Rivaldo Xendrick yang mengalami cacat fisik akibat terkena siraman air keras dari selingkuhan kekasihnya yang bernama Lucas Anderson.
Kecacatan fisik itu, membuat hidupnya menderita dan dicampakkan oleh semua orang. Banyak orang yang menjauh darinya karena menganggap bahwa Rivaldo sebagai monster yang menakutkan. Hidup menggelandang tanpa siapapun yang peduli akan hidupnya, sampailah suatu hari, ada seorang wanita yang suka rela merawat dirinya dengan tulus.
Bagaimana kehidupan Rivaldo setelah itu? Akankah ia bisa bangkit kembali dari keterpurukannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liska Oktaviani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta Seorang Bos Mafia : Episode 32
Halaman belakang rumah.
Kini tampak beberapa pria tengah berdiri dengan tegap mengawasi dua pria yang sedang asik berlatih menembak. Rivaldo terlihat begitu intens menembak, gaya dan caranya membidik membuat Morgan merasa tersaingi.
Kemampuan Rivaldo dalam menembak sangat bagus. Patut diacungkan jempol, beberapa kali bersaing dengan Morgan menembak sebuah botol kaca, membuat Rivaldo tidak menyerah untuk hal itu.
Menembak adalah hobi dan bakatnya sejak kecil. Disaat berusia 10 tahun, ia sudah bisa menguasai beberapa senjata api dan bahan peledak lainnya. Itulah Rivaldo, tidak sia-sia jika selama ini, Rohan mengajarkannya menembak.
“Cukup! Aku akui bahwa dirimu hebat, aku tak sanggup lagi untuk bertarung denganmu.” Morgan meletakkan senjata apinya, dan membuka kacamatanya. Ia menepuk pelan pundak Rivaldo.
“Kenapa menyerah? Bukankah ini hanya pemanasan?” Rivaldo mengerutkan dahinya heran, satu alisnya terangkat.
“Aku sudah tak sanggup lagi, Rivaldo. Aku akui bahwa kau ahlinya. Sesuai apa yang aku katakan padamu, bahwa aku akan memberikanmu anak cabang yang bergerak di bawah naunganku, aku akan mengubah menjadi namamu.” Morgan tampak mengatur nafasnya yang tengah memburu.
“Aku tidak ingin dirubah menjadi namaku, ubah saja menjadi RD,” ujar Rivaldo pelan, sambil melepaskan kacamata hitam yang dipakainya.
“RD? Apa itu, Boss?” cela Nathan bertanya, nama itu seperti asing di telinganya.
Pria itu hanya tersenyum, ia tidak ingin memberitahukan kepada Nathan jika itu adalah singkatan antara namanya dan nama Denisa, ia sengaja mengusulkan nama itu, agar menjadi kenangan antara dirinya bersama orang yang ia cintai.
“Jangan kepo!” pria itu terkekeh, “Morgan, aku ingin nama itu menjadi RD.”
“Baiklah jika itu maumu, Rivaldo. Aku harap, kita akan sama-sama sukses di bidang apapun. Tetap menjalin pertemanan, tanpa memandang status ataupun keadaan.” Morgan menepuk pelan pundak Rivaldo. Lalu pria itu segera pergi dengan anak buahnya, meninggalkan Rivaldo dan Nathan berdua saja.
Kedua pria itu menatap kepergian Morgan, bagi Rivaldo, pria itu sangat ramah dan juga baik hati. Morgan memberikan segalanya untuk kebaikan dirinya, pria itu tampak berjasa di dalam hidupnya.
Akankah ini awal dari kebangkitannya nanti? Ya, semoga saja.
Rivaldo meletakkan senjata api milik Morgan di atas sebuah meja, ia mendudukan dirinya di atas kursi, yang berada di taman belakang rumah milik Morgan. Sedangkan Nathan mengikuti Rivaldo.
Pria itu menarik nafas panjang, dan mengembuskannya perlahan. Senyuman indah, terukir di wajahnya, ia kembali mengingat wajah cantik Denisa, baru dua hari pergi, rasanya sangat merindukan gadis itu.
Gadis yang telah memikat hatinya, meski pertemuan mereka sangat singkat.
“Boss,” panggil Nathan seraya mengibaskan tangannya ke hadapan pria itu.
“Ada apa?” Rivaldo menghadapkan wajahnya menatap Nathan yang ada di sampingnya.
“Kenapa kau senyum-senyum sendiri? Apakah ada yang kau sembunyikan dariku?” Nathan cemberut, ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh pria itu. Tapi apa?
“Cepat atau lambat, kau sendiri akan tahu jawabannya. Ya sudah, jangan dibahas lagi, Nathan. Ayo temui Morgan, aku akan menagih janjinya untuk memberikanku sebuah cabang.” Rivaldo tersenyum miring, ia beranjak dari tempat duduk itu, meninggalkan Nathan sendirian. Pria itu tampak kebingungan serta penasaran. Apa yang telah disembunyikan oleh Rivaldo dibelakangnya.
Dengan perasaan bahagia, Rivaldo kembali melangkah ke rumah utama milik Morgan, ia bergegas menuju ruangan pribadi Morgan.
Pintu ruangan itu sama sekali tidak terkunci, Rivaldo melihat pria itu tampak fokus dengan dokumen yang ada di tangannya.
“Morgan,” panggil Rivaldo melangkah masuk, dan mendudukan dirinya di hadapan Morgan.
“Ya?” tanya Morgan singkat, tanpa menatap ke arah pria yang ada di hadapannya.
“Bagaimana dengan janjimu? Kapan aku bisa mulai merintis karierku, Morgan?” Rivaldo dengan tenang, melontarkan pertanyaan itu.
“Mungkin besok, kau sudah bisa memulai kembali, Rivaldo. Tapi aku ingin bertanya denganmu lebih dalam, bolehkah aku bertanya padamu?” Morgan menaruh dokumen itu, beralih menatap Rivaldo dengan dalam.
“Katakan apa itu, Morgan?” Rivaldo menaikan alisnya, bingung.
“Apakah kau merasa dendam kepada orang tua dan adikmu?” Morgan melontarkan pertanyaan itu, membuat hatinya kembali memanas.
“Tentu, mereka mencampakkan aku dan membuangku dengan seenaknya. Bahkan pria yang sama sekali tidak bersalah pun, nyaris kehilangan nyawa karena ulah adikku, Raynand.” Rivaldo mengeraskan rahangnya, kedua tangannya mengepal—menahan emosi.
“Apakah kau ingin membalaskan dendam itu?” tanya Morgan lebih dalam lagi.
“Tentu saja, Morgan. Bagaimana bisa aku hanya berdiam diri? Disaat mereka sudah mencampakkan dan membuang aku? Bahkan jabatanku saja sudah direbut oleh Raynand. Bagaimana bisa aku mengiklashkan itu semua?” Rivaldo tersenyum miring, ia sama sekali tidak bisa melupakan penghinaan dan cacian dari kedua orang tuanya.
“Bolehkah aku bercerita tentang siapa diriku, Rivaldo?” Morgan kembali bertanya kepada laki-laki itu.
“Tentu saja, ceritakanlah siapa dirimu. Agar kita saling mengenal,” kata Rivaldo mempersilakan pria itu berbicara.
“Kau tahu paman Abed? Dia adalah ayahku. Kau pasti mengingat siapa Abed, dia orang yang pernah menjadi sopir ayahmu pada waktu 15 tahun lalu. Bukankah kau tahu bahwa Abed meninggal dunia karena disiksa hingga tewas dengan tangan ayahmu, Rohan? Kepergiaan ayahku, sangat membuat perubahan besar di hidupku,” jelas Morgan denga serius, ia masih mengingat dengan jelas memori yang diberikan Rohan padanya.
“Akankah Rohan begitu, Morgan?” Rivaldo tak percaya dengan apa yang dikatakan pria itu.
Jadi selama ini, menghilangnya paman Abed—sang sopir pribadi keluarga mereka, ternyata Rohan lah yang tega menghabisi nyawa laki-laki paruh baya itu.
“Ya, dia tega menghabisi nyawa ayahku, hanya karena ayahku tidak sengaja memecahkan kaca mobil sport miliknya yang pada waktu itu berwarna gold.” Morgan mengingat kembali memori itu, ia sungguh merasa kesal terhadap Rohan.
Rivaldo benar-benar menatap tak percaya. Rohan tega melakukan hal itu pada Abed—sopir pribadi mereka, Abed adalah sosok pria yang selalu menghibur Rivaldo dikala sedih. Selama ini, ia tidak pernah berjumpa dengan Morgan.
“Morgan, laki-laki tua itu harus mati! Karena nyawa harus dibalas dengan nyawa. Balaskan kematian paman Abed dalam waktu dekat. Aku ingin sekali melihatnya menderita. Dia tega menghabisi nyawa Abed dengan tangannya sendiri. Maka aku, akan mematahkan kedua tangannya juga!” Rivaldo mengepalkan kedua tangannya, rahangnya mengeras.
“Tenanglah, aku sudah mempunyai rencana. Disaat bisnismu sudah naik daun, kita akan menginvestasikan dana dengan skala besar kepada perusahaan Xendrick Group. Percayalah padaku, aku akan membuatmu kembali menjadi pemimpin di sana,” jelas Morgan dengan senyuman di wajahnya.
“Lalu maksudmu, kita akan merebut kembali perusahaan itu dari tangan Raynand? Dan akan melenyapkan mereka secara bersamaan?” Rivaldo menatap bingung, ia mengerutkan dahinya.
“Suntikan dana ke perusahaan itu harus skala besar. Lalu kita akan membuat Xendrick Group menjadi gulung tikar, sehingga menjual semua perusahaannya kepada kita. Aku yakin, bahwa Raynand tidak memiliki kemampuan untuk mempertahankan perusahaan itu.” Morgan tersenyum menyeringai, Rivaldo pun ikut tersenyum.
Ternyata Morgan mempunyai dua sisi, sama seperti dirinya, ia bisa menjadi baik, dan juga bisa menjadi jahat. Ketika melihat seseorang tidak bisa menghargai dirinya.
Kala bener Rivaldo seorang Mafia, dia akan menugaskan anak buah nya utk membuntuti dan melaporkan setiap gerak gerik nya Viona, melaporkan segala rencana buruknya...
Tapi Rivaldo bukan Mafia, cuma pedagang senjata aja...