NovelToon NovelToon
BANGKIT DARI LUKA

BANGKIT DARI LUKA

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

Amira 3 Tahun Jadi TKI, melunasi hutang keluarga suami
meninggalkan dua anaknya yang masih kecil
saat pulang di mendapatkan
arjuna anak sulungnya usia 7 tahun sedang di pukul oleh seorang wanita
wanita itu adalah istri muda suaminya
anak keduanya saat itu usia 1 tahun tidak ada di rumah
Hati Amira hancur namun dia harus tetap hidup
sebuah kisah kebangkitan wanita

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

dewi berantem

Beberapa hari berlalu. Waktu berjalan pelan, seperti enggan bergerak dari keadaan mereka yang serba kekurangan. Pagi berganti siang, siang berganti sore, tanpa perubahan berarti. Hidup mereka terasa datar, tetapi di dalamnya penuh tekanan yang terus mengendap.

Amira hanya tinggal di rumah. Tangannya sibuk memasak, membersihkan, dan merapikan barang-barang seadanya. Bau bawang goreng dan nasi hangat sering memenuhi ruangan sempit itu. Ia juga memperhatikan Dewi dan Arjuna yang mulai akrab, meski dengan cara yang unik.

Dewi tertawa keras saat bermain, suaranya memenuhi rumah. Arjuna hanya tersenyum tipis, mengikuti dari belakang. Kadang Dewi menarik tangannya, kadang memaksanya berlari. Debu menempel di kaki mereka, dan keringat membuat baju mereka lengket.

Amira melihat dompetnya. Uang tinggal satu juta rupiah. Jari-jarinya menyentuh lembaran uang itu perlahan, seolah berharap jumlahnya bertambah. Tapi tidak. Tetap sama, dingin, dan menakutkan.

Kepalanya berdenyut keras. Rasa nyeri menjalar dari pelipis hingga tengkuk. Ia memikirkan berbagai cara untuk menghasilkan uang, tetapi semuanya terasa buntu. Setiap ide datang, lalu hilang sebelum sempat berkembang.

Untuk makan Dewi saja, sehari bisa menghabiskan uang seratus ribu. Porsi anak itu tidak biasa. Setiap suapan seperti menghapus isi dompet sedikit demi sedikit. Amira hanya bisa menarik napas panjang setiap kali melihatnya makan.

Belum lagi kebutuhan lain. Token listrik yang harus diisi, kontrakan yang tidak bisa ditunda. Semua seperti antre menunggu untuk menghabiskan sisa uangnya. Tidak ada yang bisa dihindari.

Beberapa kali ibunya akan pergi untuk mengemis. Nanda berdiri di dekat pintu, siap melangkah. Namun Amira selalu menahannya. Ia tidak mau ibunya kembali ke jalan seperti dulu.

Angin berembus pelan, menerpa wajah Amira yang duduk di depan rumah. Udara sore membawa bau debu dan asap kendaraan. Ia melihat orang lalu lalang menjalankan aktivitas masing-masing.

Ada yang berjualan keliling. Suara roda gerobak berderit pelan, suara pedagang memanggil pembeli terdengar berulang. Amira memperhatikan lama. Sempat terlintas untuk berdagang, tetapi ia ragu.

Ia tidak punya keahlian berdagang. Ketakutan mulai merayap. Bagaimana kalau uang satu juta itu habis begitu saja? Bagaimana kalau usahanya gagal? Pikiran itu membuat dadanya semakin sesak.

Amira juga sempat memikirkan kembali menjadi TKI. Namun bayangan lama langsung muncul. Anak-anaknya terlantar, hidup tanpa perhatian. Ia tidak mau mengulangi kesalahan yang sama.

“Kenapa melamun saja?” Nanda membuyarkan lamunan Amira.

“Uang tinggal satu juta, Mah,” Amira menatap ibunya.

“Ya sudah, biarkan saja ibu ngamen dan mengemis lagi. Porsi makan Dewi memang banyak,” jawab Nanda enteng.

“Jangan, Mah,” Amira buru-buru melarang. “Aku tidak akan pernah membiarkan Mamah mengemis lagi.”

“Terus bagaimana?” ucap Nanda. “Uang satu juta paling kuat seminggu, Amira. Kalau aku tidak mencari uang, bisa-bisa Dewi kelaparan.”

“Apa aku pergi saja jadi TKI, Bu?”

“Silakan,” Nanda berkata dengan yakin.

“Serius, Bu?” Amira mengerutkan dahi heran.

“Ya, asal kamu jangan melarang ibu mengemis. Kalau kamu pergi, kedua anak kamu itu akan aku ajak mengemis,” jawab Nanda mantap.

“Kenapa, Bu?”

“Aku tidak melarang kamu jadi TKI, maka kamu jangan pernah melarang aku untuk mengemis.”

Amira menghela napas berat. Dadanya terasa sesak. Ia menunduk, menatap lantai yang retak seperti hidupnya.

“Aku tidak jadi pergi.”

“Bagus. Kamu itu punya banyak keahlian. Masakan kamu juga enak. Bagaimana kalau kamu berdagang saja?”

“Itu sudah aku pikirkan, Bu. Tapi aku tidak ada pengalaman berdagang. Aku takut gagal, Bu.”

Nanda menatap Amira tajam. Ada keyakinan dalam sorot matanya.

“Coba kamu pikir, apakah kamu kepikiran akan jadi TKI, dan apakah kamu punya pengalaman sebelumnya?”

Amira menggelengkan kepala. Ingatan lama kembali muncul, terasa pahit.

“Kamu menjadi TKI karena kamu mencintai Rudi, si bajingan itu. Kamu yang tidak pernah mengalami perjalanan jauh rela menempuh perjalanan jauh demi si Rudi itu,” ucap Nanda menohok hati Amira. “Apakah kamu punya pengalaman jadi TKI?”

Amira menggelengkan kepala. Dadanya terasa nyeri.

Nanda kembali menatapnya. “Apakah kamu pernah menyangka kalau Mamah akan jadi pengamen jalanan, bahkan mengemis?”

“Mamah sangat tergantung sama Bapak. Rasanya tidak mungkin Mamah mau jadi pengemis.”

Nanda berkaca-kaca. Suaranya bergetar pelan.

“Bapak kamu lelaki paling baik. Selama berumah tangga, dia selalu memanjakan kita. Makanya badannya kurus kering karena kita selalu bertengkar. Dia selalu dalam dilema memilih aku atau kamu.”

Nanda menarik napas.

“Dia mencari nafkah dengan bekerja keras. Setelah bekerja keras, dia juga mengurus rumah, memasak. Dia sama sekali tidak membiarkan Mamah bersusah payah.”

Amira ikut berkaca-kaca. Kenangan itu terasa hangat sekaligus menyakitkan.

“Asal kamu tahu, Bapak kamu meninggalkan dua rumah kontrakan agar Mamah bisa hidup tanpa bekerja setelah Bapak kamu meninggal.”

“Terus rumah dan kontrakan itu Mamah jual demi Dewi, kan?”

Nanda menghela napas berat.

“Benar kata orang, situasi sulit akan menghasilkan orang-orang tangguh, sedangkan situasi yang enak menghasilkan orang pemalas seperti ibu. Selama hidup tidak pernah mengalami masalah berat.”

Ia berhenti sejenak.

“Saat aku dihadapkan dengan Dewi yang sakit, aku hanya bisa menjual semuanya dengan murah.”

Nanda menghela napas berat.

“Maafkan Mira, Mah.”

Nanda menatap Amira.

“Kamu pikir rumah dan kontrakan itu lebih berharga dari Dewi? Aku tidak pernah menyesal kehilangan semua itu. Yang aku sesalkan adalah kenapa aku tidak punya kemampuan menghasilkan uang.”

Ia berkata pelan.

“Akhirnya, demi Dewi, aku mengemis di jalanan.”

“Iya, Bu. Terima kasih sudah melakukan yang terbaik untuk Dewi.”

“Ya, makanya kamu jangan pernah ragu untuk menghasilkan uang banyak. Masakan kamu enak. Kamu bisa berdagang. Jangan takut rugi dan tidak punya pengalaman berdagang.”

Nanda menatap dalam.

“Jika tidak punya pengalaman, maka pengalaman itu harus diciptakan.”

“Iya, tapi sebaiknya aku cari kerja saja, Bu.”

“Kerja apa?”

“Ya banyak kerjaan, Bu.”

“Dengan porsi makan Dewi yang banyak seperti itu, apakah dengan bekerja kamu bisa memenuhi semuanya?”

Amira kembali bingung. Suara tawa Dewi terdengar dari luar.

“Hanya dengan berdagang kamu akan menjadi kaya raya, Amira. Kalau kamu jalan-jalan di pasar induk, mereka orang-orang kasar, pakaiannya sederhana, tapi penghasilan mereka melebihi gaji para karyawan dengan jabatan yang tinggi. Berdagang adalah jalan terbaik memenuhi nafsu makan Dewi.”

“tapi aku takut malah uangku habis bu, berdagang itu memang bisa menghasilkan uang banyak tapi resikonya juga besar”

“hidup itu jangan terlalu banya berfikir amira, kalau kamukehabisan uang tinggal ngemis di jalan beres semua perkara”

“aku enggak mau ibu mengemis lagi”

“ya sudah kamu harus dagang”

Amira menghela napas panjang. Keputusan itu terasa berat, tetapi tidak ada pilihan lain.

“baiklah bu aku akan dagang keliling ibu,menjual lauk nasi”

“nah bener itu, biar anak-anak ibu yang jaga”

“ngomong-ngomong dewi dan arjuna kemana?”

Belum sempat Nanda menjawab, tiba-tiba terdengar langkah kaki tergesa. Arjuna muncul, berlari dengan napas tersengal. Wajahnya panik, keringat membasahi dahinya.

“mamah,,nenek,,,dewi” napas arjuna tersengal sekarang badannya mulai berisi walau masih kurus

“ada apa nak?”

“dewi mah dewi” ucap arjuna

Perasaan Amira langsung tidak enak. Dadanya berdegup cepat.

“ada apa dengan dewi”

“dewi berantem mah,,dia keroyok anak lelaki”

“apa” ucap amira panik

“dimana dia sekarang? Dan kenapa kamu tidak menolongnya” raut muka amira terlihat kecewa

1
nunik rahyuni
karena rukonya sarsng preman mabuk mabukan...iya tak mira🤔🤔🤔
nunik rahyuni
g ada takut takut dewi ni ...hebat...hasil didikan nenek nanda g menye menye...
ayo semangat demi masa depan yg cerah..secerah duit merah merah di dompet dan bawah kasur🤣🤣🤣🤣
nunik rahyuni
kok adik thor bukanya ansk2 nya 🤔
nunik rahyuni
iya nek berapa pun yg di dapat harus di syukuri
nunik rahyuni
banyak banyak up thor.....semangat sehat selalu thor 💪💪
nunik rahyuni
kulihan apa hayo....iwak kah emas lah🤔🤔🤔 pina nyaring kuciak🤣🤣
sunaryati jarum
Dapat harta Karun
sunaryati jarum
Semangat Amira , sekarang kalian sudah bersatu menjadi kuat.Wah Dewi mau mengurangi porsi makannya dengan kemauan sendiri,semoga Juna tumbuh jadi pemuda kuat dan gagah sedangkan Dewi jadi gadis cantik.Keduanya jadi manusia bermartabat.
sunaryati jarum
Lanjut dan Semangat semoga Bu Nanda bisa menolong orang yg akan dibegal dengan balok kayu yang dibawanya, kemudian saling tolong agar Nanda dan Amira bangkit jadi orang sukses lalu bisa membalas perbuatan mantan suami dan keluarganya
Anonim
Lanjut thor seru ,up nya jangan dikit dikit thor
nunik rahyuni
mangga di lanjutken thor triple up 🤣🤣✌️✌️✌️
nunik rahyuni
g sopan manggil ibu kok langsung nama nya
nunik rahyuni
bener itu...merusak pemandangan...penebar janji palsu
ambil j nek buat alas tidur🤣🤣
Anonim
Lanjut thor buat amira ibu nya dan anak anak nya bangkit dan bisa balas dendam thor
nunik rahyuni
g da habis habis nya ujian dan penderitaan..
Anonim
Lanjut thor up nya banyakan dong
nunik rahyuni
tegang thor..tahan nafas ikit memburu cari udara
huuuuh...akhirnya
mudah mudahan mereka lekas bangkit..menyusun masa depan dg kuat dan tegar
nunik rahyuni
judulnya bangkit dr luka..tp klo menye menye kya itu masih lama lg bangkitnya
yg ada di tindas terus
nunik rahyuni
ujian datang lagi...
semangat thor banyak banyak up tiap hari
💪💪💪💪
nunik rahyuni
aq setuju sama nanda...mira terlalu bodoh..polos atau picik atau pengecut sdh merasakan di hiba direndahkan dihianati sama lakinya masih ssja bodoh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!