Bentley Reagan Carter masih betah menjomblo di usianya yang hampir kepala empat karena gadis yang selalu posesif padanya.
Elna Alexandra Graham, seorang gadis yang mencintai adik dari sang ayah, dan tenyata cinta itu juga berlabuh di hati pria matang itu...
tapi Elna tidak tau ada rahasia apa di balik pria itu, apa mereka bisa bahagia? atau malah cinta mereka terhalang restu keluarga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meidina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pesta pernikahan
sebuah rombongan datang, bahkan terlihat rombongan itu adalah sebuah keluarga berpengaruh.
tapi yang membuat terkejut, untuk pertama kalinya penerus keluarga mafia itu datang bersama wanita cantik di sampingnya.
pria yang di isukan g*y dan membenci wanita, bisa datang dengan mengandeng tangan seorang gadis dan terlihat begitu mesra.
"itu bukannya Lila," kata Nana berbisik pada Fafa.
"ah iya, itu Lila, kenapa bisa bersama orang-orang seram begitu sih," kesal keduanya.
"kenapa tak boleh, dia adalah istri dari Chan Sugriwa, pengusaha dan juga sahabat ku dalam dunia bawah," bisik Devan pada telinga Fafa.
karena kaget, Fafa reflek menoleh dan bibir Fafa mendarat di pipi Devan di depan semua orang.
bahkan Devan kaget mendapatkan hadiah ciuman dadakan itu, tapi ada beberapa orang yang melihat hal itu tak suka.
"om Devan, bikin kaget, kan aku jadi tak sengaja melakukan itu," kata Fafa panik.
"tak masalah, aku menyapanya dulu, dan Nana nikmati pestanya," kata Devan yang mencoba menenangkan hatinya.
sedang Nana terlihat begitu bahagia, karena dengan menyapanya, tak di duga Devan kembali melihat kearah dua gadis itu.
dengan senyumnya Devan terlihat makin tampan, tapi Nana salah menangkap senyuman itu untuk dirinya.
"huh ... om Devan begitu tampan, dan dia tersenyum kearah ku," kata Nana memeluk Fafa.
"iya iya, eh tapi tadi kata om Devan jika itu adalah suami dari Lila, berarti Lila selama ini," kata Fafa lirih.
"ah iya, jangan-jangan Lila sudah menikah dan suaminya pria bernama Chan itu," kata Nana.
"dia itu bukan orang sembarangan, jadi kalian harus hati-hati," pesan Nakula.
"ah iya kak," jawab kedua gadis itu.
tak lama semua orang di minta duduk di kursi yang sudah di sediakan. Devan dan Evan begitu hangat pada Fafa.
dari kejauhan Nana ingin bergabung, tapi di tahan oleh orang tuanya. terlebih semua tau jika Ben tak suka ada perubahan sedikitpun.
terlebih asisten Mike sudah menyiapkan segalanya dari awal dan harus sempurna.
keluarga Arnold juga duduk di meja yang sudah di sediakan, Cristine tak mengira jika pernikahan ini akan begitu mewah.
Ben sudah berdiri menunggu pengantin wanita miliknya, Samuel berjalan bersama dengan Elna.
Elna terus menggenggam lengan Samuel dengan begitu kuat, Samuel pun menepuk tangan putrinya agar tenang.
semua undangan terkejut melihat pengantin wanita, pasalnya gadis itu terlihat begitu cantik dan anggun.
Samuel pun memberikan tangan Elna pada Ben. "aku percaya kamu bisa mencintai dan menjaganya mengantikan aku,"
Ben pun mengangguk, Samuel pun bergabung bersama keluarganya untuk menyaksikan pengucapan janji suci pernikahan.
setelah mengucapkan janji, kedua pasangan sah menikah itu langsung berciuman.
akhirnya pesta di lanjutkan dengan ramah tamah, dan pesta dansa juga di adakan dengan meriah.
Lila mengajak suaminya untuk berkenalan dengan Fafa dan Nana, yang kebetulan sedang berbincang dengan Ben dan Elna.
"maaf apa boleh gabung?" tanya Lila.
"tentu nyonya Sugriwa," jawab Elna memeluk Lila.
"jadi kamu juga sudah menikah Lila, Kapan kok kami tak di undang," kesal Nana mencebikkan bibirnya.
"maaf karena hanya pesta bersama keluarga inti saja, oh ya katanya kita akan berlibur jadi apa tidak, jika iya, biar suamiku mencoba untuk ikut," kata Lila
"tidak bisa sayang, maafkan aku, karena pekerjaan ku, tapi kalian bisa bersenang-senang bersama, kenapa tidak berlibur ke Singapura," kata Chan.
"ah jangan deh om, kami sedang cekat biaya ini, lebih baik kalau mau memberikan liburan gratis mending ke Lombok atau raja Ampat lebih baik," kata Nana.
"hei kamu tak tau malu, baru kenal sudah bersikap begini," omel Fafa.
"memang kenapa, toh suami Lila yang menawarkannya," jawab Nana mengejek Fafa.
Cristine baru tau jika sekarang Elna begitu cantik, dia bahkan mungkin kalah dari gadis itu dari manapun.
terlebih Ben memilih Elna sebagai istrinya, padahal dari dulu Cristine menyukai Ben.
bahkan Arnold pernah bilang pasti bisa mendapatkan pria itu untuknya, tapi apa yang terjadi semua itu hanya bualan belaka.
mama Mei dan papa David menyapa beberapa tamu, dan saat berpapasan dengan Arnold.
Bella melihat pria yang dulu begitu membencinya, bahkan mencampakkan dia begitu saja.
dan sekarang dia sudah bahagia bersama keluarga, Cristine pun menyapa keduanya dengan sopan.
"apa dia putri terkecil mu," tanya mama Mei.
"ah iya Mei, hanya dia yang bisa ikut, terlebih Kakak-kakaknya sudah sibuk dengan urusan masing-masing," jawab Arnold.
"ya itu benar, jika anak-anak sudah dewasa maka sangat sulit untuk berkumpul kembali," kata papa David.
mereka semua larut dalam pesta, bahkan Elna sempat duduk karena kelelahan, dan saat pesta berakhir.
Ben pun langsung membawa Elna ke kamar dan memijat kaki Elna yang terasa berat, "ah manisnya suamiku ini, jadi sekarang kita akan memanggil dengan panggilan apa?" tanya Elna.
"terserah dirimu saja honey," jawab Ben.
"baiklah honey, aku mencintaimu," jawab Elna tersenyum dan memberikan ciuman di bibir suaminya itu.
Ben juga langsung ******* bibir indah itu, dan Keduanya pun sudah mulai saling memeluk dan mereguk keindahan dan kemesraan malam ini.
Ben pun tak bisa menahannya lagi, karena istrinya itu begitu menggoda dan dia akan melakukannya perlahan.
Ben pun melakukannya dengan sangat pelan, bahkan dia tak mengira akan sangat menikmati kegiatan panasnya kali ini.
bahkan dia semakin bersemangat saat mendengar suara ******* dari Elna.
"aku ingin di atas, Daddy ... mmm ... " lirih Elna memohon.
"ah ... baiklah, apapun untukmu," kata Ben memeluk Elna dan membalikkan tubuh tanpa melepaskan.
keduanya benar-benar menikmati waktu berdua saja di dalam kamar yang terus terdengar ******* di dalamnya.
sedang di luar, Fafa sedang bersama Adnan dan Vanda, ketiganya sedang minum sambil menunggu Devan yang masih membahas sesuatu dengan seseorang.
"kamu bukankah tak bisa menahan alkohol Fafa, jadi jangan buat dirimu mabuk," kata Adnan mengingatkan dan berusaha merebut botol wine itu.
"ah tapi wine ini begitu enak, dan tolong dengar ini ya pria tampan, jangan berani suka padaku karena aku tak mau percaya dan mencintai pria manapun," kata Fafa yang mulai mabuk.
"tapi kamu dan tuan Devan begitu dekat," kata Vanda.
"kalau om Devan itu beda, tapi aku juga tak boleh jatuh cinta padanya, terlebih aku bisa melukai perasaan sahabatku Nana yang menyukai om Devan," kata Fafa meracau tak jelas.
"tapi aku menyukai mu bukan sebagai wanita, tapi karena kita saudara," lirih Adnan.
Devan datang dan melihat Fafa yang sudah mabuk, dan langsung menariknya dan akan membawanya pulang.
"kenapa kamu sampai mabuk, sekarang ayo kita pulang," ajak Devan.
"tunggu dulu om Devan yang tampan, jangan menyentuhku bahkan memelukku, jika tidak aku bisa mencintaimu, tapi itu tak mungkin atau Nana akan marah dan membenciku. karena dia sangat menyukaimu, hiks..." kata Fafa terus meracau.
"tutup mulutmu, aku tak menyukai gadis itu, terlebih orang tuanya pasti tak ingin putri mereka hidup dengan pria seperti ku, sudah ayo pulang," kata Devan ingin menarik Fafa.
tapi tanpa di duga, Fafa malah mencium dan ******* bibir Devan dengan begitu ganas.
"bagaimana kalau aku yang mau saja, pasti menyenangkan bukan jadi Nyonya besar, aku akan jadi Tante dari Elna, gadis menyebalkan itu dan aku bisa menyiksanya, ha-ha-ha, huek..."
Devan kaget melihat hal itu, begitupun dengan Adnan dan Vanda yang melihat Fafa muntah dan mengenai pakaian dari Devan.
Vanda menarik Fafa, dan Devan melepaskan semua pakaiannya hingga bertelanjang dada.
kemudian mengambil sebuah serbet di meja dan mengusapnya di celananya agar sedikit bersih.
setelah itu dia langsung mengendong Fafa yang sudah tertidur sambil berdiri, "kau besok selesai," gumam Devan marah.
"tuan biarkan aku yang mengantarnya, anda bisa beristirahat," kata Adnan.
"tidak perlu, lebih baik kau datang ke apartemen dan jelaskan semua tentang hubungan mu, karena aku sudah tau jika kamu adalah putra pertama dari keluarga Wicaksono, lebih tepatnya kamu kakak dari Fafa bukan, bocah yang di temukan dan di besarkan oleh keluarga Wijaya," kata Devan.
"baik tuan, tapi Fafa," kata Adnan khawatir.
"dia akan tinggal di hotel kamar rias milik Elna, dan kami akan mengunakan kamar terpisah, tenang saja," kata Devan.
"baiklah tuan terima kasih, dan Vanda ayo ikut dengan ku," kata Adnan.
setelah mereka pergi, Devan membawa Fafa ke kamarnya, terlebih kamar rias tadi masih begitu berantakan.
sesampainya di kamar Devan menidurkan Fafa di sofa, dan memilih mandi untuk menghilangkan aroma dari minuman di tubuhnya.
sedang asik mandi dan hampir selesai, dia lupa tak mengunci pintu, dan dengan santai Fafa nyelonong masuk ke kamar mandi.
Devan pun buru-buru keluar dan hanya mengenakan handuk untuk menutupi tubuhnya, dan beruntung dia juga sudah selesai.
Devan menunggu di sudut ruangan dan ternyata Fafa mengenakan kaos yang tadi dia bawa ke kamar mandi.
kemudian tidur begitu saja, Devan kembali ke kamar mandi dan ternyata gadis itu sedang mencuci.
Devan sudah berganti baju dan melihat pakaian yang sudah selesai di cuci itu.
"aish .... bisa gila aku , bahkan dia tak memakai apapun di balik kaos itu berarti," gumam Devan tak habis pikir.
tapi Devan memilih cuek dan tidur di sofa, malam ini meski mereka satu kamar, Devan tak mungkin merusak gadis karena gadis itu tak sadarkan diri karena mabuk.
sedang di apartemen milik Devan, bik Nun begitu bahagia mengetahui putranya masih hidup.
terlebih Adnan menunjukkan bukti tanda lahir di punggungnya, dan juga bekas luka di dadanya saat di lukai oleh ayahnya yang mengolah saat itu.
keluarga bahagia milik Adnan, hancur karena keserakahan dari sang paman yang begitu kejam, dan berkat Devan dia bisa memeluk ibu kandungnya lagi.
"nak, dimana adikmu Fafa, kenapa dia belum pulang, ibu khawatir, karena besok kami ingin melihat kondisi ayah kalian," kata bik Nun.
"dia sedang di hotel karena Elna ingin dia menemaninya, boleh aku ikut untuk melihat ayah, dan kata tuan Devan dia sudah mulai membaik setelah di pindahkan ke rumah sakit lain," kata Adnan.
bik Nun mengangguk senang, dan berharap keluarganya bisa memulai segalanya dari awal.
dan Adnan tau benar jika ayahnya gila karena obat yang di berikan dokter, dan dia akan menuntut balas kalo ini.
karena dia sudah menjadi pria kuat dengan di percaya Ben, dia bisa melakukan apapun dan bosnya itu pasti mendukungnya.