NovelToon NovelToon
Memorable Love

Memorable Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Selingkuh / Nikah Kontrak / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Obsesi / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:130
Nilai: 5
Nama Author: Eva Hyungsik

Siapa yang sanggup menjalani sebuah hubungan tanpa cinta? Apalagi pasangan kalian masih belum usai dengan masa lalunya. Dua tahun Janice menjalani hubungan dengan seorang pria yang sangat ia cintai, dan hidup bersama dengan pria tersebut tanpa ikatan pernikahan. Selama dua tahun itu Stendy tidak pernah membalas cinta Janice. Bahkan Stendy sering bersikap dingin dan acuh pada Janice. Sampai akhirnya wanita di masa lalu Stendy kembali, hingga membuat Janice terpaksa mengakhiri hubungannya dan melepaskan pria yang selama ini sangat ia cintai. Semua Janice lakukan, hanya untuk membuat Stendy bahagia bersama wanita yang dicintainya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eva Hyungsik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CYTB 13

Di sebuah ruangan serba putih dan berbau aroma antiseptik, terbaring sosok pria yang masih belum sadarkan diri. Dua paruh baya menatap nanar putra semata wayangnya yang terbaring lemah. 

Pintu ruangan terbuka dan menampilkan dua sosok pria dan satu gadis yang membuat kedua orang tua itu menatapnya tajam. 

Mendapati raut wajah kedua pasutri tersebut, membuat kedua pemuda yang seumuran dengan putra mereka pun tersenyum kaku. 

“Selamat pagi, Paman, Bibi.” 

“Hmm, pagi.” 

Suasana sedikit canggung, membuat dua diantara pemuda beda jenis itu sedikit gugup. Berbeda dengan satu pria yang tampaknya sangat tenang. 

“Bagaimana dengan keadaan Stendy, Paman?” 

Yang datang adalah Rodez, Yohan dan Harisa. Dan, yang membuka pembicaraan adalah Rodez. 

Fandy mendesah. “Seperti yang kamu lihat, Rodez. Stendy belum sadarkan diri,” jawab pria itu. 

“Sebenarnya apa yang terjadi, Paman? Bagaimana bisa Stendy jatuh dari tangga?” 

Fandy melirik tajam ke arah Harisa. Membuat gadis itu menundukkan kepalanya. Begitupun dengan Irene yang menatap tidak suka dengan gadis itu. Suasana pun menjadi canggung. 

Yohan yang merasa situasi berubah canggung, segera mencoba mencairkan suasana. 

Sambil tersenyum dengan menampilkan deretan giginya, Yohan berkata. “Maaf, Paman, Bibi. Aku langsung mengajak Harisa setelah mendengar Stendy masuk rumah sakit. Harisa sangat khawatir dengan kondisi Stendy,” ucap Yohan dengan wajah cerianya. 

Fandy dan Irene mendesah, lalu Irene pun angkat bicara. “Tidak perlu kau menjelaskan seditail itu Yohan,” Irene melirik sinis ke arah Harisa sebentar sebelum ia kembali berucap pada Yohan. 

“Sebaiknya kamu bawa wanita itu pergi dari ruangan ini. Kami tidak ingin melihatnya,” 

Harisa mengepalkan kedua tangannya, hatinya merasa sakit sekaligus kesal mendengar pengusiran dari Irene. Begitupun dengan Yohan yang menjadi serba salah. Sementara Rodez hanya bisa diam tanpa pedulikan keduanya. 

Yohan menelan salivanya kasar. “B-Baik, Bibi. Kalau begitu kami permisi dulu,” Yohan segera mengajak Harisa pergi. 

Harisa menatap kesal pada Yohan yang tidak bisa membelanya dan hanya bisa menuruti keinginan orang tua Stendy. Padahal Harisa sangat ingin dekat dengan Stendy. 

“Lepas!” Harisa menghentakkan tangannya dari Yohan. “Kamu mengapa tidak membiarkan aku tetap di dalam sana?” bentak Harisa pada Yohan. 

Yohan menghela nafasnya kasar, “Kamu ini tuli, hah? Kamu dengar sendiri ‘kan tadi, bibi memintaku untuk membawamu pergi dari ruangan itu. Sepertinya mereka masih sangat kesal denganmu,” sahut Yohan yang semakin kesal dengan sikap keras kepala Harisa. 

Harisa menghentakkan kakinya, dengan wajah menekuk. Sungguh ia sangat kesal dengan sikap Irene dan Fandy yang tetap saja tidak bisa menerima dirinya sejak ia masih berpacaran dengan Stendy. Sampai akhirnya Harisa memutuskan untuk pergi ke luar negeri untuk melanjutkan sekolahnya. Harisa berharap setelah ia lulus dan kembali dari luar negeri, hubungannya dengan Stendy akan semakin membaik. Tentunya bersama restu kedua orang tua Stendy. Namun, faktanya Irene dan Fandy masih saja tidak mau menerimanya menjadi menantu di keluarga Canet. 

Harisa mendesah kesal. “Mengapa mereka tidak bisa menerimaku untuk dekat dengan Stendy?” gumamnya lirih. “Apakah karena aku dari keluarga sederhana. Jadi mereka berpikir, kalau aku tidaklah layak bersanding dengan Stendy,” 

Harisa memang berasal dari keluarga kalangan biasa. Jika dibandingkan dengan Janice, Harisa sangatlah jauh. Kedua orang tuanya hanya memiliki usaha toko kue saja. Tidak seperti orang tua Janice yang memiliki dua restoran mewah di kota mereka. Apalagi saat ini orang tua Janice sudah melebarkan sayap usahanya  ke luar negeri. 

Yohan mendengar ucapan Harisa, walau suaranya terdengar pelan. Pria itu menggaruk pelipisnya, dan sekali lagi melirik Harisa. 

“Sabar. Seiringnya waktu pasti paman dan bibi akan merestui hubungan kalian berdua,” Yohan memberi semangat pada Harisa. 

Yohan menepuk pundak wanita itu pelan. “Semangat!” seru Yohan sambil menaikkan satu tangannya yang terkepal. 

Di kamar rawat, Fandy langsung berbicara empat mata dengan Rodez. Sementara Irene tetap duduk di sebelah brankar yang dimana Stendy masih setia memejamkan matanya. 

“Selama Stendy dirawat, paman meminta padamu untuk tetap menghandle perusahaannya. Untuk Horizon biar paman yang kembali menghandle-nya,” ujar Fandy. 

Horizon adalah nama perusahaan milik Fandy yang bergerak di bidang jasa iklan. Perusahaan itu tidak terlalu besar, namun bisa mempekerjakan puluhan karyawan. 

“Paman tidak perlu sungkan padaku. Tanpa paman memintaku, aku akan selalu  membantu perusahaan kalian,” jawab Rodez dengan senyum tipis di bibirnya. 

Fandy sangat berterima kasih pada Rodez yang selalu setia padanya, terutama pada Stendy. Akan tetapi Fandy tidak mengetahui, kalau Rodez ikut andil membantu Janice untuk bisa lepas dari Stendy. 

Di negara S, Janice sudah mulai mempersiapkan dirinya untuk masuk ke universitas yang diinginkannya. Semua urusan mengenai berkas sudah dilengkapi Calvin sebelum Janice pindah ke negara tersebut. 

Janice bangun pagi, merasa sedikit gugup tapi juga bersemangat. Hari ini adalah hari pertamanya di kampus, dan dia tidak sabar untuk bertemu teman-teman baru dan memulai petualangan barunya.

"Aku pergi dulu, Bu, Yah," kata Janice kepada ibu dan ayahnya, yang sedang sibuk menikmati sarapan. 

"Baik, Janice. Jangan lupa sarapan, dan jangan lupa membawa buku-buku yang dibutuhkan," jawab ibunya, sambil memberikan Janice semangkuk nasi goreng.

Janice mengambil sarapan dan bergegas keluar rumah ,setelah ia mengucapkan terima kasih pada sang ibu. Janice akan memakan sarapannya dj dalam mobil saja. Dia menaiki mobil dan menuju ke kampus. 

Saat dia tiba di kampus, dia merasa sedikit kesasar. Dia tidak tahu di mana letak ruang kelasnya, dan dia tidak membawa peta kampus.

"Hai, kamu baru di sini?" tanya seorang mahasiswa yang sedang duduk di bangku taman.

"Ya, saya Janice. Hari ini hari pertamaku di kampus," jawab Janice, sambil tersenyum.

"Selamat datang! aku Cassie. Kamu jurusan apa?" tanya Cassie.

"Aku jurusan ekonomi," jawab Janice.

"Oh, Aku juga! Kamu bisa ikut denganku, aku akan menunjukkan di mana ruang kelasnya," kata Cassie, sambil berdiri.

Janice tersenyum dan mengikuti Cassie. Mereka berjalan bersama, berbicara tentang kelas dan dosen, dan Janice merasa sedikit lebih nyaman. Keduanya pun terlibat obrolan ringan, Cassie baru tahu kalau Janice ternyata bukan warga asli di negara yang saat ini mereka tempati. 

Beberapa jam kemudian, setelah mengikuti mata kuliah pagi ini. Cassie mengajak Janice untuk pergi ke kantin. Di  sana sangat ramai, Cassie dan Janice memesan beberapa makanan dan minuman untuk berdua. Setelah mendapatkan makanan mereka, keduanya duduk tidak jauh dari beberapa teman yang satu jurusan dengan mereka. 

Satu jam kemudian, Janice dan Cassie kembali ke ruang kelas karena mereka masih memiliki satu mata kuliah yang harus diikuti. 

Di rumah keluarga Arkana terdengar suara tawa yang penuh kehangatan. Ruang tamu itu terisi empat pasang orang tua yang sepertinya sedang saling melepas rindu, sebab lama tidak bersua. 

“Jadi Janice melanjutkan kembali kuliahnya di sini?” tanya wanita yang usianya hampir sama dengan Naomi. 

“Iya, dan kebetulan sekali kami juga ingin pindah tempat tinggal.” Naomi menjawab dengan senyum lebar yang terus terpatri di wajahnya. 

“Mengapa baru tahun ini dia melanjutkan kuliahnya? Bukankah Janice dan putra-ku hanya beda dua tahun saja,” 

Jason dan Naomi saling melirik sebentar sebelum menjawab pertanyaan yang membuat mereka ragu. 

“Ada sedikit masalah sebelum Janice memutuskan kembali untuk melanjutkan kuliahnya,” jawab Jason. 

Mendengar jawaban Jason, membuat sepasang suami istri itu mengendurkan senyuman mereka. Sebab mereka merasa tidak enak. 

“Oh, maafkan aku sudah bertanya seperti itu,” 

“Tidak apa, Rania. Jangan merasa bersalah seperti itu,” Naomi segera menggenggam tangan Rania yang memang sejak tadi duduk di sebelahnya. 

“Maafkan aku Jason, Naomi. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Janice? Tolong ceritakan padaku, biar bagaimanapun juga Janice sudah seperti anak perempuan aku dan Riana,” 

Jason mendesah pelan sambil merapikan posisi duduknya. Lalu mengalirlah sebuah cerita tentang beberapa tahun yang terjadi pada Janice. Mendengar apa yang diceritakan oleh Jason, membuat Rania dan Leo merasa kesal. 

“Untunglah Janice segera mengakhiri pertunangan itu. Jika tidak, entah bagaimana rumah tangga mereka. Mengingat Stendy masih belum bisa melupakan masa lalunya,” ucap Leo. 

“Beruntung Janice dijauhkan dari pria brengsek itu,” celetuk Rania. 

“Mungkin memang sudah jalannya seperti ini. Siapa tahu kelak Janice akan berjodoh dengan putra kami. Bukan begitu, Bu?” canda Leo yang langsung membuat yang lainnya tertawa. 

“Iya, benar. Semoga mereka berjodoh. Jadi kita bisa menjadi keluarga sungguhan,” sambung Rania yang terlihat begitu bahagia. 

“Kita jodohkan saja mereka berdua,” usul Leo. 

Jason dan Naomi tersenyum lebar. Memang sudah lama dalam hati mereka ingin sekali berbesanan dengan keluarga Wister. 

“Bagaimana Jason, Naomi? Apakah kalian mau berbesanan dengan kami?” Rania kembali bertanya dengan menggebu-gebu. 

“Kalau kami mau-mau saja, tapi bagaimanapun juga kami harus bertanya terlebih dahulu pada Janice,” jawab Jason hati-hati, agar tidak menyinggung Rania dan Leo. 

“Ah, itu gampang. Kita pertemukan saja dulu anak-anak kita. Bagaimana kalau besok kita adakan makan malam di restoran kalian,” Leo memberi usul yang terdengar masuk akal. 

“Wah, ide bagus itu. Baiklah aku akan mengajak Janice besok malam,” sahut Naomi yang juga sangat antusias. 

Mereka kembali tertawa, dan berlanjut berbincang. Bahkan Rania sampah berangan-angan jika Janice menjadi menantunya kelak akan sering mengajak jalan dan shopping bersama. Membuat Naomi menggeleng dengan angan-angan Rania. Kemudian Jason pun, ikut menimpali ucapan Rania. Bahwa dirinya akan sering mengajak putra Wister untuk bermain catur selama berjam-jam. Leo yang mendengar itu pun berhasil tertawa terbahak-bahak. Karena ia sangat tahu, kalau putra mereka tidak suka bermain catur dengan alasan membosankan. 

Tanpa terasa waktu pun beranjak hampir sore. Janice pun pulang, namun saat mobil yang ditumpanginya masuk ke dalam pelataran rumah. Mobil milik tuan dan nyonya Wister keluar dari dalam pekarang rumah Janice. 

Janice mengerutkan alisnya, merasa tidak asing saat melihat sosok pria yang duduk di kursi belakang mobil tersebut. 

“Sepertinya aku pernah melihat orang itu. Tapi dimana?”  batin Janice bergumam. 

Janice keluar dari mobil dan tersenyum saat melihat kedua orang tuanya telah menyambut kepulangannya. Janice pun memeluk dan mencium pipi kedua orang tuanya. 

“Bagaimana hari pertamamu di kampus, sayang?” tanya Naomi. 

“Hmm, sangat menyenangkan,” jawab Janice dengan tersenyum manis. 

“Oh, iya, Bu, Yah Tadi itu siapa?” Akhirnya Janice bertanya, karena sejak tadi sangat penasaran. 

“Ah, itu paman dan bibi Wister. Apakah kamu masih ingat dengan mereka?” Jason menjawab dan mencoba bertanya, barangkali Janice ingat dengan pasutri tersebut. 

Janice mengerutkan kedua alisnya. “Eum, sepertinya aku lupa,” jawabnya sambil menampilkan cengiran. 

Naomi dan Jason hanya tersenyum, “Ya sudah, sebaiknya kamu istirahat saja. Nanti saat makan malam tiba, mama akan memanggilmu,” ucap Naomi. 

Janice mengangguk. “Tapi aku juga mau memasak sesuatu untuk kalian,” 

Jason menaikkan satu alisnya, “Memasak?” tanyanya dengan tatapan tidak percaya ke arah Janice. 

Janice mengangguk cepat. “Iya, Ayah tenang saja. Aku sudah pandai memasak, karena selama tinggal bersama Stendy. Aku…” Janice menghentikan ucapannya, dadanya kembali merasakan sesak mengingat dulu ia sering memasak hanya untuk menyenangkan perut Stendy. 

Naomi melihat putrinya yang murung pun segera meminta Janice untuk istirahat. “Sudahlah, untuk makan malam biar Bibi saja yang memasak. Sebaiknya kamu istirahat di kamar. Kamu pasti sangat lelah,” kata Naomi yang tidak ingin putrinya kembali mengingat masa lalunya bersama Stendy. 

Naomi dan Jason menatap nanar punggung Janice yang saat ini sedang menaiki tangga. Jason memeluk sang istri dari samping. 

“Semoga Janice bersedia kita jodohkan dengan putra Rania dan Leo. Aku tidak ingin Janice mengingat masa lalunya bersama pria itu,” ujar Naomi dengan tatapan sendu ke arah lantai atas. 

“Nanti kita bicara pelan-pelan pada Janice. Aku pun, berharap ia mau menerima perjodohan ini,” 

Di dalam kamar, Janice duduk di tepi kasur dengan tatapan sendu. Kenangan bersama Stendy kembali melintas dalam pikirannya. Janice menengadahkan wajahnya, agar air matanya tidak keluar lagi. Cukup sudah ia mengeluarkan air matanya di malam itu. Dimalam dimana ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Stendy memperlakukan Harisa dengan lembut. Bahkan ia dapat melihat dengan jelas ketika Stendy mencium Harisa dengan penuh gairah. 

Haaaahhh…

Janice menghela nafas kasarnya. Lalu diusapnya dengan kasar air mata yang jatuh mengenai pipinya. 

“Berhentilah menangis Janice. Kau tidak pantas menangisi pria itu lagi,” lirih Janice menyemangati dirinya.

Di tempat berbeda, Stendy sudah terbangun dari pingsannya. Ia menatap ke sekeliling mencari sosok yang ingin sekali dilihatnya. 

“Dimana Janice?” tanyanya saat menyadari sosok yang dicarinya tidak ada. 

Irene dan Rodez saling melirik, dan menghela nafas pelan. 

“Sudahlah, Nak. Ibu sudah pernah mengatakannya padamu untuk lupakan Janice,” jawab Irene yang menatap iba pada putranya. 

Stendy menggeleng cepat. “Tidak. Aku harus bertemu dengan Janice, Bu. Aku tidak ingin dia membatalkan pertunangan ini begitu saja,” 

“Hentikan, Nak!” bentak Irene dengan nafas menggebu.  “Sudah cukup. Biarkan Janice bahagia. Bukankah kau juga menginginkan perpisahan ini? Bukankah kau senang, karena pada akhirnya bisa bersatu lagi dengan Harisa,” sambung Irene yang seakan sedang menampar sang putra dengan ucapannya. 

Stendy mengeratkan kepalan tangannya dan rahangnya pun mengeras. Jujur saja ia sangat kesal dan masih tidak bisa menerima, kalau Janice memutuskan hubungan mereka. Seharusnya dirinya-lan yang memutuskan hubungan mereka. Bagaimanapun juga Stendy seorang pria yang memiliki gengsi dan ego yang tinggi. 

“Baiklah Janice, kita lihat saja nanti. Aku yakin dalam beberapa hari lagi kamu akan kembali menemuiku, dan memohon agar pertunangan kita tetap dilanjutkan,” 

Stendy bergumam dalam hatinya, dadanya naik turun menahan rasa kesal bercampur amarah yang tertahan dalam dirinya. 

Rodez menatap Stendy dengan tatapan yang seakan mengejek pria itu. Kemudian Rodez pun, keluar dari ruang rawat Stendy. Ia mengeluarkan ponselnya dan masuk ke aplikasi pesan, dan mengetikkan beberapa kata. 

Di negara S, Janice yang baru saja membersihkan tubuhnya langsung meraih ponselnya saat mendengar sebuah notifikasi pesan. Matanya terbelalak saat membaca pesan dari Rodez. 

[Stendy mencarimu sampai dia mabuk dan ditemukan pingsan di villa. Saat ini dia  sedang di rawat di rumah sakit Elisabeth.] 

“Ya Tuhan,” Janice menggigit bibir bawahnya. Ada rasa khawatir pada Stendy, namun ia segera mengenyahkan perasaan itu. 

“Tidak. Aku tidak boleh memikirkannya lagi. Ayo, Janice…! Lupakan semua tentang Stendy.” 

Lagi-lagi Janice kembali memberi semangat untuk dirinya, agar melupakan semua hal yang mampu membelenggu hatinya. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak kembali bersedih, sebab rasa sakit yang saat ini dialaminya. Katakanlah ia sangat ingin sembuh dari rasa sakit yang selama ini tertahan cukup lama. 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!