NovelToon NovelToon
Masih Dikejar Setan

Masih Dikejar Setan

Status: tamat
Genre:Time Travel / Iblis / Penyeberangan Dunia Lain / Pusaka Ajaib / Horor / Tamat
Popularitas:354.1k
Nilai: 5
Nama Author: Reina aka dian

Ini adalah sequel dari novel "Mendadak Dikejar Setan" Dimana novel ini akan menceritakan kehidupan Arion Putra Menawan yang memiliki bakat istimiwir, selain dia terkenal dikalangan setan, Arion juga digemari banyak gadis apalagi posisinya sebagai ketua Mapala (Manusia Pecinta Alam). Kegiatan manjat memanjat gunung, ternyata mempertemukan dengan Lorenza, gadis cantik yang merupakan sepupu sahabatnya yang juga tertarik dengan kegiatan yang memacu adrenalin. Tanpa sepengetahuan orangtuanya yang sedang melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri, Arion nekat merencanakan pendakian bersama rombongan Mapala, yang ternyata membuat para iblis yang mengincarnya selama ini semakin mudah mendekati dan mencoba mengambil jiwa murni Arion untuk dipersembahkan pada Sang Raja Iblis.

DESCLIMER!
NOVEL INI BUKAN NOVEL 'HUH HAH' jadi jangan sampai salah jurusan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reina aka dian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31. Terjun

"Firasat gue nggak enak nih!" seru Slamet.

"Met lu jangan aneh-aneh, kita udah nyampe sini ya!" Eza ngingetin.

"Apa kita batalin aja?" Rion meminta pendapat yang lainnya. Dia melihat sekilas langit yang masih ada semburat oranye.

"Nggak lah!" seru Vano menolak.

"Ngapain kita kesini kalau nggak menuju puncak gemilang cahaya mengukir cita seindah asa!" Devan baru mau nyanyi di stop sama Slamet.

"Malah nyanyi lu!" kata Slamet, "Biasanya firasat gue tuh tepat, tau!" lanjut laki-laki itu.

"Ya udah kita voting aja, siapa yang mau naik dan siapa yang milih buat balik ke bawah!" seru Rion.

Dan dibuatlah voting dadakan. Dari 15 orang, cuma Rion, Loren, dan Slamet yang milih untuk balik kanan grak, sedangkan yang lain milih buat tetep naik apapun resikonya, yeuuh si panjul!

Ya, semuanya udah siap. Mereka berjalan menyusuri jalan setapak yang makin lama makin bikin ngos-ngosan apalagi buat perempuan macam Thalita yang jarang olahraga. Hobinya mageran dan paling mentok mau jalan ya di mall, ngabisin duit bapaknya.

"Duuhh, Bang... kok nanjak?" Telolet nau nepok punggung Rion tapi nggak nyampe.

Merasa nggak ada sahutan dari sepupunya, Telolet manggil Rion lagi, "Bang Rioooonn!"

"Heh, Telolet. Jangan kebanyakan ngeluh! kan elu tadi milih buat lanjut!"

"Aduuh tau gitu guwehh mending di tenda ajaaahhhh, gempor betis guweeehhh!" Telolet nyesel banget ikut naik ke atas.

Awalnya karena pengen foto-foto cantik nan estetik, tapi boro-boro mau cantik. Belum nyampe ke atas aja, udah kecapean gini.

Beda dengan Loren, meskipun kakinya masih sedikit nyeri tapi dia tahan aja, naik terus ke atas.

Beberapa kali Rion gerakin tangannya buat nyingkirin makhluk-makhluk yang ngalangin pandangannya. Melihat itu, Loren merasa lega, akhirnya Rion perlahan-lahan bisa menggunakan kekuatan yang ada pada dirinya.

Bagi orang yang peka pada hal-hal yang astral, bisa melihat begitu banyak makhluk berbaju hitam dan putih yang terbang di langit seperti layang-layang tanpa senar. Sesekali ada yang berpose layaknya model superstar, ingin mengganggu Rion dan rombongannya.

Sebenarnya Rion hampir saja membatalkan, tapi karena sebagian besar keukeuh pengen naik. Ya udah akhirnya gaskeun wae lah, resiko dipikir belakangan. Mereka nggak tau, bahaya apa yang menanti mereka di atas sana.

Semakin naik ke atas suhu semakin dingin dan tanpa bisa dihindari ada badai angin yang bikin semua orang menunduk melindungi diri sendiri, padahal sebentar lagi mereka akan sampai ke puncak.

Rion berhenti, jarak pandangnya terbatas. Dia mengangkat tangannya, "Berhenti! semuanya menunduk...!"

"Akkkhhh!" teriak Mova, dia merasakan ada sesuatu yang menembus badannya.

"Jangan lepaskan pandanganmu!" suara Loren terdengar di telinga Rion.

"Semuanya, jalan perlahan! sebentar lagi kita akan mencapai puncak!" teriak Rion.

Urutan jalan sekarang berubah, Adam yang jalan paling belakang. Sedangkan di depannya ada Mova setelah itu baru Loren. Aneh juga si Mova nyempil diantara Loren dan juga Adam. Slamet pindah ke tengah, katanya dari kemarin pas jalan di belakang tuh hawanya nggak enak, pundaknya berat banget.

Dia nggak tau aja, kemarin ada sesosok perempuan pendaki yang udah wassalam dari dunia, yang sempet nemplok di punggung dia. Mungkin dia juga capek kalinya jalan lumayan jauh.

Badai yang sempat reda tadi, mulai ganas lagi. Jangankan mau liat matahari terbit, mau liat langiit aja susah. Pendakian mereka terhalang cuaca buruk.

Rion melihat tangannya diselimuti cahaya yang berwarna biru, bercahaya seperti ada aliran listriknya. Dia mencoba menghalau angin yang seperti sedang menyerangnya itu, tapi ketika dia melihat ke belakang, Rion melihat Loren seperti terdorong dan membuatnya tergelincir dari track yang sedang mereka lalui.

"Loreeen!" teriak Rion. Dia berusaha menolong.

Tapi sudah terlanjur. Loren terjatuh dari tebing yang sangat tinggi, "Loreeeeeeeennnnn!" teriak Rion histeris.

"Aarrrghhhhhh!!!!" Rion menyusul Loren.

Sedangkan teman-temannya semua semua pada teriak, "Riooooooooii!!!"

"Bang Riioooonnnnn!!" Thalita mengulurkan tangannya.

Eza langsung menangkap badan Thalita, "Thalita, awas! elu bisa jatoh!"

"Sepupu gue! sepupu gue jatoh, elu ngerti nggak sih?!!!" Thalita memberontak dari pelukan Eza. Walaupun Rion dan dia nggak pernah akur, tapi yang namanya saudara tetep saudara, apalagi ngeliat Rion yang jatuh begitu saja membuat Thalita shock.

"Iya gue tau! gue tau," Eza tetep pegangin dia bawa Thalita ke tempat yang lebih aman.

"Yang lain naik kalian ke atas!" suruh Adam, pada teman-temannya untuk mencari tempat yang aman termasuk Mova.

Thalita melepaskan diri dari Eza dan dengan cepat menghampiri Mova.

PLAKKK

PLAKKK

PLAKKK

Thalita menampar perempuan itu bolak balik, "APA YANG ELU LAKUKAN, HAHHHHH? ELU NGEDORONG LOREEEEN, MASALAH ELU APA?!!!"

Mova yang di tampar, tiba-tiba seperti orang yang bingung.

"Dimana otak lu, hah? sekarang sepupu gue, nyusulin Loren! gimana gue harus bilang ke maminyaaaaaaaa!!!! gimana gue harus jelasin ke tante Revaaa, hahhh!!!" Thalita mencengkram jaket Mova.

"Thalita, sadar, Tha!" Eza misahin para betina.

"Lu tuh salah orang, dia yang harusnya lu bilangin sadar!" bentak Thalita, dia nunjuk Mova.

Sedangkan Mova masih belum tau apa yang sebenernya terjadi. Semua teman-temannya memandangnya dengan tatapan aneh.

"Bukan gue yang ngelakuin itu!" Mova menggeleng,

Sedangkan siang harinya orang suruhannya pak Karan cuma nemuin tenda yang kosong. Dan saat mereka akan naik, penjaga pos terakhir bilang kalau cuaca buruk. Dan tidak boleh ada yang naik ke atas.

"Sebaiknya kita laporkan ini pada bos!" ucap salah satu suruhan Om Karan.

"Halo, Tuan?"

"Ya, kalian sudah menemukan Arion?" Om Karan straight to point.

"Mereka sudah naik menuju puncak, dan sekarang sedang ada badai! kami masih ada di pos terakhir, dan kami tidak diperbolehkan untuk naik," ucap orang itu.

"Astagaaa! kalian ini bagaimana sih? SAYA BILANG CARI SAMPAI DAPAT!" bentak Om Karan, lalu dia menutup teleponnya secara sepihak.

Sedangkan di rumah Om Karan.

Mendengar suaminya membentak seseorang tante Luri pun mencoba mendekat.

"Ada apa, Mas?" tante Luri membawakan jas pada suaminya.

"Saya mau mencari Arion! Saya nggak jadi ke kantor!" kata Om Karan, dia membuka kancing kemejanya di bagian tangan.

Awalnya dia akan kembali ke kantor karena ada hal yang perlu dikerjakannya, tapi mendengar kabar kalau para pendaki yang tadi pagi belum juga turun padahal hari sudah semakin sore pun membuat Om Karan khawatir.

"Ada apa dengan Arion?"

Om Karan menarik napasnya sejenak, "Bocah itu, dia bawa teman-temannya kepuncak gunung. Masalahnya disana sedang ada badai, pintu akses masuk ditutup! jadi saya sendiri yang harus kesana mencari bocah itu,"

"Astagaa...!" tante Luri menutup mulutnya sendiri, dia juga nggak kalah khawatirnya.

"Bagaimana kalau mbak Reva sampai tau?"

"Jangan beritahu dia!" ucap Om Karan.

Tapi masalahnya baru aja dia mau ganti baju, ada telepon masuk.

"Dedek sepupu? kamu dimana?" suara Reva di seberang telepon.

1
Zuhril Witanto
bener2 akhir yang bahagia meskipun berlinang air mata...😭
Zuhril Witanto: iya udah tak favorit tapi belum sempat baca 🤭
total 2 replies
Zuhril Witanto
😭😭😭
Zuhril Witanto
tegang
Zuhril Witanto
tegang
Zuhril Witanto
sedih 😭
Zuhril Witanto
kalungnya mau balik keasalnya...tapi Rion ikut gegara pakai kalungnya
Zuhril Witanto
apa efek dari kalung
Zuhril Witanto
jadi ikut deg degan
Zuhril Witanto
om Karan setuju nih kek nya
Zuhril Witanto
ayo om gercep cari tau
Zuhril Witanto
si Karla ...minta di tabok
Zuhril Witanto
sedih dan terharu... akhirnya mereka akur kembali
Zuhril Witanto
tenang sa uang Rion banyak kok
Zuhril Witanto
apa itu kakek Sarmin
Zuhril Witanto
Alhamdulillah Thomas sadar
Zuhril Witanto
anaknya jadi model ya mi
Zuhril Witanto
waduh....
Zuhril Witanto
🤣🤣🤣🤣
Zuhril Witanto
😢😢
Zuhril Witanto
betul betul betul...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!