NovelToon NovelToon
Tomboy Insyaf

Tomboy Insyaf

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Teen School/College / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Chicklit / Tamat
Popularitas:55.9k
Nilai: 5
Nama Author: diahps94

Bosan dengan gaya hidup ugal-ugalan, mencoba menyelami jati diri yang mungkin terpendam dalam palung jiwa, merubah penampilan dan tabiat. Dari yang mulanya di tuduh sebagai salah satu ciri tanda kiamat, menjadi seorang ukhti. Baru terjun dalam hal baik langsung ditempa dengan cobaan hidup masa sekolah. Dirundung karena terlalu berbakat, dan penuh cinta, lantas timbul iri dengki teman sebangku yang menjelma bagai dewi nyatanya seorang munafik. Menghasut orang lain untuk membenci Aluna.

Bisakah Aluna mempertahankan kehidupan SMA nya tanpa kembali menjadi tomboy?
Mari ikuti kisahnya. :)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diahps94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32. Nasib Baik

"Cuma pingsan kok dek, jangan terlalu cemas, semuanya normal." Ucap petugas kesehatan di puskesmas.

"Tapi di patok ular loh ini Bu." Bondan dengan segala tingkah sok tahunya.

"Tidak dek, tenang saja Aluna baik-baik saja, nanti kita antarkan dengan ambulance kalau sudah sadar, sementara biar kami jaga dulu, kau terlihat tak percaya dan berniat membawa ke rumah sakit." Ucap dokter jaga.

"Hehehhe, ibu kok tahu saja, peramal ya." Tuding Bondan.

"Bukan, dukun pijat. Sudah sana temani Vebby, ibu rasa malah Vebby yang butuh di perhatikan." Usir sang dokter, gedek dengan tingkah Bondan yang bolak-balik masuk ruang pemeriksaan, padahal pasien lain sedang di periksa.

Dipulangkan dengan mobil ambulance, semua warga berbondong-bondong ke rumah Aluna. Geger, di kira ada hal buruk menimpa keluarga Aluna. Mengingat sang kepala keluarga yang koma, tak menutup kemungkinan kembali pada sang pencinta. Aluna yang di kerumuni para tetangga hanya bisa tersenyum lemas.

"Ya Allah, ibu kira ada apa, cuma pingsan aja toh neng Aluna."

"Segala bawa ambulance, minta di getok kepala petugas puskesmas."

"Neng Aluna sakit apatoh, kok bisa sampai pingsan."

"Apa benar di patok ular kaya kata temannya tadi?"

"Haduh, inilah ibu-ibu udah tahu sakit bukannya kasih kesempatan buat istirahat malah mendadak jadi reporter, hush-hush pulang dulu sana, udah mau magrib." Dasarnya Vebby anak pemuka wilayah setempat, kelakuan suka seenaknya.

"Ih neng Vebby, mani galak pisan."

"Iya ih, nanti jodohnya tertindas."

"Embung ah punya mantu kaya neng Vebby mah."

"Siapa juga yang mau jadi mantu ibu-ibu sekalian, udah ih balik dulu sana, itu anaknya pada ingusan belum mandi." Kesal Vebby.

"Yeuhh, yaudah neng Aluna buru sehat ya, kita pamit."

"Iya neng, kalau bisa mah jangan ketularan neng Vebby judes ya."

"Iya, pengaruh buruk si Vebby mah."

"Masih aja bawel ih, nggak pulang-pulang jadinya." Gerutu Vebby.

Pergulatan Vebby dan ibu-ibu tetangga berlangsung sengit. Nyatanya tak cukup pengaruh Vebby untuk membuat ibu-ibu pulang ke rumah masing-masing. Meski adu mulut, sejatinya hanya candaan semata. Warga desa dan Vebby tahu watak masing-masing, jadi tak ada kata tersinggung dalam setiap kata. Toh, warga justru sayang pada Vebby, sering membagikan hasil panen ke warga tanpa persetujuan orangtuanya. Pernah hampir seperempat bagian dari hasil panen semangka dibagikan karena dia kesal dengan sang papa. Memang kekesalan orang kaya beda dengan kaum duafa.

Para tetangga yang budiman baru pulang, setelah bertemu dengan Mawar. Bergosip ria sampai magrib berlalu. Namanya ibu-ibu, sekali duduk satu kampung dibahas. Rumah mendadak sepi saat mereka benar-benar pergi. Bondan, Eva, dan Vebby juga pamit pulang, setelah memastikan kondisi Aluna aman. Tenang saja, mereka pulang untuk mandi dan bawa bekal menginap. Sudah dilarang, dasarnya bebal, Aluna bisa apa.

"Kakak terluka lagi?" Karin menatap Aluna, matanya berkaca-kaca.

Aluna sadar adiknya bersedih hati. "Hei, kau tak lihat kakak mu ini jagaon, cuma sakit sebentar saja nanti waras bugar kembali."

"Tidak, akhir-akhir ini kakak lebih sering jatuh sakit ketimbang aku yang memang dari kecil penyakitan, kehujanan sedikit saja sakit tiga hari, kakak itu kuat, saat sakit begini, aku merasa sakit juga." Ungkap Karin akan isi hatinya.

"Sini-sini, adik bayiku jangan sedih dong, kakakmu ini bersyukur loh, dengan sakit begini jadi bisa menghabiskan waktu di rumah." Hal yang paling jarang Aluna lakukan.

"Aku benci Tina, kuntilanak hidup tak berperasaan. Arghhhhhhh, aku benci sampai ke tulang pokoknya." Teriak Karin.

"Shhhht, tak boleh begitu, kaya kita tak pernah nakal saja." Larang Aluna.

"Dia seenaknya berbuat kepada kakak, aku tak terima, hanya aku di dunia yang boleh bertindak semaunya ke kakak." Sungut Karin.

Masih belum puas dia terus mencurahkan isi hati. "Dia siapa, dikasih hati malah melukai organ lainnya. Ku rasa iblis pun taat aturan."

"Heeeaahhhh, nanti kalau ketemu akan ku jambak sampai kulit kepalanya lepas dari tempurung." Karin membayangkan terlalu jauh.

"Kau terdengar psikopat Karin, sudah sana mandi dulu nanti Bondan kesini kau masih bau, tak malu?" Goda Aluna.

Karin lari tunggang-langgang, tanpa pamit tujuan hanya satu yaitu mandi sebelum tambatan hatinya datang. Aluna berbaring kembali, pesan sang ibu untuk banyak-banyak istirahat harus dilakukan. Toh, petugas kesehatan juga berucap hal yang sama. Jadilah, dia menarik selimut sampai ke batas dada. Memejamkan mata, dan airmatanya jatuh begitu saja. Dia tak sedikit pun merasa sedih, tapi matanya tak bisa diajak kerjasama. Mata tak bisa bohong, kalau hatinya kecewa.

Persahabatan sebelum menikah adalah hal terindah, tak ada beban mau menginap dan melakukan hal gila lainnya bebas saja. Vebby datang, lima belas menit setelah pamit, disusul Bondan yang membawa Eva dan Wahyu tepat pukul sembilan. Sesuka hati ngampar di kamar Aluna. berbagi cemilan dan aneka minuman, bahkan tak ada rasa jijik saat minum satu sedotan yang sama. Aluna bersyukur punya mereka.

"Bondan dan Wahyu nanti tidur di luar loh ya, jangan di kamar Aluna." Mawar memperingati, jangan sampai kecolongan.

"Iya-iya Bu, tenang saja calon mantu mu ini lelaki sejati." Memukul dadanya sendiri, Bondan yakin akan kalimat itu.

"Ah yang benar, kapan lalu ibu lihat kau dan Karin peluk-peluk di dapur, untung tak langsung ibu bawa ke KUA." Sindir Mawar.

"Astagfirullah Bondan, kalian selama ini?" Eva.

"Karin jangan sampai kau melangkahi kakakmu." Vebby.

"Gatel amat jadi laki." Wahyu.

"Tidak-tidak sepenuhnya peluk-peluk, ish ibu mah kan Karin bilang kak Bondan kepeleset kulit pisang, mau jatoh malah ngerangkul aku, jadi kaya pelukan loh Bu, kan ibu liat sendiri ada bekasnya." Karin membela diri.

"Ekhmm, sejak kapan manggilnya jadi kak Bondan. Dulu saja saling ejek, eh sekarang ekhmm-ekhmmm." Aluna ambil bagian untuk mengolok sang adik.

"Tolong itu yang sakit jangan ikut campur ya." Bondan membela Karin.

"Cie dibelain, cieeee." Ledek Vebby.

"Eh tapi ngomong-ngomong ular yang ditemukan kak Vebby itu ular apa?" Karin mencari topik baru.

"Ah pengalihan topik saja kau anak bau kencur." Eva menimpali lebih awal.

"Ih Karin serius loh ini." Harus teguh pendirian, agar tak dijajah yang lebih tua.

"Piton kata mang Rusli mah." Sahut Vebby yang sibuk mengunyah cireng alot.

"Dih si Tina sadis tapi tak berakal, ya kali mau bunuh orang pake piton, orang mah king kobra atau weling. Minimal searching dulu lah di internet kan banyak, jenis ular mematikan, psikopat nanggung jatuhnya." Wahyu berkomentar, semua melongo tak percaya.

"Wow, mengagumkan." Eva yang pertama bersuara.

"Diam-diam pahit lidah." Vebby ambil urutan kedua.

Berikutnya Bondan yang berucap hampir bersamaan dengan Karin. "Kurang modal mungkin."

"Kurang wawasan lebih tepatnya, mungkin dipikrnya yang penting ada unsur ularnya saja." Karin menambahi.

"Nasib baik ularnya tak menggigit Aluna, kalau sampai itu terjadi mungkin ularnya sudah pecah seribu tak cacah dengan pisau-pisau kebanggaan ibu." Sekarang tahu kan darah psikopat keluarga Aluna meniru dari siapa.

"Istighfar Tante." Vebby ngeri.

"Hahahahah, lucunya si ular kok ya nggk manut maen ngelayab aja ninggalin aku yang geletakan, harusnya kan matok dikitlah ya, menghargai Tina yang bawa jauh-jauh dari rumahnya kan ya." Enteng sekali ucapan Aluna.

"Ya berarti ular nggk doyan daging mu." Bondan mencomot kelengkeng di sebrangnya, malah menumpahkan kopi.

Sibuk mengelap tumpahan kopi dengan tisu, Bondan segera mengamankan nasib. "Lanjutkan ngobrolnya, aku bisa atasi semua ini sendirian.

"Dih jadi kaya iklan lewat. Iya, masalahnya kata kang Rusli ularnya peliharaan orang gak ganas, ditangkapnya aja gampil banget. Kok ya kocak bener si sundel satu itu." Cerita Vebby, manusia pertama yang bersitatap dengan ular kiriman itu.

"Sudah, jadi intinya mau kita apakan si Tina. Ini sudah kriminal tingkat tinggi, pembunuhan berencana." Wahyu, sudah rindu membaca buku, jangan sampai peringkatnya turun gara-gara pacaran dengan Eva, tak mengintil kemana pun.

"Hajarlah pakai di tanya, besok kita serbu." Vebby menggebu.

"Lapor polisi saja, jauh lebih mudah, toh ayah ku bisa menaikkan laporan agar cepat ditindaklanjuti." Eva mengandalkan pekerjaan orangtunya.

"Tak perlu, kalian harus tahu, dia sedang kesusahan membawa diri, perutnya membuncit, tubuhnya semakin gempal, berjalan saja sulit, biar Allah yang balas." Aluna mencegah rencana serangan balik para sahabat.

"Kelamaan nunggu azab mah, tak sabar aku, minimal satu pukulan lah biar lega." sisi preman Vebby menggelora.

"Memang lama, tapi kita siapa, kita juga pendosa tak pantas menghakimi Tina." Aluna banyak belajar dari teman kelasnya yang legowo.

"Kau tak asik, kita ngumpul disini untuk rencana balas dendam, jangan dicegah dong, kalau tak ada masukkan minimal di dukung lah Aluna." Eva, tak suka kalau temannya terlalu baik.

Vebby TOS dengan Eva. "Setuju."

"Menurut ibu bagaimana?" Membebankan semuanya kepada Mawar, Aluna tak ingin jadi bulan-bulanan temannya karena melarang dendam kesumat mereka.

"Tak perlu, bukankah Allah menolong kita tanpa sadar, coba renungkan Aluna tak di patuk ular, kalian datang tepat waktu, dan yang terpenting Tante melihat bahwa yang sayang dengan Aluna lebih banyak daripada yang usil." Mawar juga ingin menampar Tina, tapi dia sadar hukuman apapun tak akan setimpal justru menjerumuskan.

"Bubar-bubar, Tante dan Aluna sudah sekongkol, percuma kita koar-koar." Vebby pundung.

Bersambung

1
Afriyeni
keren novel nya
Afriyeni
semangat untuk Alena 💪 like, komen, subscribe plus ⭐⭐⭐⭐⭐ +🌹 slm perkenalan 😘
Afriyeni
Hm teman laknat 😤
Afriyeni
emang bisa y, mati latihan dulu 🤭
Afriyeni
aku mampir, slm knl 🤗
⍣⃝ꉣꉣ❤️⃟Wᵃf◌ᷟ⑅⃝ͩ●diahps94●⑅⃝ᷟ◌ͩ: salam kenal kembali kak
total 1 replies
🔵Ney Maniez
bahagia sll restu aluna 🤗🤗🤗🤗
🔵Ney Maniez
udah tamat yaa,,,
mksih author cerita ny sngt menghibur 🙏🙏🥰😍😘🤗
🔵Ney Maniez
nyidammm
🔵Ney Maniez
sama kyk aku ank pertama, paksu jg ank pertama, ankku yg gede cucu pertama dari dua belah pihak,,
udah kayak rajaaa😂😂
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
nah kan 🤣🤣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Semoga do' a mu di dengar 🤭
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Tenang Aluna udah hamil tuh 🤣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
🤣🤣🤣
🔵Ney Maniez
mudah2n Aluna hamil y🤲
🔵Ney Maniez
mama apa mana🤔🤔😂😂
🔵Ney Maniez
pkoknya riwehhhhh😂😂😂😂
🔵Ney Maniez
gercep y bondan😂😂💪💪
🔵Ney Maniez
asikkkk bondan,,, tak jd ma kknya ya adik nya ajj 😂😂😂
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
kelakuanmu
🔵Ney Maniez
mudah2n bener Aluna hamil🤗🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!