KARYA INI MERUPAKAN KARYA JALUR KREATIF.
"Jejak Virtual SAGA" adalah sebuah novel fiksi yang menggambarkan perjalanan Gaffi dan Salsa di dunia virtual demi sebuah Misi.
Gaffi dan Salsa adalah dua orang dari seratus programmer yang mengembangkan aplikasi cerdas untuk masa depan. Mereka menciptakan aplikasi revolusioner yang memungkinkan pengguna untuk memasuki dunia virtual yang mendalam dan menarik.
Ditengah kebahagiaan atas sempurna nya aplikasi itu. Satu kabar justru harus mereka dengar dari Tim Profesor.
"Tidak ada jalan lain.Semua programmer sudah di uji. Hanya Kalian yang bisa masuk ke dunia Virtual itu. Kita harus mencegahnya. Jika tidak masa depan generasi kita akan hancur." Ucap Professor Kim.
"Tapi kenapa harus menikah?!" Teriak Gaffi dengan tatapan marah.
"Karena hanya sepasang orang yang menikah di dunia nyata yang bisa memiliki hologram itu. satu-satunya cara menyelamatkan aplikasi ini dari virus itu."
Salsa dan Gaffi terpaksa menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sebutir Debu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 Keputusan Gaffi
"Kau..?" Suara Salsa tersedak, Matanya tajam menantang Ifah yang juga tak mau kalah.
"Heh.. Kalian yang begitu taat dengan ibadah kalian. Dan kamu.... kau tutupi tubuh mu dengan kain hitam itu. Tidak kah sedikit hati mu merasakan menjadi diri ku. Aku lebih dulu terdampar, terbuang di pulau ini. Bukan kah islam mengatur segalanya? Bahkan islam mengatur pernikahan, perceraian dan garis keturunan. Juga menikah adalah salah satu cara untuk melindungi diri daei Zina. Lantas bagaimana garis keturunan ku jika kita terjebak di dunia ini selamanya?" Terengah-engah suara Ifah dengan linangan air mata.
Salsa tak bergeming, ia menautkan gerahamnya dan memejam kedua matanya. Perempuan yang menjadi temannya selama beberapa bulan justru sedang mengarahkan belati ke arahnya. Bagaimana mungkin dia bisa berbagi suami pada perempuan lain.
"Islam memang membolehkan lelaki poligami. Tetapi selagi aku masih sanggup melayani nya dengan baik, dan aku tak punya kekurangan. Maka alasan apa aku harus berbagi suami?"
Salsa memunggungi Ifah. Ia tak ingin kembali menyakiti perempuan yang kini untuk buang hajat pun membutuhkan Salsa.
"Bagaimana jika kamu melahirkan? Apakah kamu bisa merawat ku? Apakah kamu bisa menuntun ku?" Sedangkan saat ini, memandangi suami mu pun adalah sebuah dosa apalagi menyentuhnya tanpa ikatan." Kembali suara lirih dengan isakan tangis di pertontonkan oleh Ifah. Salsa menatap sebuah kolam kecil yang terdapat ikan di dalam nya. Ia tak menduga jika Ifah justru jauh memikirkan ke depan. Namun sayangnya Ifah tidak tahu, jika Salsa lawan yang cukup baik untuk diajak berdebat.
"Heh. Kenapa harus menggunakan perumpamaan itu. Bilang saja jika kau menyukai suami ku dan membutuhkan dia untuk menyalurkan hasr@t mu. Tidak sulit jika aku melahirkan. Kau lihat apa yang sudah ku buat?" Pandangan Salsa ke arah sebuah gantungan yang terdapat banyak kulit kayu yang ia potong-potong.
"Aku akan menjahit kulit kayu itu. Aku dan suami ku sudah memikirkan masalah itu, maka aku pastikan ketika aku tak bisa merawat mu. Suami ku akan membantu, tanpa menyentuh mu seujung kulit pun." ucap Salsa tersenyum menatap kulit-kulit kayu yang dijemur.
'Kini aku paham salah satu alasan kenapa perempuan tidak boleh berhenti belajar. Bayangkan jika semua yang menjadi dokter atau perawat adalah kaum lelaki. Maka bagaimana sesama perempuan jika di rawat lelaki....' Salsa merenungi satu nasihat jika seorang perempuan harus terus belajar, agar usianya, kecerdasannya memberikan manfaat baik untuk dirinya, agamanya, dan orang banyak.
"Jangan lupa, kita di dunia ini maupun di dunia virtual sama-sama makhluk lemah. Maka kita saling membutuhkan manusia lain. Untuk merawat mu, tidak harus suami ku menikahi kamu. Aku akan mendampingi dirinya, maka ku pastikan jika ia akan menjadi perawat mu dengan dampingan ku. Ku harap jangan kau permohonan gila mu jika tidak ingin suami ku membawa ku pergi dari sini." Salsa menatap Ifa dari arah dirinya duduk. Merasa khawatir jika akan kembali berdebat, ia pergi ke bibir gua. Di lanjutkan nya kegiatan membuat selimut. Ia akan membuat baju dari kulit kayu tipis yang sudah di jemur, jika sudah kering dan sedikit lentur. Agar bisa ia jahit menggunakan akar pohon yang kuat.
Pulang dengan membawa beberapa buah. Gaffi mengamati dua orang perempuan yang biasanya begitu ceria, kini tampak canggung.
'Apakah mereka bertengkar?' Gaffi hanya menyimpulkan sendiri. Salsa bahkan tidur dengan memunggungi Ifah saat malam hari. Namun saat tengah malam, suara benda jatuh membangunkan Gaffi dan Salsa. Mereka melihat Ifa tergeletak di bawah, dahi dan lututnya terluka. Salsa hanya termenung menatap Ifah.
'Naudzubillah min dzalik....' Salsa memohon perlindungan dari pemilik alam semesta. Ia tahu bahwa Ifah sedang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Ia sedang bermain playing victim.
Gaffi cepat membungkus tubuh Ifah dengan sebuah selimut yang terbuat dari rerumputan dan akar pohon. Di pindahkan nya tubuh Ifah kembali ke tempat tidur.
"Kau mengigau?" Tanya Gaffi bingung. Ifah membisu namun air matanya berlinang.
"Istri mu mendorong ku...hanya karena masalah tadi siang." Kedua mata Ifah berair dengan bibirnya yang mencebik.
Gaffi menatap ke arah Salsa.
"Cih... Pandai sekali rupanya kamu berakting." Salsa bersidekap dadadi hadapan Ifah.
Gaffi melirik kedua perempuan yang terlihat aneh dari siang tadi. Gaffi pun mengambilkan sebuah lap dan menyiapkan air hangat ke dalam sebuah wadah yang terbuat dari kayu.
"Sudah lah, tak ada gunanya kalian bertengkar. Aku tidak tahu ada masalah apa diantara kalian." Gaffi menyerahkan lap dan satu wadah kayu yang sudah ia isi air hangat.
Salsa tersenyum smirk. Ia membersihkan luka pada lutut Ifah dengan cukup kuat menekannya. Dengan sigap Ifah menahan tangan Salsa.
"Kau mau tahu kami siang tadi bertengkar karena apa?" Mata lentik Ifah sedikit tertutup dengan bibir atas nya yang sedikit naik.
Gaffi mengehentikan langkah nya. Ia berbalik ke arah dua perempuan itu. Salsa menegakkan dagunya dengan sempurna.
'Mau menabuh genderang perang dia dengan ku rupa nya. Perempuan berbulu serigala.' Batin Salsa menanti apa yang meluncur dari bibir mungil Ifah.
"Dia menceritakan bahwa dia tak mampu melayani kamu sebagai suami mu. Aku menasehatinya tentang menjaga aib suaminya. Tapi dia malah marah." Ifa menunduk dan menitikkan air mata.
Sudut bibir Salsa terangkat dengan sedikit bergetar. Ia tak menyangka jika Ifah akan berdusta hanya karena urusan nafsunya. Dengan kondisi kepala tertunduk, Salsa menggelengkan kepalanya dan tertawa. Gaffi bahkan mendengar suara tawa sang istri.
Gaffi menatap Salsa dan mengalihkan pandanganya kepada Ifah yang sedang menangis sesenggukan.
"Kau percaya dia?" Salsa menatap suaminya yang diam membisu.
"Apa yang kamu inginkan dari diriku?" Tatapan dingin Gaffi ke arah Ifah.
"Tidakkah kamu tidak adil? Disini terdapat dua orang perempuan dan kamu hanya memberikan dia kebahagiaan?" Suara tangis Ifah mereda.
Gaffi berjalan ke arah Salsa. Ia pegang pundak istrinya dan berdiri menatap Salsa.
"Jika maksud mu membalas budi karena kami tinggal di tempat ini. Aku akan membawa istriku mencari tempat lain. Dan akan mengunjungi mu untuk sekedar melihat kondisi mu." Ucap Gaffi datar. Ia tarik lengan Salsa, dengan cepat ia kemas seluruh barang-barang miliknya dan sang istri setelah itu ia memberikan Salsa sebuah kayu cukup besar dengan sebuah bambu yang cukup besar.
"Pukul alat ini ketika kamu butuh sesuatu. Ku pastikan kamu tidak akan merasa terganggu karena kehadiran kami... Ayo Salsa, kita harus pergi." Ajak Gaffi.
Salsa memicingkan matanya ke arah Ifah. Perempuan itu sepertinya sengaja melakukan itu. Namun ia cukup bahagia karena Gaffi lebih memilih hengkang daru gua itu daripada memenuhi permintaan gila dari Ifah.
Gaffi dengan sigap mendirikan beberapa kayu dan bambu yang selama ini ia kumpulkan. Dan hari ini mau tidak mau ia harus mendirikan sebuah gubuk untuk berlindung.
"Jadi selama ini kamu menyiapkan ini?" Salsa tak percaya jika suaminya bisa menyiapkan semua yang bisa mereka jadikan tempat berteduh.
"Walau tidak ada paku. Kita bisa mengikatkan akar-akar ini agar kokoh. Kita juga salah, karena lebih dari tiga hari maka kita bukanlah tamu. Sudah sewajarnya kita pergi dari sana."Tangan-tangan Gaffi terlihat cukup lincah mengikat bambu-bambu yang sudah ia potong menjadi dinding-dinding gubuk yang ia buat.
"Tapi apakah bukan sesuatu yang aneh ketika dia mengatakan sudah bertahun-tahun terjebak disini? Sedangkan dunia virtual ini baru?" Suami istri itu saling pandang. Salsa mengusap keringat di dahi Gaffi. Suami isteri itu pun saling menggenggam tangan mereka. Kulit kasar telapak tangan Gaffi pada sela-sela jarinya bisa Salsa rasakan.
Putri dari Mr Abhi itu bisa melihat bagaimana wajah putih suaminya kini mulai berubah menjadi hitam bahkan berminyak.
"Nyatanya ketampanan mu justru membuat ku was was di pernikahan kita, tetapi cinta mu cukup luar biasa untuk membuktikan bahwa kamu bertanggungjawab akan diriku saat selesai ijab hingga detik ini." Gaffi membiarkan tangannya berada di satu pipi Salsa. Ia menyadari jika dirinya pun kini merasakan perubahan dalam menyikapi istrinya. Jika dulu ia cuek, ketus, karena kehamilan istrinya membuat dirinya tak berani berbuat kasar atau dingin.
anak dari alleyah dalam novel istri yang dianggap buta?????