 tahun dari sang putri.
"Aku ngga mau nikah, kalau bukan sama Om Alvin!" Sisil bersikeras.
"Tidak bisa!" tegas Dion. "Kamu itu masih muda, cantik, pintar. Jangan rendahkan diri kamu dengan menjadi PELAKOR!!"
***
Ingat, jangan nabung bab!
Follow IG : ichageul9563
Facebook : Khairunnisa (Ichageul)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman Alvin
“Eh ….”
Refleks Sisil memundurkan tubuhnya ke belakang. Dia langsung mengambil tisu yang ada di atas meja, lalu mengelap kaos Alvin yang basah.
“Duh … maaf ya, Om. Lagian Om jalannya ngga kedengeran, kaya maling aja,” ceplos Sisil tanpa saringan.
“Kamunya aja yang ambil minum sambil ngelamun. Mikirin si jus ya.”
“Kenapa jadi bawa-bawa Rian? Jangan-jangan Om cemburu ya?” goda Sisil.
PLETAK
Sebuah sentilan pelan mendarat di kening Sisil. Gadis itu langsung mengusap keningnya sambil meringis kesakitan, padahal sentilan Alvin tidak kencang.
“Lebay … Om sentilnya juga ngga kencang.”
“Tapi sakit Om,” jawab Sisil denga nada manja.
Alvin menyingkirkan tangan Sisil. Sekarang dirinya yang mengusap kening yang tadi disentilnya. Jantung Sisil langsung berdetak tak karuan. Buru-buru dia menjauh hingga usapan Alvin terlepas.
“Om mau minum? Biar aku ambilin.”
Sisil segera mengambilkan minuman untuk Alvin untuk menghilangkan kegugupannya. Alvin menarik kursi yang ada di dapur lalu mendudukkan diri. Segelas air putih langsung ditaruh di depannya.
“Kapan kamu mau ke Jakarta?”
“Ehm … nunggu surat dari kampus dulu, Om.”
“Kamu lama nanti di Jakartanya?”
“Kayanya iya deh, Aku sekalian mau nyusun usulan penelitiannya. Nanti Om bantuin ya?”
“Aman. Tapi nanti bimbingannya gimana?”
“Kan zaman udah canggih, Om. Tinggal bimbingan online. Pembimbingku bilang kalau lokasi penelitian di luar Bandung, boleh bimbingan online. Gitu aja kok repot.”
“Kalau kamu berangkat, bilang dulu. Nanti biar Om siapkan kamar untuk kamu.”
“Ok, Om. Aku ke kamar dulu ya.”
Hanya anggukan kepala yang diberikan Alvin. Sisil secepatnya meninggalkan dapur. Bersama Alvin terlalu lama ternyata tidak baik untuk kesehatan jantungnya. Jangan sampai dia jatuh dalam pesona pria beristri itu.
Sepeninggal Sisil, Alvin menghabiskan dulu minumannya, baru kemudian kembali ke kamarnya. Begitu masuk ke kamar, Alvin langsung mengganti kaosnya yang basah.
“Kok ganti lagi? Kenapa, Mas?” tanya Anyelir.
“Kaosku ketumpahan air.”
“Kok bisa?”
“Tadi Sisil nabrak aku,” jawab Alvin santai sambil mengganti kaosnya. Alvin tidak menyadari kalau apa yang dikatakannya memicu emosi Anyelir.
“Sisil lagi … Sisil lagi … ada apa sih sama tuh anak?” kesal Anyelir.
“Kamu kenapa sih? Dari tadi omonganmu selalu ngga jelas.”
“Apa Mas buta? Sisil itu dari tadi godain Mas terus! Dia itu masih muda tapi udah ganjen. Apa dia ngga laku sama laki-laki lain sampai harus mengejar Mas yang jelas-jelas beristri. Aku heran, gimana sih Mbak Kirana mendidik anak it—“
BRAK!
Ucapan Anyelir terhenti begitu saja ketika Alvin menggebrak pintu lemari dengan kencang. Wanita itu cukup terkejut melihat reaksi Alvin yang di luar prediksinya.
Mata pria itu melotot, rahangnya mengeras dan kemarahan jelas tersirat dari sorot matanya.
“Sisil, Bang Dion dan Kak Kirana adalah keluargaku! Kamu tidak berhak menghakimi mereka! Coba kamu berkaca, apa kamu lebih baik dari Kak Kirana?! Selama ini apa kamu pernah mengurusku? Memasakkanku makanan? Mengurus pakaianku? Apa pernah?!!”
“Mas … tolong pelankan suaramu. Jangan sampai mereka deng—“
“BIAR SAJA!!! Biar saja mereka tahu bagaimana rumah tangga kita!! Karena kenyataannya rumah tangga kita sudah tidak harmonis! Aku memiliki istri tapi seperti tidak punya istri. Sadar ngga kamu?!!”
Emosi Alvin langsung meledak ketika Anyelir mulai menjelekkan Sisil dan Kirana. Bahkan pria itu tidak peduli kalau sekarang mereka bukan berada di rumah sendiri. Dia sudah terlalu muak dengan sikap Anyelir.
Mulut Anyelir langsung terbungkam. Tidak ada sanggahan yang bisa dia berikan karena semua yang dikatakan Alvin nyata adanya.
Memang benar kalau selama ini dia sudah mengabaikan suaminya sendiri. Sikap posesifnya berbanding terbalik dengan upayanya menjalankan tanggung jawab sebagai seorang istri.
“Sekarang aku beri kamu pilihan, jalani kembali peranmu sebagai istri, atau jangan salahkan aku kalau aku mencari yang lain!”
Tanpa menunggu jawaban Anyelir, Alvin langsung keluar dari kamar. Saking kesalnya pada sang istri, pria itu sampai enggan tidur satu kamar dengannya.
Dengan langkah terburu, dia menuruni anak tangga. Di bawah, dia bertemu dengan Dion. Pria itu keluar dari kamar ketika mendengar teriakan kencang Alvin.
“Maaf, Bang. Aku pasti sudah mengganggu Abang.”
“Apa pertengkaran seperti ini sering terjadi?”
“Begitulah.”
“Kalau pernikahan sudah tidak memberi kenyamanan, untuk apa dipertahankan?” Dion menepuk pelan lengan Alvin. “Kamu tidur saja di kamar tamu yang di bawah.”
“Terima kasih, Bang.”
Dion menganggukkan kepalanya. Pria itu kembali ke kamarnya, sementara Alvin masuk ke kamar tamu yang ada di lantai bawah.
Sementara di kamar, Anyelir masih terpaku di tempatnya. Wanita itu masih shock dengan ucapan terakhir Alvin. Jangan sampai Alvin mencari perempuan lain sebagai penggantinya. Sungguh dia tidak sanggup melihat Alvin bersama wanita lain.
***
Sepulang dari Bandung, Anyelir mulai berubah. Dia selalu pulang kerja tepat waktu. Menyempatkan diri memasak untuk suaminya atau menemaninya makan. Anyelir juga tidak pernah datang ke mini market untuk mencari gara-gara dengan pegawai wanita.
Wanita itu menjadi lebih kalem. Sepertinya ancaman Alvin tempo hari cukup membuatnya ketakutan juga. Anyelir mulai menjalankan perannya sebagai istri yang baik.
Dua minggu sudah Anyelir menjalankan perannya sebagai istri. Selama itu pula rumah tangganya dengan Alvin berjalan harmonis, tanpa pertengkaran atau teriakan.
Wanita itu tidak pernah mengambil lembur lagi dan lebih banyak menghabiskan waktu libur di rumah.
Melihat sikap Anyelir yang berubah, Alvin mulai bersikap lunak. Di saat Anyelir libur, Alvin menyempatkan diri menemani sang istri dengan berjalan-jalan atau berdiam di rumah.
“Nye … gimana kalau senin besok, kita ke dokter kandungan?” tanya Alvin. Saat ini keduanya tengah bersantai di ruang tengah sambil menonton televisi.
“Ehm … kalau jangan Senin gimana?”
“Memangnya kenapa?”
“Hari Senin kebetulan aku dapat tugas ke Blue Mart yang ada di Medan. Cabang di sana ada sedikit masalah, jadi tim keuangan dari Jakarta yang dikirim ke sana. Aku termasuk yang terpilih,” jawab Anyelir ragu-ragu. “Tapi kalau Mas ngga mengijinkan, aku bisa menolak kok. Biar temanku aja yang ke sana,” lanjutnya cepat.
“Itu kan urusan kantor, kamu tetap harus professional. Berapa lama kamu di Medan?”
“Tergantung situasi di sana, Mas. Paling cepat tiga hari, paling lama seminggu. Ngga apa-apa kan, Mas?”
“Iya.”
Anyelir nampak senang mendapat ijin dari suaminya. Setidaknya dia bisa pergi ke Medan dengan perasaan tenang.
***
Alvin mengantarkan Anyelir ke bandara. Wanita itu akan terbang menggunakan pesawat komersil. Dia tidak berangkat sendiri, melainkan bersama dua rekannya, salah satunya adalah Sandi.
Pria itu mengantarkan Anyelir sampai ke depan pintu pemeriksaan pertama. Anyelir memeluk dulu suaminya.
“Hati-hati di sana. Jangan lupa makan,” pesan Alvin.
“Iya, Mas.”
“Hubungi aku kalau sudah sampai di sana.”
“Iya.”
“Aku pulang dulu.”
Alvin mencium kening Anyelir sebelum melepas sang istri.
Sepeninggal Alvin, Anyelir segera melewati gate pemeriksaan lalu bersama dua rekannya menuju boarding lounge. Rekan Anyelir yang bernama Dicky itu menaruh tasnya kemudian bergegas menuju toilet.
Hal ini dimanfaatkan Sandi untuk mendekati Anyelir. Dia merapatkan duduknya ke dekat wanita itu seraya memeluk pinggangnya. “I miss you,” bisiknya pelan di telinga Anyelir.
***
Gimana reaksi Anye?
yg penting nti di Ending om Alvin ttp sma sisil🤭