Menceritakan tentang kisah cinta seorang gadis di penghujung masa SMA. dari awal yang tak mengenal cinta, hingga tersakiti oleh cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32
Flashback beberapa tahun sebelumnya, saat Rayyan dan Vino masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama.
"Rayyan, Gue suka sama Vino." Ucap seorang gadis cantik yang tengah duduk sambil memandang lautan lepas di Tepi Pantai.
Mendengar Ucapan Gadis yang tengah duduk di Sampingnya, Rayyan pun terkejut dan langsung menoleh menatap wajah gadis cantik itu. Merasa tengah di tatap, gadis itu pun menoleh. Kedua pasang mata itu pun saling bertatapan.
"Gue suka sama VIno." Ulang gadis itu.
binar mata dan senyuman gadis itu menandakan jelas jika ia tengah dilanda jatuh cinta.
"Vino? Kenapa harus Vino?" Tanya Rayyan dengan raut wajah yang sulit diartikan. Namun rahangnya tampak mengeras.
Gadis cantik bernama Rania itu hanya tersenyum. Kemudian kembali memalingkan wajahnya untuk menatap gulungan ombak kecil di hadapannya.
"Dari awal gue udah suka sama Vino, tanpa gue tau Alasan yang sebenarnya." Ucap Rania dengan tatapan seolah tengah membayangkan wajah seseorang yang ada di dalam hatinya.
mendengar penuturan Rania, Rayyan semakin mengeraskan rahangnya, bahkan kedua tangannya ikut mengepal untuk meredam emosi yang tengah melandanya.
"Karena itu, Please bantu gue buat bisa jadi lebih dari sekedar teman untuk Vino" Ucap Rania sambil kembali menatap kearah Rayyan, namun kali ini Rania menatap dengan tatapan memohon.
Di tatap dengan tatapan seperti itu, membuat emosi Rayyan surut seketika. Rayyan memang lemah jika Rania sudah menatapnya dengan tatapan seperti itu. Karena bagi Rayyan, tatapan Rania padanya merupakan hal istimewa baginya. Baginya Rania adalah dunianya. Cinta pertama baginya.
*****
Semua berawal dari sebuah persahabatan antara Rayyan dan Vino. Persahabatan yang terjalin semenjak mereka duduk di sekolah Dasar. Meskipun keduanya memiliki karakter yang berbeda. Rayyan si pendiam namun tegas, dan Vino si jahil periang namun perhatian. Keduanya dapat saling melengkapi bahkan mereka tampak sangat kompak saat bersama.
Suatu ketika, seorang murid pindahan bernama Rania masuk dalam lingkar persahabatan antara Rayyan dan VIno. Rania yang cantik dan Ramah, dengan mudahnya bergaul bersama keduanya. Mereka bertiga pun menjalin persahabatan bersama melewati masa indah di kelas 9.
Persahabatan yang diisi dengan canda tawa dan saling melengkapi membuat nyaman ketiga sahabat itu, namun pada akhirnya, Rayyan dan Rania menyadari suatu hal. Jika Rayyan menyukai Rania lebih dari sekedar sahabat. Dan Rania menyukai dan menginginkan Vino lebih dari sekedar sahabat.
Setelah mendengar ungkapan perasaan Rania untuk Vino, Rayyan lebih banyak menyendiri. Ia berusaha menghindari Rania maupun Vino. Hatinya terasa sakit jika harus melihat Rania yang semakin terus menempel pada VIno. Rayyan MENGALAH, itulah yang tengah ia lakukan. Ia memilih melawan perasaannya demi kebahagiaan pujaan hatinya dan juga Sahabatnya.
namun sepertinya. Sikap mengalah Rayyan seola sia-sia. Kala sore itu, Rania mengajaknya bertemu di Taman dekat rumahnya.
Rayyan yang khawatir, berusaha secepat mungkin untuk bisa bertemu Rania. Dan benar saja. Ketika sampai di Taman. Rayyan melihat Rania tengah duduk seorang diri.
Wajah Rania tampak sembab. Tak ada lagi binar maupun senyum bahagia yang tempo hari menghiasi wajah cantiknya.
"Ada apa?" Tanya Rayyan sembari duduk di samping Rania. Wajahnya menatap intens kearah Rania.
Rania tampak menoleh. Menatap Rayyan dengan tatapan penuh rasa kecewa.
"Vino nolak Gue." Ucapnya dengan suara sendu. Nampak bulir bening meleleh dari kedua matanya. Membuat Emosi Rayyan seketika meningkat.
"Gue pikir, gue istimewa buat VIno. Tapi ternyata gue salah! Vino cuma menganggap gue sekedar sahabat biasa. Dia ga punya perasaan lebih buat gue." Ucap Rania yang kemudian terisak. Bulir bening itu terus mengalir dari matanya menandakan betapa kecewa dan hancurnya Rania saat ini.
"Cinta pertamanya tak terbalaskan". Itulah kiasan yang mungkin tepat untuk menggambarkan perasaan Rania saat ini.
Dengan lembut, Rayyan membawa tubuh Rania dalam pelukannya. dalam hatinya, Rayyan bersumpah akan membalas semua rasa kecewa dan sakit hati Rania pada Vino. Rayyan tidak perduli jika Vino adalah sahabatnya sekalipun.
Keesokan harinya.
pagi itu Rayyan berniat untuk menemui Vino di rumahnya. Ia berniat untuk memberi perhitungan pada Vino karena sudah berani mempermainkan Rania. Namun niat itu segera di urungkan ketika Rayyan mendapat pesan dari Ibu Rania Jika Rania tengah berada di Rumah sakit sejak semalam. Dengan tergesa-gesa Rayyan pun pergi menemui ke Rumah sakit untuk melihat keadaannya.
Di Rumah Sakit, Rayyan hanya mampu diam terpaku melihat kekasih hatinya terbaring lemah dengan selang infus menempel di lengannya.
Rania yang depresi menelan banyak obat tidur hingga ia tak sadarkan diri. Itulah yang Rayyan dengar dari Ibu Rania.
Dengan penuh Amarah. Rayyan pergi untuk mendatangi Vino di rumahnya. Suasana Rumah Vino yang memang selalu sepi, membuat Rayyan leluasa untuk memberi beberapa pukulan pada wajah VIno yang tak sempat Vino tangkis. Rayyan terus berusaha memberi beberapa pukulan untuk meluapkan emosi yang sedari dulu di tahannya.
"Rayyan, Lo udah gila!" Ucap Vino sambil mengelap sudut bibirnya yang robek. Darah segar mengucur dari robekan bibir itu. VIno masih belum mengerti alasan sahabatnya itu berani memukulnya seperti itu.
"Lo yang gila. Apa salah Rania sampe Lo tega buat nolak Dia." Ucap Rayyan penuh emosi.
"Jadi karena Rania, Lo berani mukul sahabat Lo sendiri?" Tanya Vino memastikan.
"Pers*tan dengan persahabatan. Lo udah berani nyakitin hati Rania." Jawab Rayyan penuh emosi.
Vino akhirnya mulai paham dengan maksud Rayyan yang sebenarnya. Bertahun-tahun bersahabat, ia sedikit banyak tahu tentang Rayyan.
"Lo suka Rania Kan? Tapi LO terlalu pengecut buat ngakuin perasaan Lo didepannya." Ucap Vino sambil tersenyum meremehkan.
Merasa tengah di remehkan baik oleh ucapan maupun sikap Vino. Rayyan pun kembali akan melayangkan pukulannya, namun kali ini bisa tepis dengan mudah oleh Vino.
"B*rengsek" Umpat Rayyan. Kala tinjunya berhasil di tepis Vino.
"Gue emang B*rengsek, tapi Gue bukan pengecut kaya Lo." Ucap Vino yang kemudian pergi meninggalkan Rayyan yang diam terpaku karena ucapan Vino.
semenjak kejadian itu, Rayyan maupun Vino tak lagi bersama, mereka berdua bagaikan orang asing. Tak ada lagi persahabatan yang terjalin diantara keduanya.
Sementara Rania. Kedua orang tua Rania memilih untuk membawa Rania pindah keluar negeri untuk bisa lebih fokus memberi perawatan pada Rania.
Rayyan yang mengetahui itu, hanya mampu menyesali diri. Andai saja, saat itu Ia berani untuk mengungkapkan perasaannya pada Rania, mungkin semuanya tidak akan terjadi seperti ini. mungkin saja saat ini ia justru tengah berbahagia bersama dengan Rania merencanakan masa depan bersama.
Flashback off.
Yang kemarin menebak-nebak Alasan Rayyan dan Vino saling membenci.
Tebakan kalian ada yang sama ga nih?
Yuk komen di bawah.
Ceritanya sendiri, mudah diikuti. Cerita cinta pertama dengan lika-likunya sendiri. Nggak terlalu mainstream, nggak mudah ditebak akhirnya. Penceritaan yang dominan POV 1 sudah baik, dan enak dibacanya, itu saja.
Manis di awal doang.
terkadang orang perfeksionis itu temperamental.
kecuali kamu.