NovelToon NovelToon
Pesona Mas Brewok

Pesona Mas Brewok

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Idola sekolah / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:584
Nilai: 5
Nama Author: septia19

saat sekolah dulu , Zahra hanya sekedar mengenal nama Rendra saja, tak pernah bertegur sapa sama sekali. setelah lulus, mereka tidak bertemu bertahun tahun , hingga akhirnya di pertemukan kembali.rendra yang mulai duluan menghubungi duluan. padahal awalnya Zahra sama sekali tak memiliki perasaan apapun begitupun rendra.bahkan Zahra ada berniatan menjodohkan Rendra dengan sahabat karibnya yaitu rana. namun anehnya malah zahra yang merasa cemburu melihat kedekatan mereka. padahal tak di sangka, hati rendra tertuju pada Zahra bukan rana. ini lah kisah cinta halal mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septia19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 13

Kegelisahan itu bukanlah rasa takut yang berat, melainkan keraguan halus yang wajar bagi siapa pun yang hendak melangkah masuk ke dunia baru yang belum dikenal. Zahra berusaha menepisnya dengan mengingat kembali pesan-pesan Raka, serta keyakinan bahwa ketulusan dan kesederhanaan selalu menjadi jembatan yang paling kuat untuk mendekatkan hati manusia.

Hari-Hari Terakhir di Kota dan Langkah Awal Perjalanan

Dua hari sebelum keberangkatan berlalu dengan sangat padat namun tenang. Di kamar kosnya yang kini mulai terasa kosong karena barang-barang sudah sebagian besar tersusun rapi di dalam tas dan koper, Zahra duduk sejenak di tepi jendela. Ia memandang ke arah jalanan kota yang selalu sibuk, tempat di mana ia telah bertumbuh, belajar, dan meraih impiannya. Ada rasa sedih yang samar karena harus meninggalkan tempat ini, namun jauh lebih besar rasa gembira dan semangat yang membawanya pergi menuju masa depan yang baru.

Raka datang pagi itu untuk membantu menyelesaikan sisa-sisa urusan administrasi sekaligus memastikan tidak ada barang yang tertinggal. Ia melihat wajah Zahra yang tampak termenung, lalu mendekat dan meletakkan tangan dengan lembut di bahu gadis itu.

“Sedang memikirkan apa, Zahra? Terlihat seolah enggan berpisah dengan kota ini,” ujarnya lembut.

Zahra menoleh, tersenyum tipis. “Sedikit saja, Ka. Rasanya baru kemarin aku datang ke sini dengan tas punggung sederhana dan penuh harapan. Sekarang, saat hendak pergi, rasanya banyak kenangan yang tertinggal. Tapi aku tahu, rumah yang sesungguhnya bukan sekadar bangunan atau tempat tinggal, melainkan tempat di mana hati kita merasa tenang dan diterima. Dan tempat itu, mulai sekarang ada di mana pun kau berada.”

Kata-kata itu membuat hati Raka terasa hangat. Ia memeluk bahu Zahra dengan lembut. “Terima kasih. Aku berjanji, di kampung nanti, kau akan merasa jauh lebih damai dan bahagia daripada di sini. Semua orang sudah tak sabar ingin mengenalmu.”

Siang harinya, mereka berpamitan kepada pemilik rumah kos dan beberapa teman dekat yang masih ada di sana. Semua mendoakan perjalanan yang selamat dan masa depan yang cerah bagi mereka berdua. Saat kendaraan mulai melaju meninggalkan gerbang kompleks itu, Zahra melambaikan tangan hingga bangunan itu tak lagi terlihat dari kaca spion. Babak satu kehidupannya selesai, dan babak baru pun terbentang luas di depan mata.

Perjalanan darat yang memakan waktu sekitar tujuh hingga delapan jam dimulai tepat saat matahari mulai condong ke barat. Raka mengemudikan kendaraannya dengan tenang namun mantap. Di sepanjang jalan, pemandangan perlahan berubah wajah: gedung-gedung tinggi dan jalan raya yang padat digantikan oleh hamparan sawah hijau, deretan bukit yang berbaris indah, dan pepohonan besar yang rindang di pinggir jalan. Udara yang masuk pun terasa semakin segar, membawa aroma tanah basah dan dedaunan yang jauh berbeda dengan udara kota yang penuh debu dan asap kendaraan.

Zahra tak lelah memandang keluar jendela. Segala sesuatu terasa begitu baru dan menakjubkan baginya. Sesekali ia bertanya kepada Raka tentang nama tempat yang mereka lewati, tentang cerita rakyat setempat, atau tentang kehidupan masyarakat di sana. Raka menjawab dengan sabar, bercerita dengan penuh semangat seolah ingin Zahra mengenal setiap jengkal tanah kelahirannya itu.

“Lihat sungai yang mengalir di sebelah sana? Dulu saat kami masih remaja, aku dan Rendra sering datang ke sini untuk mandi atau sekadar duduk-duduk melepas lelah sepulang dari sekolah atau membantu orang tua di ladang. Sungai ini menjadi saksi banyak obrolan kami, mimpi-mimpi kami, dan janji persahabatan yang kami ucapkan,” ceritakan Raka sambil menunjuk ke arah aliran air yang jernih berkilau terkena sinar matahari sore.

Mendengar nama Rendra disebut kembali, rasa penasaran Zahra kembali muncul. Ia membayangkan sosok pemuda yang dulu ceria dan berani itu, yang kini telah tumbuh menjadi pria gagah yang teguh pendirian. “Kalian benar-benar sahabat sejati, ya. Jarang ada persahabatan yang tetap kuat meski terpisah jarak dan waktu yang cukup lama seperti kalian berdua.”

Raka mengangguk mantap. “Benar. Rendra adalah sahabat yang setia dan jujur. Bagi kami, jarak dan waktu tidak pernah menjadi penghalang. Justru cobaan hiduplah yang menguatkan ikatan kami. Nanti saat kau bertemu dengannya sendiri, kau akan mengerti betapa berharganya sosok dia.”

Sementara perjalanan berlangsung, di desa tempat tinggal Rendra, suasana semakin hidup dan penuh harap. Sejak pagi, rumah keluarga Rendra sudah menjadi pusat aktivitas. Ibu Rendra tak henti-hentinya bergerak dari dapur ke ruang tamu, memastikan segala hal tersusun rapi. Ia sudah menyiapkan kamar tamu dengan kasur empuk, seprai bersih, dan bantal-bantal yang beraroma wangi. Di ruang tengah, meja kayu besar sudah disiapkan untuk tempat makan bersama nanti, lengkap dengan alas taplak tenunan buatan tangan sendiri yang indah dan rapi.

Ayah Rendra, meski kondisinya sudah jauh lebih baik namun masih memerlukan bantuan tongkat saat berjalan, ikut turun tangan menyapu halaman depan dan merapikan pagar bambu. Wajahnya terlihat cerah, seolah kehadiran tamu ini adalah kabar yang paling dinanti-nantikan sejak lama.

“Sudah lama rasanya tidak bertemu dengan Raka. Dia sahabat yang sangat baik bagi Rendra, dan bagi kami semua. Semoga perjalanan mereka lancar dan selamat sampai nanti,” ujar ayah Rendra sambil memandang ke arah jalan masuk desa yang berkelok.

Rendra sendiri juga tidak kalah sibuk. Ia memastikan toko bahan bangunannya tetap berjalan baik di bawah pengawasan karyawan yang sudah ia percaya, sehingga ia bisa sepenuhnya meluangkan waktu untuk menyambut tamu. Ia juga sudah memeriksa kembali jalan setapak menuju rumah, memastikan tidak ada halangan atau bebatuan yang bisa menyulitkan kendaraan masuk. Di sela-sela kesibukan itu, pikirannya pun tak luput dari pertanyaan tentang Zahra.

Di benaknya, bayangan gadis pendiam masa sekolah itu kembali muncul. Ia ingat betul bagaimana Zahra selalu duduk di sudut kelas, jarang berbicara, dan selalu tampak sederhana tanpa hiasan apa pun. Namun dari cerita Raka, gadis yang sama kini telah tumbuh menjadi wanita yang berpendidikan tinggi, cerdas, dan memiliki hati yang tulus. Perubahan itu membuatnya semakin penasaran: bagaimana sosok yang sebenarnya sekarang? Apakah ia masih mempertahankan sifat tenang dan rendah dirinya, ataukah dunia kota telah mengubahnya sepenuhnya?

Putri pun hadir di sana, membantu ibu Rendra di dapur dan mengatur susunan hidangan. Sikapnya kini jauh lebih tenang dan terbuka dibandingkan masa-masa awal hubungan mereka. Ia sadar bahwa momen kedatangan ini adalah kesempatan baik untuk memperlihatkan sisi terbaik dirinya sekaligus belajar memahami dunia dan lingkungan tempat Rendra tumbuh. Ia ingin membuktikan bahwa ia mampu beradaptasi dan bisa menjadi pendamping yang pantas dan dihargai oleh keluarga serta teman-teman dekat Rendra.

“Bu, apakah Zahra ini orangnya sangat pandai dan serius?” tanya Putri pelan saat sedang mengupas buah-buahan.

Ibu Rendra tersenyum sambil mengaduk kuah masakan. “Menurut cerita Raka, dia wanita yang sangat baik, rendah hati, dan pekerja keras. Meski sudah berpendidikan tinggi, dia tidak sombong dan tetap bersahaja. Aku yakin kau akan senang bertemu dengannya, Putri. Banyak hal baik yang bisa saling dipelajari satu sama lain.”

Jawaban itu membuat hati Putri lebih tenang. Ia merasa tidak perlu merasa minder atau bersaing, cukup bersikap tulus dan ramah saja sudah cukup.

Saat sore menjelang dan langit mulai dihiasi warna jingga kemerahan, perjalanan Raka dan Zahra memasuki wilayah desa yang lebih dalam. Jalanan mulai berkelok namun pemandangan semakin mempesona: rumah-rumah penduduk yang tersebar di antara kebun-kebun buah, sawah yang berundak-undak, dan suara-suara alam yang mendayu.

Zahra merasa seolah masuk ke dalam lukisan yang hidup. Segala kecemasannya perlahan berganti dengan kekaguman dan ketenangan. Raka sesekali menunjuk bangunan atau tempat tertentu, menceritakan kenangan masa kecilnya di sana.

“Lihat pohon beringin besar di sana? Dulu di bawah naungannya kami sering bermain dan belajar bersama. Di sana pula aku dan Rendra sering berjanji untuk saling menguatkan dalam keadaan apa pun,” tunjuk Raka dengan nada hangat.

Mendengar itu, Zahra menyadari betapa kuatnya ikatan yang ada di antara mereka berdua. Ia pun merasa semakin bangga bisa menjadi bagian dari lingkaran kehidupan ini nantinya.

Di rumah Rendra, waktu terus berjalan menuju malam. Lampu-lampu minyak dan lampu listrik sederhana sudah dinyalakan, menerangi halaman dan ruang tamu. Aroma masakan yang menggugah selera sudah tercium hingga ke luar pagar, bercampur dengan wangi bunga-bunga yang mekar di halaman. Semua orang kini berdiri atau duduk menunggu dengan penuh harap, sesekali memandang ke arah jalan raya yang menjadi satu-satunya akses masuk.

Rendra berdiri paling depan, pandangannya tajam namun tenang menyisir jalanan yang mulai sepi. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya bukan karena takut, melainkan karena rindu yang mendalam kepada sahabatnya dan rasa ingin tahu yang semakin besar terhadap sosok Zahra. Ia membetulkan sedikit letak bajunya yang bersih dan rapi, lalu menyisir janggut dan brewoknya dengan jari penampilan yang tetap menjadi ciri khasnya, yang ia banggakan sebagai tanda perjuangan dan jati diri.

Di sampingnya, Putri berdiri tenang mengenakan pakaian sederhana namun sopan dan rapi. Ia menyadari betapa besar arti momen ini bagi Rendra, dan ia berjanji pada dirinya sendiri untuk bersikap sebaik mungkin.

Di dalam mobil yang kini sudah tinggal beberapa kilometer lagi dari tujuan, suasana hening namun hangat. Zahra menarik napas panjang untuk menenangkan hati yang mulai berdebar. Ia memandang wajah Raka yang tampak berseri-seri, penuh semangat dan kebahagiaan.

“Ka... sebentar lagi kita sampai, ya?” tanyanya lirih.

Raka menoleh sejenak, menatapnya dengan senyum paling tulus. “Ya, Zahra. Kita sudah sampai di ambang pintu. Segala hal yang selama ini kita rencanakan, kita bicarakan, dan kita nantikan semuanya akan segera nyata. Ingatlah satu hal,di sini kau bukan sekadar tamu, tapi keluarga. Dan orang yang akan kita temui, Rendra..dia bukan sekadar sahabatku, tapi juga akan menjadi sahabatmu nanti.”

Zahra mengangguk mantap, membenarkan letak kerudungnya dan memastikan penampilannya tetap sopan dan rapi. Ia siap secara fisik, mental, dan hati untuk melangkah masuk ke babak paling penting ini.

Suara mesin kendaraan mulai terdengar memecah keheningan sore yang mulai menjelang malam dari kejauhan. Semua orang di halaman rumah Rendra serentak menoleh ke arah suara itu. Rendra mengeratkan pandangannya, matanya berbinar melihat siluet kendaraan yang perlahan mendekat dan berhenti tepat di depan pagar rumah mereka.

Saat pintu mobil terbuka satu per satu, udara sejuk desa berhembus pelan. Raka turun lebih dulu dengan senyum lebar yang tak pernah hilang, diikuti oleh Zahra yang turun dengan langkah tenang namun penuh kehati-hatian. Cahaya lampu rumah menerangi wajah mereka berdua wajah Raka yang penuh kehangatan, dan wajah Zahra yang sederhana namun memancarkan ketulusan serta kelembutan yang luar biasa.

Jarak antara mereka dan Rendra masih tersisa beberapa langkah, namun di sinilah ujung dari perjalanan panjang menuju titik temu itu. Semua cerita, pertemuan tak langsung, dan gambaran samar yang dibangun selama ini kini berdiri di ambang pintu tinggal satu langkah lagi, satu tatapan mata, satu sapaan hangat yang akan menjadi awal dari pertemuan nyata yang telah ditakdirkan.

Hati Rendra berdebar kencang, matanya kini tertuju pada Zahra wanita yang selama ini hanya ada dalam cerita dan ingatan masa lalu yang samar. Ia belum bergerak maju, namun setiap inci dirinya sudah siap menyambut. Zahra pun membalas pandangan itu dengan tatapan sopan namun penuh perhatian, mengenali sosok yang sering ia dengar kisahnya sosok yang gagah, berwibawa, dan memancarkan ketenangan yang dalam.

Mereka berdiri saling berhadapan, masih dalam jarak yang sopan namun jarak batin yang selama ini terpisah ratusan kilometer kini seolah mulai menyusut. Semua orang di sekitar mereka tampak tersenyum menyambut, namun waktu seolah berhenti sejenak bagi dua jiwa yang baru saja akan benar-benar bertemu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!