NovelToon NovelToon
Noktah Merah

Noktah Merah

Status: tamat
Genre:Romantis / Patahhati / Tamat
Popularitas:13.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: Asri Faris

Mencintaimu seperti menggenggam bara api. Semakin dalam aku menautkan hati ini semakin nyata rasa sakit yang dirasakan, dan itu membuat aku semakin sadar, tidak ada ruang sedikitpun di hatimu untukku. Aku begitu sangat mencintainya, tapi tidak untuk dia, dia bahkan tidak pernah melihat kesungguhan aku sedikit saja.


Nabila maharani bagai menelan pil pahit dalam hidupnya, di malam pengantin yang begitu bahagia, ia disuguhkan dengan takdir atas kehancuran dirinya. Ternoda di malam pengantin, sesuatu yang ia jaga terenggut paksa oleh sahabat sekaligus adik iparnya. Bisma maulana ikhsan kamil, ada apa denganmu???

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asri Faris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 22

"Tidak pa-pa, Bila. Kebetulan saya memang ada agenda di kota, minggu depan," jelas Ustadz Zaki. Pria lulusan Kairo itu didaulat menjadi salah satu dosen tamu di salah satu universitas terkemuka di Jakarta. Suatu kehormatan yang sempat membuatnya bimbang untuk meninggalkan pesantren. Namun, hari ini juga, pria itu mendapat jawaban untuk mengiyakan.

Bila jelas bingung, tidak mungkin menerima tawaran Ustadz Zaki yang bersedia mengantarnya.

"Terima kasih, Ustadz, tapi Bila sudah pesan travel untuk perjalanan pulang lusa," tolaknya lembut.

"Masih lusa, 'kan? Bisa dibatalin aja, bareng saya lebih aman, Bila. Razik juga ada yang jagain," ucapnya sedikit memaksa.

"Kamu jangan khawatir, nanti ada Nadia dengan abangnya, sekalian ia mau pulang ke Jakarta." Ustadz Zaki menyebut nama saudaranya yang kebetulan hendak pulang bareng, karena berdomisili di Jakarta.

Ya ampun ... gimana nolaknya, kalau udah gini ...

"Bila, apa yang dikatakan Zaki benar, sebaiknya kamu bareng saja, Umi juga lebih tenang. Jangan khawatir menjadi fitnah, ada Nadia dan Uwais yang akan menemani perjalanan."

"Iya, Umi," pasrah Bila merasa tidak punya alasan.

Setelah menghadap Umi dan juga pamit pada pak kyai. Bila sudah mantap untuk pulang, tapi yang membuat ia terus kepikiran, bagaimana cara menolak ajakan Ustadz Zaki yang ingin mengantar. Bila benar-benar tidak mau membuat orang rumah salah paham.

Semalam dengan kegamangan, Bila belum menemukan jawaban. Terlebih ketika Nadia menyambangi kamarnya, perempuan cantik berhijab ungu itu, terlihat antusias menyambut dirinya.

"Mbak, aku seneng lho, ada temennya dalam perjalanan, suka males aja sama abang dan ustadz, dicuekin dan ditinggal ngobrol sendirian, bikin nggak nyaman," curhat Nadia, gadis itu cukup menyenangkan, Bila hanya menimpali dengan senyuman.

Usai packing barang, mereka saling berpamitan, ada rasa kehilangan dan haru. Meninggalkan tempat pelarian yang sudah menjadi teman selama tiga tahun lebih ini. Matanya berkaca-kaca. saat pelukan perpisahan Umi menyapa.

"Hati-hati di jalan, kamu boleh kembali kapan pun kamu menginginkan, Umi berharap, suatu hari nanti kamu akan menetap di sini dan menjadi keluarga kami seutuhnya." Ada kata yang tersirat dari kata-kata Umi di sana. Bila tersenyum haru, merasa berat meninggalkan orang-orang yang sudah begitu baik padanya.

Razik yang usil, kebetulan masih pulas tertidur. Bocah itu seharian sudah girang, katanya mau diajak jalan-jalan jauh sama Bunda.

"Biar aku yang gendong saja, Bila, tolong kamu bawakan tas aku," pinta Ustadz Zaki mengintip diambang pintu kamar yang terbuka lebar. Bila hendak menggendong si kecil yang masih terlelap damai di atas kasur.

Bila mengiyakan, perempuan itu lekas menyingkir untuk memberi ruang pada Ustadz Zaki mengangkat putranya. Segera pria itu membawanya ke mobil. Bila dan Nadia duduk di jok belakang, sementara Ustadz Zaki menyetir dan Uwais duduk di sebelahnya.

Seribu perasaan berkecamuk di dalam dada, tiga tahun lebih tidak pulang, walau tetap memberi kabar pada orang rumah, namun Bila cukup gugup untuk menapakkan kakinya kembali di kediaman orang tuanya.

Setengah perjalanan, Ustadz Zaki menepikan mobilnya di rest area. Selain karena waktu ashar, beliau memutuskan untuk istirahat dan mengisi perut yang terasa lapar.

Mereka berlima langsung menuju mushola, menunaikan kewajibannya sebentar, lalu mencari restoran di sekitar.

"Razik, mau makan apa?" tanya Ustadz Zaki seraya menggandeng tangannya, bocah kecil itu sangat dekat dengan ustadz.

"Ayam, pen chicken, boleh?" jawab bocah kecil itu girang.

"Boleh dong sayang," jawab Ustadz Zaki langsung mengiyakan.

Mereka duduk melingkar, Bila posisi paling jauh dan sedikit menghindar, tentu saja membatasi jarak.

"Razik, sini sama Bunda, sayang, jangan ngrecokin nanti Ustadz nggak bisa makan," tegur Bila mendapati putranya yang bergelayut di samping ustadz.

"Nggak pa-pa, Bila, biar saya suapin Razik, kamu makan saja," jawabnya tenang. Bocah pintar itu rupanya cukup dekat dengan ustadz, membuat mereka tidak ada kecanggungan dan jarak.

"Ayo cuci tangan dan bersihinnya sama Bunda," ajak Bila pada putranya yang sedikit belepotan.

"Aku aja, Mbak. Kebetulan mau ke belakang, Mbak selesaikan aja dulu makannya," sela Nadia. Bila mengiyakan.

Nadia menuju belakang, Razik yang lari-lari tak sengaja menabrak orang di depannya. Bocah kecil itu terjatuh.

"Aduh sayang, maaf tidak sengaja," sesal seorang pemuda yang ikut berjongkok dan segera membantu bocah itu untuk berdiri.

"Azik, maap, Om, ndak cengaja," ucapnya spontan.

"Om, yang minta maaf, ada yang sakit?" tanyanya memastikan.

"Maaf ya, Mas," sesal Nadia mengangguk sopan.

"Nggak pa-pa, Mbak, lucu sekali anaknya." Pria itu mencubit gemas pipi gembulnya.

"Bukan, Mas, itu ponakan saya, bundanya ada di sana. Mari saya permisi, maaf ya," pamitnya sekali lagi, beranjak menjauh dari sana.

"Masyaa Allah ... cantiknya, adem bener lihat yang beginian, mau jagain keponakan, terlihat sangat manis," gumam pemuda itu takjub.

***

Semenjak kepergian istrinya, Bisma lebih banyak diam. Menjadi pribadi yang dingin, bahkan tak tersentuh, membatasi diri untuk tidak banyak berinteraksi dengan orang-orang. Untuk membunuh waktu yang terasa berjalan melambat, Bisma memutuskan untuk melanjutkan studinya. Pria itu memilih menyibukkan diri dengan banyak hal, kuliah dan kerja adalah dendam yang impas untuk membunuh rasa jenuh pada waktu. Dengan banyaknya kegiatan, ia tidak begitu terpuruk dengan keadaan.

Bertahun-tahun mencintai sendiri itu sakit, tapi itu ia terima sebagai hukuman atas perbuatannya yang telah lancang mengambil apa yang bukan menjadi haknya. Setiap foto yang dikirim Bila, selalu menjadi penyemangat hari-harinya. Entah kapan istrinya itu akan pulang, Bisma selalu menunggu momen itu.

Kangen, rindu, ingin memeluk darah dagingnya sendiri, adalah impian terbesar Bisma saat ini. Walaupun Bila masih membenci, dan belum mau menerima dirinya, Bisma tidak mengapa, asal perempuan itu masih mau menyayangi anaknya, dan merawat dengan cinta dan kasih sayang anak mereka. Bisma masih bisa terima. Pria itu tahu, Bila wanita yang tegar dan baik. Walaupun ia membenci Bapak dari anaknya, Bila akan tetap menyayangi anak mereka dengan sepenuh hati.

Di kantor pun, ia tak sesekali beramah tamah dengan pegawainya. Pria itu sampai dikenal bos dingin, galak, dan super nyebelin. Saking sedikit interaksi terhadap karyawan dan lawan jenis, desas- desus di kantor sampai mengira, atasan mereka tidak suka perempuan.

Tentu saja itu cukup masuk akal, mengingat tidak ada orang yang tahu kalau pria itu sudah menikah, selain Pandu saudaranya itu. Bisma masih dikenal bujang dikalangan orang, pernikahannya dengan Bila waktu itu tidak pernah dipublikasikan, atau lebih tepatnya belum sempat terekspos khalayak orang.

"Bis, lo tidak bosan, kerja, kerja, dan kerja. Sesekali nyenengin diri lo sendirilah, biar nggak dikira peres," ucap Alan. Mereka baru saja bertemu setelah sekian purnama membuat jadwal. Jarang sekali Bisma ikut nimbrung kegiatan ngumpul bersama. Semenjak lulus, kebanyakan dari mereka sibuk bekerja.

"Ini beneran lo mau nikah?" tanya Alan meneliti undangan yang dibawa Faro.

"Ya beneran lah, masa' nikah bohongan, bantu kumpulin teman-teman dong, aku mau ngajakin reuni kecil-kecilan alumni kelas kita, sekalian nyebar undangan ini," ujar Faro semangat.

"Wah ... keren, Fa, siapa tahu entar dapat jodoh mantan anak fekon. Iya nggak, Bis."

"Bisma!" seru Alan dan Faro kompak.

"Apa sih, berisik!" protesnya sedikit meninggikan suaranya.

"Coba konfirmasi ke Disya, istri dosen pasti masih nyimpen nomor anak-anak."

"Ih ... jadi kangen Disyayang dan rempong squad. Seru nih pasti kalau ngumpul udah pada bawa anak. Kita doang nih yang belum laku, Bis." Alan mendrama.

"Kita? Lo kali, gue udah nikah dan punya anak," ucapnya tenang. Sontak Faro dan Alan menyorot Bisma dengan kekehan pelan.

.

.

Tbc

1
Cee Suli
part ini bikin nangis🥺🥺
Surati
bagus ceritanya 👍🙏🏻 semangat thor 💪
Wahyunni Winarto
akhirnyaa cinta tdk akan salah memilih untuk pulang🥲🥲
Wahyunni Winarto
nyesekkk sekali😭😭😭
Bundanya Syahdan
ya ampun razik, kamu datang disaat yg tidak tepat nak 😭
Bundanya Syahdan
mana ketemu mantan lagi 😭
Hani Hani89
novelnya judul nya apa yg sama Azmi
Bundanya Syahdan
wah akhirnya bila balik juga, dan langsung ketemu bisma nhhak tuh 😭
Bundanya Syahdan
ayo bisma pepet teroooss 🤭🤣
Luar biasa
Faris Fahmi
percuma menyendiri di pesantren bila
kalo masih memendam kebencian
aturan berkumpul aja sama emak2 tukang gosip, baru maklum kalo masih benci sama bisma
Linda Febri
Luar biasa
Mumun Munawwaroh
itu suamimu bila
gia nasgia
candunya Bisma
Gita mujiati
Luar biasa
Gita mujiati
Lumayan
Idhar Dar
Bagus masih mau lanjutannya
Jumi Nar
Luar biasa
Borahe 🍉🧡
jodohnya Gua Azmi nih. hahaha
Borahe 🍉🧡
haha "kok mau?? "
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!