Aloysius menjalin sebuah hubungan bersama seorang wanita bernama Lindsay. Hubungan tanpa satatus, tapi dia sangat nyaman seperti itu. Mereka juga menjalani setiap waktu tanpa ada masalah maupun konflik, bahkan sekecil apa pun. Tidak ada yang tahu juga tentang kedekatan mereka selama ini.
Namun, secara tiba-tiba Lindsay menghilang dan tidak bisa dihubungi. Dicari juga bagaikan sudah ditelan bumi, sulit ditemukan. Meski hubungan mereka tak jelas, tapi Aloysius sudah ketergantuan dengan wanita itu hingga sulit melupakan.
Satu tahun berlalu, kabar mengejutkan didengar oleh Aloysius bahwa daddynya akan menikah lagi di saat mommynya kritis. Selain kaget tentang berita itu, dia juga shock mengetahui orang yang akan dinikahi adalah Lindsay, wanita yang amat dinanti selama ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NuKha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 32
Terlalu lama melewati masa kritis, membuat daya tangkap otak Amartha juga menurun. Dia sampai meminta untuk dijelaskan dan diceritakan bagaimana bisa Lindsay hamil anak dari Aloysius.
Awalnya Lindsay hanya ingin menjenguk sebentar, tapi ternyata harus berada di sana lebih lama untuk mengulas kembali mulai dari empat tahun lalu saat pertama mengenal Aloysius, kemudian kedekatan mereka, kebiasaan mereka yang sering menghabiskan waktu bersama untuk bermesraan, lalu keputusannya pergi dari kehidupan pria itu karena disebabkan oleh sesuatu, semuanya diceritakan. Terakhir tentang bagaimana ia disetubuhi secara kasar dan terbentuklah janin yang saat ini dikandung.
Satu jam lamanya Amartha mendengarkan, akhirnya ia paham juga duduk permasalahan. “Maafkan aku karena memintamu menikahi suamiku. Andai sejak awal tahu kau pernah dekat dengan putraku, maka tak akan ku minta hal konyol itu hanya karena takut kalau Delavar nanti akan kesepian jika aku tiada.”
“Aku lebih baik kesepian daripada mendua. Jadi, apa pun kondisimu, jangan paksa berjanji untuk menikah lagi. Itu sangat sulit untuk ku lakukan.” Delavar mengusap kening sang istri dengan penuh kasih.
Lindsay yang melihat interaksi antar sepasang suami istri itu sangat tersentuh. Meski satu tengah sakit parah, dan si lelaki masih sehat, tapi tidak membuat cinta keduanya luntur. Sangat iri dengan hubungan yang terjalin.
Kenapa Aloysius tidak menuruni sifat daddynya yang hangat, mau serius, dan setia dengan satu wanita? Lindsay bergumam dalam hati. Satu garis keturunan tapi ternyata tidak memberikan jaminan memiliki perilaku sama.
“Lalu, Aloysius bagaimana? Apa dia senang mendengar kalau kau hamil anaknya?” tanya Amartha dengan suara lembut nan lirih.
Kepala Lindsay menggeleng, lalu menunduk. Dia mengusap perut yang masih belum nampak buncit. “Aku belum memberi tahu tentang kehamilan ini.” Ada air mata mendadak meluncur. Lagi-lagi merasakan dada sesak kalau mengingat bagaimana Aloysius yang pedas saat bicara dengannya, emosional pria itu, dan ketidakinginan untuk serius. Semua bercampur jadi satu, hingga rasanya menyesakkan.
“Kenapa? Dia berhak tahu.” Amartha yang masih lemah pun hanya bisa menatap perut di mana ada calon cucunya. “Mungkin Aloysius akan berubah dan mau serius kalau tahu tentang kehamilanmu.”
Sudah ditahan supaya tidak menangis di depan orang lain, tetap saja air mata sulit dibendung. Lindsay langsung mengusap pipi tiap kali buliran menetes. “Aku ... tidak yakin dia percaya kalau ini adalah anaknya. Aloysius juga tidak suka hubungan terikat, takutnya jika tahu tentang kehamilan ini hanya akan membuatnya merasa terbebani karena harus menjadi orang tua dari bayi yang akan ku lahirkan.”
Berkali-kali Lindsay mengusap wajah, tetap saja terus ada yang keluar. “Maaf, sejak mengandung, aku jadi sedikit perasa.”
“Sini, mendekat,” pinta Amartha.
Lindsay menurut, pipinya diusap lembut oleh Amartha dan bibir pun tersenyum merasakan kehangatan dari wanita yang tengah sakit itu.
“Meski tahu perilaku putraku tidak baik, kau tetap mempertahankan janin itu?” Amartha menggenggam tangan Lindsay dengan rasa bersalah.
“Ya.”
“Kau mencintainya?”
Tidak perlu berpikir, Lindsay mengangguk. “Ya, walau berusaha untuk menyangkal, tapi aku selalu memikirkan Aloysius.”
Amartha menghembuskan napas kasar. Merasa bahwa selama ini kurang memerhatikan ketiga putranya sampai ada yang berbuat sedemikian rupa.
“Aku akan mencoba membantu menasehati dia supaya mau tanggung jawab atas perbuatannya,” ucap Amartha.
“Jangan, aku tidak ingin menjalin hubungan kalau berdasarkan keterpaksaan. Biarkan Aloysius memilih jalan hidupnya, aku tak mau mengikat seandainya dia memang tidak menginginkan hal itu,” tolak Lindsay.
kelakuanmu 🤣🤣
namanya asing jd kalo mau komen bingung mau nulisnya alhasil gk jd komen deh 🤣🤣
jgn² mereka udh punya anak lg 🤣