NovelToon NovelToon
Rebirth Of The Duke'S Daughter

Rebirth Of The Duke'S Daughter

Status: tamat
Genre:Romantis / Action / Fantasi / Petualangan / Tamat
Popularitas:2.1M
Nilai: 4.8
Nama Author: Pelangizigzag

Putri bodoh yang satu ini berubah total dalam waktu semalam! Setelah ini dia bertekad untuk membalaskan semua rasa sakitnya satu-persatu. Lalu ditakdirkan hidup sebagai permaisuri? oh, tidak masalah karena ada pria tampan berkuasa yang akan membantunya sampai akhir.

NO PLAGIAT!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelangizigzag, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Past History at Eroshvent

Sembilan belas tahun yang lalu saat lima benua merasa daerahnya masing-masing bisa kuat dan mandiri tanpa Kekaisaran —yang dianggap kurang berguna— pernah mengajukan gugatan untuk memisahkan diri dari kekaisaran Erosh. Tidak mudah dan memang ajuan tersebut ditolak mentah-mentah oleh Kaisar Aldebaran Maxuell, Kaisar Benua Erosh setelah Kaisar Regardo yang merupakan rantai awal dari hubungan lima negeri tersebut.

Setelah penolakan yang dilakukan Kaisar Aldebaran, baik Armovin, Domania, Vrioral, Aldergo, bahkan Othanium memutuskan untuk diam-diam menjalankan pemerintahannya sendiri tanpa campur tangan Eroshvent bahkan terkesan sedikit 'mengacuhkan' pimpinan terbesar mereka tersebut. Selama dirasa aman, mereka tidak pernah meminta bantuan pada pemerintah pusat Eroshvent.

Kaisar Aldebaran hanya memiliki dua orang putra kekaisaran yang berbeda kepribadian sejak kecil. Hal inilah yang menjadikan Kaisar ragu terhadap putra mahkotanya sendiri, selain itu Claude kecil lebih menarik dibandingkan putra sulungnya.

Yang pertama adalah Javier Maxuell, ia telah disiapkan untuk menjadi kaisar di usia belia dan memulai kelas pertamanya sejak memasuki usia empat tahun. Tidak pernah diizinkan bermain-main atau bahkan bersenang-senang, karena menurut Kaisar Aldebaran calon penerusnya tidak memerlukan hal percuma tersebut.

Dan yang kedua adalah Claude Maxuell, pangeran ceria yang tumbuh dengan baik dibawah pengasuhan permaisuri sendiri. Sebagai pangeran kedua, tugasnya di pemerintahan kelak sebagai penasihat untuk Javier atau panglima perang jika ia menginginkannya. Sejak kecil mereka telah memiliki posisi masing-masing yang diatur ketat. Pengajaran awalnya pun ditunda, Claude memulai tahun pertama di sekolahnya sama seperti putra-putri bangsawan pada umumnya yakni di usia delapan tahun.

Claude lebih sering menghabiskan waktu dengan permaisuri Sheraphina Stamford dan terkadang Kaisar Aldebaran pun ikut bergabung dengan mereka. Sheraphina Stamford, merupakan putri keempat belas dari kerajaan Armovin yang otomatis adalah bibi dari Raja Armovin yang sekarang, Peterson Stamford. Menurut rumor yang beredar, putri yang sekarang menjelma menjadi permaisuri ini adalah putri tercantik di Armovin hingga Kaisar dibuat jatuh dalam pelukannya.

Sejak saat itu Armovin semakin merasa berkuasa setelah Sheraphina berhasil memasuki gerbang kekaisaran.

Javier mengetahui segala kegiatan adik, ayah, dan juga ibunya. Javier kecil sering mengintip kegiatan mereka di balik pohon cemara yang tak jauh dari keberadaan tiga orang itu. Ia hapal betul, biasanya hampir setiap sore di bawah pohon persik sebelah barat istana mereka sering berbincang-bincang bahkan bercanda satu sama lain layaknya keluarga pada umumnya.

Sayangnya, Kaisar dan permaisuri melupakan salah satu putranya yang juga menginginkan kasih sayang.

Terkadang Javier juga merasakan kehangatan itu, walau dari jauh. Setiap sore Javier sengaja membolos kelas sastra hanya untuk menyaksikan hal serupa. Kebahagiaan keluarganya yang tidak ternilai. Walau tanpa dirinya.

Javier juga terkekeh kecil saat adiknya itu melemparkan lelucon yang menggelikan. Javier juga sering menutup mulutnya dengan keras agar ia tidak mengeluarkan tawa keras atau persembunyiannya akan diketahui oleh tiga orang di sana.

Hingga suatu sore,

Hal tersebut masih segar dalam ingatan Javier. Saat itu pergantian musim gugur. Tidak ada satupun buah persik yang menggantung di pohon, daun-daun cokelat telah bertabur di atas tanah hingga menutupi jalan-jalan. Mereka masih di sana, menikmati celotehan riang si Claude kecil.

"Di sini cukup dingin, Ayah," ucap Claude kecil lalu memeluk dirinya sendiri dengan tangan mungilnya.

"Ayah akan memerintahkan kepada pelayan untuk mengambilkan kain hangat untukmu. Tunggu sebentar." Kaisar segera menepuk tangannya hingga seorang pelayan datang membawakan hal yang di pinta.

"Jangan biarkan dirimu kedinginan." Kaisar Aldebaran segera memakaikan kain hangat itu di pundak putra kecilnya.

"Ini musim gugur. Lain kali jika kau memakai pakaian yang seperti ini, kau akan kedinginan dan sakit, sayang," ujar Permaisuri Sheraphina menasehati, "Katakan, pelayan mana yang memakaikan pakaian musim semi seperti ini kepada putra ku?"

"Ibu, mereka tidak salah. Aku yang meminta mereka untuk memakaikan pakaian ini padaku. Lihat, aku suka dengan motifnya," ujar Claude polos sambil memperlihatkan sulaman burung bangau pada bagian bawah setelannya.

"Kau selalu melindungi pelayan-pelayan mu itu," sungut Permaisuri sedikit kesal, "Jangan selalu bersikap layaknya perisai pada semua orang, Claude. Kita tidak tahu kapan orang-orang itu akan menikam dirimu dari belakang karena kelembutan hatimu itu."

Claude menggeleng tal setuju. "Andai aku menjadi Kaisar selanjutnya, aku akan tetap pada pendirian ku sejak awal, bu. Melindungi seluruh rakyat lalu menjadi Kaisar yang hebat daripada ayah!"

Kaisar Aldebaran tercenung. Claude memberikan ide yang belum dipikirkannya sama sekali. "Kau benar, Claude," ucapnya lalu mengarahkan tatapan bangga terhadap putra bungsunya. "Aku akan menjadikanmu Kaisar selanjutnya. Jangan khawatir."

Javier diam mematung di tempat persembunyiannya. Tak terasa tetesan air yang harusnya tak boleh ia hadirkan dalam hidupnya kini kembali menetes. Claude tidak salah sama sekali, dia hanya mengucapkan isi pikirannya.

Tapi Kaisar Aldebaran ... bukankah ia mengatakan bahwa tujuan Javier hidup diperuntukkan mengatur takhta? Jika takhtanya direbut, apa yang harus Javier lakukan. Apa ia harus mati?

Javier berlari tak menentu arah dengan air mata terakhir di musim gugur ketujuhnya hari itu.

Selama ini Javier menghabiskan hidupnya hanya untuk menjadi Kaisar yang baik, menyenangkan hati ayah dan ibunya. Namun lagi-lagi semua itu terpaksa direbut oleh adiknya. Kaisar hanya mencintai putra bungsunya. Dia melupakan putra lainnya yang tengah berjuang keras setiap hari.

Namun tetap saja, Javier tidak akan pernah membenci adiknya sampai kapanpun. Ia begitu menyayangi Claude.

Jika alasan Kaisar Aldebaran membencinya karena Javier manja, sunggu Javier tidak pernah mengeluh. Ia pernah mengobati tangannya yang waktu itu tergores anak panah di hari pertama pelatihan ketahanan fisik. Tidak ada yang mengetahui seberapa dalam terluka yang ia peroleh andai Kasim Rou tak memergokinya di tenda perburuan dengan darah yang menggenang di sekitar kaki.

Sebenarnya itu tak pantas dikatakan sebagai 'tergores'.

Dengan sedikit ancaman, Kasim Rou bersedia untuk tutup mulut pada semua orang atas apa yang dilihatnya pada hari itu.

Kembali ke realita, Javier menahan isakan agar tak lolos dari bibir mungilnya. Menerobos keluar melewati pintu rahasia yang terletak di bagian timur istana, tidak ada penjagaan disana karena pintu tersebut hanya diketahui oleh keluarga kerajaan. Javier pergi dari istana tanpa sepengetahuan siapapun.

Javier membiarkan kakinya melangkah tak menentu. Dirinya begitu lelah. Andai Kaisar Aldebaran memberikan takhta pada Claude sejak dulu, setidaknya Javier tak harus melewatkan masa bermainnya dengan sia-sia. Jika semuanya akan berakhir seperti ini, ia tak akan bekerja terlalu keras.

Empat tahun sudah Javier menghabiskan waktu untuk berusaha  membahagiakan Kaisar dan Permaisuri, namun sama sekali tidak membuahkan hasil.

Tetes keringat mengalir dari surai hitam Javier kecil. Tangan dan kakinya dingin namun diikuti cucuran keringat. Tubuhnya memiliki dua rasa yang berbeda sejak kecil. Dia bisa merasakan dingin dan panas yang pekat bersamaan dan hal ini luput dari pengetahuan kaisar dan permaisuri. Ia memeluk tubuh kecilnya di pinggir jalan saat kedua kakinya tak sanggup lagi berjalan. Sendirian. Tanpa kain hangat ataupun teman karena sejak awal ... Javier ditakdirkan tidak akan memiliki seorang teman.

Javier menyapu pandangannya. Saat ini ia berada di desa dekat kaki gunung di bagian selatan Istana. Semua orang dewasa terlihat sibuk mengangkut barang bawaan dengan gerobak, tak ada yang menyadari keberadaannya sebagai calon Kaisar karena pakaian biru polos sederhana yang ia kenakan.

Itu lebih bagus.

"Perampok dari Aldergo datang lagi, cepat selamatkan barang dagangan kalian!"

Setelah teriakan keras dari arah yang tak jelas, orang dewasa yang tadinya berjalan dengan santai tiba-tiba bergegas mendorong gerobak-gerobak mereka dengan wajah panik. Suasana menjadi tak terkendali. Raung ketakutan anak-anak desa juga mengisi kekosongan atmosfer dalam beberapa detik berikutnya.

"Sepertinya mereka tahu kalau kita akan merampas di sini, bos," ucap salah satu dari pria berpakaian hitam dengan wajah tertutup. Mereka seperti rombongan. Ada satu, dua, tiga ... sekitar lima belas orang.

Pria gempal berkuda hitam pekat yang berada di depan pasukan tampaknya tidak puas. Wajahnya tak teridentifikasi sama sekali. "Sialan, kalau begitu kita harus menerobos rumah mereka."

Javier dengan tubuh kecilnya lagi-lagi memutuskan untuk bersembunyi. Mengamati kelompok bandit itu dalam diam, ia tak ingin terlibat dalam kasus yang akan menyusahkan Kaisar nantinya.

Di jalanan nan gersang itu hanya menyisakan kelompok perampok yang tengah mengatur rencana. Tidak ada orang yang berani melewati jalan tersebut bahkan ada yang memutuskan untuk putar arah. Namun hal lain terjadi.

Seorang kakek dengan tubuh segelap tembaga berani melewati jalan yang dihadang oleh beberapa perampok. Tubuhnya ringkih dan melangkah pelan-pelan menggunakan tongkatnya.

Kakek itu jelas tidak menyadari akan keberadaan perampok-perampok yang menghadangnya sekarang.

Javier memutar otak. Tidak ada cara lain, ia harus menyelamatkan rakyatnya sekarang atau ia akan terlambat. Masa bodoh dengan masalahnya yang semakin banyak saat berita ini sampai terdengar di kuping Kaisar, ia harus segera bertindak.

"Wah, lihat siapa yang berani melewati jalanan ini?" kekeh pemimpin perampok diikuti oleh bawahannya.

"Hh-hah, siapa kalian?" tanya kakek tersebut, bingung.

"Jangan banyak bicara. Serahkan hartamu sekarang dan antar kami menuju rumahmu!" bentak pimpinan bandit tanpa perasaan. "Joe, cepat 'bantu' kakek ini untuk menyerahkan barang-barangnya."

"Baik, bos!" Seorang laki-laki yang tampaknya lebih muda turun dari kudanya lalu menghadang si kakek dengan tangan yang telah berada di gagang pedang, siap di hunuskan.

"Jangan sentuh kakekku!"

"Oh, jadi ini cucunya?" cemooh pria gempal itu. Lagi. "Katakan, adik kecil. Di manakah rumah kalian agar paman bisa berkunjung?"

"Dasar penipu," desis Javier muak. "Perampok seperti kalian harusnya enyah dari Erosh!"

"Kurang ajar," gumam pria gempal tersebut emosi. "Joe, habisi saja keduanya!"

"Serahkan padaku," sahut laki-laki bernama Joe itu dengan senyum meremehkan.

Sebagai calon Kaisar, ia tak pernah diremehkan. Javier sudah mahir memainkan pedang di usia lima tahun dan ia juga sudah mendalami keahlian berpedangnya tersebut dari hari ke hari. Pedang adalah temannya. Dia tidak ingin diremehkan apalagi dipandang sebelah mata oleh orang-orang ini. Bisa dikatakan hanya wujudnya saja yang kecil, namun kepandaian Javier sudah mencakup banyak hal seperti orang dewasa.

Javier kecil mengeluarkan pedang perak seukuran tubuhnya dibalik jubah biru polos yang ia kenakan. Javier mengacungkan pedang tersebut dekat dengan wajah musuhnya. Dagunya diangkat tinggi tak terlihat gentar sedikitpun.

"Hei, makan saja masih minta disuapi, jangan terlalu percaya diri dengan pedang mainan mu itu!" Ketua bandit tergelak. "Joe, jangan mempermalukan diri sendiri, ok?"

Segera Javier memulai permainan pedangnya. Gerakan yang ia mainkan tidak berpola sehingga musuh sulit menebak arah tebasan yang ia layangkan. Tanpa sadar Joe terpojok hingga dekat kedai yang sudah tutup. Kadang Joe tak sengaja menginjak tumpukan sampah yang membuat sepatunya tertular bau tak sedap serta lalatnya. Javier yang tak punya banyak waktu segera menendang *********** hingga musuhnya itu tertunduk kesakitan, dan disaat itulah ia menendang wajah Joe hingga terpental dan pingsan di tempat. Di tumpukan sampah.

Ketua perampok terperangah.

"Kenapa kalian diam saja. Bantu Joe dan habisi bocah ingusan itu sekarang!" teriak ketua perampok penuh murka. Semua anak buahnya turun tangan, mengelilingi Javier yang mereka kepung hingga tubuh bocah itu tak tampak lagi.

"Mulai merasa ketakutan, bocah?"

Javier menghembuskan nafasnya, "Paman, cepatlah. Aku harus bergegas pulang sekarang!" Javier baru menyadari bahwa ia hampir membolos tiga jadwal pelajaran. Setelah ini pelajaran politik, jangan sampai dirinya bolos untuk yang keempat kalinya untuk hari ini.

"Dia memang ketakutan!" salah satu perampok tertawa keras. "Hanya berani melawan satu orang rupanya."

Javier diam-diam mengambil jarum-jarum beracun yang tersimpan di dalam sepatu tingginya. Ia mencebik, "Bukan begitu, paman. Aku sudah membolos tiga pelajaran hari ini. Aku hanya ingin mempercepat pertarungan kita." Javier melayangkan tujuh jarum beracun tepat sasaran. Tak ada yang melihat kapan anak itu menancapkan jarum tersebut pada mereka dan entah dari mana jarum tersebut berasal.

Dalam kurun waktu kurang lebih satu menit, semua anak buah perampok itu tumbang.

Pria bertubuh gempal itu mendesis sinis. "Awas saja kau, bocah. Aku akan kembali untuk membalasmu!"

"Tidak, paman," Javier menyimpan kembali pedangnya. Tanpa diketahui ia melemparkan satu jarum beracun yang tersisa hingga mengenai lengan pria itu. Dan benar saja, tak lama berikutnya pria serba hitam itu langsung jatuh dari kudanya masih dalam keadaan sadar namun tak bisa menggerakkan satupun dari anggota tubuhnya. Ia tersungkur di atas tanah dengan tatapan nyalang.

"Sialan! Mati saja kau!" raungnya marah.

"Paman tunggu saja di sana," Javier meregangkan tubuh kecilnya. "Aku akan memanggil prajurit istana untuk menangkap orang yang selalu meresahkan Eroshvent."

Dia ternyata seorang pangeran. Sial, batin bandit itu setelah menyadari sesuatu. Ia dapat melihat emas murni yang melekat pada sepatu Javier.

"Terimakasih banyak karena telah menolongku, nak." ucap kakek yang hampir disakiti para perampok begitu tulus.

"Kakek jangan berlebihan seperti ini. Aku jadi tidak enak," sahut Javier sambil mengelus tengkuknya malu-malu.

"Aku ada sesuatu untukmu. Kau mau?"

"Eh, tidak perlu repot-repot. Aku akan pergi sekarang," Javier berbalik sudah melangkahkan kakinya, namun kakek itu kembali meraih lengannya.

Javier berbalik, ingin menanyakan keperluan apa lagi yang kakek itu mau. Namun mustahil, bukan seorang kakek lagi yang memegang lengannya, melainkan seorang pria dewasa bersurai emas dengan zirah merah juga tombak panjang di genggaman tangannya. Sosok yang jauh berbeda dari kakek tadi. Filosofi kemegahan.

"K-kakek?"

Pria itu tersenyum. "Kau memang pantas memimpin negeri ini setelah melihat hati juga kebolehan mu saat menyerang kawanan perampok tadi. Sebagai hadiah atas kebaikan hatimu, aku, Dewa Erosh, Eroshvant Excel menjadikan dirimu, Javier Maxuell sebagai putra ku!"

Sepersekian detik kemudian, surai hitam Javier berubah menjadi surai emas yang terang sama seperti Dewa Erosh. Javier terpukau.

"Apapun yang menimpamu, maka hal itu juga menimpaku. Takhta Erosh hanya diperuntukkan bagi Javier dan keturunannya. Darahku juga darahnya, yang melawan perintahnya maka juga berhadapan denganku."

Sejak saat itu Javier tak perlu takut pada takhtanya lagi. Semua hal kecil itu akan dimilikinya. Katakan saja Javier egois. Ia berfikir saat Claude memiliki cinta semua orang, maka ia akan memiliki kuasa atas semua orang.

"Javier, pada hari ini tepat di tengah malam calon permaisuri mu akan lahir. Setelahnya jika kalian menikah, Eroshvent akan meluas dengan bangsa baru."

"T-tunggu, siapa?"

Dewa Erosh terkekeh. "Eroshvent harus memutuskan hubungan dengan putri Dewa Armovin karena dia ditakdirkan sebagai pembelah Aldergo dan Armovin dari benua Erosh." Cahaya remang pada tubuhnya seolah memang pertanda bahwa ia adalah seorang dewa. "Jangan khawatir. Aku akan menjelaskan semuanya pada Raja Aldebaran. Sekarang kembalilah ke istana, Guru Normand sudah menunggumu di ruang belajar dengan muka memerah."

Javier tercekat. Ia hampir melupakan hal sepenting itu karena rasa keterkejutannya.

"Tunggu apa lagi?"

Setelahnya Javier pergi menjauh dengan langkah cepat namun kecil-kecil.

Sejak saat itu Javier kecil sudah dipercaya oleh semua pimpinan daratan di Erosh. Bukan karena kekuatan Dewa Erosh, melainkan hasil kinerjanya yang luar biasa sempurna hingga di usianya yang kesepuluh, Javier memegang kekuasaan penuh hingga lima kerajaan yang mulanya berantakan kini kembali pada pusat pemerintahan di bawah pimpinan Javier.

Setelahnya, Kaisar Aldebaran mangkat disusul permaisuri Sheraphina tiga tahun kemudian.

1
Murni Murniati
kampret ini lama lama minta dikubur ini, apa tak sadar dia siapa, ini anak dewa dewi dia budak,apa tak sadar dia
Murni Murniati
kan dia udah dikasih dua kebebasan keinginan ini, jd kapan diminta
🌿wing2bo_27
Luar biasa
>AY<
cerita nya rumit, harus mengulang kata"nya supaya paham.
Ayu Mestari
Luar biasa
Yati Haryati
ceritanya terburu buru bgt min
Ayu Sari Murni
manggilnya adiden aja Thor susah q bacanya
ana azizah
bertele2
Hikam Sairi
baca
Dede Mila
/Proud//Joyful//Joyful//Joyful/
Inesya Qinan s
Luar biasa
Inesya Qinan s
Lumayan
Asmi Pandansari
aku mampir
Murni Dewita
sama2 penasaran kita mikayla/Grin/
Murni Dewita
mampir
Dang Antie
Luar biasa
♤avcdssi
suka banget sama cerita, tapi epsonya sedikit heheh
Riska Mustikasari
putri tidur butuh make up baca dimana kak... kok ga ada aku cari
Ni Ketut Patmiari
Luar biasa
Querido🦋
yakin ingin menghukum tahta tertinggi diatas raja hm?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!