NovelToon NovelToon
SEPHIA

SEPHIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Diam-Diam Cinta / Slice of Life
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Azkaqia

Sephia tidak pernah menyangka, kehadiran tetangga baru itu akan mengubah segalanya.
Berawal dari pertemuan-pertemuan tak sengaja, satu sekolah, hingga satu kelas—mereka perlahan menjadi dekat. Terlalu dekat, sampai Sephia mulai merasakan sesuatu yang seharusnya tidak ada.
Sayangnya, perasaan itu datang di waktu yang salah.
Dia sudah memiliki seseorang.
Sephia memilih diam, menyimpan semuanya sendiri.
Hingga sebuah kejadian memaksa mereka untuk saling mendekat, lebih dari yang seharusnya.
Namun, bahkan setelah jarak memisahkan, waktu tetap tidak pernah berpihak.
Dan saat mereka dipertemukan kembali…
segalanya sudah berbeda.
Kali ini, justru Sephia yang harus belajar melepaskan.
Karena tidak semua yang hampir, akan benar-benar menjadi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkaqia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Orang Asing

Teng! Teng! Teng!

Bel pelajaran pertama berbunyi, memotong obrolan pagi yang seru di meja Hana.

"Gue balik dulu, ntar kita terusin di jam istirahat," ujar Sephia cepat, lalu beranjak sebelum guru masuk.

Tak berselang lama, pintu kelas terbuka. Pak Anto masuk seperti biasa, tegas, rapi, dan langsung bikin suasana berubah. Tapi hari ini ada yang beda.

Seorang cowok berjalan di belakangnya.

Tinggi. Rambutnya rapi. Dan entah kenapa... semua orang langsung memperhatikan.

Beberapa cewek di belakang mulai berbisik.

Tok.

Penggaris kayu di ketukan ke meja. Kelas langsung diam.

" Hari ini kita kedatangan murid baru dari Jakarta . Silahkan perkenalkan diri."

Sephia menopang dagu, menatap ke depan tanpa sadar.

Ada yang aneh.

Bukan cuma karena dia baru...tapi rasanya seperti sesuatu baru saja di mulai.

Cowok itu berdiri tegak di depan kelas, menatap ke sekeliling dengan ekspresi tenang.

​"Nama saya Alan Pradipta. Asal saya dari Jakarta," ucapnya memperkenalkan diri. Suaranya terdengar berat dan cowok banget, membuat beberapa siswi di belakang kompak menahan senyum.

​Sephia masih bergeming di kursinya, terus memperhatikan Alan. Tepat saat itu, Alan mengedarkan pandangannya ke barisan tengah, dan tak sengaja mata mereka saling bertemu.

​Untuk beberapa detik, waktu seakan berhenti sejenak.

​Sephia terpaku. Ada rasa hangat yang aneh yang dia tangkap dari cara cowok itu menatapnya. Tatapan yang entah kenapa langsung mengunci fokus Sephia, seolah seisi kelas yang bising mendadak senyap.

​"Pia... Suttt... Pia..."

​Bisikan setengah mendesis itu membuat Sephia tersentak. Sihir di matanya langsung buyar. Dia menoleh ke meja sebelah, mendapati Hana yang sedang mencondongkan badan ke arahnya dengan mata berbinar-binar penuh arti.

​"Lo kenal?" tanya Hana pelan, matanya memberi kode dengan melirik ke arah Alan di depan.

​Sephia hanya menggelengkan kepala. "Enggak," jawabnya tanpa suara, hanya lewat gerakan bibir untuk menegaskan kalau dia sama sekali tidak tahu siapa cowok itu.

​Melihat perkenalan singkat itu sudah cukup, Pak Anto mengedarkan pandangan ke sekeliling kelas, mencari bangku yang belum berpenghuni.

​"Alan, kamu bisa duduk di kursi kosong," perintah Pak Anto sambil menunjuk ke sudut kelas.

​"Baik, Pak. Terima kasih," jawab Alan sopan. Dia langsung melangkah menyusuri lorong meja, melewati barisan Sephia, lalu meletakkan tasnya di bangku yang ditunjuk.

​Pak Anto kemudian berbalik menghadap papan tulis dan mengambil spidol. "Buka buku paket kalian halaman empat puluh dua. Kita lanjutkan materi minggu lalu."

​Pelajaran pertama pun dimulai. Namun bagi Sephia, suasana kelas hari ini mendadak terasa berbeda, seolah ada magnet baru di pojok belakang yang diam-diam menyedot perhatiannya.

Dua jam pelajaran matematika yang menguras otak akhirnya selesai. Pak Anto keluar kelas, meninggalkan papan tulis yang penuh dengan angka. Seisi kelas langsung mengembuskan napas lega. Namun, mereka tidak bisa bersantai lama karena setelah ini adalah jam pelajaran Bahasa Indonesia bersama Bu Ningsih yang terkenal tepat waktu.

​Sebelum Bu Ningsih masuk, Hana langsung melesat dari kursinya dan menghampiri meja Sephia.

​"Ganteng ya, Pi!" ucap Hana tanpa basa-basi sambil menyenggol pelan lengan Sephia.

​Sephia yang sedang merapikan buku cetak matematikanya mengernyit. "Siapa?" tanyanya, benar-benar belum mudeng karena pikirannya masih agak pusing gara-gara rumus aljabar.

​"Anak baru itu, si Alan," ucap Hana gemas melihat kelambatan respons sahabatnya.

​"Ooh..." Sephia menoleh sekilas ke arah pojok belakang dekat pintu, tempat Alan sedang sibuk sendiri dengan ponselnya. "Biasa aja, sih."

​"Bohong banget lo! Orang tadi aja lo ngelihatinnya sampai enggak kedip," tembak Hana. Suaranya kali ini agak sedikit kencang diikuti kekehan meledek, membuat Sephia panik dan refleks membekap mulut Hana dengan telapak tangannya.

​"Hana, kecilin suara lo!" bisik Sephia tegang, takut kalau omongan Hana barusan kedengaran sampai ke bangku belakang.

Hana malah makin terkekeh melihat reaksi sahabatnya. "Kenapa muka lo jadi merah gitu, Pi?" tanyanya lagi, sengaja dengan volume suara yang agak kencang.

​Pipi Sephia terasa makin panas. "Apaan sih lo! Udah, sana balik ke meja lo!" ucap Sephia ketus, campur aduk antara kesal dan malu karena terus-terusan diledek.

​Puas menggoda Sephia, Hana tertawa pelan lalu melangkah kembali ke bangkunya sendiri tepat saat langkah kaki terdengar dari arah koridor.

​Bu Ningsih masuk ke kelas dengan membawa beberapa buku tebal. Suasana kelas yang tadinya bising langsung kondusif dalam sekejap. Beliau meletakkan tasnya di meja guru, menyapa murid-murid, dan langsung memulai pelajaran tanpa banyak membuang waktu.

​Sephia mencoba fokus pada penjelasan Bu Ningsih di depan. Namun, sudut matanya entah kenapa beberapa kali secara tidak sadar tetap melirik ke arah pintu belakang ke arah bangku cowok asing bernama Alan itu duduk.

Jarum jam dinding di atas papan tulis menunjukkan bahwa waktu istirahat tinggal beberapa menit lagi.

​"Ada siswa baru ya di kelas ini?" tanya Bu Ningsih sambil merapikan tumpukan kertas di mejanya sebelum menutup pelajaran hari itu.

​"Iya, Bu," jawab ketua kelas dari bangku depan.

​"Yang mana orangnya?" tanya Bu Ningsih lagi, mengedarkan pandangan ke sekeliling kelas.

​Alan langsung berdiri dari kursinya di pojok belakang, membuat atensi kelas kembali terpusat padanya. "Nama saya Alan, Bu," ucapnya sopan.

​Tepat setelah Alan bersuara, bel istirahat berbunyi nyaring. Seisi kelas kompak mengembuskan napas lega, bersiap untuk menyerbu kantin.

​"Oke, pelajaran hari ini selesai dan kita sambung minggu depan," kata Bu Ningsih. Namun, sebelum melangkah keluar, beliau menunjuk tumpukan buku tebal di mejanya dan menatap Alan. "Oh iya, Alan. Tolong sekalian bawakan buku-buku ini ke ruang guru, letakkan di meja Ibu. Biar kamu juga sekalian hafal ruangan-ruangan di sekolah ini."

​"Baik, Bu," jawab Alan.

​Bu Ningsih mengangguk puas lalu keluar kelas terlebih dahulu, meninggalkan Alan yang kini melangkah maju ke depan kelas untuk mengambil tumpukan buku tersebut.

1
Ayunda
judulnya bikin inget lagu Sheila on seven yg viral pd jamanya
Arya Suluran
wahh adapakah ini??😄
Arya Suluran
plenger juga sih Sephia ini ya😄
Azkaqia Ratna: ya gugup soalnya doi hehe
total 1 replies
Arya Suluran
apakah jatuh cinta pandangan pertama??
Azkaqia Ratna: belum kyknya, cuma awal mengagumi 😆
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!