NovelToon NovelToon
Suamiku Ternyata Konglomerat

Suamiku Ternyata Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Pernikahan Kilat / Nikahmuda / CEO
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Indriani_LeeJeeAe

Satu malam yang tak pernah ia inginkan mengubah seluruh hidup Serene Avila. Terbangun di samping pria asing, ia memilih kabur tanpa menoleh—tak tahu bahwa pria itu adalah Raiden Varendra, konglomerat muda yang bisa mengguncang seluruh kota hanya dengan satu perintah. Dua bulan kemudian, Serene hamil… kembar. Di tengah panik dan putus asa, ia memutuskan mengakhiri kehamilan itu. Hingga pintu rumah sakit terbuka, dan pria yang pernah ia tinggalkan muncul dengan tatapan membelenggu.

“Kau tidak akan menyentuh anak-anakku. Mulai sekarang, kau ikut aku!”

Sejak saat itu, hidup Serene tak lagi sama.
Dan ia sadar, kabur dari seorang konglomerat adalah keputusan terburuk yang pernah ia buat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indriani_LeeJeeAe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 > Malam Ketika Raiden Memilih

Malam turun tanpa ampun. Langit hitam menutup kota seperti kain kafan, menelan cahaya dan harapan sekaligus. Lampu-lampu jalan terlihat pucat, seolah ikut menahan napas menyambut sesuatu yang besar. Sesuatu yang akan mengubah banyak hal.

Raiden Varendra berdiri di depan cermin ruang persiapan. Jas hitamnya rapi tanpa cela. Tidak ada senjata yang terlihat, namun setiap inci dirinya adalah senjata. Wajahnya tenang, terlalu tenang, seperti laut sebelum badai.

Di saku dalam jasnya, ponsel bergetar pelan. Pesan terakhir dari nomor tak dikenal itu masih terpampang di layar: “Datang sendiri. Atau dia akan datang kepadamu.”

Raiden mengunci layar. “Rencana berjalan?” tanyanya datar.

Arlo berdiri di sisi pintu. “Unit bayangan sudah tersebar. Jalur keluar-masuk diamankan. Namun sesuai perintah Anda-tidak ada yang akan terlihat.”

Raiden mengangguk. “Bagus.”

Ia berbalik, melangkah menuju pintu kamar. Namun langkahnya terhenti. Serene berdiri di ambang pintu, mengenakan mantel tipis. Wajahnya pucat, namun matanya menyala oleh tekad yang rapuh namun nyata.

“Kau mau pergi,” katanya. Namun bukan pertanyaan.

Raiden menatapnya lama. “Kau seharusnya tidur.”

“Aku tidak bisa,” jawab Serene pelan. “Aku merasakannya.”

Raiden mendekat, berhenti tepat di hadapannya.

“Serene-”

“Kau tidak bisa melakukannya sendiri,” potong Serene, suaranya bergetar namun tegas. “Aku istrimu. Apa pun yang kau hadapi… itu juga milikku.”

Raiden menghela napas pelan, lalu mengangkat kedua tangan Serene, dan menggenggamnya dengan erat. “Aku tidak akan membiarkanmu berada dalam bahaya,” katanya rendah.

Serene menatap mata Raiden, mencari celah, mencari keraguan... dan menemukannya. “Kalau kau pergi,” katanya lirih, “aku ingin kau kembali. Bukan sebagai raja. Tapi sebagai suamiku.”

Raiden menunduk, menyentuhkan dahinya ke dahi Serene. “Aku akan kembali,” bisiknya. “Demi kalian.”

Serene menahan napas saat Raiden mencium keningnya begitu lembut, lama, penuh janji yang tak terucap. Ia mundur satu langkah. Dan pergi.

***

Di sebuah tempat pertemuan itu berada di dermaga tua yang telah lama ditinggalkan. Besi berkarat, kayu lapuk, dan bau asin laut bercampur dengan kesunyian yang mencurigakan. Raiden tiba tepat waktu. Tidak ada pengawal di sekitarnya.

Tidak ada suara mesin. Hanya langkahnya sendiri yang bergema di atas papan dermaga. “Datang sendiri,” suara itu muncul dari kegelapan. Tenang. Mengolok.

Ezra Kael melangkah keluar dari bayangan. Rambutnya memutih di sisi, bekas luka panjang di pipinya tampak jelas di bawah cahaya lampu kuning yang cukup redup. “Kau menepati janji,” kata Ezra. “Seperti ayahmu.”

Raiden tidak bereaksi. “Ayahku tidak membuat kesepakatan dengan pengkhianat,” jawabnya dingin.

Ezra tersenyum. “Dia membuat kesalahan yang sama sepertimu.”

Raiden menatap lurus. “Apa yang kau inginkan.”

Ezra tertawa kecil. “Masih seefisien dulu. Baik. Aku ingin kau menyerahkan kendali Varendra Global. Semua aset inti. Dalam waktu dua puluh empat jam.”

“Dan jika aku menolak?”

Ezra mengangkat ponselnya. Satu sentuhan. Di layar... tampilan kamera jarak jauh. Serene. Di rumah persembunyian. Melihat itu, jantung Raiden berhenti berdetak.

“Jangan khawatir,” kata Ezra santai. “Aku belum menyentuhnya. Tapi waktu selalu bergerak, Raiden. Dan aku selalu lebih cepat.”

Raiden mengepalkan tangan. “Kau memulai perang yang tidak bisa kau menangkan.”

Ezra mendekat satu langkah. “Aku tidak ingin menang. Aku ingin kau memilih.”

Hening menggantung. “Ayahmu memilih kekuasaan,” lanjut Ezra. “Dan dia mati. Sekarang… giliranmu.”

Raiden menutup mata sejenak. Ketika membukanya kembali... dingin itu berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap. “Kau salah satu hal,” katanya pelan. “Aku tidak memilih.”

Ezra tertawa. “Lalu apa?”

Dentuman keras memecah udara. Lampu dermaga padam. Bayangan bergerak. Dalam hitungan detik, suara langkah, benturan, dan teriakan memenuhi malam. Ezra terhuyung ke belakang, wajahnya berubah saat ia menyadari... ia tidak sendirian.

“Unit bayangan,” suara Arlo terdengar dari komunikator tersembunyi. “Target terkunci.”

Raiden berdiri tegak di tengah kekacauan, matanya tak lepas dari Ezra. “Kau mengira aku datang tanpa rencana?” katanya dingin. “Kesalahan fatal.”

Ezra mundur, panik. “Kau curang!”

Raiden melangkah mendekat. “Aku hidup di dunia yang kaulah ciptakan.”

Namun sebelum siapa pun bisa bergerak lebih jauh... ponsel Raiden bergetar. Nomor internal. Hanya satu kalimat di layar: “Perimeter rumah ditembus.”

Darah Raiden membeku. “Serene,” bisiknya.

Ezra melihat perubahan itu dan tertawa terbahak. “Terlambat.”

Raiden berbalik tajam, suaranya berubah menjadi perintah mutlak. “Plan Eclipse. Sekarang.”

“Raiden-” Ezra mencoba kabur. Namun Raiden tidak mengejarnya. Ia sudah berlari.

***

Di rumah persembunyian, alarm berbunyi nyaring. Serene berdiri di tengah kamar, tangannya mencengkeram perutnya saat suara tembakan terdengar dari kejauhan. “Nona Serene!” teriak salah satu pengawal. “Ikut kami!”

Serene berusaha bergerak, namun kakinya gemetar. Ia mengingat wajah Raiden. Janji di matanya. Pelukan terakhir itu. “Aku harus bertahan,” gumamnya. “Untuk mereka.”

Pintu belakang jebol. Bayangan masuk. Serene menjerit, dan dunia seakan runtuh. Raiden tiba di depan gerbang dengan napas terengah. Api kecil menyala di sisi bangunan. Asap mengepul.

“Serene!” teriaknya.

Tidak ada jawaban. Arlo berlari mendekat. “Kami kehilangan kontak dengan tim dalam.”

Raiden menatap bangunan itu... rumah yang seharusnya aman dan sesuatu di dalam dirinya pecah. “Aku sudah memilih,” katanya rendah, penuh amarah. “Dan siapa pun yang menyentuh keluargaku… akan lenyap dari dunia ini.”

Ia melangkah masuk ke dalam api dan asap. Malam menelan segalanya. Dan di tengah kekacauan itu-nasib Serene dan kedua bayi di kandungannya bergantung pada satu hal: Apakah cinta Raiden cukup cepat untuk menyelamatkan mereka?

***

Bersambung…

1
❤Follow IG aisyah_az124 ❤
semngat Kak Lee💪💪💪
❤Follow IG aisyah_az124 ❤: 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
total 2 replies
Wayan Miniarti
luar biasa thor... lanjuttt
Li Pena: Siap, Akak.. maacih udah mampir ya 🙏🤭
total 1 replies
Sunarmi Narmi
Baca di sini aku Paham kenapa bnyak yg tdk Like...Di jaman skrng nikah kok berdasar Status apalagi sdh kaya....Bloon bnget kesenjangan sosial bikin gagal nikah apalagi seorang Raiden yg sdh jdi CEO dgn tabungan bnyak...Kkrga nolak ya bawa kbur tuh istri dn uang " mu....Cerdas dikit Pak Ceo..gertakan nenek tidak berpengaruh.masa nenek jdi lbih unggul kan body aja ringkih
Li Pena: Terimakasih sudah mampir dan juga menilai novel ini. maaf bila alur tidak sesuai yang diharapkan dan juga banyak salahnya, mohon dikoreksi agar author bisa belajar lebih banyak lagi 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!