Kisah seorang gadis yatim piatu yang bernama Stella Anggraeni yang berkerja di sebuah perusahaan seorang Ceo yang bernama William.
Keduanya terlibat cinta dan mengakibatkan seorang Stella hamil di luar nikah, William tidak bisa bertanggung jawab karena sudah mempunyai seorang calon istri. William meminta agar Stella menggugurkan kandungnya.
Stella memilih meninggalkan William dan menjalani kehidupan sendiri dengan seorang anak perempuan yang di beri nama Angelica.
Bagaimana Stella menjalani hidupnya? Mari kita simak perjalanan hidup Stella!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Pagi ini Stella sudah bangun dari tidurnya, penyesalan demi penyesalan yang dirasakannya saat ini. Mungkin kalau dia mau menerima uang dari Karin, saat ini dia sudah sangat tenang.
Stella akan menentang William demi mempertahankan buah hatinya, tidak peduli dengan apa ancaman William.
Kiana pagi ini bertemu dengan Karin, mereka berniat akan membantu Stella.
"Kiana, bagaimana ini? William akan mengugurkan kandungan Stella," ucap Karin dengan cemasnya.
"Ini tidak boleh dibiarkan, Tante. Aku akan ke rumah William," kata Kiana.
"Tolong bantu Stella, bagaimanapun janin yang dia kandung adalah cucu Tante juga," ucap Karin.
Kiana kemudian berangkat ke rumah William, ia melintasi jalan yang sangat macet karena jalur biasanya sedang di alihkan. Kiana sudah tidak sabar, rasanya ia ingin meninggalkan mobilnya dan berjalan kaki.
Dua jam dia baru sampai di rumah William, dia berfikir akan bebas menemui Stella karena William dan Rico pasti sedang di kantor. Ternyata perkiraannya salah, di depan pintu rumah William sudah ada dua orang yang menghadangnya.
Kiana dengan santainya hendak masuk ke dalam rumah William, kedua orang itu langsung mencekal tangan Kiana.
"Maaf Nona, untuk saat ini siapapun di larang masuk ke dalam tanpa seizin Tuan William," kata penjaga itu seraya mencekal tangan Stella.
"Lepaskan! keterlaluan kalian, aku sepupu William bukan orang lain!" bentak Kiana.
"Kita hanya menjalankan perintah, Nona," ucap penjaga lagi.
"Gila kalian!" kata Kiana sembari memikirkan cara agar bisa masuk ke dalam dan menemui Stella.
Kiana menunggu para penjaga itu terlena, di luar gerbang rumah William. Dia sangat kesal dengan kelakuan sepupunya,
"Sepertinya penjaga itu tidak akan pergi, lebih baik aku ke kantor saja," ucap Kiana. Meninggalkan kediaman William lalu pergi ke kantor.
***
Mbok Yem mengantarkan sarapan pagi untuk Stella, satu potong roti tawar dan segelas susu.
"Non Stella, sarapan dulu! biar ada nutrisi untuk janin," kata Mbok Yem sebenarnya sangat kasihan dengan Stella, tetapi kalau sampai di pecat William dia tidak punya tempat tinggal lagi.
"Mbok, keluarkan Stella dari tempat ini! Stella mohon," ucap Stella seraya bersimpuh di kaki Mbok Yem.
"Bangun Non, jangan seperti ini. Mbok tidak bisa berbuat apa-apa," ucapnya sembari menitihkan air mata.
Stella kini menyadari seandainya dia yang ada di posisi Mbok Yem, pasti tidak akan membantu. Mbok Yem sangat di sayangi oleh William, begitu juga sebaliknya.
Usahanya tidak membuahkan hasil, Stella sudah pasrah dan putus asa. Tak lupa ia meminta maaf pada janin di perutnya, karena tidak bisa menyelamatkannya.
William tidak menemukan dokter yang mau menggugurkan kandungnya, dia lalu mencari dukun. Tepatnya di daerah desa terpencil ada seseorang dukun, yang mau melakukan hal itu.
"Rico, awasi Kiana dan Helena! saya akan membawa Stella ke desa itu sekarang juga, kalau ada yang menanyakan bilang saja saya ada keperluan di luar kota," ujar William.
"Baik Tuan, saya akan mengawasi mereka," kata Rico.
William kemudian menuju ke kamar Stella, lalu menyeretnya keluar dari kamar.
"Ayo ikut aku sekarang juga! kita gugurkan janin itu!" kata William.
"Tidak! kamu jahat William! lepaskan aku!" teriak Stella.
"Diam!" bentak William.
"Lepas...!" Stella masih berusaha melepaskan tangan William.
Di dalam perjalanan Stella memberontak ingin keluar dari dalam mobil, William mengancam akan mengikatnya.
"Lebih baik aku tenangkan diri dulu, dari pada habis tenaga. Setelah William lengah baru aku kabur," ucap Stella dalam hati.
Perjalanan yang mereka tempuh sudah hampir dua jam, karena sudah melewati daerah pedesaan. Stella mulai berteriak lagi, sehingga membuat William tidak berkonsentrasi saat melajukan mobilnya.
"Diam, Stella! aku melakukan ini demi kebaikanmu juga," kata William.
"Cih! alasan yang tidak masuk akal," ucap Stella.
Terjadilah perdebatan antar keduanya, sampai mobil yang mereka kendarai menabrak sebuah pohon. Beruntung Stella tidak terluka sama sekali, sedangkan William kepalanya terbentur stir mobil. Saat William sedang kesakitan, Stella keluar dari mobil dan berlari sambil memegang perutnya. William hendak mengejar tetapi merasa pusing, lalu mengurungkan niatnya.
"Mas, tolong saya!" teriak Stella saat ada motor yang melintas. Pengendara motor itu tidak berhenti, sepertinya tidak mendengar. Stella melanjutkan jalannya, tiba-tiba pengendara motor itu berbalik arah menghampiri Stella.
"Stella," panggil orang itu.
"Rayhan! tolong aku! bawa aku pergi dari tempat ini!" kata Stella.
Ternyata pengendara sepeda motor itu adalah Rayhan, tukang ojek yang pernah mengantarkan Stella. Rayhan membawa Stella ke rumahnya, tidak jauh dari tempat itu.
"Stella, minum dulu! tenangkan dirimu dulu," ucap Rayhan sembari memberi Stella segelas air putih.
Stella menghabiskan segelas air putih itu, lalu menceritakan kejadian yang dialaminya.
"Jadi kamu hamil? anak pemilik kantor tempat kamu berkerja?" tanya Rayhan.
"Iya, dia mau mengugurkan anak ini. Entah apa alasannya dia tidak mau memberi tahu aku," kata Stella.
"Kamu tenang, di sini kamu aman! dia tidak akan menemukan kamu," kata Rayhan.
Stella saat berterimakasih dan bersyukur, bisa bertemu dengan Rayhan yang mau membantunya.
William menghubungi Rico untuk meminta pertolongan, mobilnya rusak dan tidak bisa dijalankan lagi. Rico dan anak buahnya segera bergegas ke lokasi kejadian.
"Apa Tuan, baik-baik saja?" tanya Rico.
"Aku tidak apa-apa, tetapi Stella kabur," kata William.
"Kenapa bisa terjadi, Tuan?" tanya Rico lagi.
"Jangan banyak bertanya, lebih baik suruh mereka mencari Stella," kata William sembari menunjuk anak buah Rico.
Apa yang diperintahkan oleh William di turuti oleh Rico, mereka lalu mencari tempat untuk beristirahat sembari menunggu kabar anak buah Rico.
Sampai sore hari mereka menunggu kabar, tetapi tidak ada hasil. Stella tidak di temukan, mereka juga sudah bertanya kepada warga setempat tetapi tidak ada yang mengetahui keberadaan Stella. Mereka mengira Stella pulang ke rumah, mereka lalu kembali ke kota.
Walaupun sangat lelah William terus berusaha mencari keberadaan Stella, di rumah juga tidak nampak batang hidung Stella. William memutuskan untuk pulang ke rumah dan beristirahat terlebih dahulu.