🧭 96 km Season 2
⏰
21+
"Mengapa kita begitu rumit?!" ujar Mina.
Kisah cinta langit timur (Mina) dan langit barat (Nagi) kembali berlanjut. Mereka terbawa kembali ke masa di saat pertama kali bertemu.
Nagi berhasil membalikkan waktu dan berusaha menghilangkan jarak 96 kilometer di antara mereka.
Namun Mina justru berusaha melupakan kisah cintanya bersama Nagi, karena masih terikat pada seseorang dari masa depan.
Apakah dengan mesin waktu, mereka bisa bersatu lagi di tengah rasa ragu dan bimbang?
Ayo ikuti kisah romansa di dalam mesin waktu ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noejan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 Future Journey
..."Jadi, pilih yang mana?...
...Tetap kembali ke masa lalu bersama ku,...
...Atau di sini menikmati masa depan bersamanya?...
...Sayangnya, kamu tak ada hak untuk memilih!"...
Mina tak menyangka dirinya akan dibangunkan oleh suaminya, Raja.
"Ayo, Mi~ Jangan pura-pura ih!" Ekspresi Raja menjadi kesal walaupun ia tutupi dengan bujukannya. Raja tak menyerah, kini ia menggelitiki Mina.
"Ahaa! Haha! Ampun Raja! Haha!" Gelak tawa Mina memenuhi kamar mereka berdua.
Raja menghela nafasnya, "Ayo bangun, aku tunggu ya!"
"Di mana kamar mandi?" tanya Mina yang telah bangkit dari tempat tidur.
"Kita di mana?" matanya melihat ke sekelilingnya.
"Kenapa aku bisa di sini?" Mina terus saja mencecarkan pertanyaan ke suaminya.
"Sayang, kamu ngga apa, 'kan? Kamu capek ya? Ah, pantas saja ... dari kemarin aku minta jatah, kamu justru menolak," tutur Raja yang membuat Mina semakin gelisah dan ragu.
Dia benar Raja kan? Atau ini hanya sebuah mimpi? Atau, yang kemarin itu hanyalah mimpi?
"Kita sudah menikah berapa hari? Dan ... berapa lama aku menolak melakukan kewajiban ku?" tanya Mina dengan pelan. Ia masih harus mencerna apa yang sebenarnya sedang terjadi pada dirinya.
"Sudah seminggu sejak menikah, Mi. Kita pindah ke sini baru dua hari. Ada apa?" Raja masih heran dengan pertanyaan Mina yang seperti itu.
"Aku, a-aku ngga tahu, Ja. Tapi! Ini bukan mimpi kan? An-anak-anak! Fajar Aruna, Hah, hah. Mereka ada di sini kan?!"
Nafas Mina mulai tersengal-sengal karena panik dan takut. Bimbang menyelimutinya yang masih berusaha mengingat apa yang terakhir ia tinggal di masa depan.
"Iya, sayang. Mereka hari ini masuk sekolah. Mangkanya, sekarang kamu tur--" Perkataan Raja diputus oleh pekikan Mina.
"Mereka kelas berapa?!!"
Raja memeluknya, supaya istrinya bisa lebih tenang. Mina memang terlihat ketakutan. Nafasnya seolah sedang dikejar oleh hantu atau binatang buas.
"Mereka kelas satu, sayang," jawab Raja dengan lembut.
Mina semakin mempererat pelukannya, dan tangisnya pun pecah. Raja mengusap-usapkan kedua telapak tangannya ke punggung Mina.
"Sudah ya? Sekarang kita turun yuk!" bujuk Raja.
Di sisi lain,
Nagi dan Mogi berkumpul di kamar Mogi. Mereka mulai membahas rencana untuk 2 hingga 3 hari ke depannya.
"Sebaiknya, jangan lakukan perbaikan chip di masa sekarang, Nagi. Karena bisa saja orang yang mendapatkannya dapat terbawa ke masa ini juga. Aku khawatir orang tersebut menyalahgunakan chip itu," ucap Mogi pada Nagi.
"Mas Gi, aku sependapat denganmu. Di sini, kita cuma mengambil uang untuk keperluan perbaikan chip. Nanti jam 8, kita ke mall ya?" tanya Nagi, yang dibalas anggukan kepala kakaknya.
Nagi masih sehat-sehat saja saat di masa depan, kenapa?
Saat ini Nagi berdiri di balkon kamarnya, menunggu kakaknya yang masih mandi. Sedangkan dirinya telah selesai mandi dan berpakaian rapi.
Pemakai chip itu terkena sebuah penyakit, Nag. Tapi nih ya! Ada pemakai chip lain yang malah sembuh dari penyakitnya! Jadi efeknya tidak bisa diduga.
Apakah alasannya karena tubuh yang diubah menjadi ukuran nano?
Efek samping itu bisa terjadi, karena tubuh yang diubah menjadi ukuran nano, Nag. Ada kemungkinan terjadinya kesalahan penyusunan kembali tubuh dari ukuran nano.
Nagi semakin pusing mengingatnya. Teknologi ini seperti pisau bermata dua.
Satu sisi, sangat menjanjikan. Sisi yang lain, besar kemungkinan untuk merugikan. Bahkan bisa membunuh pemakainya.
Pukul 7 pagi,
Mina telah memasak dan menyiapkan sarapan pagi untuk keluarga kecilnya. Semoga mereka suka. Bahan-bahannya cuma sedikit sih. Ada telur, roti, beras, sosis, jamur.
Ya ampun! Anak-anakku selama dua hari di sini hanya diberi ini?! Dasar Raja! batinnya sebagai bos di rumah ini.
Fajar dan Aruna telah ke luar dari kamar masing-masing, menuju meja makan. Mereka berdua juga telah berpakaian seragam putih merah.
"Ma-ma!" seru mereka dengan riang.
"Sini! Ayo makan, Jar, Na," titahnya dengan membalas senyum mereka berdua.
Mereka segera duduk di kursi dan menengadahkan kedua tangannya, sembari memejamkan kedua matanya.
"Sudah doanya? Ayo, dimakan ya!" titah Mina sekali lagi.
Butuh kesabaran untuk menyuruh mereka berdua. Tapi bapaknya ngga bisa disabarin, ke mana dia sekarang?!
"Mama ...," panggil Aruna dengan suara pelan, yang membuyarkan lamunan Mina.
"Apa sayang?" balasnya.
"Aku di bilang mirip Mama dong!" ucap si bungsu.
Mina merasa heran. Ada lagi yang mirip Beby ya?!
Dia membalasnya, "Siapa yang bilang gitu, Na?"
Si sulung Fajar segera menjawab, "Bu guru bahasa daerah, Ma. Bu guru bilang kalau Dek Na mirip dengan temannya waktu kuliah," jelas Fajar.
"Kalian ngga tahu nama guru itu?" Pertanyaannya mendapatkan gelengan kepala anak kembarnya tersebut.
"Bu guru itu masih baru, Ma," jawab Aruna.
Sedangkan Fajar merasa kesal. "Iya Ma! Bu guru itu menyuruh kita kenalan. Eh, dia sendiri ngga memperkenalkan diri!"
"Wah~ Anak Papa sudah bangun semua!" Raja tiba-tiba muncul dengan langkah lebarnya menuju meja makan. Ia masih dengan kaos dan celana pendeknya.
Ku kira ia mandi dan bersiap-siap. Lah ini apa?! batin Mina yang melihat suaminya.
Raja menghampiri Mina dan melingkarkan lengannya di pinggang Mina.
"Pa, ngga ngantor?" tanya Mina pada Raja yang segera menggelengkan kepalanya.
"Nanti siang, Ma. Habis ini mau mengantar mereka si kembar," ucapnya sembari mengecup pipi Mina.
"Malu ih, dilihat mereka loh," bisik Mina.
Raja melepas lengannya dan bergabung dengan kedua anaknya di meja makan.
"Ini, Pa." Mina menyodorkan sepiring makanan padanya.
"Mama ngga makan?" tanya Raja.
"Ayo makan Ma. Jangan diet terus~" ucap Fajar.
Mina menggelengkan kepalanya, tapi ia tetap duduk. Ini anak sama bapak, kayaknya sudah sekubu ya?
Kini mereka menyantap sarapan pagi bersama dengan suka cita.
Salam Hangat dari "Sebuah Kisah Cintaku" 😆🙏🏼
Sungguh luar biasa
Apalagi bila bisa buat sesuatu yang positif 👍👍👍
semangatt yaa
yuk baca lagi cerita aku yang judulnya CONVERGE!!
ada part baru lohh 😍
mari saling support thorr ❤️
thanks