Hanya cerita fiksi
Tidak terkait dengan agama manapun
maaf jika ada yang kurang berkenan 🙏
Bella Amanda awalnya adalah gadis cantik yang begitu periang. Tapi sikapnya lambat laun berubah ketika orang-orang membandingkan dirinya dengan adiknya sendiri yang katanya lebih cantik, lebih pintar dan lebih segala-galanya.
Bukan hanya itu Bella juga harus menelan pil pahit saat suaminya dengan tega bermain belakang dengan Belinda, adiknya sendiri dan diharuskan menikah.
Sanggupkah Bella tetap bertahan dengan pernikahannya atau memilih menyerah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon airarahma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu kembali
Bella dan Ruhi sudah sampai di Emerla. Bahkan mereka sudah menunggu di dalam ruangan Sean karena yang bersangkutan masih melakukan meeting.
“Aduh Bu… saya kok tegang ya” ucap Ruhi terlihat gelisah.
Bella hanya bisa geleng-geleng kepala.
“Memangnya seperti apa Pak Ronald itu?” batin Bella penasaran.
20 Menit menunggu akhirnya Sean kembali ke ruangannya. Posisi Bella duduk membelakangi pintu masuk hingga Sean tidak menyadari kalau tamu yang datang adalah Bella. Wanita yang sampai saat ini masih memenuhi ruang di hatinya.
Tatapan Sean masih datar dan terkesan dingin.
“Bu…sudah datang” bisik Ruhi pelan.
Mendengar itu Bella pun membalik tubuhnya.
Deg.
Jantung Sean seketika berhenti berdetak.
Wajahnya yang awalnya datar kini tidak bisa dibaca.
Bella langsung tersenyum ketika melihat sosok Sean, orang yang sangat dikenalnya.
Bella bahkan langsung berdiri bermaksud menyambut Sean.
“Kak Sean” sapa Bella sangat ramah. Terdengar nada antusias dari ucapannya.
Melihat wajah terkejut Sean tentu saja membuat Ruhi mengerutkan kening.
Wajah yang awalnya begitu judes kini sudah mengendur.
Bella mengulurkan tangannya pada Sean yang masih terlihat membeku di tempat. Setelah mengumpulkan kesadaran Sean pun menerima uluran tangan itu.
“Bella?” tanya Sean seolah tidak percaya bahwa yang dia jabat tangannya ini adalah Bella. Wanita yang begitu dia cintai.
“Iya, ini aku Bella kak. Kakak apa kabar? Kakak tinggal di Bali sekarang?” tanya Bella yang memang bila bertemu teman lamanya akan ramah seperti ini.
“Ah.. Iya. Sejak lulus aku tinggal di Bali” jawab Sean, “Ayo duduk” ajak Sean kemudian.
“Benarkah? Aku juga sudah dua tahun tinggal di Bali. Tapi aku kok bisa gak pernah bertemu Kak Sean ya?” ucap Bella pula.
“Kamu sudah dua tahun di sini? Bagaimana bisa?” tanya Sean yang kembali terkejut.
Interaksi keduanya yang terlihat saling mengenal satu sama lain membuat Ruhi sedikit lega.
“Setidaknya aku tidak melihat wajah menakutkannya lagi” batin Ruhi.
"Kamu dan Mas Erlan pindah ke Bali?" Sean kembali bertanya.
Bella tersenyum sebelum menjawab.
"Kami sudah berpisah kak" jawab Bella dengan tersenyum. Tidak ada lagi kesedihan diwajah Bella bila mengingat perpisahan nya dengan Erlan.
Mendengar itu membuat Sean semakin terkejut. Dia bukan bahagia karena status Bella yang sudah sendiri tapi dia malah marah karena Erlan telah menyakiti Bella.
“Berpisah? Kalian bercerai? Kenapa Finn tidak ada memberitahu tentang ini?” tanya Sean yang tidak bisa menutupi keterkejutannya.
“Rasanya memang tidak pantas untuk diceritakan kak. Tapi aku sudah menerima semuanya dengan ikhlas” jawab Bella yang tidak mau menceritakan lebih jauh.
“Finn….” ucap Sean memanggil nama Finn dengan geram dalam hati.
“Mas Finn juga tidak mungkin menceritakan ini kepada orang lain” lanjut Bella.
“Maaf Bella, Aku tidak tahu sama sekali kalau kamu sudah bercerai” ucap Sean karena tidak ingin Bella kembali mengenang masa lalu.
Bella pun menganggukkan kepalanya.
Ruhi yang mendengarkan percakapan keduanya hanya bisa menyimpulkan dengan kesimpulannya sendiri.
“Mungkin mereka teman lama. Jadi Pak Ronald ini kalau sama teman bisa normal juga. Untung tadi aku paksa Bu Bella untuk ikut” batin Ruhi.
Bella dan Sean kemudian mulai membicarakan tentang beberapa tipe sepatu dan high heels yang akan dipakai saat fashion show. Mereka berdua berbicara begitu santai bahkan sambil membicarakan kenangan mereka dulu. Hingga kadang-kadang Sean pun tertawa mendengar cerita Bella.
“Ya Tuhan… Bapak galak ini bisa tertawa” ucap Ruhi dalam hati.
Asisten Sean yang juga ada di dalam ruangan itu pun sama seperti Ruhi.
“Boss galak ternyata bisa tertawa” batin Asistennya.
Bersambung...